:::: MENU ::::


Sampurasun! Wilujeng enjing, baraya.

Sapaan khas Urang Sunda, ketika mereka saling bertemu atau bertamu. Nada ketika mengucapkan sampurasun tidaklah mendayu seperti biduan membawakan lagu qasidah. Tetapi dengan nada yang lurus dan meninggi, seperti komandan memberi aba-aba barisan.

Bukan tanpa arti, ketika dua orang saling bertemu atau bertamum saling menyapa dengan sampurasun, kemudian yang disapa akan membalasnya dengan ucap, rampes ...!

Keluhuran akhlak adalah keniscayaan bagi masyarakat Sunda (penduduk sebagian Jawa Barat ditambah Banten). Bukan karena datang pengaruh dari budaya luar, tetapi memang sudah menjadi habit-nya Urang Sunda memiliki keluhuran pribadi dan adab. Bertambah lengkap dan sempurna ketika datang ajaran dari Baginda Kangjeng Nabi Muhammad SAW. Itulah mengapa di daerah Jawa Barat dan Banten, islamisasi hanya dilakukan oleh satu orang wali dari sembilan wali (Wali Songo).

Jangankan menyinggung perasaan orang lain. Jangankan mngolok-olok kepercayaan atau adat budaya orang lain. Ketika bertemu saja, mereka saling meminta maaf. Padahal bisa saja diantara keduanya tidak saling mengenal, dan baru saat itu saja bertemu. "Sampurasun" yang secara makna berarti hampura ingsun, atau mohon maaf dari saya pribadi. Mereka merasa jangan-jangan ketika saya bertamu sang tuan rumah sedang istirahat dan saya sebagai tamu telah mengganggu istirahatnya. Maka, saya ucapkan sampurasun, maaf dari saya, jika kedatangan saya mengganggu.

Dibalaslah oleh orang yang disapa dengan rampes, yang berarti sama-sama, saya pun memohon maaf jika ada kesalahan. Demikian kurang lebih.

Memang terdapat beberapa versi dari ucapan sampurasun tersebut. Namun kita bisa bijaksana mengambil beberapa pengertiannya, sehingga kita bisa mengambil "nilai kebaikan" yang terkandung dalam setiap budaya suatu masyarakat.

Cag ah!

Kejadian yang sangat mengerikan dan memilukan terjadi kembali di dunia olahraga negeri ini, yaitu cabang sepak bola. Tepat pada Hari Minggu (23/9) seorang pemuda bernama Haringga tewas mengenaskan di luar stadion, ketika pertandingan antara kesebelasan Persib "Maung" Bandung melawan kesebelasan ibu kota Persija Jakarta.

Bukannya menikmati pertandingan dan memberikan dukungan penuh penonton di luar stadion malah melakukan tindakan biadab. Pendukung tuan rumah begitu melihat seorang pendukung tim lawan langsung menyerang dan memukulnya dengan membabi buta sampai tewas. Pendukung tim tuan rumah, kita mengenalnya dengan "Viking", melihat supporter tim lawan sebagai musuh yang harus selalu dilawan. Pola pikir fanatisme buta yang telah menyebabkan kewarasan manusia hilang, digantikan dengan fanatik buta, pembelaan berlebihan, dan selalu menganggap golongan di luarnya adalah musuh atau orang-orang yang tidak pernah memiliki nilai kebaikan.

Setelah kejadian itu, berbagai ungkapan simpati dan bela sungkawa berdatangan, mengundang komentar-komentar yang silih berganti mengutuk kejadian di Stadion GBLA (Gelora Bandung Lautan Api) itu, karena bentrokan antar supporter yang menelan korban jiwa bukanlah sekali atau dua kali melainkan berkali-kali dengan kejadian dan tempat yang berbeda.

Melihat dari jauh bentrokan yang sangat memalukan dan mencoreng dunia sepak bola negeri ini, saya teringat pada sebuah buku dari Marpaung, "Setengah Isi Setengah Kosong", dengan sampul sebuah gelas bening berkaki, terisi air berwarna biru hanya setengahnya. Dalam buku tersebut kita diajak untuk merubah pola pikir (mindset) kita tentang suatu hal atau kejadian. "Setengah Isi Setengah Kosong" mengingatkan kita bahwa ketika melihat gelas dalam keadaan seperti itu, bukan melihat gelas itu tinggal setengah kosong, tetapi gelas itu ternyata masih setengah isi.

Bukankah sama saja gelas dan isinya? Tetapi kenapa bisa berbeda dalam mengatakan keadaan gelas tersebut?

Jika boleh dikatakan isi gelas itu sebagai kebaikan, sedangkan ruang sisanya sebagai kekurangan, maka gelas itu akan berisi setengah kekurangan dan setengah kebaikan. Nah, di sini kita diajak untuk lebih bijak, karena seringkali kita hanya melihat kekurangan, melihat ruang kosong dari gelas itu. Maka, kita selalu memandang jelek terhadap suatu hal atau seseorang. Dalam diri mereka selalu tampak kekurangannya, selalu memberi label jelek, dan tidak pernah melihat kelebihan atau kebaikannya. Apa yang terjadi jika seperti itu? Tentu saja kita akan berpikir tidak adil terhadap hal atau orang yang kita nilai itu. Kebaikannya akan kita anggap pencitraan, prestasinya akan kita katakan "ah, itu hanya kebetulan saja" atau mengutip kata-kata Mario Teguh, "terang saja juara, orang tuanya kaya raya, bisa membeli apa pun yang dia inginkan". Pertolongannya akan kita sangka sebagai "udang di balik batu".

Apalagi kesalahannya. Kita akan senang sekali melihat kekurangannya. Kita akan share kekurangannya kepada siapa pun. Kalau perlu seribu kebaikan tidak usah diberi aplaus, tapi satu kesalahan harus dikatahui oleh seribu orang.

Alangkah indahnya jika kita balik mindset jelek, hanya melihat setengah kosong tersebut. Bukankah di dalam ajaran agama, kita dianjurkan untuk fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba dalam meraih prestasi, berlomba-lomba menutup aib orang lain sebanyak-banyaknya. Agama tidak mengajarkan kita untuk berlomba-lomba dalam membenci, mengolok-olok, menertawakan dengan sikap angkuh atau merendahkan. Agama tidak mengajarkan kita berlomba-lomba mengumbar kekurangan orang lain, menghina dan memberi label negatif kepada orang lain. Tidak sama sekali!

Benang merahnya adalah, segala sesuatu yang ada di sekitar kita, hanya ada setengah isi. Dimana kita melihat semua orang dari setengah kebaikannya, tidak peduli dengan setengah kekurangan lainnya.

Semoga bermanfaat. Tabik!

-ooOoo-

#OneDayOnePost

#SebarCeritaBaik

Beberapa tahun terakhir ini ada gelombang besar di Indonesia yang cukup fenomenal yang dilakukan oleh sebagian masyarakat muslim di Indonesia, yaitu begitu heroik ingin menjadi bagian dari budaya masyarakat Arab.

Hal itu disampaikan oleh Pengajar Antropologi Budaya King Fahd University of Petroleum and Minerals Dhahran Saudi Arabia, Sumanto Al-Qurtuby dalam diskusi publik dengan tema Konstelasi Agama dan Politik di Timur Tengah yang diselenggarakan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Wahid Hasyim, Kamis (9/11) di Aula Universitas Wahid Hasyim Semaran, Jawa Tengah.

Menurut Kepala Research Committe in Social Sciences di kampus ternama Saudi Arabia itu, orang Indonesia mau berbudaya Arab atau Barat bagian dari hal yang wajar, bahkan sudah sejak lama proses Arabisasi telah berlangsung di Indonesia. Namun persoalannya ada pada kegemaran masyarakat yang meniru budaya Arab atau Barat pada sisi luarnya saja, tidak pada semangat positifnya.

"Boleh-boleh saja menjadi bagian dari Arab atau India, atau Korea atau Cina. Itu masing-masing urusan pribadi. Tidak salah kita ingin menjadi Barat atau Arab, itu hak masing-masing. Hanya saja menjadi masalah, orang Indonesia itu lebih tertarik kepada casing ketimbang konten, isi. Itu sebenarnya persoalan sederhana, tapi sangat fundamental sekali," paparnya.

Bagi penulis buku Religious Violence and Conciliation in Indonesia: Christians and Muslims in the Moluccas itu, dalam meniru kebudayaan lain seharusnya yang ditiru bukan atributnya, melainkan esensi positif yang terkandung di dalamnya. Sebagaimana meniru Barat bukan pada sisi luarnya, melainkan nilai yang terkandung di dalamnya, seperti kedisiplinan, kerja keras dan semangat dalam melakukan perubahan.

