:::: MENU ::::

Langkahnya terhuyung. Setapak demi setapak. Badannya membungkuk. Tepat ketika berada di tempat istirahatnya, senyum mengembang. Sumringah. Mata sayu itu menatap lamat-lamat bebatuan yang berjejer rapi, dihiasi oleh rerumputan menghijau. Tak ada seorang pun di sana.

Bukankah hari ini adalah Jum'at. Bukankah Seharusnya orang-orang berpakaian putih sudah ramai menyemut, bersiap-siap sembahyang. Tapi, pagi itu tak ada seorang pun yang menampakkan diri, hanya  dia -- Pria tua dengan pakaian compang-camping, kotor, dan bau -- yang berada di sana, menampakkan geriginya yang menghitam dan tanggal di sana-sini.

“Nah, sudah tenang sekarang kan? Tidak ada lagi kecemasan yang hinggap dalam hati kalian,” suara lantangnya membuat burung-burung kecil sontak berhamburan, “berbahagialah wahai teman-teman!”

Senyap.

“Akulah kini yang dirundung malang. Sungguh malang. Kalian tahu kenapa?” suaranya bertambah lantang, namun matanya berkabut. Isakan mulai kentara seiring rintik yang mulai turun.

“Aku merasa menjadi manusia paling malang. Bukan sedih karena meratapi diri sendiri. Bukan! Lihatlah teman, gerombolan orang yang sibuk dengan urusan dunianya. Banting tulang mencari penghidupan, berdagang, mengayuh becak, bekerja di pabrik, menjadi bos dengan tangan selalu berkacak. Bukankah hari ini mereka seharusnya bergegas menuju masjid untuk bersembahyang? Bukankah sebentar lagi Tuhan mereka memanggil-manggil untuk datang ke rumah-Nya?”

“Beruntunglah kalian sahabatku. Tidak ada lagi waktu buat kalian buat berbuat dosa!” tangisnya mulai mereda, “siapa manusia yang lebih beruntung, selain manusia yang diberi kenikmatan diputus segala kesempatan melakukan keburukan. Manusia itu adalah kalian, wahai saudara seimanku.”

Rintik seakan merasakan kesedihan pria tua itu. Butiran air halus, turun lembut, membelai rambut gimbalnya yang kusam. Tak ada angin menderu, tak ada koakan gagak atau sekadar bebunyian serangga. Semuanya tengah menyaksikan pertunjukkan dua makhluk yang saling memadu. Alam seakan terhanyut, terbawa suasana melihat rintik dan pria tua itu dirundung duka yang dalam.

“Hai Ahmaq, apa yang kau lakukan di sana?” teriakan seorang laki-laki membuyarkan tangisan pria tua. Tubuhnya bergeming, tetap bersimpuh di depan bebatuan yang berjejer rapi.

“Mereka semua sudah mati, kenapa kau selalu berbicara dengan orang yang tak pernah menjawab omongan kau, Ahmaq.” laki-laki gagah berpakaian gamis putih-putih itu mencoba merajuk. “Apa yang kau harapkan, hah? Tak ada seorang pun di sana yang dapat membuatmu gembira. Tak ada. Apalagi nisan-nisan yang sudah bulukan itu. Jangan pernah kau ratapi, itu syirik!”

Satu laki-laki lainnya mendekat, “hai fulan, kau sedang bicara dengan pria tua majun itu? Apa akal warasmu sudah hilang?"

"Hanya Si Ahmaq yang sudah kehilangan kewarasannya, akhi, sudah hilang imannya, sampai dia meratap di depan batu-batu bisu itu.”

“Kau sudah tahu, si majnun itu selalu berbuat begitu. Dia sudah musyrik. Kenapa kau tetap berbicara dengannya?”

“Aku mendengar semua apa yang kau bicarakan, wahai anak muda!” suaranya bergetar hebat, “kalian semua benar. Aku adalah pria uzur yang telah lama membuang kewarasannya!” tubuhnya tetap bersimpuh. Takzim.

“Dan kau telah menyembah batu-batu bisu itu!”

“Tidak!” suaranya menggelegar, lalu secepat kilat tubuhnya bangkit, berdiri tegak. “Kalian yang telah musyrik!”

“Kau mengigau, pria tua! Kau tidak pernah berbicara kepada kami. Malahan setiap hari mendatangi pemakaman ini, selalu saja berceramah kepada benda-benda tak bernyawa itu.”

“Apakah ketika aku bersimpuh di depan nisan teman-temanku, berarti aku telah menyembahnya? Apakah dengan berbicara dengan mayat-mayat itu aku telah menyekutukan Tuhan?” tangannya terangkat tinggi menunjuk langit, “sedang kalian dengan yakinnya mengatakan diriku telah ingkar, padahal kalian tidak tahu apa-apa tentang keyakinku.”

“Apa salah kami jika menganggap kau telah ingkar?”

“Kalian sudah merasa menjadi Tuhan!” kini tangannya menunjuk tajam ke arah dua orang pemuda tadi. “Kalian telah meyakini apa yang sebenarnya tidak kalian yakini. Kalian telah merasa tahu keyakinan orang lain, beriman atau musyrik, padahal wilayah itu hanya orang itu dan Tuhannya lah yang tahu.”

Tubuh pria tua itu berguncang hebat. Berbalik memunggungi kedua pemuda, lalu kembali tersungkur, bersimpuh di hadapan nisan sebuah makam.

“Lebih baik aku menceramahi mayat-mayat ini. Tidak ada satu pun yang membantah diriku, karena mereka sadar, mereka tidak mempunyai ilmu lagi. Sedang kalian sebaliknya. Selalu saja berbantah-bantahan, selalu mendebat setiap orang bicara, selalu meludahi orang-orang yang kalian anggap gila. Kenapa? Karena kalian selalu merasa mempunyai ilmu lebih, merasa lebih hebat dibanding orang lain!”

Rintik kembali turun. Semakin lebat. Mata pria tua itu pun berkabut. Perasaan sedihnya tak dapat lagi dibendung. Lolongan tangisannya menjadi, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding hebat.

-ooOoo-

Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul” __ Ajip Rosidi dalam Mencari Sosok Manusia Sunda: Sekumpulan Gagasan dan Pikiran

One Day One Post (ODOP) Community mengharuskan anggotanya mem-posting setiap hari satu postingan. Tidak ada ketentuan obyek yang harus diposting, sesuai dengan 'passion' atau minat masing-masing. Maka, muncullah berbagai tulisan yang beragam, mulai dari fiksi, cerpen, fiksi mini, kumpulan puisi, prolis, sampai tulisan tentang review, kuliner, opini, artikel, bahkan curhatan.

