:::: MENU ::::

"Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka." _ Kitab Durrotun Nashihin, karya Utsman bin Hasan al-Khubawi.

Semua umat Muslim di seluruh dunia menyambut dengan sukacita kedatangan bulan Ramadhan, marhaban yaa Ramadhan Mubarak. Tak ada satu pun yang bersedih melihat kedatangannya. Walaupun memang tidak semua orang memiliki nasib sama. Sebagian memiliki rumah, harta berkecukupan, bisa dengan tenang berbuka dan beribadah selama Ramadhan. Sebagian lainnya memiliki rumah, namun hanya cukup untuk berteduh. Sedangkan untuk makan sahur, berbuka, dan beribadah lainnya, mereka tidak memiliki harta cukup, mereka berada dalam kekurangan yang teramat. Di belahan bumi lain, umat Muslim terus dilanda konflik dan perang berkepanjangan. Mereka inilah yang tidak dapat menikmati indahnya Ramadhan dengan tenang dan khusyuk. Lihat saja bagaimana negara-negara di Timur Tengah saling berlomba memperebutkan ladang minyak, berperang dengan sesama sesamanya. Atau lebih jauh ke bagian utara, bagaiaman bangsa Palestina lebih dari tujuh dekade dijajah, direbut haknya, dianiaya dengan sadis oleh tentara zionis.

Syukur alhamdulillaah kita sebagai bangsa merdeka berada di dalam negara yang aman tenteram, bisa menjalankan semua amal ibadah dengan khusyuk dan damai. Tak ada satu hal pun yang mengganggu atau melarang kita beramal ibadah di bulan syahrul Qur’an ini. Berbagai ibadah dan juga tradisi sangat memberi warna kegiatan bulan Ramadhan yang telah lama dilakukan Muslim di tanah air. Satu diantaranya adalah “bukber”, buka bersama.

Bahkan ketika puasa baru menginjak sepuluh hari pertama sebagai pembawa rahmat, kita sudah berurusan dengan bukber, lalu mengobrol dengan serius menentukan kapan dan dimana bukber akan dilakukan. Tentu saja rutinitas tahunan yang selalu diikuti oleh sukacita, kegembiraan dan berbagi. Mulai dari keluarga, saudara, teman sejawat di tempat kerjaan, alumni SMP, alumni SMA, paguyuban, antar departemen, dan sebagainya.

Bukber tidak melulu merupakan buka bersama, buka bareng dengan teman-teman atau saudara. Di sini kita diajarkan untuk tetap menjalin tali silaturahmi dengan saudara-saudara kita. Di sinilah diambil momentum, pada bulan Ramadhan, menjalin kembali tali silaturahmi yang terkadang terlupakan. Oh ya, tentu saja, ketika semua orang larut dalam rutinitas keseharian maka keluarga saudara yang berada jauh di daerah lain terkadang lupa untuk tetap berkomunikasi. Atau ketika teman-teman, kawan, sahabat yang telah lama tak bertemu karena berada jauh di tempat lain, pada momen bukber inilah kita semua dapat menyapa, berbagi kegembiraan dan saling bertanya tentang kabar. Lalu, setelah itu biasanya kita akan mengundang juga anak-anak yatim untuk bergabung, memberi perhatian, memberi sandang dan pangan, atau berbagi sedikit harta yang kita punya.

Sungguh indah ketika kita bisa melakukan “bukber” di bulan yang penuh ampunan dan berkah ini. Semua orang mendapat keberkahan. Semua. Tidak hanya umat Muslim. Tetapi semua orang di seluruh dunia akan mendapat keberkahan bulan Ramadhan.

Bagaimana, sudah siap dengan jadwal bukbernya?


-ooOoo-

#OneDayOnePost
#RamadhanWritingChallenge
#RWCODOP2018
#Day2
#Bukber


: Tulisan Auf Zahra

Bulan puasa memang spesial. Banyak orang yang menyambutnya bahkan sejak jauh-jauh hari. Ada yang menyiapkan diri semenjak 60 hari sebelumnya, bahkan ada pula beberapa orang yang melakukan counting down 100 hari sebelum Ramadhan tiba. Kalau bukan karena bulan yang sangat spesial, istimewa dan penuh berkah, tentu hal-hal semacam itu tak akan terjadi, bukan?

Di bulan yang penuh berkah itu, muslim berbondong-bondong melakukan ibadah yang bermacam-macam. Berburu pahala dan menjauhi dosa. Puasa di siang hari, memperbanyak dzikir, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an, shalat malam lebih panjang, menyantuni anak yatim, memberi makan orang yang berbuka, dan lain sebagainya.

Namun, apa yang terjadi setelah Ramadhan membalikkan punggungnya, pamit pergi. Ketika lebaran tiba, semua terlepas dari kewajiban berpuasa. Ketika 7 hari, 14 hari, sebulan dua bulan setelah Ramadhan melangkahkan kaki menjauh, dalam diri kita seolah tak ada bekas satu pun amalan yang membawa kepada perubahan diri menjadi lebih baik. 

Lalu, apa sebenarnya makna puasa yang telah dijalankan selama sebulan penuh itu? Apakah ketika sudah terlewatinya bulan Ramadhan kita bisa kembali kepada kegiatan-kegiatan ‘dosa’ yang selama di Ramadhan ditahan dan tidak dilakukan? Apakah puasa hanya sebatas formalitas spiritual belaka untuk menjalankan perintah-Nya. Dan tidak memberikan efek apa pun untuk si pelaku? Apakah puasa hanya sebatas menahan lapar dan haus saja?

Err, … setelah selesai puasa ya sudah.
Done. 
Tugas selesai. 
Bebas bertindak semaunya lagi. Kita terlena lagi dengan dunia. Kita tertipu lagi dengan bisikan dan godaan setan. Dan semacamnya. Siklus itu terus saja berputar dan terulang. Lagi dan lagi. Tahun demi tahun. Begitu saja. 

Seperti tak ada evaluasi dan perenungan. Sudah sampai mana dan sejauh apa kualitas puasa kita, sampai-sampai di bulan selain Ramadhan, seolah kita tak merasa diawasi oleh-Nya. Di luar bulan Ramadhan, seolah kita tak perlu takut untuk melakukan dosa yang akan digandakan. Tak perlu takut kehilangan pahala saat memakan bangkai saudara sendiri dengan menggunjingnya. Tak perlu menjaga diri dari dari perbuatan yang merugikan untuk kita lagi. Apakah begitu? .
Ouch, mungkin pertanyaannya bisa diganti dengan begini. Apakah puasa hanya merupakan sebuah perintah dari Allah azza wa jalla yang menjadi tujuan akhir? 
Maksudnya?
Ya, maksudku begini. Apakah puasa itu tujuan akhir atau puasa sebetulnya merupakan sarana agar seorang muslim mencapai tujuan tertentu yang Allah inginkan? 

Untuk mengetahui jawabannya, sumber terbaik dan paling logis tentu adalah dari Al-Qur’an. Dengan cara menengok kembali ke Al-Qur’an. Kembali merenungkan dan menelaah ayat-ayat yang membahas tentang puasa. Tak hanya mempelajari hukumnya puasa. Tapi juga harus disertai dengan perenungan tentang makna dan apa tujuan puasa sebenarnya. Untuk apa muslim harus berpuasa? Kenapa muslim diwajibkan berpuasa pada bulan mulia ini? 

Ya, mungkin semua orang muslim sudah tahu hukumnya puasa; wajib. Wajib bagi mereka yang tidak ada udzur syar’i tentunya. Tak hanya itu, hampir semua muslim juga sudah hafal ayat yang mewajibkan puasa. Bahkan dengan artinya. Ya, ayat ke-183 surat Al-Baqarah. Selain tentang kewajiban, apa saja yang Allah sampaikan di ayat ke-183 Al-Baqarah tersebut? Ini menarik untuk dikupas lebih dalam. 

Di ayat tersebut, Allah berkata “La’allakum”. Seperti halnya di banyak ayat dalam Qur’an, Allah sering sekali menggunakan frasa “La’allakum”. Dia akan memberikan perintah atau memberitahu sesuatu, bla bla bla lalu muncul frasa “La’allakum”. 