Salah paham

Di tengah kerasnya sebagian umat Islam Indonesia yang meniru budaya Arab seperti mengenakan cadar bagi perempuan dan jubah bagi lelaki, kerap diiringi dengan pemahaman Islam yang konservatif, bahkan radikal.

Hal tersebut menjadi sasaran utama yang kerap dikritik Sumanto Al Qurtuby melalui berbagai tulisannya. Dalam pengamatannya bertahun-tahun mengajar di Saudi Arabia, pemahaman Islam yang kaku, konservatif dan fundamental sudah tidak laku lagi di Saudi Arabia. Pasalnya, Saudi sendiri belakangan sedang berusaha melakukan perubahan besar-besaran dalam semua lini, baik politik, ekonomi, budaya, maupun wacana keagamaannya.

"Masyarakat Arab sekarang sangat-sangat modern dalam segala hal," katanya.

Anggapan muslim dunia Arab menganut paham Islam fundamental bagian dari kesalahpahaman sebagian masyarakat Indonesia. Selain itu, anggapan orang Arab sudah pasti Islam juga kesalahan besar. Di Arab ada banyak agama yang berkembang, ada Kristen, Budha, Islam. Islam juga ada Sunni, Syiah, Ibadi, dan yang lainnya. Bahkan, citra orang Arab sebagai orang yang mempraktikkan keislaman sesuai dengan yang diajarkan Nabi Muhammad perlu ditinjau kembali.

"Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Arab lebih banyak ditentukan oleh faktor nonagama, misalnya perkawinan. Dalam Islam misalnya tidak mengatur bahwa nikah harus dari suku yang sama. Dalam praktiknya, di dunia Arab harus dari suku yang sama. Suku dalam masyarakat Arab seperti kasta, ada yang elit, ada yang rendahan. Jangan harap suku yang rendah bisa menikah dengan suku elit," paparnya.

Belum lagi orang Arab juga sering membedakan dirinya dengan orang yang bukan Arab. Bagi masyarakat Arab, kehidupan kesukuan menjadi penentu utama. "Jadi meski ada Islam, tapi kehidupan sehari-hari ada banyak faktor yang menentukan, mulai ekonomi, politik dan terutama kesukuan," katanya.

Karena itu, Sumanto menghimbau kepada masyarakat Indonesia, dalam memahami dunia Arab tidak boleh melulu menggunakan perspektif agama. Konflik yang terjadi di Timur Tengah faktornya bukan karena perbedaan agama atau paham, seperti Syiah dengan Sunni, tapi lebih pada persoalan politik.

"Konflik-konflik Timur Tengah di Indonesia selalu dibaca dengan perspektif agama. Ini sering dikembangkan oleh sebagian tokoh-tokoh agama di sini (Indonesia, red), padahal seharusnya dibaca dari perspektif geopolitik," tandasnya.

Sumber: NU Online


Ditulis oleh Sumanto Al Qutruby, akademisi asal Batang, Jawa Tengah. Saat ini menjadi Dosen Antropologi di King Fahd Petroleum University, Arab Saudi.

Saya amati ada perbedaan mendasar antara umat Islam di Indonesia belakangan ini dengan umat Islam di Tanah Arab, khususnya kawasan Arab Teluk yang saya amati.

Pertama, tentang pakaian. Di Tanah Arab, ekspresi lelaki Muslim yang berjubah itu biasa saja karena memang itu "pakaian tradisional" mereka. Sebetulnya bukan hanya pakaian tradisional komunitas Muslim saja tetapi juga masyarakat non-Muslim. Banyak umat Kristen dan Yahudi dan lainnya (Yazidi, Druze, dlsb) yang mengenakan jubah.

Mereka bersikap biasa karena mereka tahu kalau jubah itu adalah produk budaya masyarakat Arab maupun non-Arab yang tinggal di kawasan Timur Tengah. Tak ada satu pun yang merasa lebih relijies atau lebih saleh dengan berjubah. Tidak ada satupun diantara mereka yang menganggap mengenakan jubah sebagai "sunah rasul" misalnya karena mereka tahu pakaian yang mereka kenakan sekarang ini berbeda dengan pakaian yang dipakai oleh Nabi Muhammad pada 15 abad yang lalu.

Nah kalau di Indonesia saya melihat ada kecenderungan umat Islam (meskipun tidak semuanya) kalau sudah memakai gamis merasa paling nyunah, paling saleh, paling alim, paling dekat dengan Tuhan, dan paling layak masuk syurga. Bukan hanya itu saja, mereka juga menganggap umat Islam yang belum bergamis dianggap belum nyunah, belum Islami dan seterusnya.

Yang perempuan Muslimah juga sama. Mengenakan abaya atau kadang dilengkapi dengan cadar (dalam bentuk niqab, burqa, atau khimar) juga biasa saja. Yang berabaya dan bercadar memang bukan hanya komunitas Muslimah saja, tapi juga non-Muslimah. Tapi di Indonesia, perempuan Muslimah (lagi, tentu tidak semuanya) yang sudah berjilbab apalagi ditambah bercadar gayanya sudah merasa paling solehah sedunia-akhirat.

Kedua, tentang jenggot. Dunia perjenggotan, sebagaimana dunia perjubahan, juga sangat plural dan kompleks. Arab Muslim yang berjenggot tidak semata-mata mengikuti "sunah Nabi". Mereka tahu kalau jenggot bukan hanya dipraktikkan oleh Nabi Muhammad dan pengikutnya tapi juga oleh umat lain. Banyak yang memelihara jenggot (baik yang ukuran minimalis maupun yang "boros") karena agar kelihatan modis dan macho saja.

Penelitian tentang jenggot yang saya lakukan menghasilkan data yang cukup menarik. Di kalangan pemuda Arab khususnya, jenggot adalah simbol "kedewasaan, kelelakian, dan kemachoan". Banyak dari mereka yang memelihara jenggot agar terhindar dari "godaan lelaki titit belang" yang suka lirak-lirik melihat lelaki bersih dan klimis.

Di tengah masyarakat yang sangat segregatif dari aspek jenis kelamin, dimana ruang publik perjumpaan lelaki dan perempuan sangat terbatas, maka sasaran akan ditujukan kepada sesama jenis kelamin (baca, sesama lelaki) karena itu memelihara jenggot adalah bagian dari strategi untuk menghindari ulah iseng "lelaki ngacengan" tadi.

Apa perbedaan berikutnya antara (sebagian) umat Islam di Indonesia dan di Tanah Arab?

Ketiga, tentang apresiasi terhadap Barat. Orang-orang Arab Teluk (Emirat, Qatar, Saudi, Kuwait, Bahrain, dan Oman) adalah orang-orang yang "penggila Barat" atau "pengagum Barat" karena dianggap sebagai simbol kemajuan peradaban, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan teknologi.

Oleh karena itu mereka berlomba-lomba sebisa mungkin untuk menyekolahkan anak-anak mereka di negara-negara Barat, khususnya Amerika dan Eropa Barat atau minimal Australia. Para alumni kampus-kampus Barat dianggap sangat bergengsi dan bisa menaikkan "status sosial" seseorang serta bisa mempermudah untuk mencari lapangan kerja. Gaji para alumni Barat juga lebih tinggi ketimbang alumni lokal. Rata-rata para muda-mudi Arab Teluk, berusaha sekuat tenaga untuk kuliah di Barat.

Sedangkan sebagian kelompok "Islam tengil" di Indonesia memandang Barat sebagai "negeri kapir-njepir" yang haram untuk dijadikan sebagai tempat kuliah. Meksipun itu sebetulnya hanya retorika gombal mukiyo ndobol di lambe saja karena banyak dari mereka yang doyan keluyuran ke negara-negara Barat, baik untuk wisata, pamer, maupun menyekolahkan anak-anak mereka.

Keempat, tentang hubungan dengan China. Masyarakat Arab Teluk sama sekali tidak memandang rasis terhadap Cina. Mereka bahkan sangat bersuka ria karena Cina mampu menyediakan barang-barang murah-meriah tak iye. Pemerintah Arab Teluk juga menjalin hubungan baik dengan PRC, baik untuk urusan politik, kemiliteran, maupun bisnis. China adalah negara pengimpor minyak terbesar dari Arab Teluk.