Menulis secara konsisten setiap hari tentu saja mempunyai dampak signifikan terhadap kemampuan literasi seseorang. Kita tahu semua bahwa syarat utama posting adalah menulis. Tidak mungkin kan, posting hanya mengambil ('copy paste') tulisan orang lain. Nah, dampaknya tentu saja kita akan terbiasa menuliskan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala. Seseorang yang menulis setiap hari pikirannya akan mengalir, membuat pikirannya terbuka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Mungkin pada awal-awal anggota ODOP akan merasa terpaksa dengan melakukan satu posting setiap hari. Tidak semua orang bisa menulis, sanggup menjadi anggota ODOP. Bahkan seorang yang tulisannya sudah baik, tetap saja perlu kemampuan lebih agar tetap bisa memposting satu postingan setiap harinya. Di sinilah dituntut sebuah komitmen dan konsisten agar apa yang menjadi kebiasaan tetap bisa berlanjut sampai kapan pun.

Apakah cukup dengan menuliskan pikiran-pikirannya seseorang bisa menjadi penulis yang baik?

Di awal tulisan sebuah petuah dari Kang Ajip Rosidi, sastrawan kawakan dari Tatar Sunda, mengatakan bahwa kesusasteraan yang tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya akan mati. Lalu, jika mengaca pada perkembangan zaman dengan teknologi canggih sekarang ini, sebagian besar orang hanya menyenangi membaca cepat ('speed reading'), dimana tulisan-tulisan singkat seperti quotes, meme, dan tulisan singkat lainnya itulah yang mereka baca. Semakin jarang mereka menggali informasi ataupun data lainnya dengan membaca sebuah referensi buku yang kredibiltasnya sudah diakui. Kebetulan saya berada di institusi pendidikan, dimana kebiasaan membaca penghuninya bisa dikategorikan rendah. Bukan hanya peserta didiknya, bahkan pengajar dan pendidiknya pun kurang memiliki interest dalam membaca. Terkadang berita singkat atau video singkat seperti video Instagram yang hanya 1 menit lebih mereka minati daripada membaca ulasan seorang tokoh dalam artikel atau surat kabar.

Komunitas ODOP mengadakan Reading Challlange ODOP, dimana semua anggota ditantang untuk membaca buku dengan berbagai ketentuan. Seperti misalnya dalam sembilan hari harus menyelesaikan membaca 2 buku. Menuliskan review buku lalu mempostingnya. Menuliskan quote dari buku yang dibaca setiap hari. Nah, dari kebiasaan inilah kita diharap mampun meningkatkan kemampuan membaca dan dapat berpengaruh pada kemampuan menulisnya. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Apa yang diamanatkan Kang Ajip tentu saja sebagai cambuk, agar kita selalu membaca, membaca, dan membaca, agar sastra Indonesia tetap eksis, bahkan berkembang lebih baik lagi. Dari tulisan di atas, bisa diambil benangmerahnya, sebagai alasan saya untuk bergabung di RCO (saat ini menginjak angkatan 3). Semoga apa yang menjadi tujuan RCO, khususnya keinginan saya pribadi, untuk menjaga literasi anggotanya tetap berjalan baik dapat tercapai. Bukan hanya kepentingan komunitas ODOP semata, tetapi efeknya akan berimbas kepada dunia literasi yang lebih luas, dunia literasi di negeri ini.
 

Aku terpekur mendengar apa yang dikatakannya. Perlahan berusaha mencerna, apa makna yang tersirat dalam rangkaian ceritanya.

"Mau mendengar kelanjutan cerita ini?" senyumnya selalu membuatku teduh.

"Iya Ki, tentu saja," mataku mengerjap, setengah melamun ketika bagian akhir cerita itu pikiranku entah berada di mana, "malah semakin penasaran kalau tidak sampai akhir."

Beliau terkekeh. Geriginya putih. Hanya dua buah yang tanggal di bagian kanan atas, membuat raut wajahnya lucu.

"Mudah-mudahan kau paham apa yang Aki ceritakan." Aku tersenyum kecut, seakan-akan matanya bisa menembus apa yang ada dalam pikiranku, "tidak perlu memaksakan diri untuk memahami cerita Aki ini, Cu. Kalau tidak tidak paham bilang saja ya."

Melihat cucunya mengangguk, Aki Palwaguna, berdehem. Lalu melanjutkan ceritanya.

"Seorang manusia menjadi mulia tentu saja karena ikhtiarnya. Banyak orang begitu disanjung oleh orang-orang di sekitarnya, karena dia sering membagi-bagikan hadiah. Siapa yang tidak senang dengan hadiah."

"Sayangnya manusia sering lupa bahwa ketenaran terkadang menjadi tujuan hidupnya. Lalu mereka berlomba-lomba agar selalu tenar, agar orang-orang di sekitarnya selalu menyukainya. Padahal tujuan hidup bukan untuk dipuja-puja manusia."
Wajahnya semakin menunduk. Petuah kakeknya begitu meresap dalam hatinya. Atau bisa jadi karena ucapan kakeknya begitu sulit dimengerti oleh seseorang yang beranjak remaja.

"Tujuan hidup manusia yang paling hakiki adalah mendapat ridaNya. Dan jika memang harus masuk neraka, Aki akan ikhlas memasukinya, asal Allah rida ...."

-ooOoo-

Sudah menjadi rutinitas jika hari libur rumah kakek akan ramai. Semuanya berkumpul di sana. Anak-anaknya, cucu-cucu, bahkan anak-anak dari cucu kakek menyengaja berkunjung membawa rasa rindu yang syahdu. Tak ada sebuah perayaan, tak perlu membawa barang-barang mewah sebagai oleh-oleh, kami hanya bertemu, berkumpul di ruang tengah, berbincang hangat, tertawa-tawa dan makan apa pun yang disajikan oleh nenek.

"Bawa makanan ini ke depan, Nai." getaran suaranya terdengar jelas.

"Iya Mak," aku menerima sodoran nampan berisi ubi rebus, kacang tanah, dan kue basah lainnya, "biar Rinai saja yang masak. Emak duduk-duduk saja di ruang tengah."