Bahasa Arab memang unik. Satu kata saja bisa bermakna banyak. Misalnya kata ‘quruu’, itu bisa bermakna suci atau haidl. Jadi, maknanya ada dua. Bahkan ada yang lebih dari itu. Nah, salah satu kata yang bermakna banyak itu adalah kata “La’alla” di sini.

“La’alla” bisa bermakna sehingga. Jadi, ketika Allah berkata tentang apapun, Dia akan mengakhirinya dengan kata “La’allakum”. Sehingga kalian semua begini, begitu, dan seterusnya. 

Nah, ketika Allah berkata bahwa orang-orang yang beriman itu wajib berpuasa, itu Allah mempunyai tujuan. Dan tujuannya adalah setelah frasa “La’allakum” itu. Ya, tujuan berpuasa adalah sehingga orang-orang yang beriman, sehingga kalian semua, sehingga kita, sehingga kamu, semuanya bisa bertakwa.

Makna lain dari “la’alla” adalah supaya dan semoga. Dengan puasa Ramadhan ini Allah ingin kita, setelah melakukan puasa, semoga kita bisa bertakwa. 
Allah ingin berkata, “Aku mewajibkan kalian semua berpuasa itu, dengannya, semoga kalian bisa mendapat manfaat”

“Semoga kalian bisa lebih bertakwa, setelah kalian berpuasa sebulan penuh itu.”

Ini berarti, bahwa puasa bukanlah sebuah tujuan. Puasa adalah sarana untuk kita, orang-orang yang beriman, agar bertakwa. Kenapa kita harus bertakwa? Dan apa pula makna takwa itu? Bagaimana cara kita bertakwa? Itu yang menjadi pertanyaan selanjutnya.

Tentang makna takwa, kita banyak berbicara tentang takwa. Mendengar di setiap khutbah jum’at dan ceramah-ceramah bahwa muslim harus bertakwa. Tetapi, tak banyak dari kita yang tahu bagaimana cara bertakwa. Memang sih banyak orang yang mengartikan bahwa takwa adalah mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ya, itulah makna takwa dalam pengertian yang paling sederhana. Tapi, lebih detailnya bagaimana?

Eh, sebentar. Sepertinya takwa itu sesuatu yang agak, err… absurd, bukan? Ups … jangan salah paham dulu. 

Takwa di sini merupakan sesuatu yang bersifat ide atau gagasan. Muslim banyak yang berbicara tentangnya, tapi banyak pula dari mereka yang tak paham maknanya dan tak mempraktikkannya. 

Ya, muslim harus bertakwa. Tapi, bagaimana cara seorang muslim bisa mencapai derajat yang disebut sebagai muttaqun atau orang-orang yang bertakwa? Jawaban terbaik adalah, sekali lagi, dengan menengok kembali ke dalam Al-Qur’an dan tafsirnya. 

Para ulama tafsir terdahulu, banyak yang menggunakan tafsir dengan metode bil ma’tsur. Tafsir bil ma’tsur ini adalah tafsir yang menjelaskan suatu ayat dengan ayat lain di dalam Qur’an dan/atau menjelaskan ayat dengan sunnah, yang memang sebagian fungsi sunnah adalah sebagai penjelas dari kitabullah. Dalam konteks takwa ini, mari kita bedah dengan melihat maknanya terlebih dahulu. 

Dari beberapa sumber yang aku dapat—dalam tafsir Al Jalalain, Ibnu Katsir, Al Qurtubi, dan sumber-sumber bacaan lain—makna takwa, yang pertama, adalah takut. Seperti yang Allah jelaskan dalam surat Al-Baqarah [2]: 41. Nah, takut kepada siapa? Takut hanya kepada Allah saja. 

Makna kedua adalah taat dan beribadah. Taat dengan mengharap rahmat dari Allah dan takut akan siksa Allah. Taat dengan sebenar-benarnya taat dan beribadah dengan sebenar-benarnya ibadah. Seperti pendapat Imam Mujahid dan Ibnu Hatim. Sebenarnya, panjang pembahasan mengenai makna takwa ini. Tapi, sebagian penjelasan di sini sepertinya sudah cukup.

Setelah mengetahui makna takwa, yang perlu diketahui selanjutnya adalah bagaimana cara menjadi orang yang bertakwa. Sampai, Allah pun mewajibkan puasa Ramadhan sebagai sarana untuk orang-orang beriman agar bertakwa. 
Bagaimana cara menjadi orang yang bertakwa? Dalam Qur’an, Allah menyebutkan tentang orang yang bertakwa dan sifat-sifat mereka. Nah, dijelaskan bahwa orang yang bertakwa adalah ...,

Pertama, mereka yang beriman kepada yang ghaib (QS. [2]: 3). Maksudnya? Beriman kepada yang ghaib itu kan luas. Maksudnya adalah beriman kepada Allah, malaikat, hari akhir, dan akhirat (QS. [2]: 177), dan juga kepada qadha dan qadar yang Allah tentukan, serta beriman kepada hal-hal ghaib lain seperti surga, neraka, setan, jin, dan lain sebagainya. 

Mereka juga beriman kepada apa yang diberikan kepada Rasulullah dan juga para nabi terdahulu. (QS. [2]: 4) dan beriman juga kepada para nabi (QS. [2]: 177).

Kedua, mereka yang bertakwa adalah yang juga mendirikan shalat (QS. [2]: 3, 177). Tak hanya shalat yang ketika shalat tapi mereka malah celaka. Shalat yang tidak dijalankan secara malas (QS. [9]: 54) dan shalat yang tidak dijalankan secara lalai (QS. [107]: 4-6 ). Shalat mereka adalah shalat yang khusyu’ (QS. [23]: 2) seperti halnya kriteria dari mukmin. 

Ketiga, mereka adalah yang menginfakkan harta yang telah Allah berikan (QS. [2]: 3) dan harta yang mereka cintai (QS. [2]: 177). Baik infak yang wajib seperti zakat atau yang sunnah seperti sedekah, infak dan lain-lain. Kepada siapa harta itu mereka nafkahkan dan untuk apa? 

Harta itu mereka nafkahkan kepada para kerabat, anak yatim, orang miskin, musafir, orang yang meminta-minta, dan untuk memerdekakan budak. (QS. [2]: 177). Tak hanya itu, orang-orang yang bertakwa tak hanya menafkahkan hartanya di waktu lapang, mereka juga menafkahkan hartanya di jalan Allah di waktu mereka kekurangan, di waktu sempit (QS. [2]: 177, QS. [3]: 134). 

Keempat, oang yang bertakwa juga mereka yang menepati janji, orang yang sabar, dan jujur (QS. [2]: 177). 

Mereka juga adalah orang yang berdoa untuk diampuni dosa dan dijaga dari neraka (QS. [3] 16). 

Beristighfar di waktu sahur (QS. [3] 17, QS. [51]: 18) dan saat mereka menyadari bahwa dirinya telah berbuat maksiat serta mendzalimi diri mereka sendiri, dan tidak mengulangi perbuatan dosanya itu, artinya mereka bertaubat (QS. [3]: 135). 

Mereka juga orang-orang yang adil (QS. [5]: 8). 

Mereka juga orang-orang yang ketika bisikan dari setan menyentuh mereka, menghampiri mereka, orang-orang yang bertakwa ini langsung ingat kepada Allah, berlindung kepada-Nya dari setan (QS. [7]: 201). 

Mereka juga orang-orang yang sedikit sekali tidur di waktu malam; mereka orang yang suka melakukan qiyamul lail (QS. [51]: 17).

Mereka pun orang-orang yang takut akan Tuhannya dan takut akan hari kiamat (QS. [21]: 49).
Mereka pun orang-orang yang mengagungkan syiar-syiar Allah (QS. [22]: 32).

Mereka pun orang-orang yang sangat sabar

orang-orang yang menahan amarah mereka.

Dan suka memaafkan kesalahan orang lain. (QS. [3]: 134).

Nah, itulah beberapa sifat dan cara untuk menjadi bagian dari mereka yang disebut Al Muttaqun, orang-orang yang bertakwa. Salah satu jalan untuk mencapai tingkatan itu adalah dengan berpuasa di bulan Ramadhan. 