Perusahan-perusahaan raksasa Arab Teluk, banyak yang beroperasi di Cina. Sebaliknya, banyak perusahaan raksasa Cina yang beroperasi di Arab Teluk. Hampir semua sektor industri: infrastruktur, transportasi, telekomunikasi, perumahan, otomobil, tekstil, dlsb di Arab Teluk kini dikuasai oleh China. Karena itu jangan heran kalau barang-barang made in Cina tumpah-ruah dimana-mana di seantero Arab Teluk: dari boneka onta sampai cawet perempuan.

Jadi, jelasnya, "Panda" dan "Onta" itu "ber-auliya" sangat sangat mesra sekali.

Bagaimana dengan Indonesia? Lagi-lagi, sejumlah kelompok "Islam tengil" sok-sokan osang-aseng terhadap Cina, meskipun sebetulnya banyak barang yang mereka pakai itu hasil produksi Cina, dan mereka juga gemar keluyuran ngeceng ke "Negeri Panda" yang mereka osang-asengkan itu.

Kelima, tentang bahasa Inggris. Bahasa Inggris sekarang menjadi semacam "lingua franca" di kawasan Arab Teluk karena hanya Bahasa Inggrislah yang bisa menyatukan berbagai kelompok immigran dari berbagai negara. Sejak lama, Arab Teluk terkenal sebagai kawasan immigran, dan bahkan di beberapa negara, populasi imigran ini melebihi dari penduduk lokal.

Bukan hanya itu saja. Karena Bahasa Inggris adalah "bahasa bule", dan masyarakat Arab Teluk adalah masyarakat yang "ke-bule-bule-an", maka menguasai Bahasa Inggris adalah "sesuatu banget". Bahasa Inggris bukan hanya simbol kelas sosial (elit-menengah) dan perlambang dari kalangan terdidik saja, tetapi juga bisa melapangkan jalan mencari pekerjaan yang baik serta meningkatkan status sosial dan gengsi!

Lalu, bagaimana dengan umat Islam di Indonesia? Lagi, sekelompok "Islam tengil" dan bisulan itu antipati terhadap Bahasa Inggris karena dianggap sebagai "bahasa kapir" dan bukan "bahasa syurgah" hohoho ....

Keenam, tentang penggunaan Bahasa Arab. Kaum Arab Muslim sudah barang tentu biasa saja kalau ngomong dengan menggunakan Bahasa Arab karena itu memang "bahasa ibu" mereka. Tak ubahnya seperti orang Jawa ngomong Bahasa Jawa, urang Sunda ngomong Bahasa Sunda, orang Betawi ngomong Bahasa Betawi, orang Batak ngomong Bahasa Batak, wong Tegal ngomong Bahasa Tegal, dan seterusnya. Kayak kuwe mbok.

Tidak ada perasaan "lebih Islami" dengan ngomong pakai bahasa Arab. Bagaimana mau mengklaim lebih Islami la wong Arab non-Muslim juga ngomongnya pakai Bahasa Arab, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ibadah ritual di tempat-tempat ibadah.

Umat Arab Kristen, misalnya, ya khotbahnya pakai Bahasa Arab. Demikian pula Injil mereka juga tertulis dengan bahasa dan aksara Arab. Bedanya tentu saja, kalau ngomong sehari-hari mereka menggunakan "Bahasa Arab pasar" (amiyah) sementara dalam Kitab Suci dan teks-teks keagamaan pakai Bahasa Arab klasik (fusha).

Jadi, sama seperti Arab Muslim, Arab Kristen juga menyebut: Allahu Akbar, Subhanallah, Salamu'alikum, Alhamdulilah, Masya Allah, dan seterusnya. Lha masak mereka bilang: Duh Gusti Kang Murbeng Dumadi.

Sementara (sebagian) umat Islam di Indonesia, terutama yang aliran "al-tengiliyah", kalau sudah ngomong pakai Bahasa Arab meskipun hanya sepotong-sepotong dan cenderung al-ngawuriyah sudah merasa paling relijius, paling Islami, paling soleh dan solihah, dan paling berhak masuk syurgah. Padahal mereka cuma bilang: akhi-ukhti, ubi-umi, ikhwan-ikhwat, antum-antuman.

Ketujuh, tentang panggilan untuk suami/istri. Sebagian umat Islam di Indonesia, para "suami saleh" biasanya memanggil istrinya dengan sebutan "umi". Misalnya, "Umi, tolong ambilkan ubi buat abi dong?"😏 Sementara para "istri salehah" biasanya memanggil suami mereka dengan sebutan "abi". Misal: "Abi, ini kan malam Jumat, abi tidak menjalankan sunah rasul"?😋

Nah, di kalangan masyarakat Arab, "panggilan sayang" umum suami kepada istri mereka bukan "umi" tapi: "zaujati" (istriku), "habibati" (kekasihku), "qolbi" (hatikuh), "ruhi" (ruhku), "hayati" (kehidupanku), "ya uyuni" (wahai mataku), "babi" (yang ini maksudnya "baby" bukan babi ngepet). Sedangkan "panggilan sayang" istri terhadap suami mereka adalah: "habibi" (kekasihku), darling, laufr (lover), babi, ya uyuni, ya hayati.

Nama-nama panggilan untuk suami/istri di atas adalah berdasarkan hasil obrolanku dengan para murid dan kolega Arabku. Jadi nama panggilan mana yang lebih relijies dan Islami: suami/istri Indonesia atau Tanah Arab?

Jabal Dhahran, Jazirah Arabia

Ada saja obrolan ringan tentang anak-anak didik di sekolah ini. Obrolan antara para guru bersama sacangkir kopi putih dan senda gurau yang sering membuat kami terbahak. Kalian tahu, hal-hal yang tak pernah terpikir tapi tetiba membuat kami terharu, marah, sekaligus ingin tertawa karena kalau dipikir lagi itu hal yang sangat konyol.

Saya sendiri mengalami beberapa kali hal konyol dan berakhir dengan rasa geli. Pada satu kesempatan kami --saya dan anak-anak-- akan mengadakan praktikum ilmu kimi, dengan judul besar "Sifat Koligatif Larutan", yaitu sifat larutan yang hanya bergantung pada jumlah zat terlarut, tidak bergantung pada jenis zat terlarut. Sifat tersebut terdiri dari empat jenis: (1) penurunan tekanan uap; (2) kenaikan titik didih; (3) penurunan titik beku; dan (4) tekanan osmotik. Salah satu bahan yang harus dibawa praktikan tersebut adalah aquades. *)

"Oke, Rabu lusa kita akan praktikum, bahannya kalian bawa sendiri: aquades." Instruksi saya jelas, menggema di ruang laboratorium.

"Aquades itu air aqua merk Ades, ya Pak?!" Anak berambut lurus sebahu dengan wajah polos itu mengangkat tangannya. Sontak saya terkaget, bercampur rasa marah dan ingin ketawa.

Di suasana lain, beberapa guru Bahasa Inggris mengeluh tentang kemampuan spelling dan conversation anak-anak didiknya. Bagaimana tidak, hanya untuk memberi satu kata perintah saja --dan jawabannya sudah disediakan di kolom kanan-- banyak yang tidak paham. Apalagi ketika mereka disuruh membuat satu kalimat, merangkainya menjadi satu paragraf, sampai membuat cerita satu halaman penuh. Maka, saat itu di sebuah pembelajaran di ruang kelas Miss E, biasa kami memanggilnya, menjelaskan tentang bahasan yang akan dipelajari pada saat itu.

"Oke class, today you should tell about family." Suara merdunya membuat beberapa anak terbuai, membuat matanya sayu.

"Yes, Miss!" Beberapa anak lainnya merespon berlebihan.

"But remember, you should tell your family in Engslih." Matanya membulat, ada nada penekanan dari kata terakhirnya.

Si anak yang meresepon berlebihan tadi berbicara lagi, dengan nada sedikit protes, "sorry Miss, but I have not family in English." Kalimat terakhir inilah yang membuat Miss E merona merah di kedua pipinya, "you, get out from class!"

Hehe, anggap saja sebuah tulisan joke atau memang benar adanya. Dan pada kenyataannya banyak hal-hal dasar dan sangat dasar tidak dikuasai oleh anak-anak didik di kelas saya. Hebatnya lagi bukan anak-anak sekolah dasar atau TK nol besar. Mereka itu sudah kelas dua belas, kelas tiga SMA, dan tahun depan akan menjadi seorang mahasiswa (kalau melanjutkan belajar di perguruan tinggi). Nah lho, anak sebesar itu dengan pengalaman belajar lebih dari satu dekade, masih belum bisa menguasai konsep dasar di dalam ilmu sains dan bahasa Inggris.