"Ih, tidak boleh begitu. Tidak apa-apa kok, Nai. Lagi pula sebagai tuan rumah yang baik, kamu harus menyajikan yang terbaik buat tamu kamu."

"Tapi kan mereka bukan tamu."

"Apalagi bukan tamu, mereka anak-anak Emak semua." Senyumnya begitu teduh. Entah rapalan apa yang selalu dibacakan Emak, hampir tak pernah terlihat di wajahnya sendu.

"Iya, Rinai paham kok. Emak tuh pokoknya the best lah, pasti suguhannya istimewa, padahal Emak sendiri gak masih kekurangan ...."

"Hush! Sudah sudah. Selama kita masih bisa berbuat baik, berbuat baik saja, tidak usah mikir yang lainnya," hatiku bertambah mengembang mendengar apa yang Emak katakan, "tuh, yang di ruang tengah sudah pada kelaparan. Lekas bawa nampannya ke sana."

Mereka menyambutku dengan tawa. Dan memang inilah yang sedari tadi ditunggu, pengganjal perut. Jika perut penuh, maka hanya ada suka cita yang menyemburat memenuhi sesisi rumah. Tak terkecuali bocah-bocah, yang bermain di teras rumah. Begitu tahu makanan disajikan di ruang tengah, mereka menghambur masuk berlarian, membuat kegaduhan.

"Ini Rinai kan?" aku mengangguk menatap paman iparku, " sudah besar sekarang kamu, Nai. Masih sekolah, kelas berapa?"

"Sudah selesai SMA, Mang. Sekarang kuliah tingkat dua." Bola matanya mengerling, menyimpan sorot yang tak kuketahui apa itu.

"Ah, waktu berjalan sangat cepat. Coba dari dulu tahu, kamu mau masuk kuliah, mungkin bisa paman bantu." Aku tak mengerti arah pembicaraannya.

"Memangnya kenapa, Mang?"

"Ah, tidak apa-apa," jemarinya seakan sedang merapal mantra dengan gerakan berpola yang tak kumengerti, "jadilah seperti kakekmu, menjadi seorang tokoh penting di departemen. Tapi, hati-hati saja. Biasanya jika pohon sudah menjulang tinggi, biasanya gampang ditiup angin dan roboh."

Wajahnya menyeringai.Terkekeh.

-ooOoo-

"Halik siah, nyingkah. Ulah deukeut-deukeut jeung aing!" teriakannya membuat Emak menangis tertahan, "kalau tidak ikhlas, tidak usah anggap lagi saya suami kamu."

"Ampun paralun, Bapak. Emak bukan tidak ikhlas, tapi tidak tahan sama teriakan Bapak." Air matanya berderai. Bergetar menahan kesedihan yang menyayat.

"Ah, mana ada istri yang menyediakan makanan tidak enak seperti ini."

"Ini rendang dari warung sebelah. Coba saja makan dengan tenang, tidak usah emosi."

"Apa, kamu mau ngajarin saya, iya?!" mata Aki nyalang. Entah kerasukan apa perangainya berubah menjadi kasar.

"Sadar, eling. Kenapa Bapak sedikit-sedikit selalu marah. Bicara baik-baik kan bisa, tidak perlu ...," gertakan Aki membuat tubuh Emak semakin gemetar.Tak percaya keadaan suaminya yang berubah.

"Pergi sana, tidak usah ada di rumah ini lagi! Pergi!"

"Bapak ...." anak-anaknya hanya bisa menyaksikan teriakan Aki berpadu dengan tangisan Emak dengan tatapan nanar.

"Istri sama anak sama saja, tidak ada yang becus!"

Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Segala cara, membujuk, menasihati, menegur dengan nada tinggi, tidak mampu membuat amarah Aki reda. Malah semakin menjadi-jadi ketika Aki menganggap mereka berbuat baik kepadanya hanya menginginkan harta.

"Aki istighfar ya, Ki. Rinai bantu baca selawat dan surat Yasin. Aki harus kuat ...."

"Diam! Kamu juga sama saja. Hanya menyusahkan Aki dan Emak!"

-ooOoo-

Kami menatap pusaranya lamat-lamat. Hanya kami berdua, saya dan Emak. Gerimis sudah lama berhenti, menyisakan tanah liket dan udara lembab. Lama kami saling diam, penuh dengan pikiran masing-masing, mengenang Aki Palwaguna dengan segala kisah kebaikan dan penderitaan di akhir hayatnya.

R.M Palwaguna bin R.M Haji Umar Said

Lahir: Sumedang, 1917

Meninggal: 31 Januari 2008

"Emak baik-baik saja kan?" aku menatap rona yang menyisakan air mata. Lantunan ayat suci baru saja selesai dibacakan oleh kuncen makam.

"Iya Rin, Emak tidak apa-apa." Wajahnya begitu teduh.Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. "Aki adalah manusia paling jujur yang pernah Emak kenal."

"Saya ingin mendengarnya, kisah tentang Aki. Emak masih ingat ceritanya?"

"Aki Palwaguna, manusia yang tidak pernah silau dengan harta. Kau tahu Rinai, dengan otak yang cemerlang, kakekmu dengan mudah menapak karirnya dengan cepat. Hanya butuh dua dekade semenjak Aki diangkat menjadi orang dinas, dia menjabat sebagai pengawas dinas pendidikan."

"Sebuah jabatan yang prestisius tentu saja.Dan yang lebih penting lagi, jabatan itu adalah lahan yang basah," mata Emak mengerjap mengingat godaan yang teramat besar ketika suaminya menduduki jabatan itu.

"Terus Mak, apa yang terjadi?"

"Aki tak pernah tergiur dengan apa pun, dengan harta sebanyak apa pun. Kau tahu, sampai akhir hayatnya Aki tak pernah memiliki mobil. Dia hanya mewariskan motor Vespa butut dan uang yang tak seberapa banyak."

"Emak menyesal menjadi istri Aki?"

"Hus, pertanyaan apa itu. Tentu saja Emak tidak pernah menyesal. Malah merasa bangga sudah ikut berjuang dengannya. Seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, setiap derajat keimanan pasti diminta pengurbanan."

Perlahan, rintik hujan mulai turun lagi. Gerimis. Suasana syahdu siang itu semakin membuatku kagum kepada sosok Aki Palwaguna. Entah apa yang orang lain katakan, sekian lama menjabat, tidak pernah mempunyai harta apa pun. Ah, aku tak dapat berucap apa pun.