Allah, dengan segala sifat-Nya yang maha pengasih dan penyayang telah membuat suatu latihan bagi orang-orang yang beriman. 

Ada perbedaan dengan menyebut orang-orang yang beriman dengan orang mukmin. Berbeda ketika penggunaan katanya adalah almukminun dengan alladzina aamanu

Alladzina aamanu menggunakan kata kerja. Di mana kata kerja itu mempunyai waktu, terikat dengan waktu. Dan waktu adalah sesuatu yang selalu berubah, artinya tidak konstan; temporer.

Sedangkan ketika menggunakan kata benda, isim, seperti mukminun, kata benda tak ada kaitannya dengan waktu. Ia bersifat tetap dan konstan. Itu salah satunya. 
Jadi, ketika menggunakan frasa alladzina aamanu, Allah bermaksud untuk memanggil semua orang beriman, baik yang keimanan mereka masih naik-turun ataupun yang sudah konstan. Tak ada pembatasan dan kekhususan seperti halnya dengan kata almukminun.

Ramadhan merupakan sebuah sekolah. Sebuah camp pelatihan. Pelatihan bagi orang-orang yang beriman untuk mencapai suatu tujuan, yakni bagaimana cara menjadi almuttaqun. Seperti seorang pemadam kebakaran, ketika mereka latihan untuk memadamkan kebakaran ada sebuah simulasi dan instruksi dari pelatihnya, kan? Ada kemudahan dan ditunjukkan bagaimana cara yang tepat untuk memadamkan kebakaran. 

Begitu juga saat puasa, Allah membimbing kita, memberikan kemudahan di bulan yang mulia itu. Pelatihan untuk mencapai derajat takwa. Misalnya saja, salah satu kriteria orang yang bertakwa adalah mereka yang menafkahkan harta di jalan Allah. 

Nah, di bulan Ramadhan, Allah memberikan kewajiban berupa zakat. Ini termasuk latihan, agar ketika di luar bulan Ramadhan kita juga bisa melakukan hal yang sama. Ketika merasa lapar dan haus, kita sadar bahwa di luar sana banyak orang yang hampir setiap hari kesulitan untuk mencari makan dan kebutuhan sehari-hari. Mereka sering kelaparan. Di bulan Ramadhan, kita diberikan pahala yang berlipat ganda saat berinfak dan diwajibkan zakat kepada yang berhak.

Salah satu kemudahan yang lain adalah dibelenggunya setan. Di mana setan inilah yang di luar bulan Ramadhan akan selalu menggoda dan menipu manusia. Agar manusia menjadi orang yang pelit, suka tidur, malas shalat, tak bertaubat, melakukan maksiat dan agar manusia terjerumus ke dalam neraka. 

Karena setan sudah dibelenggu, yang menjadi pengahalang dan rintangan satu-satunya adalah diri kita sendiri. Hawa nafsu kita sendiri. Allah pun melatih manusia agar bisa menaklukkan hawa nafsu mereka di bulan Ramadhan dengan cara berpuasa. Karena puasa adalah sebuah perisai seperti yang terdapat dalam hadist.

Bulan Ramadhan yang di mana pintu surga dibuka, pintu nereka ditutup, pahala dilipatgandakan, rahmat Allah dicurahkan sedemikian rupa, diharapkan ketika sudah selesai masa pelatihan untuk melawan hawa nafsu ini selesai, muslim memperoleh kemenangan di akhir Ramadhan. 

Ramadhan merupakan simulasi untuk mengahadapi perang di dalam diri manusia dengan hawa dan perang melawan setan dengan segala tipu dayanya. 

Ketika sudah paham dengan simulasi, dan meraih kemenangan melawan diri sendiri, pelatihan yang Allah berikan itu, harusnya digunakan untuk menghadapi kehidupan dan perang yang nyata melawan godaan dunia, setan dan nafsu yang akan lebih ganas di luar bulan Ramadhan. 

Untuk itu, kita harus melatih diri di bulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh. Dan juga agar bisa memenuhi kriteria-kriteria sebagai orang yang bertakwa. Hmm. Sangat banyak sekali kriterianya, kan? Kamu sudah memenuhi kriteria yang mana sekarang?

_________________
Auf Arza, 16 Mei 2018.
+ Wuih, hebat! Sekarang kamu mulai sering muncul lagi di layar televisi.

* Ah, biasa saja. Momen setahun sekali. Tidak ada yang istimewa sebenarnya. Setiap orang selalu menginginkan dagangan mereka selalu nomor satu.

+ Oh, iya tentu saja. Tidak ada kecap nomor dua maksudmu begitu, kan. Walaupun buat saya itu sangat istimewa. Sebulan penuh kamu akan menghiasi layar televisi. Pagi, siang, atau pun malam. Bahkan ketika ayam belum berkokok, kamu sudah muncul di sana. Ada pesan yang selalu diingat oleh siapa pun yang melihat dirimu.

* Serius amat. Memangnya pesan apa? Saya hanya disuruh diam di atas meja, disinari terangnya lampu, dibersihkan biar badanku tampak bersih mengkilat. Tentu saja ada sedikit efek di sana-sini sehingga warnaku tampak lebih cemerlang. Begitu juga dengan teman-temanku.

+ Tentu saja kamu tak akan merasakan, tetapi orang lain yang merasakan. Selalu seperti itu. Banyak orang yang merasakan dirinya bukan siapa-siapa. Mereka hanya melakukan rutinitas yang mereka bisa dan menganggapnya rutinitas itu ada manfaatnya sedikit buat orang lain. Dan kamu tahu, membuat orang lain bahagia itu bernilai ibadah. Ingat itu, selalu membuat orang lain bahagia.

* Lalu?

+ Ketika orang lain yang merasakan manfaatnya, mereka telah melakukan pekerjaan yang luar biasa, yang orang lain begitu terkesan. Semua orang merasakan manfaat, dampak rutinitas dari orang tersebut. Biasanya sih pekerjaan itu tidak sembarang orang lakukan dan tidak umum dilakukan orang kebanyakan. Orang itulah --yang tak pernah merasa menjadi orang berjasa—pahlawan sebenarnya.

* Apa hubungannya dengan diriku. Maksudmu saya disamakan juga dengan orang berjasa dan orang lain menganggapnya sebagai pahlawan? Haha, tidak mungkin. Tadi saya sudah bilang bahwa saya hanya diam saja, disorot kamera, adegannya sama, di akhir akan ada orang-orang yang kehausan, begitu bedug maghrib tiba, mereka berebutan memburuku yang telah dicampur es batu. Kami --yang berwarna hijau, merah, dan terkadang kuning-- berada dalam  gelas-gelas bening akan diseruput dengan lahap.

+ Tahu apa yang terjadi setelah itu?

* Entah, saya tak pernah memikirkannya.

+ Dahaga orang-orang itu hilang, lalu sekonyong-konyong semua bahagia mengucap syukur. Dan dirimu seringkali menjadi pembuka bagi mereka yang tengah berpuasa, dirimu menjadi minuman terfavorit untuk membatalkan puasa. Dan satu lagi, ketika dirimu telah muncul di layar televisi, dengan label “Marjan” saya akan bisa menebak bahwa Ramadhan akan segera tiba!

* Kalian bahagia juga?

+ Oh iya, pasti. Tentu saja kami semua bahagia menyambut bulan Ramadhan, bulan seribu bulan, bulan Alquran, bulan ibadah. Bulan dimana di dalamnya ketika mengamalkan yang sunah akan dinilai sebagai amalan wajib dan ketika mengamalkan yang wajib pahalanya akan dilipatgandakan.

* Saya pernah mendengarnya. Dan barangsiapa yang menyambut bulan itu dengan penuh suka cita, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.

+ Tapi, kenapa kamu tampak sedikit murung, Jan?

* Yang kutakutkan, ketika mereka melihat saya tersaji di dalam gelas-gelas bening, di layar televisi, bukan bahagia menyambut bulan penuh berkah itu, tetapi senang melihat diriku dan siap meneguk sebanyak-banyaknya diriku.