Pada akhirnya kami berpikir tentang situasi seperti ini, kenapa bisa terjadi dan bagaimana pemecahannya?

Contoh lain dalam situasi guru matematika memberikan materi aritmetika di kelas sepuluh, kelas satu SMA. Dia memberikan soal pembagian, 500.000 dibagi 0,25, dan terhenyak ketika menunggu begitu lama jawaban dari anak-anak didiknya. Ditambah beberapa anak tidak dapat sama sekali menyelesaikannya. Ah, sangat-sangat konyol, dan tetap saja kami harus berani mengakui bahwa itulah anak-anak kita dengan berbagai kemampuannya. Apakah kami harus mencari kambing hitam, seperti oh, itu mah gara-gara didikan di SD-nya atau di SMP-nya. Oh, itu mah gara-gara kurikulum dari pemerintah terlalu berat. Oh, itu mah wajar, orang di sekolah tidak disediakan laboratorium kimia yang layak. Atau seperti apa.

Sekali lagi, pada akhirnya kami berpikir tentang situasi seperti ini, kenapa bisa terjadi dan bagaimana pemecahannya?

Silakan ditulis di kolom komentar, situasi seperti apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana solusinya?

-ooOoo-

#OneDayOnePost

Lonceng khas –yang selalu terdengar di setiap stasiun kereta– itu terdengar berulang, disusul peringatan dari pengeras suara kepada penumpang Kereta Serayu agar segera bersiap dan memasuki gerbong masing-masing. Sesaat setelah tanda peringatan itu, hentakan di atas lantai putih mengkilap berderap, ratusan orang bergegas dengan langkah cepat menuju kereta api Serayu, yang menarik sebelas gerbong lawas. Beberapa orang berseragam oranye berdiri tegap setiap 20 meter membantu mereka yang kesulitan menemukan gerbong dan tempat duduknya.

Lengkingan peluit, bagaikan kunci raksasa yang bisa membuka gembok pengunci roda-roda baja, memberi sinyal agar kereta itu segera beranjak dari Stasiun Pasarsenen, sebuah stasiun legendaris yang terletak di pusat ibu kota dengan ketinggian 4,7 mdpl.

-ooOoo-

Lima menit lagi, kereta akan berangkat. Dan aku segera pergi dari kabupaten ini, dan mereka menyebutnya dengan negeri berlubang dan berdebu. Hanya berjarak 63 km dari ibu kota negara atau 1½  jam perjalanan menggunakan mobil melalui jalan bebas hambatan. Tapi, kau akan menemukan sebuah pola pikir penduduknya masih tertinggal jauh.

Ish, kenapa tiba-tiba rasa mulas di perutku muncul. Aku pergi dulu ke toilet (perutku tak bisa diajak kompromi, Kawan) dan segera menghubungimu lagi begitu urusan dengan perut ini selesai. Mungkin sekitar 15 menit.

Baiklah, aku akan menunggumu di sini. Ucapanmu tentang saudaramu sangat menarik buatku. Mungkin kita bisa membicarakannya lebih serius. Hati-hati melewati gerbong, bisa saja kau berpapasan dengan seorang gadis cantik, dan memintamu untuk segera melamarnya. Hehe ....

-ooOoo-

Kau sudah selesai? Kenapa lama sekali aku harus menunggumu dari toilet? Kau tidak tertidur ketika buang air besar kan?

Hallo, kawan! Maaf kau menungguku sangat lama.

Darimana saja kau? Aku telah selesai membaca artikel “Tuhan, Rakyat, dan Neolib” dari tulisan Rhenald Kasali. Sangat, sangat menarik.

Gerbongku baru saja melewati Stasiun Cikarang. Tidak berhenti memang, tapi kenangan masa lalu di tempat ini masih melekat. Masih hangat, ketika aku selalu berangkat menuju kawasan industri ini, berjumpa kawan lama, pedagang kacamata keliling.

Benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Bayangkan saja diriku harus bolak-balik toilet lima kali, sebelum tatapanku beradu dengan tatapan seorang gadis cantik. Lalu, sembil menunggu perutku benar-benar pulih, entah keberanian darimana, aku mulai menyapanya. Kami mengobrol ringan. Basa-basi. Dan dia menawariku segelas lemon tea, dan tentu saja aku terima sebagai pemberian yang menyenangkan.

Memangnya kau bisa mengarang cerita seenak perutmu sendiri, lalu berharap aku percaya begitu saja, hah? Simpan saja dulu bualanmu. Sekarang, tolong jawab dulu rasa penasaranku di atas. Ceritakan tentang kahidupan di tempat kau tinggal sekarang?

Ada yang lebih menarik untuk diceritakan kepadamu, Kawan, daripada bercerita tentang negeri berdebu ini. Toh, apa yang harus kuceritakan. Hampir tak ada hal yang istimewa dari tempatku tinggal kini.

Tapi, kau akan mendengar ceritaku tentang gadis itu. Gadis yang memberiku segelas lemon tea. Bukan jeruk, atau “gadis jeruk” (masih ingat kan ketika bertemu Jostein Gaarder, lalu dia memberi buku keren itu?). Tapi lemon tea, ditaburi bongkahan es super dingin.

Mata gadis itu sipit, nyaris tak pernah kulihat bola mata hitamnya. Apalagi ketika dia tertawa ringan, kelopak mata perempuan dengan rambut lurus sebahu itu tertutup sempurna. Mengenakan kacamata
bulat hitam yang dia kenakan di dahinya,

Kau tahu tentang lemon tea?

Ceritakan saja lah. Tadinya aku berharap akan mendengar kisah sebuah daerah nun jauh di sana. Tempat yang sangat jauh dari sini, dari negeri domba wol. Mungkinkah tempatmu tinggal belum terjamah jaringan fiber optic? Kalau iya, tawaku akan membahana sampai Samudra Pasifik. Kalau iya, ....

Ah, sudahlah. Sekencang apa pun kau tertawa, diriku tak akan pernah menceritakannya kepadamu. Menceritakan tempatku kini tinggal. Kali ini gadis itu benar-benar merasuk otak yang sebesar dua kepalan tanganmu. Gadis pembawa segelas lemon tea.

Sebelum minuman itu siap saji, dia adalah air murni yang tidak berwarna alias bening. Jangan sekali-kali mengatakan air bening dengan “air putih”, Kawan. Air bening itu tidak mengandung apa pun selain molekul-molekul air, jutaan bahkan trilyun molekul air di dalam gelas. Bawa saja segelas air bening itu ke tepi pantai. Kau akan mendapatkan sebengkah es ketika suhunya 0C dan segelas air yang mendidih pada suhu 100C.

Para ilmuwan atau ahli kimia mengatakannya sebagai titik didih dan titik beku pelarut murni. Pada beberapa buku teks, kita akan mendapatkan simbol ΔTb dan ΔTf. (Ingat Tb di sini berarti temperatur of boil dan temperature of freeze). Setelah itu, kau bisa menambahkan beberapa sendok gula pasir, dan menjadikannya berubah menjadi air gula. Mulai sekarang sebur dengan nama larutan gula. Semakin banyak gula kau tambahkan, larutan itu akan semakin kental, semakin banyak kandungan gula yang terlarut, semakin besar konsentrasi larutan gula itu.

Apa menariknya? Otak di dalam kepalamu dipenuhi gadis itu. Sekarang kau malah menceritakan tentang air bening, gula pasir, dan konsentrasi larutan. Apa-apaan tulisanmu itu, Kawan? Apa faedahnya buat diriku?

Mudah sekali, Kawan. Karena dunia ini selalu dipenuhi hal-hal menakjubkan, hal yang ajaib. Semuanya tidak akan pernah lepas dari dunia sains.

(bersambung)

-ooOoo-


#OneDayOnePost #ScienceFiction



Kemanakah akhlak yang baik itu?
Bukankah kita diperintah untuk berlomba-lomba dalam kebaikan?

Kini, kita lebih banyak berlomba-lomba menebar kebencian, mengumbar keburukan, mempertontonkan kejelekan orang lain, tanpa pernah memberi aplaus prestasi dan kehebatannya.

Kini, kita lebih mudah berprasangka daripada tabayyun, lebih sering mengolok-olok daripada memberi dukungan, lebih senang melihat kekurangan daripada kelebihan.