"Begitu luar biasanya Aki, tempat tinggal kami pun hanya sebuah rumah petak hasil pemberian kawan baiknya. Emak akan kasih satu rahasia lagi kepada kamu Rinai."

"Apa itu Mak?" mataku tak berkedip.

"Hadiah paling istimewa dari kakekmu hanyalah kain kebaya yang selalu Emak pakai ini."

"Hanya itu Mak?" aku tak percaya.

"He em. Hanya ini."

Langit semakin kelabu.Barisan awan hitam mulai mengerubung. Tampaknya hujan deras tak akan lama lagi turun. Kami beranjak.


-ooOoo-

#OneDayOnePost

Malam ini hamba terpekur, menumpah ruah buliran air mata, dalam sajadah panjang

Beribu malam telah kulalui Yâ Allâh, beribu langkah pula hamba menarik kereta diryah

Hamba tidak ingin kereta diryah ini membuat ruh dan sukma hamba tersesat

Yâ Rabb, Engkau Mahaperkasa ...

Apa daya diriku tanpa pertolongan dan kuasaMu. Hamba hanya sebuah wayang rapuh dalam genggaman sang dalang. Setiap saat ku menyebut Asma-Mu, namun tak jua membuatku merasa menjadi insan kamil

Yâ Rabb, Engkau Mahaadil ...

Namun hamba tak pernah berusaha berbuat adil. Bahkan sejak dalam pikiran, hamba tak pernah berusaha menjadi orang yang berpikir adil. Hamba lebih senang melihat keburukan orang lain daripada kebaikannya. Hamba lebih senang mengumbar aib orang lain daripada menutupinya. Hamba lebih senang mempertontonkan kebaikan hamba

Yâ Rabb, bukankah Engkau Maha Mengetahui sedang hamba ini adalah manusia dhoif ....

Lalu mengapa hamba selalu merasa paling mengetahui? Mengapa hamba seakan-akan paling menguasai suatu ilmu dibanding orang lain? Mengapa pula hamba selalu merasa telah memahami satu ayat padahal baru tahu satu huruf dan selalu merasa telah khatam satu surat padahal baru tahu arti satu ayat?

Yâ Allâh, hamba selalu menyebut kemahabesaranMu, dalam sujudku, dalam hidupku ....

Ah, selalu saja. Ketika mengucap kemahabesaranMu, Yâ Allâh, bukannya hamba merasa menjadi kerdil, merasa rendah di hadapanMu. Malah hamba merasa menjadi besar, merasa lebih hebat, merasa paling akbar dibanding makhluk-makhukMu yang lain. Dan pakaianMu yang seharusnya tak pantas kukenakan, malah dengan bangga hamba memakainya: sombong.

Yâ Allâh, hanya Engkaulah Yang Mahabenar ....

Dan hamba selalu mengucapkan kebenaran. Ya, tidak pernah berbicara salah. Apa pun! Ketika berbicara, itulah kebenaran, dan harus dipertahankan mati-matian bahwa itulah kebenaran. Siapa pun yang menyangkalnya adalah salah. Ya, siapa pun yang menyangkalnya berarti telah ingkar kepada kebenaran, telah ingkar terhadap apa yang hamba ucapkan. Lalu, hamba merasa hamba lah yang selalu benar. Apa bedanya dengan dirimu Yâ Rabb, Yang Mahabenar?

Engkau adalah Yang Maha Melihat ....

Seharunya hamba pun bisa melihat kebenaran. Melihat apa yang dilakukan orang lain benar atau salah. Bukan melihat siapa yang melakukannya, tetapi apa yang dilakukannya. Bukan siapa yang mengucapkannya, namun apa yang diucapkannya. Lalu, hamba hanya melihat siapa. Selama orang itu adalah junjungan hamba, maka akan selalu hamba amini.  Seburuk apa pun perkataannya, sejelek apa pun perbuatannya, hamba akan selalu membenarkannya. 

Namun, ketika orang lain pernah melakukan kesalahan, pernah melakukan zalim terhadap hamba, maka selamanya hamba tidak akan pernah mengamini perbuatannya, tidak akan pernah mengamini ucapannya. Apalagi berterima kasih kepadanya walapun dia melakukan beribu maaf dan beribu kebaikan. Walaupun dalam nurani hamba mengakui perkataannya benar, walaupun perbuatannya baik, akhlaknya karimah, walaupun selalu membela nilai kemanusiaan, tidak pernah membuat hamba bersimpati kepadanya, berterima kasih kepadanya, atau sekadar memohon maaf kepadanya.

Hati hamba sudah diliputi kebencian Yâ Salâm, Yâ 'Adl .... Padahal dalam fimanMu, dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlakau adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa 1). Hamba selalu abai, selalu mengingkarinya. Serta merta menghukum mereka karena berbeda faham, serta merta memberi label kepada mereka kufur hanya karena berbeda prinsip. Dengan bangganya, hamba merasa jauh lebih baik dibanding mereka, dan hamba selalu yakin golongan kami jauh lebih diridhai dibanding golongan mereka. Sedangkan Engkau telah berfirman, hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan sekumpulan yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang direndahkan) lebih baik dari mereka (yang merendahkan) 2)

Yâ Quddûs, malam ini hamba menghisab diri hamba sendiri ....

Apakah hamba ini termasuk golongan kufur? Ketika kuucapkan Allâhu Ahad, lalu hamba membayangkan angka satu atau tunggal, hamba telah menyamakan diriMu dengan makhluk. Ketika kuucapkan Allahu Akbar, lalu hamba merasa besar, merasa apa yang hamba lakukan adalah kehendakMu, padahal diriMu melampaui semua pikiran makhlukMu. Padahal Zat-Mu mukhalafatu lil hawadits. Lalu hamba selalu berkata ini adalah anugerah, itu adalah azab. Kami sedang diuji, sedang mereka pasti sedang menerima siksa. Hamba seakan mengetahui dan mewakili kehendak-Mu.

Astaghfirullâh ... Rabbal baraaya

Astaghfirullâh ... Minal khataaya

Yâ Rasulullâh ... salamun 'alaik

Yâ rofi 'asyâni waddâraaji ...

'Athfataiyaji râtal 'âlami ...

Yâ ûhaila jûdi wal karami ...