#OneDayOnePost
#RWC
#RWCODOP2018
#RamadhanWritingChallenge
#sirop
"Rendang dihidang, hati dicincang, airmata berlinang" _ sajak Dimas Arika Mihardja

Matahari semakin condong ke ufuk barat. Langit yang sedari tadi menampakkan biru cerah, perlahan menjadi jingga merona. Dari kejauhan pegunungan Karang berubah menjadi siluet. Sangat indah. Mobil yang kami tumpangi terus melaju menembus kemacetan menuju Cikande, salah satu kecamatan di Kabupaten Serang. Rasa lelah setelah mengikuti kompetisi olahraga di ibu kota provinsi memaksa kami untuk mencari tempat istirahat sekaligus mengisi perut yang keroncongan. Rombongan kami –saya, rekan guru pembimbing, dan beberapa anak yang bertanding– tentu saja ingin mencicipi masakan yang sesuai dengan lidah. Tanpa ada yang merasa tidak berselera tentu saja.
Setelah beberapa kali beradu mulut, akhirnya ke-putusan diambil, merapat di rest area dan menjejakkan kaki di warung nasi padang. 

Tadaa! Sebuah keputusan sangat tepat. Tempat inilah yang selalu menyediakan menu masakan bagi sebagian besar orang selalu pas dengan lidah. Coba saja ketika kita berada dalam sebuah rombongan. Lalu kita memilih tempat makan. Paling aman tentu saja memilih masakan dari Sumatera Barat ini. Apalagi rumah ma-kan padang selalu menyediakan menu andalan dan sudah melegenda: rendang.

Makanan Bangsawan dan Terlezat

Bicara tentang rendang, masakan dengan bahan utama daging sapi ini sangatlah populer. Apalagi rumah makan Padang dapat kita temui hampir di seluruh pelosok tanah air. Siapa pun, –dari kalangan pejabat, tokoh, pemuka agama, pendidik, pengusaha, sampai orang biasa yang bekerja kasar di pabrik– dapat menik-mati rendang dengan harga bervariasi. Beberapa rumah makan memang diperuntukkan bagi mereka golongan menengah ke atas. Tapi banyak juga yang mematok har-ga wajar dan terjangkau.

Padahal pada zaman dulu, rendang merupakan makanan yang khusus disajikan bagi kalangan bang-sawan. Tidak sembarang orang bisa menikmati makanan dengan rempah sangat kentara dan aroma khas yang kuat ini. Seiring perkembangan zaman, berubah pula pola pikir orang-orang di daerah Sumatera Barat. Selain itu kejayaan kerajaan-kerajaan tanah air, termasuk Kerajaan Minang, mengalami masa surut sejak penja-jahan bangsa kolonial. Kini rendang bisa dinikmati oleh siapa pun.

Kita boleh berbangga dengan masakan rendang yang bukan saja tersohor di tanah air, bahkan sampai keluar negeri. Apa yang membuat masakan ini begitu terkenal melanglangbuana sampai mancanegara? Tentu saja karena rasanya yang khas, unik, dan sangat lezat.

Beberapa tahun yang lalu, tepatnya tahun 2011, rendang dinobatkan sebagai makanan terenak dan  terlezat di dunia! Pengakuan ini berdasarkan pada  polling internasional yang di buat CNN Internasional. Rendang menduduki posisi pertama dalam kategori "World's 50 Delicious Food." (lihat: https://www.cnn.com/ travel/). Luar biasa bukan? Tentu saja sebuah kebangaan bagi bangsa Indonesia yang memiliki kuliner khas mendunia.

Tidak heran CNN Internasional menisbahkan rendang menjadi makanan terlezat. Kita bisa melihat bagaimana proses pembuatan rendang memakan waktu cukup lama. Pembuatannya membutuhkan kesabaran dan racikan rempah yang melimpah. Resep warisan turun menurun selalu menemukan rasa khas yang tetap dipertahankan sampai generasi milenial saat ini. Sekali lagi, kita boleh berbangga dengan masakan khas Nusantara yang satu ini. Dan yang terpenting adalah harus tetap melestarikannya.

Hikmah dan Nilai Filosofi Rendang

Bangsa Indonesia, salah satu bangsa paling maje-muk di dunia merupakan bangsa yang sangat religius. Jauh sebelum agama-agama samawi sampai di kepu-lauan ini, kepercayaan nenek moyang dengan ritual-ritualnya selalu dihubungkan dengan kepercayaan kepada Tuhan. Sifat religius yang dibawa secara tidak langsung membawa pengaruh terhadap pola kehidupan masyarakat sehari-hari. Berbagai bentuk bangunan selalu dikaitkan dengan makna filosofisnya. Masyarakat zaman dulu tidak bisa sembarang ketika membuat bangunan. Begitu pula dengan masakan khas yang dimiliki bangsa ini. Nenek moyang kita tidak serta merta membuat makanan asal jadi, selesai. Tetapi ada makna dibalik berbagai masakan tersebut. Selalu ada makna tersirat setiap kuliner khas Nusantara, termasuk rendang.

Pada tulisan di bawah, kita bisa melihat bagaimana sebuah makanan rendang mempunyai makna yang begitu luar biasa. Makna yang diambil dari nilai filosofi setiap bahan yang digunakan dalam pembuatan rendang.

1) Daging sapi

Penggunaan daging sapi dalam makanan rendang oleh masyarakat Sumatera Barat, melambangkan para pemimipin suku atau dalam budaya mereka dikenal dengan "niniak mamak". Bahan daging sangat menonjol, karena memang daging dijadikan sebagai bahan utama. 

Proses pengolahan dagingnya sendiri memerlukan waktu hampir tujuh jam agar mendapatkan daging dengan tekstur lembut, dan bumbu rempah dapat menyerap sempurna. Waktu yang sangat lama itulah menempa rendang sehingga menjadi daging dengan tekstur sangat lembut dan lezat.

Niniak Mamak dalam tradisi suku Minang sendiri mempunyai peran yang sangat menonjol dan selalu memegang peran penting dalam adat budaya kesehariannya.

2) Kelapa

Nama lainnya adalah karambia, melambangkan kaum intelektual atau "candiak pandai". Bahan kelapa yang diambil santannya masih merupakan bahan utama rendang. Santan –dalam jumlah yang cukup banyak– memegang peranan penting dalam membuat aroma dan rasa khas dari rendang.

Begitu pula dengan kaum intelektual di tanah Minang. Kaum ini biasanya menjadi tempat untuk mencari pemecahan masalah jika ada suatu kendala, baik itu dalam bercocok tanam, pembuatan rumah, atau dalam perniagaan (berdagang). Mereka adalah orang-orang yang memiliki tingkat kepintaran di atas orang kebanyakan.

3) Cabai

Merupakan simbol dari para ulama/guru yang tegas dalam mengajarkan kepada masyarakat tentang beragama. Cabai menghasilkan rasa pedas yang membuat perasaan kita terbakar, mata membelalak, bisa jadi sampai meneteskan air mata, saking pedasnya.

Para ulama di tanah Minang selalu menjaga agar perilaku, akhlak, dan moral masyarakat agar tidak menyimpang. Larangan tegas –senada dengan sifat cabai yaitu pedas– yang disampaikan ulama, terkadang membuat kuping kita menjadi panas, menohok perasaan, dan menyadarkan kesalahan, sampai rasa sesal yang kita diperlihatkan dalam air mata.

4) Bumbu rempah

Racikan dari rempah sehingga menghasilkan sebuah masakan lezat melambangkan seluruh masyarakat Minang, dengan berbagai macam perbedaan, tetap menjadikan daerah ini sebuah tempat yang selalu istimewa kehadirannya di Nusantara. 

Mengenal Sosok Pemimpin dari Rendang

Dari paparan di atas, kita bisa mengambil hikmah tentang bagaimana seorang pemimpin harus memiliki karakter kuat yang berbeda dengan orang kebanyakan. Pemimpinlah yang membuat sebuah institusi atau kelompok mempunyai ciri khas, menonjol, dan mempunyai nilai lebih. Seperti daging sapi dalam makanan rendang. Sangat dominan dan paling menonjol dari bahan lainnya. Jika tidak ada daging sapi, maka makanan itu tidak bisa dikatakan sebagai rendang. Sama halnya sebuah kelompok, ketika kehilangan pemimpin yang berkarakter kuat, hilang pulalah kekuatan kelompok itu.