Bahkan orang yang baru belajar agama dipanggil ustadz, ucapannya langsung diamini tanpa pernah mencoba belajar dan mendengar kepada orang yang benar-benar belajar agama selama puluhan tahun.

Kita lebih mengidolakan tokoh yang pandai beragumen, lebih suka mendengar tokoh yang dengan gampangnya mendungu-dungukan orang lainnya, yang kerjaannya memprovokasi, selalu membenci, menyebar berita bohong, fitnah, selalu memaksakan kehendak, --yang disangkanya lebih banyak mendatangkan maslahat, padahal tidak-- selalu haus dengan syahwatnya --harta dan tahta.

-ooOoo-

#SebarCeritaBaik

Selepas bercengkerama dengan anak-anak hebat dalam ilmu kimia, saya kembali merebahkan badan di sebuah sofa ruang para pengajar di sebuah sekolah ibu kota kabupaten. Mereka anak-anak yang luar biasa, saya bisa melihatnya hanya dari wajah-wajah yang memandang diriku tanpa berkedip. Apalagi ilmu kimia bagi mereka adalah bagaikan ilmu sihir yang untuk memahaminya dibutuhkan daya khayal tingkat tinggi. Rumit sekaligus menarik, bahkan untuk diobrolkan di kantin sekolah bersama semangkuk mie goreng instant dengan harga super murah.

Mereka adalah generasi penerus bangsa ini, anak-anak didik yang akan dibesarkan bersama gonjang-ganjing para manusia di akhir zaman. Mereka akan menjadi saksi bagaimana huru-hara dan semacamnya siap menyergap di sepanjang tempat yang mereka singgahi, menjadi saksi fitnah semakin merajalela.

Sedang asyik-asyiknya rebahan, hanya untuk sekadar menghirup bau badan yang mulai apek, gadis itu menghampiri diriku dengan senyuman khasnya. Entah punya maksud apa menghampiri diriku, gadis itu memulai pembicaraan dengan menyapa kabar, setelah pada awal pekan dua hari sebelumnya, saya tak bisa memberi pengajaran di kelasnya. Setelah beberapa tanya basa-basi, matanya membulat, melihat tumpukan buku yang tersusun rapi di dalam kardus, yang kuletakan di lantai samping meja kerja.

"Buku-buku siapa itu, Pak?" Lirikan matanya semakin tajam.

"Pesanan teman-teman. Sebagian buku kimia dan persiapan ujian perguruan tinggi. Anak-anak yang memesannya." Saya menjelaskan, "keren sekali, Din. Tiga hari Bapak berada di kota kembang, shopping buku-buku keren. Kebetulan di sana sedang ada "Out of The Box" dari penerbit Mizan, Cinambo."

"Waah ...," lingkaran hitam itu begitu sempurna tidak terhalang kelopak, "Dinda mau ya Pak. Satu atau dua buat Dinda."

Dinda Maharani, nama yang sangat baru menghiasi daftar nama anak-anak hebat yang berada di sini. Keberadaanku di sekolah ini untuk memberi pelajaran di dua kelas: kimia dan ilmu komputer. Dan gadis istimewa itu salah satu anak yang berada di kelas komputer. Wajah lonjong dengan tulang pipi menonjol, khas orang-orang dari tanah minang, memiliki karakter yang unik: berbicara banyak dengan intonasi cepat dan tinggi, menyukai ilmu komunikasi dan hukum, dididik keras oleh kedua orang tuanya, bahkan kini tinggal di sebuah kabupaten di Provinsi Banten, sedang orang tuanya tinggal di Tanah Minang, dengan jarak ribuan kilometer.

Spontan Dinda (DM) duduk di hadapan diriku (DS), lalu memulai obrolan panjang, yang membuat pikiranku menerawang, teringat akan perjalanan kereta Serayu, bertemu dengan gadis lain yang memberiku segelas lemon tea. Tapi tulisan ini bukan menceritakan tentang gadis yang memberiku segelas lemon tea. Tulisan ini berkisah tentang anak didikku yang bernama Dinda Maharani, ketika dirinya merasa jauh lebih baik semenjak lebih sering membaca dan menulis.

DM: Cocok kan kalau aku ambil jurusan hukum tahun depan?

DS: Hm, lebih pas ilmu komunikasi saja, Din.

(kami berdua saling bertatapan, mencoba mengisi pikiran sendiri dengan kemungkinan yang terjadi tahun depan)

DM: Iya sih, Pak. Kata ayahku juga seperti itu. Kelihatannya asyik juga kalau belajar di ilmu komunikasi.

DS: Coba saja. Toh, saya lihat kamu mempunyai bakat yang berbeda dengan teman-temanmu yang lain. Pikiranmu cukup tertata ketika mengobrol beberapa waktu lalu. I like it very much.

DM: Thank you, Sir. Nanti Dinda coba cari seperti apa sih ilmu komunikasi itu. Kalau nggak, ya, tetap memilih hukum.

DS: Bagus juga tulisan kamu yang diposting di Wattpad, True story ya?

DM: Yup! Bapak sudah baca juga? Wah, terima kasih lho. Jadi senang nih. (senyumnya menyeringai lebar, sampai terlihat deretan putih geriginya). Dua tahun lalu, mungkin tahun lalu sepertinya. Ada seorang cowok yang menyukai aku, dan dia ingin mengenal lebih dekat. Walaupun berbeda keyakinan, orangnya baik kok Pak.

DS: Kamu suka juga sama cowok itu?

DM: Tentu saja, Pak. Sudah ganteng, baik, pintar lagi. (seringai kembali menghias wajahnya) Toh, aku punya prinsip, menyukai seseorang bukan berarti harus ada ikatan atau status pacaran.

DS: Memangnya pacaran boleh?

DM: Nah itu Pak. Lagian buat apa sih pacaran, lebih banyak keburukan daripada kebaikannya lho, Pak.
(diriku tersenyum, seakan mengajari diri saya, anak itu terus mengoceh tentang tulisan di Wattpadnya)

DM: Terus, ya begitu deh. Aku hanya mengatakan bahwa anak muda itu bukan waktunya buat pacaran. Sayang banget kalau hanya memikirkan kesenangan dirinya sendiri. Padahal anak-anak muda seusia Dinda adalah masa-masa emas untuk berbuat banyak hal. Apa itu menulis, membaca, membuat sebuah proyek kemanuisaan, membuat karya tulis yang bermanfaat.

DS: Kenapa tidak gabung dalam komunitas? Menurut saya, Dinda bakal lebih terasah kemampuannya jika bergabung dalam komunitas.

DM: Iya sih, Pak. Bener banget. Pas pulang kampung ke Tanah Minang, teman-teman Dinda yang ada di sana bilang, eh, kamu kok jadi berubah. Nggak lagi bicara asal, nggak lagi gampang emosian. Nah, dari sana Dinda sadar kalau kita banyak baca, banyak nulis, otomatis obrolan kita bakal lebih terarah, tidak asal bicara, dan kalau adu argumen tidak mungkin hanya berpendapat tanpa ada dasar yang kuat yang melatarbelakanginya.

DS: Widiih, keren amat anak Bapak yang satu ini.

DM: Di kelas juga gitu kok, Pak. Sama. Teman-teman lebih suka pas Dinda mengemukakan pendapat. Kan, banyak Pak, ya, teman-teman di kelas yang nggak suka sama seseorang hanya karena baca berita-berita bohong. Lantas mereka ujug-ujug jadi ikut-ikutan mem-bully, menjelek-jelekkan, tiap hari hanya mengatakan keburukan. Nyinyir gitu Pak, bahasa gaulnya.

DS: Setuju lah kalau masalah itu. Tahu nggak kenapa orang-orang gampang kemakan isu-isu fitnah, kabar hoaks, berita bohong?

DM: Apa Pak?

DS: Karena mereka sangat sedikit membaca. Menurut UNESCO saja, orang-orang di negeri ini menduduki peringkat kedua dalam hal melek literasi atau budaya baca tulis.

DM: Peringkat dua, Pak?

DS: Ya! Peringkat dua dari bawah, haha ....

DM: Ish, si Bapak!

DS: Makanya, ketika mereka lebih gampang menerima berita atau informasi, langsung dipercaya, langsung di-share tanpa mau bersusah payah untuk membaca sumber lainnya yang relevan. Mereka lebih mengagungkan prasangka daripada tabayyun..

DM: Kalau sudah benci sama seseorang, mah, susah ya Pak. Maksudnya, susah kalau melihat kebaikan orang yang dibencinya.

DS: Bukan tidak punya kebaikan, ya.