-ooOoo-
#OneDayOnePost

Malam telah melewati tengah. Tak lama lagi dua pertiganya akan tiba. Samar-samar suara kokok si jago dari kejauhan. Tapi semuanya tak membuatku tersadar dari apa yang sedang kulakukan. Otakku sangat penuh. Pikiranku menerawang jauh. Sangat jauh dari kampung tempatku tinggal. Dan apa yang kulakukan kini, akan mengubah sejarah negeri ini, menjadi sebuah negeri yang porak poranda.

-ooOoo-

Entah sejak kapan dajjal telah merasuki diriku. Sampai kini, antara sadar tak sadar, aku tetap senang melakukan semuanya. Sebuah kesenangan ketika berhasil membuat orang lain terpuruk. Jangan memandang sinis seperti itu. Mereka menjadi terpuruk seperti itu tentu saja bukan salahku. Toh, mereka yang berbuat. Maka, Tuhanlah yang mengazab mereka. Aku?Aku hanya mempercepat datangnya azab kepada mereka.

Selama aku membenci orang itu, selama itu pula tak ada kebaikan pada dirinya. Salah siapa banyak omong. Salah siapa selalu menyerang keputusan yang kubuat. Gampang saja. Sekali kukorek kesalahannya, tamatlah riwayatnya. Benar kan, dia kini tak lagi mendapat apa pun dari teman-temannya. Bahkan harta dan jabatannya dipeloroti setelanjang-telanjangnya. Hahaha, aku senang sekali. Sekali lagi, dia sendiri yang berbuat salah. Tanggung sendiri akibatnya.

Kau pernah lihat iblis? Hoho, tentu saja belum. Kau tak punya kemampuan untuk itu. Namun ketika bangsa terkutuk itu bersemayam pada diri manusia, kau akan lihat dengan sangat jelas kelakuannya. Bukankah iblis selalu mengajak umat manusia ke dalam kesesatan? Iya, kan?

Tentu saja. Lalu, apa bedanya dengan orang yang senang menggunakan alat pembunuh, dan membunuh mansuia lain yang menurutnya sesat. Kaafir. Dengan gagahnya mereka merusak tempat tinggalnya. Lalu, dengan sekali picu, tewaslah orang-orang yang mereka benci, mereka anggap sesat. Pertanyaannya, dalam keadaan apa manusia lain yang "sesat" itu mati? Dalam keadaan baikkah? Atau masih dalam keadaan "sesat"? Jika seperti itu, apa bedanya mereka dengan iblis, membuat manusia-manusia lain tetap dalam kesesatannya.

Ah, mungkin ini terlalu berat kau dengarkan. Jadi, tidak usahlah kau anggap serius, karena aku telah kerasukan dajjal. Dan kau tak akan percaya. Karena diriku bisa menjelma menjadi apa pun. Diriku sangat pandai bersilat lidah, siapa pun yang mengajak diriku debat, aku pasti akan menang. Kau akan kusihir dengan semua uacapanku. Tiba-tiba diriku berubah menjadi seorang jenderal. Pada waktu lain, menjadi orang alim dengan sorban putih, gamis putih, dan janggut tebal. Jika pagi menjelang, kau hanya akan melihat seorang manusia biasa yang selalu menarik simpati manusia-manusia pintar tapi gampang dibodohi.

-ooOoo-


Ketika memberikan sebuah hikmah, bisa saja disajikan dalam bentuk humor.

Dalam khazanah budaya Sunda kita kenal isitlah carita sabulangéntor. Sejatinya masyarakat Sunda (urang Sunda) memang sangat menggandrungi berbagai humora atau banyolan. Kata sunda sendiri sering diplesetkan menjadi "suka bercanda". Bahkan, jika anggota dewan membuat undang-undang yang melarang humor, maka suku Sunda adalah suku yang pertama akan punah, hehehe ....

Pertantaannya apa itu "carita sabulangbéntor"? Dan apakah di setiap carita sabulangbéntor selalu terkandung hikmah atau  pelajarannya?

Carita atau cerita bermakna sebagai sebuah kisah yang dituturkan kepada orang lain dengan gaya bahasa yang sangat ringan. Terkadang carita hanya berupa satu dua paragraf saja. Sedangkan saya sendiri tidak menemukan literatur yang menjelaskan arti dari sabulangbéntor. Berbagai referensi hanya menunjuk kepada cerita humor, sebuah tulisan fiksi yang memancing pembacanya untuk tertawa.

Tokoh paling terkenal pada carita sabulangbéntor adalah Si Kabayan, seorang pemuda lugu, polos, tidak pernah iri dengan orang lain, dan tidak mengenyam pendidikan tinggi. Suatu saat Kabayan berjalan dengan kawan-kawannya, beriringan. Anehnya setiap kali jalan menurun, Si Kabayan menangis tersedu. Sebaliknya, ketika mereka berjalan melewati jalan yang menanjak. Dia malahan tertawa, merasa senang gembira melewatinya. Padahal kawan-kawannya merasa kelelahan, berjalan 
setapak demi setapak begitu menyiksa.

Dengan terheran, seorang kawannya bertanya tentang kebiasaan ganjil Si Kabayan. Apa jawabannya? Ada yang bisa menebak?

Dengan entengnya --sambil mengulum batang ilalang-- pria setengah tambun itu berkata, Begini hei kawan-kawan, kalau jalan menurun saya selalu teringat setelahnya pasti jalanan akan menanjak. Makanya saya menangis, sedih, melihat penderitaan yang ada setelahnya. Nah, kalau jalanan menanjak, saya yakin setelah itu pasti bakal ada turunan. Siapa yang tidak senang kalau ada jalan menurun. Ya, saya tertawa senang lah. Karena hidup ini hanya heuheuy deudeuh dan durang duraring.

Jika disangkupautkan dalam ajaran agama, jalanan menurun diibaratkan sebagai rezeki, atau anugerah. Bisa juga sebagai kemenangan ketika berlomba. Nah, ketika berada di puncak, kita anggap sebagai anugerah, bukan semata-mata karena perjuangan kita. Tetap merendah, tetap bersyukur, karena suatu saat kita akan berada dalam keterpurukan. Namun ketika berada dalam kesusahan jangan pula terlalu bersedih, jangan merasa dirundung kemalangan, karena di dalam kesulitan selalu ada kemudahan.