Lidah yang selalu mengatakan dengan jujur apa yang dirasakan ketika mencicipi sebuah masakan. Ketika rasa itu manis, maka kita harus mengatakan manis. Atau ketika rasanya pahit, kita harus menga-takan pahit. Begitu pula dengan asam, pedas, atau gurih, katakanlah rasa itu dengan jujur apa adanya.

Pemimpin dengan karakter kuat harus pula selalu memiliki sifat jujur. Dalam konteks pribadi, kejujuran adalah kata kunci bila ingin menjadi pribadi yang memiliki hati bersih. Berbagai harapan dan kekecewaan yang dewasa ini sering kita jumpai dari calon-calon pemimpin –misalnya calon yang kalah pada Pilkada–, mencerminkan kegagalan mensyukuri nikmat Allah SWT. Orang sederhana dan jujur adalah orang yang berbahagia karena dapat mensyukuri berbagai nikmat yang telah dimilikinya. Adapun orang yang tidak sederhana dan tidak jujur, biasanya adalah orang-orang yang tamak, kufur nikmat, serta pendengki!

Hal yang paling penting dari karakter seorang pemimpin adalah berkali-kali menghadapi tangangan dan ujian. Seperti halnya daging sapi pada makanan rendang yang telah melewati berbagai proses dalam penyajiannya. Mulai dari direbus dalam air panas dalam waktu yang cukup lama, dicampurkan ke dalam santang, dan diberi bumbu. Pemimpin yang berkarakter akan selalu berhasil melalui berbagai tantangan dan ujian.

Bagaimana Bung Karno, “penyambung lidah rakyat Indonesia”, dengan gagah berani menentang penindasan bangsa kolonial, banga penjajah dengan berbagai orasinya. Akibatnya beliau sangat kenyang dimasukkan ke dalam penjara, diancam, bahkan dibuang ke tempat terasing, berbulan-bulan lamanya. Begitu pula ketika tentara dari negeri sakura Jepang masih bercokol di negeri ini. Bung Karno tetap menyampaikan pidato di Lapangan Ikada tanpa rasa gentar, padahal moncong senapan tentara Jepang kala itu sudah siap memuntahkan peluru, jika Bung Karno tetap berpidato.

Dua bagian dari kelompok masyarakat lainnya, kaum candiak pandai dan para ulama, harus melakukan nkewajiban sesuai dengan perannya. Dua kelompok masyarakat ini justru menjadi sentral dalam menjaga agar tatanan masyarakat berada dalam kebaikan.

Pintu itu berderit keras, membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya. Bukan hanya karena derit pintu --yang menandakan engsel pintu itu telah berkarat --, tetapi gubuk itu sangat gelap. Hampir tak ada cahaya yang masuk ke dalamnya. Lalu, menyusul suara langkah yang lamat-lamat masuk ke dalam gubuk reyot itu. Di luar, di kejauhan padang rumput, matari semakin menampakkan jingga. Tak akan lama lagi, pusat tata surya itu akan kembali ke tempat peraduannya.

Di dalam gubuk tampak beberapa perabotan berselimutkan debu, jaring laba-laba tua, dan meja usang tepat di bawah jendela sebelah utara. Gadis itu memberanikan diri, masuk ke dalam ruangan, dengan langkah sangat lambat. Dia meraba-raba sekelilingnya agar tidak terantuk atau menabrak sesuatu ketika melangkah. Hanya ada sinar redup masuk melalui celah atap gubuk yang masih bisa membantunya melihat ruangan. Dia mencari-cari dalam tembok, siapa tahu ada saklar lampu yang dapat dia nyalakan.

Dia terus melangkah, seperti cicak merayap, pelan menyusuri dinding-dinding kayu. Tak seberapa lama gadis itu akhirnya menemukan saklar lampu dan berharap masih dapat berfungsi. Klik! Dia menekan saklar. Ternyata masih berfungsi! Hatinya sedikit girang. Setelah menyapu seisi ruang, keningnya berkerut. Ruang yang dia sangka hanya merupakan gubuk kosong ternyata merupakan sebuah ruangan kerja yang nyaman. Mungkin saja dulunya pernah digunakan oleh seorang pernulis. Rak-rak buku berjejer di sepanjang dinging sebelah selatan, dengan barisan buku tersusun rapi. Satu dua bagian rak kosong, menyisakan buku-buku di lantai dengan kondisi yang berantakan dan berdebu..

Pena, botol hitam, tumpahan tinta di beberapa sudut meja, lembaran kertas, tumpukam buku di kedua sisi, dan satu buku tebal tepat di tengah meja. Dengan hati-hati dia mendekati meja dan melihat lebih dekat buku-buku yang menumpuk di kedua sisi mejanya. Ada sebuah buku yang entah kenapa membuatnya terpaku, seakan mempunyai magnet yang menariknya. Buku itu pun diselimuti debu, kusam, dengan sampul yang sudah tak terlihat jelas.

Debby merasakan ada sesuatu yang ganjil dengan buku itu. Auranya begitu kuat, seakan ada suatu energi yang menarik dirinya. Antar sadar dan tidak dia berjalan mendekatinya. Tidak menarik sama sekali. Sampul kulit kecokelatan, sebagian tepinya kelihatan serat-seratnya, bau apek, dengan tulisan emboss berwarna emas pudar. Dengan tergesa dia meraih buku itu, memasukkannya ke dalam tas, lalu melangkah cepat keluar gubuk itu.

-ooOoo-

Suasana di ruang tamu rumah Debby. Kedua kawan lainnya Bagas si gendut yang perinag dan Alvin yang lebih sering berpikir. Mengamati buku itu dari dekat. Mereka seakan ingin mengulang lagi petualangan di Puncak Manik, dimana sebuah cincin berbatu akik telah membuat Alvin seperti kerasukan roh. Dan hebatnya dia bisa terbang satu meter di atas tanah.

Debby menemukan buku itu di sebuah gubuk, ketika tidak sengaja dia sedang melakukan observasi pelajaran Geografi, pengukuran titik ordinat menggunakan GPS. Rasa penasarannya muncul karena dia terilhami oleh buku trio detektif dari Alfred Hitchcock.

Setelah membulak-balik buku yang ditemukan Debby, berulang-ulang, mereka tidak menemukan apa pun, kecuali tulisan tangan dengan tinta hitam, simbol-simbol aneh, dan susunan kotak tersusun rapi dengan angka dan huruf yang tak mereka pahami. Akhirnya ketiganya menyerah. Alvin dan Bagas pamit pulang, menyisakan Debby yang masih dengan rasa penasarannya.

Malam itu dia masih memandang buku tua itu di tempat tidurnya. Ada simbol-simbol aneh yang dia yakini mempunyai maksud tertentu.

Di halaman kedua ada kotak-kotak yang tersusun rapi seperti tumpukan batu-batu. Di tengah kotak-kotak itu ada simbol huruf dan angka kecil di sudut atas kanannya. Halaman berikutnya kosong, hanya satu dau halaman memiliki tulisan lain.

Jika kalian ingin membuka sebuah dunia, gunakan pena dari (selulosa) yang berubah menjadi gelap. Cahayanya telah hilang, diambil kekuatan jahat. Suatu saat dia akan mengancam kehidupan duniamu. Kalian adalah penghuni bumi yang disebut manusia, makhluk lemah dan terlahir sangat menyedihkan.

Namun Sang Penguasa memberi kekuatan yang sangat besar, yang tak dimiliki oleh makhluk lain. Sungguh beruntung penduduk bumi itu. Dan, aku percaya hanya manusia yang dapat menyelamatkan dunia mumulukar, sebuah dunia ajaib yang selalu kalian anggap remeh.

Gunakanlah pemberian Sang Penguasa untuk menyelamatkan bumi dan dunia kami, mumulukar.