DM: Betul, Pak. Tapi ketika orang yang dibenci melakukan kebaikan saja masih dicari kesalahannya, apalagi berbuat hal yang buruk, mereka sangat suka sekali, karena menemukan keburukan atau kejelekan orang lain.

DS: Cerdas.

DM: Padahal dalam agama, fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan. Kenapa sekarang lebih banyak berlomba-lomba untuk membenci, labih suka menebar berita bohong, lebih mendahulukan prasangka dibanding tabayyun, gampang marah-marah dan merasa dirinya selalu lebih baik dan paling benar dibanding orang lain.

(bel berbunyi. Kami pun mengakhiri percapakan. Dia berpamitan pulang, dengan membawa dua buah buku. Sedang diriku kembali menjinjing laptop dan perangkat pembelajaran, melangkah gontai menuju sebuah kelas yang berisi anak-anak hebat generasi penerus bangsa)

-ooOoo-

#OneDayOnePost


Betapa hebatnya membaca cerita-cerita orang hebat. Rasa kagum dan takjub menyelimuti diri ini. Perlahan, ketika mulai membaca dari kata pertama, lalu kalimat, terus menjadi paragraf, perlahan menjadi rangkaian cerita dengan alur yang mendayu-dayu, sedih, berubah menjadi riang gembira, sampai membuat diri ini merenung. Ah, ternyata cerita ini berkisah tentang sebuah hikmah.

Banyak orang-orang hebat, menuliskan cerita dan kisahnya, lalu menghipnosis para pembacanya, sehingga pikiran mereka mengalami trance, sebuah kondisi keluar dari kesadaran menuju ke alam bawah sadar, lupa segalanya, kecuali apa yang merasuki mereka. Terkadang aku berpikir, ah, orang-orang hebat itu bukan sedang menuliskan ceritanya, tetapi sedang merapalkan mantra. Mereka --orang-orang hebat itu-- bukanlah penulis, sudah pasti mereka adalah penyihir berbahaya. Bedanya rapalan mantra orang-orang itu tidak diucapkan, melainkan ditulis. Lalu, sebagian orang lainnya membaca rapalan mantra itu, akhirnya orang hebat yang sebenarnya penyihir itu berhasil membuat pembacanya tersihir.

Entah apa yang ada di benak para "penyihir" itu. Dan entah terbuat dari apa. Bisa jadi mereka bukan manusia kebanyakan. Wajar saja jika mereka dengan tulisan-tulisannya bisa menyihir dan memengaruhi ribuan bahkan jutaan pembaca rapalan mantranya. Kan namanya juga penyihir, terang dong banyak orang yang tersihir. Banyak orang yang berubah pikirannya, berubah jiwanya, bahkan banyak yang menjadi "gila" gara-gara tulisan para penyihir itu. Jika manusia biasa, seperti kita pada umumnya terbuat dari tanah, kupikir para penyihir itu terbuat dari ramuan-ramuan yang dijampi. Mirip ramuan jamu bratawali sepertinya. Jika manusia biasa seperti diriku memiliki otak dengan volume sebesar dua kepalan tangan (kiri dan kanan), aku yakin mereka tidak memiliki otak, melainkan letupan-letupan cahaya mirip kembang api, sehingga para penyihir itu bisa dengan ringan dan sangat enteng untuk menuliskan ribuan cerita yang menggugah. Aku yakin itu.

Lantas, bisa tidak ya manusia biasa seperti saya menjadi seorang penyihir yang bisa membius dan menghipnosis ribuan bahkan jutaan orang? Sehingga mereka melakukan apa-apa (mantra) yang kutulis dalam sebuah cerita hebat.

Kalian harus yakin bahwa penulis-penulis (dalam bahasa manusia biasa) itu adalah seorang penyihir. Aku tidak berbicara asal. Terserah jika kalian menganggap diriku pembual, dan menganggap penulis itu hanya manusia biasa seperti manusia pada umumnya, tidak lebih. Tetapi orang-orang yang berpendapat seperti itu adalah salah besar. Karena tidak mungkin seorang manusia biasa bisa menyihir ribuan bahkan jutaan orang setelah selesai membaca mantra-mantra yang tersaji dalam bentuk sebuah buku.

Ah, sangat banyak kisah tentang seorang penyihir yang berhasil merapalkan mantra dalam bentuk tulisan. Bung Karno salah satunya, dalam kumpulan rapalan mantra dengan judul "Di Bawah Bendera Revolusi". Sudah berapa juta kumpulan rapalan mantra Bung Karno dicetak, lalu dibaca oleh banyak orang. Dan rapalan yang berisi pemikiran revolusioner Sang Putra Fajar itu seakan membuka jendela wawasan yang sangat jauh berbeda, yang kupikir tidak mungkin dilakukan oleh manusia biasa dan hanya bisa dilakukan oleh seorang penyihir. Mantra yang paling kuingat adalah tentang "Nasionalis, Agama, dan Komunis", lebih populer dikenal dengan mantra "Nasakom". Gonjang-ganjing dunia persilatan di tanah air bahkan dunia dengan ide "gila" Presiden pertama republik ini, menyatukan kekuatan antara orang-orang nasionalis, kaum agamawan, dan komunis. Jangan dilihat dari isi teksnya benar atau salah, lurus atau menyimpang, mungkin atau tidak mungkin. Tetapi lihatlah bagaimana cara pandang pemimpin dan para elit politik di dunia (khususnya tanah air) berubah. Dari yang menentang secara ekstrim maupun yang bergembira luar biasa. Mulailah apa yang kita kenal dengan "kudeta senyap" yang melibatkan agen rahasia milik sebuah negara adidaya.

Siapa yang tidak kenal dengan nama penyihir J.K Rowling. Bukan! Bukan wakil presiden republik ini sekarang. Itu Jusuf Kalla, seorang politisi dan pengusaha asal Bugis, Makassar. Ayolah, masa tidak kenal. Joanne Kathleen Rowling, dengan sengaja merapalkan mantra yang disamarkan kepada tokoh ceritanya, Harry Potter. Pendapatku begitu kuat bagaimana dia telah menyihir jutaan anak dan remaja. Sampai-sampai cerita penyihir yang asalnya tabu dan kurang populer, sekarang menjadi sebuah cerita yang sangat ringan untuk diobrolkan di meja makan sekalipun.

Sudahlah mereka itu --para penulis hebat--. bukan manusia melainkan penyihir. Titik! Setuju atau tidak setuju. Tulisan yang kutulis di atas sudah menunjukkan semuanya, membuka selubung rahasia yang mereka samarkan dengan nama penulis. Sudah terang benderang, tidak usah dibantah. Jika kalian masih tidak percaya, tunggu saja, aku akan segera menjadi penyihir, menuliskan rapalan mantra dahsyat, sehingga kalian akan tersihir sempurna, dan akhirnya secara sadar mengetahui, bahwa penyihir itu nyata, bukan ilusi. Merekalah para penyihir!

-ooOoo-

#OneDayOnePost
#ODOPBatch4

Selalu saja diri saya merasa kagum dengan landscape yang tersaji sepanjang perjalanan itu. Pada tulisan lain di blog ini, pernah diulas tentang terowongan Sasaksaat, sebuah terowongan yang membentang di tengah-tengah pegunungan, diantara daerah Kabupaten Purwakarta -  Padalarang. Dan tulisan kali ini (sekali lagi) akan berbincang sedikit tentang salah satu terowongan terpanjang di negeri ini.

Bukan hal yang istimewa bagi sebagian orang. Namun bagi diri saya, perjalanan Jakarta - Bandung menggunakan kereta api Serayu, selalu membuat decak kagum dan takjub. Walaupun sudah beberapa kali --sedikitnya dua bulan sekali-- menaiki gerbong dengan tujuan akhir di kota Purwokerto ini.

Tetap saja rasa kagum itu muncul, sama besar ketika pertama kali saya menggunakan gerbong Serayu. Seperti anak kecil, selalu kagum pada suatu barang yang pertama kali mereka temui, lalu dipukul-pukul, dimakan, dilempar, berulang-ulang dan terus berulang. Selalu merasa asing dengan benda itu. Padahal menurut kita orang dewasa, perlakuan itu tidaklah menarik. Tetapi anak-anak kecil selalu antusias mengulang-ulang perbuatan yang telah mereka lakukan. Persis ketika mereka meminta diceritakan dongeng sebelum tidur. Malam ini mereka mendengarkan satu cerita. Malam berikutnya mereka akan meminta diceritakan kembali. Bahkan malam-malam berikutnya tetap saja wajah mereka mamancarkan ketertarikan, walau ceritanya sama dengan malam-malam sebelumnya. Dan entah kenapa, saya pun meresakan seperti itu.