Ada satu cerita lagi yang sangat saya sukai. Cerita ini dipopulerkan oleh Kang Ibing. Pada suatu hari ada maling hendak mencuri rumah seorang saudagar. Naas nasibnya tidak beruntung. Ketika tengah memanjat genteng rumah saudagar itu, dia terpeleset. Kayu kaso penyangga atap patah, akhirnya tubuhnya terhempas membentur lantai dan meninggal. Maka, pengadilan pun dibuka untuk mengusut siapa yang bersalah atas tuntutan istri si maling yang tidak terima suaminya meninggal.

Dipanggillah oleh hakim pemilik rumah, "kenapa kamu membangun rumah atapnya gampang roboh, sehingga menyebabkan orang meninggal?"

"Ampun Pak Hakim, saya menyuruh tukang bangunan membuatnya. Bukan salah saya." Jawab pemiliki rumah.

"Panggil tukang bangunan!" Maka tukang bangunan pun menghadap ke pengadilan.

"Kamu yang membangun atap rumah, hayoh tanggung jawab sampai patah dan menyebabkan orang meninggal?"

"Bukan salah saya," tukang bangunan membela diri, "ketika memasang atap rumah saya tidak bisa konsentrasi. Ada perempuan di sebelah rumah yang memakai pakaian merah, roknya selutut, sebagai laki-laki normal saya tertarik Pak Hakim. Sehingga perhatian saya terbagi dua."

"Nah, tunggu apalagi, berarti ini salah tetangganya. Panggil perempuan itu!"

Singkat cerita perempuan itu dipanggil oleh hakim. Pertanyaannya sama, "berarti kamu yang bersalah, wahai perempuan mengenakan pakaian merah rok pendek!"

"Bukan, bukan salah saya. Mohon dengar penjelasan saya dahulu Bapak Hakim." Setengah gemetar perempuan itu membela diri.

"Kenapa kamu tidak merasa bersalah, hah?!"

"Ini salah tukang celup. Saya kan menyuruhnya mencelup pakaian saya dengan warna hijau. Kenapa dia malah merubahnya jadi warna merah?"

"Hmm, benar juga. Ya ya, ini pasti salah tukang celup. Panggil tukang celup!" Pengawalnya dengan sigap memanggil tukang celup.

"Tidak ada alasan lagi, kamu tidak bisa mengelak, hai tukang celup. Kamu yang bersalah telah menyebabkan orang itu mati." Sembari mengambil palu, dia ketok tiga kali, "keputusannya dia dihukum gantung!"

Ramailah orang-orang di ruang sidang. Saling bisik berbisik. Saling lirik melirik, sebagiannya lagi saling senggol menyenggol. Algojo telah bersiap di lapangan. Tali, tiang, kapak, telah selesai dipasang. Keputusannya sudah final tak ada naik banding, tidak ada protes yang didengar, tidak ada peninjauan kembali.

Selang beberapa waktu, sang algojo menghadap Pak Hakim.

"Lapor Pak Hakim, saya sudah melakukan apa yang bapak perintahkan, menggantung si tukang celup."

"Bagus!"

"Tapi, dia tidak meninggal."

"Apa?!"

"Tiang gantungnya terlalu pendek Pak Hakim, sedang dia tubuhnya jangkung sekali."

"Aduh, bagaimana kamu ini, masa tidak faham masalah enteng seperti ini? Cari jalan keluar dong."

"Bagaimana jalan keluarnya Pak? Ganti tiang gantungannya?"

"Jangan. Sudah cari saja tukang celup yang pendek. Beres kan?"

Langkah tegap kembali terdengar di ruang sidang. Dengan sigap sang algojo mencari tukang celup bertubuh pendek. Tak lama algojo sudag menghadap hakim lagi. Kali ini membawa seseorang yang bertubuh pendek sekali.

"Salam Pak Hakim."

"Hai tukang celup, hari ini kamu akan mendapat hukuman mati dari pengadilan."

"Lah, apa salah saya Pak Hakim?" keringat dingin membasahi keningnya.

"Karena kamu pendek!"


-ooOoo-

Dari carita sabulangéntor yang kedua apa makna yang bisa diambil? Dalam kehidupan sehari-hari juga, terkadang ada keputusan yang tidak adil. Khusunya pengalaman diri saya sendiri, seperti memberi hukuman bagi anak-anak didik. Karena anak yang satu lebih pintar dalam akademik, maka pujianlah yang sering diterimanya. Atau karena anak yang satu memiliki tampang cantik atau ganteng, kita lebih memerhatikan dirinya dibanding yang lain. Tidak fair. Tidak objektif.

Dalam skala yang lebih besar, ada pimpinan yang salah memberi label kepada anak buahnya. Hanya karena ada anak buah yang hubungannya dekat dengan kepala dinas misalnya, lalu dia tidak serta merta memberi teguran atau sanksi ketika anak buah itu bersalah. Malahan kesalahannya seringkali dialamatkan kepada orang lain yang, dalam tanda kutip, tidak memiliki pengaruh apa-apa kepadanya. Hanya karena kesal karena pada hari efektif pembelajaran tidak berjalan, pimpinan menyalahkan wali kelas atau guru mapel. Padahal masih bisa menegur atau menyalahkan urusan kurikulum. Dan sebagainya.

Inilah sekelumit dan tulisan sangat singkat tentang satu lagi khazanah yang tumbuh subur di dalam masyarakat --urang Sunda-- kita. Sehingga kebajikan yang diwariskan tentu saja harus kita pelihara, selama itu memiliki nilai-nilai islami dan membawa kepada kebaikan.

Demikian. Mohon maaf jika ada tulisan yang kurang berkenan atau salah dalam memahami. Semoga bermanfaat, tabik!


-ooOoo-



#OneDayOnePost

Terkadang kita tak pernah merasakan beruntungnya memiliki, sampai akhirnya kita kehilangan. Masa-masa sekolah yang terkadang kalian berbuat khilaf dan berjalan dalam rel yang salah. Jangan salahkan kami, jangan pula dendam kepada kami ketika bentakan dan tamparana pernah dirasakan.

Baiklah, mungkin Bapak adalah sosok yang dibenci, dan banyak anak menyebut sebagai "guru killer". Waktu menunjukkan hal itu. Siapa pun yang melihat sosok ini, mereka akan berusaha memasang wajah baik atau berjalan menghindar agar tidak berpapasan. Momen yang tak pernah dilupakan adalah ketika Bapak hendak menuju ruang kelas. Baru saja membuka pintu ruang guru untuk keluar, semua anak-anak yang kucintai --yang kebetulan sedang nangkring di teras kelas--, bubar jalan, berhamburan, masuk ke dalam kelasnya masing-masing.