Di halaman berikutnya tulisan lain menambah ketidakmengertian Debby. Gadis berambut panjang pirang itu berulang kali membetulkan letak kaca matanya.

Tulisalah dengan lurus dan jangan pernah terputus. 

602323

Cahaya muncul dari buku itu. Berpendar. Debby langsung menutupnya. Dan tak berani mendekati buku itu. Dia ingin sekali memejamkan mata dan tertidur. Sialnya dia tak pernah tertidur sampai pagi menjelang.

Dengan mata sembab dan memerah dia turun dari lantai dua. Ayah dan ibunya telah menunggu untuk sarapan. Ada perasaan ragu dan takut untuk menceritakan kepada kedua orang tuanya.

(Bersambung ...)


#OneDayOnePost
#Fiksi
#Fiction
: Ngacapruk Edition

I’m surprised when I read my ODOP (One Day One Post) group. It was changed be “Kamis English” and I remember that today is English Day. In my mind I’m very happy to hear that, but in other side it will be my worst day, because my English so bad. I just know what the meaning, but tenses, vocabulary, adjective, pronoun, and so on I don’t know.

So, what do you do know?

I think the show must go on, and I will try with my best effort keep speak with English. Actually we have learned subject English more than six years. At elementary four years, junior high school three years, and senior high school also three years. Hm, I sure, it have a mistake in our teaching learning especially when we study English.
We don’t talk other people; a fact is ability to speak English for myself, really shame. If you’re read my letter above, you will shame also. My English very acakadut, crowded.

Come on, you must optimist. We will learn together. Everybody have ability own self. And very nice in your short story. You can write cerita pendek –a short story– only a second time, with wonderful plot, point of view, and characters. I appreciate it, raise my hat highly.

What do you say, it hear like nyindir, just make my feel happy. When I write my first short story in my community, my letter diseungseurikeun, because my story not good. They read my first paragraph and can guess ending of story. That time I write my story as long as almost 3 thousands word. Hahaha. Its long story not short story. 
But, anyway, it’s nice day. Although my English so shame, but I will keep writing English. Whatever, because I more choose shame than stop to wirte English.

Perfect. Nice sound. I like it. How your future if you still can’t speak English, and still shame to write it? World will be flat. And we should be ready to face it. Competition harder. Automatically every side job must skill of English.
In this chance, a little suggest for you. It’s free.

Okay, what is it?

Don’t too much eat kejo but you must often eat keju.

It’s work?

Not sure, hahaha ...

-ooOoo-

#OneDayOnePost
#KamisEnglish
#EdisiNgacapruk

Pulang ke kampung halaman, kembali ke kota kelahiran yang menyimpan rasa rindu. Teramat rindu. Seprauh hati akan selalu kutinggalkan di sana, agar kelak ketika kembali menjadi belulang, diriku tak tersesat, kehilangan arah untuk menuju tempatku beristirahat.

Hari Minggu yang hangat, memulai perjalanan dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta. Hampir tak ada antrian penumpang atau pun kerumunan orang yang hendak bepergian. Bahkan cenderung sepi. Atau mungkin karena PT KAI semakin memanjakan penumpangnya sehingga perjalanan panjang ini terasa begitu nyaman. Yang jelas ketika kami sampai di sana, rangkaian gerbong kereta Serayu yang akan kutumpangi telah menunggu, berdiam dengan gagah.

Harum aroma roti yang baru diangkat dari oven, bercampur dengan wangi kopi robusta yang bisa dipesan dan dinikmati di gerai stasiun membuat perutku keroncongan. Aku tak berkutik. Dan harus segera menyelesaikan urusan vital ini. Beberapa langkah dari tempat reservasi tiket, pelayan gerai melempar senyuman manis kepadaku, semanis Dian Sastro Wardoyo –yang berperan sebagai Cinta dalam  Ada Apa dengan Cinta-- ketika bertemu dengan Rangga. Sadar tak bisa berbasa-basi, pesananku hanya 2 roti dan 1 botol air mineral, langsung beranjak setelah transaksi dilakukan.

Ada empat orang petugas keamanan dengan seragam berbeda berjaga di jalur antrian penumpang. Satu orang memeriksa kelengkapan perjalananku, tiket dan kartu tanda pengenal (KTP). Setelah melewati keamanan pertama, langkahku terhenti kembali tepat di gerbang stasiun Pasar Senen, dua orang berseragam putih biru-dongker khas pegawai PT KAI kembali memeriksa tiket yang kupegang, mencocokkannya dengan kartu identitas dan menempelkan pada barcode scanner. Semua dilakukan dengan tepat dan cepat. Saya sangat menyukainya.

-ooOoo-

Kereta Serayu berangkat pukul 09.15 dan akan tiba di stasiun Kiaracondong tepat pukul 12.55 waktu Indonesia bagian barat. Satu hal lagi yang aku sukai, waktu pemberangkatan dan tiba begitu presisi. Jadi rencana yang sudah disusun akan bisa berjalan dengan baik.

Dia adalah Ignasius Jonan, seorang pendobrak perkeretaapian Indonesia yang sudah puluhan tahun diurus dengan asal-asalan, hidup segan mati tak mau. Di tangannya PT KAI bertransformasi menjadi perusahaan yang profesional dan menjadi pilihan utama penumpang memilih angkutan transportasi umum.

-ooOoo-

Ada satu hal yang menarik dari perjalanan Pasar Senen – Kiaracondong melalui jalur rel di daerah Purwakarta. Di kilometer 143+ 144, sebuah terowongan panjang menembus Bukit Cidepong. Terowongan Sasaksaat merupakan terowongan terpanjang di Indonesia yang masih aktif dilintasi kereta api. Penjang lintasannya adalah 946,16 meter, hanya kalah dari terowongan Wilhelmina di Banjar - Cijulang yang memiliki panjang 1.208 meter, tetapi sekarang sudah tidak aktif.

Terowongan ini dibangun pada 1902 dan diresmikan setahun kemudian. Konon pembangunan terowongan Sasaksaat melibatkan ribuan pekerja dengan membelah Bukit Cidepong yang berada di Kampung Sasaksaat, Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat. Dipenuhinya Bukit Cidepong dengan bebatuan cadas menjadi salah satu kesulitan saat pembangunan. Saat itu, pengemboman tidak mungkin dilakukan karena akan menimbulkan getaran yang berpotensi menyebabkan longsor sehingga pembuatan terowongan dilakukan dengan cara manual.

Bangunan terowongannya memiliki tinggi 4,30 meter, lebar 4,36 meter, dan tebal dinding beton 0,85 meter. Arsitektur bangunannya kerap disebut mirip dengan terowongan Mrawan di Sidomulyo, Jember. Meskipun terowongan Sasaksaat ini lurus, permukaan di dalamnya sengaja dibuat menanjak di bagian tengah. Tujuannya agar air hujan atau pun air dari sela-sela dinding terowongan tidak menggenang di dalam.

Sebagai peninggalan yang berusia 115 tahun, terowongan Sasaksaat kerap menjadi buruan pencinta sejarah dan kereta api. Masyarakat sering menunggu momen masuk atau keluarnya kereta api dari mulut terowongan untuk diabadikan melalui kamera. Bangunan terowongan yang khas masih kokoh juga menjadi daya tarik untuk dijadikan latar berfoto.

-ooOoo-

Langkahnya terhuyung. Setapak demi setapak. Badannya membungkuk. Tepat ketika berada di tempat istirahatnya, senyum mengembang. Sumringah. Mata sayu itu menatap lamat-lamat bebatuan yang berjejer rapi, dihiasi oleh rerumputan menghijau. Tak ada seorang pun di sana.

Bukankah hari ini adalah Jum'at. Bukankah Seharusnya orang-orang berpakaian putih sudah ramai menyemut, bersiap-siap sembahyang. Tapi, pagi itu tak ada seorang pun yang menampakkan diri, hanya  dia -- Pria tua dengan pakaian compang-camping, kotor, dan bau -- yang berada di sana, menampakkan geriginya yang menghitam dan tanggal di sana-sini.

“Nah, sudah tenang sekarang kan? Tidak ada lagi kecemasan yang hinggap dalam hati kalian,” suara lantangnya membuat burung-burung kecil sontak berhamburan, “berbahagialah wahai teman-teman!”