-ooOoo-

Berangkat dari stasiun Stasiun Pasarsenen --salah satu stasiun tua dan paling sibuk-- pukul 09.15 menuju Stasiun Kiaracondong. Tiga jam lebih perjalanan tiba di stasiun yang terletak di daerah Bandung Selatan itu tepat pada pukul 12.59, dengan membawa beban beratus ton, beribu penumpang, berkuintal-kuintal logistik, beratus liter bahan bakar, pelumas, dan pendingin mesin, merayap sabuk besi yang berumur ratusan tahun. Selepas Cikampek, jalur rel mulai merayap naik, berkelok-kelok membuat laju gerbong melambat, selangkah demi selangkah mulai menapaki perbukitan. Derit gesekan roda dengan rel --yang sama-sama terbuat dari besi-- semakin membuat diri saya tak bisa memejamkan mata sekejap pun.

Sampailah di pegunungan yang memanjang dari arah barat-timur. Tidak terlalu tinggi memang. Skala paling tinggi kurang dari 600 mdpl (meter di atas permukaan laut). Atau mungkin lebih tepatnya jalur ini hanya merayap sepanjang perbukitan. Lalu, tepatnya di daerah Purwakarta, gerbong mulai melewati beberapa jembatan, dan akhirnya lintasan yang paling legendaris akan saya lewati: Terowongan Sasaksaat!

Saya coba menghitung waktu ketika gerbong berada di dalam terowongan. Lebih dari satu menit lamanya. Anggaplah lama perjalanan di dalam sekitar 1,3 menit, dan laju kereta 50 km/jam. Maka bisa dihitung panjang terowongan adalah 1,3 menit per 60 menit dikali 50 km/jam sama dengan (lebih dari) 1,08 km. Bayangkan saja, panjangnya lebih dari 1 km, dengan rel berbentuk huruf "v" terbalik. Menembus perbukitan Sasaksaat. Hebatnya lagi, terowongan ini telah berusia 100 tahun lebih (mulai beroperasi sekitar tahun 1902). Sampai sekarang masih berdiri kokoh tanpa ada sedikit pun cacat, retak, atau pun miring.

Seorang gadis yang duduk berhadapan tersenyum simpul. Bertanya dengan gaya anggun dan suara lembut: Akang tahu artinya Sasaksaat?

Tentu saja, saya membatin. Sasak dalam Bahasa Sunda berarti jembatan, sedangkan saat (masih dalam Bahasa Sunda) memiliki arti kering, dari ada air menjadi tidak ada. Arti bebasnya adalah jembatan kering, atau jembatan yang melewati sungai yang telah saat, telah mengering. Kalau diperhatikan memang ada jembatan kereta api melewati perbukitan, tidak melewati sungai, seperti sungai yang tidak ada airnya (saat). Sudut pandang paling jelas bisa dilihat jika kita berkendara mobil atau bus melewati jalan tol Cipularang km. 83,4. Dari sana sangat jelas jembatan besi dengan lengkungan di bawahnya, membentang diantara perbukitan.

-ooOoo-

Lebih menarik lagi adalah percakapan saya dengan gadis berwajah lonjong dan bermata bulat hitam itu. Gadis yang memberiku segelas lemon tea, mempunyai rahang keras, seperti Nyai Ontosoroh di dalam cerita "Bumi Manusia" karya Pramoedya Ananta Toer.

Sepertinya saya sudah pernah menceritakan obrolan ini di tulisan sebelumnya. Atau belum ya? Kalau belum, saya akan tuliskan obrolan di dalam gerbong Serayu di blog ini esok hari. Sebuah obrolan yang sangat menarik dan ilmiah (tentu saja).

Dan, selalu siapkan kopi panas di dalam cangkir sebelum membaca tulisan-tulisan saya di locustaviridis.com. Kalau tidak es teh manis. Lebih nikmat lagi menyeduh segelas lemon tea
.
-ooOoo-

#OneDayOnePost
#TravelAddict

“Akhirnya kita bisa merayakan kemenangan ini,” tawanya kembali terdengar angkuh, "tanah di pinggir danau sudah menjadi milikku, tak ada lagi yang bisa menghalangi rencanaku." Perut tambunnya bergoyang mengikuti irama tubuh.

Dirinya meneguk habis sisa air mineral yang tersaji di meja kerja, menatap lamat-lamat dirimu yang terbujur kaku di atas meja persegi kecil. Tampak istimewa, ketika sebuah kotak kaca mengkilap melindungi tubuhmu.

“Ayolah, tersenyum sedikit. Tak ada salahnya kita sedikit merayakan keberhasilan ini.” Pria dengan kepala setengah botaknya merajuk. Langkah-langkah lamat pria itu mendekati kotak kaca, perlahan mengangkatnya.

"Bangunlah, tak usah sungkan," suaranya setengah berbisik, "tidak ada siapa pun di sini."

Selang beberapa waktu, matamu mengerjap lemah, disambut wajah gembira dari pria yang sedari tadi menatapmu. Akhirnya bibirmu mengembang lebar, tersenyum sinis.

-ooOoo-

“Agan,  tadi bicara sama siapa?” tiba-tiba suara itu mengagetkan dirimu.

“Ah, eh ... siapa Mang? Aku?”

Sumuhun,  tadi Mamang dengar Agan berbicara dengan seseorang.”

“Nggak. Teu aya sasaha, Mang, di dieu mah,” Jamhur, pria berkepala setengah botak itu menyembunyikan kekagetannya, “lagian Mamang kenapa ada di ruangan ini? Ketuk pintu dulu, ucapkan salam, kan bisa?” Kau hanya diam, menyaksikan orbolan dua orang dari ruang kecil berkaca bening.

“Saya sudah ketuk-ketuk pintu beberapa kali, Gan. Ya sudah Mamang masuk saja, mendengar Agan sedang mengobrol.” Somad, pria umur tiga puluhan berambut ikal, berwajah putih bersih dengan mata sendu itu menjawab polos. Dia benar-benar bingung melihat di dalam ruangan itu hanya ada Jamhur, majikan sekaligus sosok yang dikaguminya.

“Sudah, Mamang kan hanya pesuruh saja di sini, tidak usah banyak tanya. Mungkin karena pekerjaan Mang Somad banyak, terlalu lelah, akibatnya pendengarannya terganggu.”

-ooOoo-

Jalanan padat merayap. Terik matahari begitu garang. Pedagang asongan mulai menjejali ruas jalan, merangsek menuju mobil-mobil dengan kaca hitam tertutup rapat. Di belakang kemudi, Jamhur, Lurah Bojongherang, mulai berkeringat. Tampaknya bukan karena kemacetan mobil yang mengular atau panas siang hari itu. Di dalam mobilnya sendiri terasa adem, lebih berasa dingin.

Matamu mengerjap, disusul bibir yang mengembang, tersenyum licik. “Tenang saja, Jamhur. Kau tidak usah cemas. Semuanya akan selesai sesuai keinginanmu.

“Aku tidak suka dengan bupati sok suci itu. Memangnya dia siapa?” Pria itu mulai mengumpat. “Semenjak dia menjabat setahun lalu, bisnisku mulai terancam. Aku tak bisa lagi berbuat seenaknya tanpa ikut pada aturan yang sudah disahkan dewan. Mereka pun mati kutu, terjebak dalam aturan yang sudah dibuatnya sendiri.”

Tidak ada manusia sempurna, Jamhur. Orang itu pun pasti punya titik lemahnya. Kau tetap dengan tutur kata santun, membawa pesan-pesan agama tentang kebaikan dan kejujuran, tidak usah terbawa emosi.”

“Apa saranmu kalau begitu? Jangan bilang kau tidak mempunyai jalan keluar!”

Tentu saja, aku hanya minta waktu beberapa minggu.” Kepalamu bergerak kaku ke arah Lurah Jamhur, memandang tajam, menembus pikiran dan alam bawah sadar pria yang duduk di balik kemudi itu.

“Waktu berapa lama lagi. Aku sudah cukup sabar untuk menunggu. Percuma saja tiap malam Pahing aku ruwat dirimu. Kurang apalagi usaha diriku untuk membuat kau senang.”