Tidak ada sedikit pun niatan untuk menjadi yang ditakuti (semoga bukan karena takut, tetapi lebih karena segan). Tidak ada pula rasa bangga menyandang "guru killer" yang kalian sematkan. Bukan karena Bapak benci kepada kalian. Bukan! Karena ada cerita dibalik seorang guru yang ingin melihat anak-anaknya menjadi orang hebat ini. Begini kisahnya ....

Lebih dari 15 tahun lalu, guru yang selalu mencintai anak-anaknya itu hidup dalam lingkungan semi militer. Seorang bocah sekolah dasar yang tinggal bersama kedua orang tua luar biasa. Maka, nasib membawa ayahnya mengajar di salah satu sekolah menengah atas terbaik di negeri ini: SMA Taruna Nusantara.

Tidak disangsikan lagi, bagaimana pendidikan yang keras dan disiplin yang diajarkan di sekolah itu. Sebuah sekolah dibangun atas kerja bareng TNI dan Perguruan Tamansiswa. Di sanalah para pemuda usia SMA digembleng di 'kawah candradimuka' sehingga menjadi manusia berkarakter, takwa, disiplin, jujur, pantang menyerah, setia kawan, nasionalis, dan berbudaya.

Suatu waktu, pada dini hari yang dingin, dua jam sebelum azan Subuh berkumandang. Terdengar ketukan keras pintu ruang tamu. Mereka terkaget, dikira ada suatu hal yang teramat penting. Bayangkan saja. Semua orang sedang terlelap, tidak akan pernah mengira bakal kedatangan tamu, dengan ketukan pintu keras.

Sontak ayah bocah tersebut bangun, diikuti oleh ibunya. Mereka semua telah siap mendengar kabar terburuk, entah dari keluarganya di Bandung, entah kabar dari sekolah, entah dari manapun. Tanpa basa-basi seorang tinggi besar berkepala gundul meminta ayahnya untuk dengan segera menyiapkan sebuah teks pidato. Hanya sebuah teks pidato!

Huff. Semua menggelengkan kepala. Kabar itu adalah mereka meminta untuk menyiapkan sebuah teks pidato yang akan dibacakan oleh kepala sekolahnya pada apel menyambut kedatangan tamu dari Mabesad. Peristiwa itu terekam kuat dalam ingatan bocah bertubuh kurus itu. Dan peristiwa itu pada suatu saat kelak, di masa depannya, menjadi pondasi kuat membentuk pribadi dan karakternya.

Lamunan bocah itu berkata begini: jika ayahku saja harus selalu siap ketika atasannya memanggil dan memberi suatu tugas, tanpa mengenal waktu, bagaimana aku yang seorang bocah jika dipanggil oleh Sang Maha Kuasa. Jika oleh manusia saja ayahku harus selalu siap, bersedia berkorban waktu dan pikiran, tentu saja aku pun harus selalu siap berkorban --waktu, tenaga, pikiran, dan hati-- ketika diminta oleh Tuhan.

Nah, cerita singkat di atas bukanlah sebuah cerita menggugah siapa pun, hanya sebuah cerita sederhana namun memiliki arti begitu besar bagi bapak. Toh, di dalam ajaran agama pun kita harus berdisiplin, seperti salat awal waktu dan berjamaah. Atau seperti ketika berpuasa, kita disunahkan mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Bahkan dalam kitab suci umat Muslim, Alquran, terdapat surah dengan nama "waktu", yaitu Al 'Ashr.

-ooOoo-


BERSAMBUNG ...


HALAMAN        <<   1
#OneDayOnePost


Bukan membenarkan yang terbiasa, tapi biasakanlah yang benar. 

Mengingatkan kembali bahwa dalam perbendaharaan kosa kata, kita banyak menggunakan kata --karena sudah biasa-- yang dianggap benar. Hanya dianggap benar.

Kelirumologi dicetuskan pertama kali oleh seorang "bakul jamu" Jaya Suprana. Beliau --merupakan seorang pianis, kartunis, seminaris, humorolog, jamulog, kelirumolog-- orang yang pertama kali menggunakan istilah kelirumologi pada tahun 1996. Dalam kurun waktu 2 tahun beliau mengumpulkannya dalam buku-buku Kaleidoskopi Kelirumologi jilid I sd VII. Ada lagi Ensiklopedi Kelirumologi yang diterbitkan oleh Elex Media Komputindo. Jaya Suprana juga menulis Kelirumoligi Genderisme dan Kelirumologi Reformasi. 

Istilah "kelirumologi" saja sebetulnya sudah salah. Karena jika istilah itu mengacu pada sebuah ilmu yang mendiskusikan kekeliruan dalam kosa kata, seharusnya menjadi kelirulogi. Namun itulah Jaya Suprana. Dengan istilah yang dicetuskannya, dia semakin menegaskan bahwa itulah kesalahan yang lazim digunakan orang-orang.

Sering sekali kita temui percakapan seperti ini, pada saat seseorang membeli makanan. Apakah itu di warung nasi, gado-gado, ketoprak, atau bubur ayam. Lalu si pelayan akan bertanya, minumnya apa, Mas? Kira-kira apa jawaban dari si pembeli? Mereka --atau kita pun sering-- menjawabnya dengan air putih saja.

Nah lho. Untung si pelayan tidak balik bertanya, maksud lo apa: air susu, air santan, atau air kapur? Paham ya. Air putih itu berarti air berwarna putih (memangnya putih itu warna ya? Ungkapan warna putih saja sudah keliru). Putih bukan bening atau transparan. Anehnya si pelayan langung ngeuh dengan keinginan pembelinya, langsung menyodorkan segelas air bening. Tapi, kalau kita menjawab dengan air bening atau air transparan, apa tidak jadi rancu dan aneh ya, hehehe ....

Masyarakat Jawa Barat, dengan budaya Sundanya berhasil menggunakan kata tersebut lebih tepat. Ungkapan "air putih" yang dimaksud kita sebagai air bening memiliki makna yang sama dengan "cihérang", yang berarti air bening (dari ci atau cai yaitu air, dan hérang diartikan sebagai bening). Saya pikir lebih tepat dengan istilah cihérang. Istilah itu digunakan dalam masyarakat Sunda sudah sangat lama, ratusan tahun lampau. Dari kata cihérang ini seharusnya lebih menyadarkan kita bahwa karuhun kita sudah lama bijaksana dan ilmu yang luhung.