Senyap.

“Akulah kini yang dirundung malang. Sungguh malang. Kalian tahu kenapa?” suaranya bertambah lantang, namun matanya berkabut. Isakan mulai kentara seiring rintik yang mulai turun.

“Aku merasa menjadi manusia paling malang. Bukan sedih karena meratapi diri sendiri. Bukan! Lihatlah teman, gerombolan orang yang sibuk dengan urusan dunianya. Banting tulang mencari penghidupan, berdagang, mengayuh becak, bekerja di pabrik, menjadi bos dengan tangan selalu berkacak. Bukankah hari ini mereka seharusnya bergegas menuju masjid untuk bersembahyang? Bukankah sebentar lagi Tuhan mereka memanggil-manggil untuk datang ke rumah-Nya?”

“Beruntunglah kalian sahabatku. Tidak ada lagi waktu buat kalian buat berbuat dosa!” tangisnya mulai mereda, “siapa manusia yang lebih beruntung, selain manusia yang diberi kenikmatan diputus segala kesempatan melakukan keburukan. Manusia itu adalah kalian, wahai saudara seimanku.”

Rintik seakan merasakan kesedihan pria tua itu. Butiran air halus, turun lembut, membelai rambut gimbalnya yang kusam. Tak ada angin menderu, tak ada koakan gagak atau sekadar bebunyian serangga. Semuanya tengah menyaksikan pertunjukkan dua makhluk yang saling memadu. Alam seakan terhanyut, terbawa suasana melihat rintik dan pria tua itu dirundung duka yang dalam.

“Hai Ahmaq, apa yang kau lakukan di sana?” teriakan seorang laki-laki membuyarkan tangisan pria tua. Tubuhnya bergeming, tetap bersimpuh di depan bebatuan yang berjejer rapi.

“Mereka semua sudah mati, kenapa kau selalu berbicara dengan orang yang tak pernah menjawab omongan kau, Ahmaq.” laki-laki gagah berpakaian gamis putih-putih itu mencoba merajuk. “Apa yang kau harapkan, hah? Tak ada seorang pun di sana yang dapat membuatmu gembira. Tak ada. Apalagi nisan-nisan yang sudah bulukan itu. Jangan pernah kau ratapi, itu syirik!”

Satu laki-laki lainnya mendekat, “hai fulan, kau sedang bicara dengan pria tua majun itu? Apa akal warasmu sudah hilang?"

"Hanya Si Ahmaq yang sudah kehilangan kewarasannya, akhi, sudah hilang imannya, sampai dia meratap di depan batu-batu bisu itu.”

“Kau sudah tahu, si majnun itu selalu berbuat begitu. Dia sudah musyrik. Kenapa kau tetap berbicara dengannya?”

“Aku mendengar semua apa yang kau bicarakan, wahai anak muda!” suaranya bergetar hebat, “kalian semua benar. Aku adalah pria uzur yang telah lama membuang kewarasannya!” tubuhnya tetap bersimpuh. Takzim.

“Dan kau telah menyembah batu-batu bisu itu!”

“Tidak!” suaranya menggelegar, lalu secepat kilat tubuhnya bangkit, berdiri tegak. “Kalian yang telah musyrik!”

“Kau mengigau, pria tua! Kau tidak pernah berbicara kepada kami. Malahan setiap hari mendatangi pemakaman ini, selalu saja berceramah kepada benda-benda tak bernyawa itu.”

“Apakah ketika aku bersimpuh di depan nisan teman-temanku, berarti aku telah menyembahnya? Apakah dengan berbicara dengan mayat-mayat itu aku telah menyekutukan Tuhan?” tangannya terangkat tinggi menunjuk langit, “sedang kalian dengan yakinnya mengatakan diriku telah ingkar, padahal kalian tidak tahu apa-apa tentang keyakinku.”

“Apa salah kami jika menganggap kau telah ingkar?”

“Kalian sudah merasa menjadi Tuhan!” kini tangannya menunjuk tajam ke arah dua orang pemuda tadi. “Kalian telah meyakini apa yang sebenarnya tidak kalian yakini. Kalian telah merasa tahu keyakinan orang lain, beriman atau musyrik, padahal wilayah itu hanya orang itu dan Tuhannya lah yang tahu.”

Tubuh pria tua itu berguncang hebat. Berbalik memunggungi kedua pemuda, lalu kembali tersungkur, bersimpuh di hadapan nisan sebuah makam.

“Lebih baik aku menceramahi mayat-mayat ini. Tidak ada satu pun yang membantah diriku, karena mereka sadar, mereka tidak mempunyai ilmu lagi. Sedang kalian sebaliknya. Selalu saja berbantah-bantahan, selalu mendebat setiap orang bicara, selalu meludahi orang-orang yang kalian anggap gila. Kenapa? Karena kalian selalu merasa mempunyai ilmu lebih, merasa lebih hebat dibanding orang lain!”

Rintik kembali turun. Semakin lebat. Mata pria tua itu pun berkabut. Perasaan sedihnya tak dapat lagi dibendung. Lolongan tangisannya menjadi, membuat siapa pun yang mendengarnya akan merinding hebat.

-ooOoo-

Kalau sebuah bahasa dengan kesusasteraannya tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya, maka kematiannya akan segera menyusul” __ Ajip Rosidi dalam Mencari Sosok Manusia Sunda: Sekumpulan Gagasan dan Pikiran

One Day One Post (ODOP) Community mengharuskan anggotanya mem-posting setiap hari satu postingan. Tidak ada ketentuan obyek yang harus diposting, sesuai dengan 'passion' atau minat masing-masing. Maka, muncullah berbagai tulisan yang beragam, mulai dari fiksi, cerpen, fiksi mini, kumpulan puisi, prolis, sampai tulisan tentang review, kuliner, opini, artikel, bahkan curhatan.

Menulis secara konsisten setiap hari tentu saja mempunyai dampak signifikan terhadap kemampuan literasi seseorang. Kita tahu semua bahwa syarat utama posting adalah menulis. Tidak mungkin kan, posting hanya mengambil ('copy paste') tulisan orang lain. Nah, dampaknya tentu saja kita akan terbiasa menuliskan pikiran-pikiran yang ada di dalam kepala. Seseorang yang menulis setiap hari pikirannya akan mengalir, membuat pikirannya terbuka terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Mungkin pada awal-awal anggota ODOP akan merasa terpaksa dengan melakukan satu posting setiap hari. Tidak semua orang bisa menulis, sanggup menjadi anggota ODOP. Bahkan seorang yang tulisannya sudah baik, tetap saja perlu kemampuan lebih agar tetap bisa memposting satu postingan setiap harinya. Di sinilah dituntut sebuah komitmen dan konsisten agar apa yang menjadi kebiasaan tetap bisa berlanjut sampai kapan pun.

Apakah cukup dengan menuliskan pikiran-pikirannya seseorang bisa menjadi penulis yang baik?

Di awal tulisan sebuah petuah dari Kang Ajip Rosidi, sastrawan kawakan dari Tatar Sunda, mengatakan bahwa kesusasteraan yang tidak didukung oleh tradisi membaca masyarakatnya akan mati. Lalu, jika mengaca pada perkembangan zaman dengan teknologi canggih sekarang ini, sebagian besar orang hanya menyenangi membaca cepat ('speed reading'), dimana tulisan-tulisan singkat seperti quotes, meme, dan tulisan singkat lainnya itulah yang mereka baca. Semakin jarang mereka menggali informasi ataupun data lainnya dengan membaca sebuah referensi buku yang kredibiltasnya sudah diakui. Kebetulan saya berada di institusi pendidikan, dimana kebiasaan membaca penghuninya bisa dikategorikan rendah. Bukan hanya peserta didiknya, bahkan pengajar dan pendidiknya pun kurang memiliki interest dalam membaca. Terkadang berita singkat atau video singkat seperti video Instagram yang hanya 1 menit lebih mereka minati daripada membaca ulasan seorang tokoh dalam artikel atau surat kabar.