Tidak usah emosi seperti itu. Aku tahu apa yang ada dalam pikiranmu. Sangat paham. Serahkan saja pada diriku, Jamhur. Siasat diriku dengan membawa doktrin agama tak pernah meleset, salalu berhasil menumbangkan siapa pun yang aku benci.” Senyum sinismu semakin lebar. Dari dalam mobil berpendingin, kau menatap seorang anak meminta belas kasihan, meminta sekadar uang recehan

-ooOoo-

Somad melewati bagian depan ruang kerja Lurah Jamhur. Perlahan pria itu memanggil-manggil juragannya. Tidak ada yang menyahut. Saya yakin, Agan tadi masuk ke ruangan ini, tidak mungkin salah. Akhir-akhir ini kelakuannya semakin aneh, semenjak Agan menyimpan benda itu di ruang kerjanya.

Pesuruh itu kembali melangkah perlahan, melirik untuk memastikan tidak ada Jamhur atau seseorang pun di ruangan itu. Pandangannya menyapu seisi ruangan. Semuanya seperti sedia kala, persis sama ketika dia menata ruangan itu tahun lalu. Foto presiden dan wakil, burung garuda dan lukisan padang pasir menghiasi dinding-dindingnya. Di atas meja tergeletak laptop, pena bulu dan tintanya, tumpukan berkas untuk ditandatangani, penyejuk ruangan, serta perangkat audio video.

Seketika matanya terpaut pada sosok benda yang selama ini membuat Somad selalu bertanya-tanya. Sesosok benda di dalam kotak kaca tepat di sudut ruangan. Pria itu mengamati lekat-lekat dengan penuh rasa ingin tahu. Benda apa kau sebenaranya. Inikah benda yang telah mengganggu kewarasan juragan.

Sadar menjadi perhatian pesuruh itu, tubuhmu tidak bergeming. Bahkan dadamu sekali pun tidak terlihat kembang kempis. Di dalam hati kau tertawa terbahak. Kau tahu bahwa pria itu tidak akan pernah bisa memahami dirimu, atau melihat dirimu sekadar mengedipkan mata. Tetapi sebaliknya, kau paham betul siapa Somad, apa pekerjaannya, bagaimana tabiatnya dan semua tetek bengek lainnya. Bahkan jika mau, kau bisa masuk ke dalam pikirannya, lalu membisikkan sesuatu agar dia melakukan apa pun yang kau inginkan.

“Benda apa kau sebenarnya?” Somad membuka penutup kaca, meletakannya di atas meja. Perlahan dia angkat benda berwajah keriput dengan mahkota hitam di atasnya.

“Apakah kau yang membuat juragan berubah tabiatnya? Lihat matamu, begitu licik dan culas. Jika benar benda ini yang membuat juragan berubah, saya tak akan membiarkanmu berada di sini, dengan cara apa pun. Saya akan menghancurkanmu cepat atau lambat.”

Pintu seketika terbuka, ketika pseuruh itu sedang memperhatikan benda yang kini berada dalam genggamannya.

“Apa yang kau lakukan Somad?!” begitu melihat pesuruh itu memegang sebuah benda, pria itu dengan sebuah bentakan menyuruh Somad meletakkannya.

“Agan ...,” benda yang di dalam genggaman Somad langsung direbut Jamhur. “Saya hanya membersihkan kotak kaca itu, terus saya melihat ...,”

“Sudah cukup, Somad!” Pitamnya naik, “Maksudku Mang Somad. Mamang hanya perlu membersihkan ruangan ini, tidak usah membersihkan benda yang satu ini.” Jamhur berusaha meredam pitamnya yang naik.

Di dalam genggaman Lurah Jamhur, kau mulai mengerjap mata. Perlahan. Lalu sungging bibir menghiasi wajah, lamat-lamat. Akhirnya kau tersenyum angkuh, merasa telah berhasil membuat sedikit konflik diantara keduanya, Lurah Jamhur dan Mang Somad. Sebentar lagi kau akan merasakan akibat dari perlakuanmu kepadaku Somad. Tidak ada yang bisa lepas dari ancamanku.

-ooOoo-

Dua bulan berselang, setelah Jamhur berhasil menguasai tanah seluas hampir dua hektar dan menjadikannya tempat wisata terbesar di ibu kota kabupaten. Dirimu berdiam dengan tenang, berdiri dengan kedua telapak tangan terbuka, dan diletakkan menyilang di depan dada. Selalu seperti itu, seakan telah menjadi ritual, ketika satu urusan telah selesai dan dengan kemenangan berada di pihakmu.

Hanya selangkah lagi Jamhur akan merasakan penderitaan yang berkepanjangan, atas balasan apa yang dilakukannya. Bukan, bukan diriku yang akan membuatnya menderita. Aku hanya menjadi perantara yang bisa memenuhi nafsu rakus si tua bangka itu. Aku sama sekali tidak bertanggung jawab akibat dari perbuatannya.

Pintu terbuka kencang, membuat dirimu kaget. Tiba-tiba menyeruak perasaan takut terhadap siapa yang telah datang memasuki ruangan yang kau tempati.

“Gan ... Agan! Dimana kau? Saya membawa sesuatu yang bisa menyelamatkan Agan.”
Perasaan takut itu semakin membesar. Sebuah aura putih yang kuat mendekat, seiring mendekatnya Somad ke arah dirinya. Perlahan tapi pasti, tubuhmu gemetar.

“Nah, akhirnya kita bertemu lagi makhluk jelek. Sekaranglah waktunya kau mengakhiri semua kebusukanmu.” Matamu semakin membelalak, tak percaya apa yang ada di hadapanmu.

"Apa yang akan kau lakukan, Somad!" Dirimu berteriak kepada Somad. "Sekali kau berani macam-macam terhadap diriku, nyawamu yang akan jadi taruhannya, aku tak akan mengampunimu."

“Lihat apa yang kubawa untuk membinasakanmu. Dari awal aku merasa ada yang ganjil. Dan ternyata diriku benar, kau adalah Sengkuni!” Seringai senyum Somad tampak begitu puas melihat dirimu semakin pucat. Kau tak lagi terlindungi dari penutup kaca. “Wajahmu boleh saja seperti orang paruh baya yang bijak, bermahkota seakan dirimu seorang bangsawan, tapi Tuhan Maha Melihat. Secerdik apa pun dirimu menyembunyikan kebusukan, suatu saat pasti akan tercium juga.”

"Omong kosong. Kau kira dirimu bisa mengalahkanku hanya dengan keyakinan, hah? Boleh saja kau akhirnya tahu siapa diriku sebenarnya, tetapi diriku tak akan pernah dikalahkan oleh siapa pun, sampai hari kiamat nanti tiba." Apa yang kau ucapkan hanya membuat dirimu semakin memperlihatkan ketakutanmu. Ada getar tidak yakin dan takut ketika dirimu berbicara.

“Bukan aku yang akan mengalahkanmu, Sengkuni. Siapa bilang diriku yang akan mengalahkanmu? Tapi dirinya!” Sesosok dengan tubuh hitam legam, berwajah putih bercahaya, perut buncit, pantat super besar, dan berjambul putih --yang tak lain adalah Semar-- diperlihatkan Somad kepada dirimu.

"Apa, apa yang kau lakukan manusia terkutuk. Berani-beraninya kau membawa makhluk itu ke hadapanku dan menyuruhnya membunuhku?!"

“Hahaha, kenapa wajahmu begitu pucat? Bukankah kau selalu mengatakan bahwa dirimu tak pernah terkalahkan?” Somad semakin mendekatkan benda dengan tubuh hitam yang dia bawa kepadamu.

“Dan hanya sosok inilah yang bisa melenyapkanmu selamanya.”

"Jangan Somad. Aku mohon kau tidak menyuruh makhluk itu untuk membunuhku. Aku akan memberimu apa saja, aku akan mengabdi kepadamu asal makhluk itu kau bawa keluar dari sini."

“Inilah akhir hayatmu. Semar, akan mengambil semua kekuatan hitam yang menjelma dalam dirimu dan dengan segera akan membunhmu. Ya, Semar akan segera membunuhmu Sengkuni, Semar akan membunuhmu! Begitu pula dengan diriku, aku ingin membunuhmu, aku ingin membunuh Sengkuni!”

-ooOoo-

*) Sengkuni, tokoh pewayangan yang terkenal licik, berwajah dua, dan sering disimbolkan sebagai tokoh yang suka memecah belah

**) Tulisan ini diterbitkan di dalam buku antologi cerpen "Batu yang Menjadi Saksi", JWriting Publisher, 2018.


#OneDayOnePost
#Fiksi