BACA JUGA ARTIKEL LAINNYA: "SAMPURASUN"

Kelirumologi lainnya terdapat pada kata "WC" yang merupakan kata serapan dari water closed, mengalami pemendekan istilah menjadi WC. Ehm, coba bagaimana kita mengucapkan kata tersebut? 

Apa? We-se atau dabl-yu se. Pernahkah kita mengucapkannya dengan we-ce? Ih, kaku amat kedengarannya ya, we-ce. Lalu apanya yang salah kalau kita bilang, maaf Mbak, mau tanya kalau we-ce di sebelah mana ya? Bukankah kata tersebut hanya dua huruf, yaitu "w" dan "c". Darimana kita bisa mengatakan se? Bahasa Indonesia, bukan. Apalagi Bahasa Inggris, jelas-jelas bukan. Karena jika dieja dalam English akan menjadi dabl-yu sie.

So, biasakan dengan mengatakan "we-ce" ya. Hmm ....

Kata lainnya adalah aqua yang dimaksudkan jika kita hendak membeli air mineral. Dan itu sudah digunakan sangat lama, sehingga kita pun akan menganggapnya sebagai ungkapan yang lazim dan dibenarkan. Bukankah aqua sebuah merk dagang air mineral? Apa jadinya kalau kita bilang, Pak, beli aqua botol satu dus, lalu diberi sanqua yang jelas-jelas salah, dan kita menerimanya tanpa ada gerutuan, si bapak penjualnya pun memberikan satu dus sanqua tanpa pernah merasa bersalah? Weleh-weleh. Senada dengan aqua kita juga menggunakan kata odol, yang merupakan sebuah merk dagang untuk kata pasta gigi.

Apalagi? Kelirumologi dalam penggunaan Ejaan Bahasa Indonesia, adakah?

Banyak. Salah satunya kata "pagelaran", yang mempunyai kata dasar gelar. Nah, dalam kata yang berimbuhan tidak ada imbuhan pa - an. Kalau ingin menggunakannya dengan benar, bisa mengikuti padanan kata lain. Misalnya: sama = persamaan; baik = perbaikan; tiga = pertigaan; ada penambahan imbuhan per - an. Kata gelar pun sama. Bukan mendapat imbuhan pa - an, tetapi per - an, menjadi pergelaran.

Sangat banyak memang kita (khususnya saya sendiiri) menggunakan kata yang jelas-jelas salah, tetapi kita sudah terbiasa menggunakannya. Entah, apakah karena bahasa kita begitu beragam, lalu terbiasa dengan satu kata, sehingga sulit untuk membiasakan ejaan yang benar. Atau karena pengetahuan awal kita dalam berbahasa begitu dangkal, lalu terkaget-kaget dengan istilah baru. Akhirnya tidak menggunakannya sama sekali dengan alasan ribet. Atau bisa jadi karena kita memang tidak acuh dengan sesuatu yang benar. Dengan ketidakacuhan orang-orang di negeri ini, tidak heran kalau ada seorang yang bersorban, berpeci haji, bersarung, tidak mau ditilang oleh polisi karena tidak mengenakan helm, karena "pa haji" itu merasa tidak perlu mengenakan helm karena sedang sudah ada peci hajinya.

Ada yang mau menambahkan kelirumologi lainnya? Silakan tulis di kolom komentar. ^_^


#OneDayOnePost


*) Khazanah: 1 barang milik; harta benda; kekayaan; 2 kumpulan barang; perbendaharaan; 3 tempat menyimpan harta benda (kitab-kitab, barang berharga, dan sebagainya).

**) Acuh:  peduli; mengindahkan. Tetapi sebagian orang akan mengartikan acuh sama seperti cuek. 

***) Cuek: masa bodoh; tidak acuh.

Jangan sampai karena sudah hafal satu huruf, kita merasa sudah khatam satu surat.


 Dalam budaya Sunda, setiap berjumpa dengan orang lain (dikenal atau tidak) selalu mengucapkan "sampurasun". Dalam berbagai literatur terdapat salah satu pengertian dari kata tersebut, yaitu "hampura ingsun."

"Hampura" berarti mohon maaf, sedang "ingsung" atau "sun" menunjuk kepada diri sendiri. Sehingga jika diartikan keseluruhan, sampurasun mengandung pengertian mohon dibukakan pintu maaf buat diri saya. Luar biasa bukan?
Betapa sangat bijak dan tinggi kepribadian leluhur (sesepuh atau karuhun) kita zaman dulu. Bahkan sebelum berbincang atau mengutarakan maksudnya, kita sudah memohon maaf terlebih dulu. Untuk apa? Bisa saja ketika kita bertamu orang yang hendak ditamui sedang istirahat, atau orang tersebut sedang dalam urusan pentingnya, atau pada waktu lalu pernah terucap kata yang menyinggungnya, baik orang itu sudah kenal atau hanya selintas bertemu.

Jangankan menganggap rendah orang lain, jangankan menunjuk orang lain bahwa dia salah, jangankan menertawakan sesamanya hanya dianggap ilmunya jauh di bawah dirinya. Urang Sunda selalu merasa dirinya sendiri lah yang layak meminta maaf terlebih dahulu. Selalu merasa dirinya lebih rendah dalam hal keilmuannya (fakir, tidak memiliki pengetahuan). Dan itulah sebenarnya akhlak mulia yang dicontohkan oleh Baginda Nabi 'sholallahu alaihi was salaam'.

Nah, jika semua orang berkepribadian seperti itu, jika semua manusia mempunyai akhlak mulia seperti itu, maka tidak ada lagi debat kusir yang hanya mengorek aib orang lain, mengguar kejelekan dan kekurangan "saudara"nya sendiri. Maka, tidak akan ada lagi komandan yang sok, yang selalu merasa lebih hebat, selalu merasa lebih pintar dibanding bawahannya. Tidak ada lagi yang berkata, 'hanya saya yang bisa seperti ini, orang lain mana ada yang bisa melakukan hal yang saya lakukan'.
Demikian, semoga bermanfaat. Tabik!


Cikande Indah, awal Maret 2018

#OneDayOnePost