Komunitas ODOP mengadakan Reading Challlange ODOP, dimana semua anggota ditantang untuk membaca buku dengan berbagai ketentuan. Seperti misalnya dalam sembilan hari harus menyelesaikan membaca 2 buku. Menuliskan review buku lalu mempostingnya. Menuliskan quote dari buku yang dibaca setiap hari. Nah, dari kebiasaan inilah kita diharap mampun meningkatkan kemampuan membaca dan dapat berpengaruh pada kemampuan menulisnya. Berdasarkan studi "Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

Apa yang diamanatkan Kang Ajip tentu saja sebagai cambuk, agar kita selalu membaca, membaca, dan membaca, agar sastra Indonesia tetap eksis, bahkan berkembang lebih baik lagi. Dari tulisan di atas, bisa diambil benangmerahnya, sebagai alasan saya untuk bergabung di RCO (saat ini menginjak angkatan 3). Semoga apa yang menjadi tujuan RCO, khususnya keinginan saya pribadi, untuk menjaga literasi anggotanya tetap berjalan baik dapat tercapai. Bukan hanya kepentingan komunitas ODOP semata, tetapi efeknya akan berimbas kepada dunia literasi yang lebih luas, dunia literasi di negeri ini.
 

Aku terpekur mendengar apa yang dikatakannya. Perlahan berusaha mencerna, apa makna yang tersirat dalam rangkaian ceritanya.

"Mau mendengar kelanjutan cerita ini?" senyumnya selalu membuatku teduh.

"Iya Ki, tentu saja," mataku mengerjap, setengah melamun ketika bagian akhir cerita itu pikiranku entah berada di mana, "malah semakin penasaran kalau tidak sampai akhir."

Beliau terkekeh. Geriginya putih. Hanya dua buah yang tanggal di bagian kanan atas, membuat raut wajahnya lucu.

"Mudah-mudahan kau paham apa yang Aki ceritakan." Aku tersenyum kecut, seakan-akan matanya bisa menembus apa yang ada dalam pikiranku, "tidak perlu memaksakan diri untuk memahami cerita Aki ini, Cu. Kalau tidak tidak paham bilang saja ya."

Melihat cucunya mengangguk, Aki Palwaguna, berdehem. Lalu melanjutkan ceritanya.

"Seorang manusia menjadi mulia tentu saja karena ikhtiarnya. Banyak orang begitu disanjung oleh orang-orang di sekitarnya, karena dia sering membagi-bagikan hadiah. Siapa yang tidak senang dengan hadiah."

"Sayangnya manusia sering lupa bahwa ketenaran terkadang menjadi tujuan hidupnya. Lalu mereka berlomba-lomba agar selalu tenar, agar orang-orang di sekitarnya selalu menyukainya. Padahal tujuan hidup bukan untuk dipuja-puja manusia."
Wajahnya semakin menunduk. Petuah kakeknya begitu meresap dalam hatinya. Atau bisa jadi karena ucapan kakeknya begitu sulit dimengerti oleh seseorang yang beranjak remaja.

"Tujuan hidup manusia yang paling hakiki adalah mendapat ridaNya. Dan jika memang harus masuk neraka, Aki akan ikhlas memasukinya, asal Allah rida ...."

-ooOoo-

Sudah menjadi rutinitas jika hari libur rumah kakek akan ramai. Semuanya berkumpul di sana. Anak-anaknya, cucu-cucu, bahkan anak-anak dari cucu kakek menyengaja berkunjung membawa rasa rindu yang syahdu. Tak ada sebuah perayaan, tak perlu membawa barang-barang mewah sebagai oleh-oleh, kami hanya bertemu, berkumpul di ruang tengah, berbincang hangat, tertawa-tawa dan makan apa pun yang disajikan oleh nenek.

"Bawa makanan ini ke depan, Nai." getaran suaranya terdengar jelas.

"Iya Mak," aku menerima sodoran nampan berisi ubi rebus, kacang tanah, dan kue basah lainnya, "biar Rinai saja yang masak. Emak duduk-duduk saja di ruang tengah."

"Ih, tidak boleh begitu. Tidak apa-apa kok, Nai. Lagi pula sebagai tuan rumah yang baik, kamu harus menyajikan yang terbaik buat tamu kamu."

"Tapi kan mereka bukan tamu."

"Apalagi bukan tamu, mereka anak-anak Emak semua." Senyumnya begitu teduh. Entah rapalan apa yang selalu dibacakan Emak, hampir tak pernah terlihat di wajahnya sendu.

"Iya, Rinai paham kok. Emak tuh pokoknya the best lah, pasti suguhannya istimewa, padahal Emak sendiri gak masih kekurangan ...."

"Hush! Sudah sudah. Selama kita masih bisa berbuat baik, berbuat baik saja, tidak usah mikir yang lainnya," hatiku bertambah mengembang mendengar apa yang Emak katakan, "tuh, yang di ruang tengah sudah pada kelaparan. Lekas bawa nampannya ke sana."

Mereka menyambutku dengan tawa. Dan memang inilah yang sedari tadi ditunggu, pengganjal perut. Jika perut penuh, maka hanya ada suka cita yang menyemburat memenuhi sesisi rumah. Tak terkecuali bocah-bocah, yang bermain di teras rumah. Begitu tahu makanan disajikan di ruang tengah, mereka menghambur masuk berlarian, membuat kegaduhan.

"Ini Rinai kan?" aku mengangguk menatap paman iparku, " sudah besar sekarang kamu, Nai. Masih sekolah, kelas berapa?"

"Sudah selesai SMA, Mang. Sekarang kuliah tingkat dua." Bola matanya mengerling, menyimpan sorot yang tak kuketahui apa itu.

"Ah, waktu berjalan sangat cepat. Coba dari dulu tahu, kamu mau masuk kuliah, mungkin bisa paman bantu." Aku tak mengerti arah pembicaraannya.

"Memangnya kenapa, Mang?"

"Ah, tidak apa-apa," jemarinya seakan sedang merapal mantra dengan gerakan berpola yang tak kumengerti, "jadilah seperti kakekmu, menjadi seorang tokoh penting di departemen. Tapi, hati-hati saja. Biasanya jika pohon sudah menjulang tinggi, biasanya gampang ditiup angin dan roboh."

Wajahnya menyeringai.Terkekeh.

-ooOoo-

"Halik siah, nyingkah. Ulah deukeut-deukeut jeung aing!" teriakannya membuat Emak menangis tertahan, "kalau tidak ikhlas, tidak usah anggap lagi saya suami kamu."

"Ampun paralun, Bapak. Emak bukan tidak ikhlas, tapi tidak tahan sama teriakan Bapak." Air matanya berderai. Bergetar menahan kesedihan yang menyayat.

"Ah, mana ada istri yang menyediakan makanan tidak enak seperti ini."

"Ini rendang dari warung sebelah. Coba saja makan dengan tenang, tidak usah emosi."

"Apa, kamu mau ngajarin saya, iya?!" mata Aki nyalang. Entah kerasukan apa perangainya berubah menjadi kasar.

"Sadar, eling. Kenapa Bapak sedikit-sedikit selalu marah. Bicara baik-baik kan bisa, tidak perlu ...," gertakan Aki membuat tubuh Emak semakin gemetar.Tak percaya keadaan suaminya yang berubah.

"Pergi sana, tidak usah ada di rumah ini lagi! Pergi!"

"Bapak ...." anak-anaknya hanya bisa menyaksikan teriakan Aki berpadu dengan tangisan Emak dengan tatapan nanar.

"Istri sama anak sama saja, tidak ada yang becus!"

Mereka tak mampu berbuat apa-apa. Segala cara, membujuk, menasihati, menegur dengan nada tinggi, tidak mampu membuat amarah Aki reda. Malah semakin menjadi-jadi ketika Aki menganggap mereka berbuat baik kepadanya hanya menginginkan harta.

"Aki istighfar ya, Ki. Rinai bantu baca selawat dan surat Yasin. Aki harus kuat ...."

"Diam! Kamu juga sama saja. Hanya menyusahkan Aki dan Emak!"

-ooOoo-

Kami menatap pusaranya lamat-lamat. Hanya kami berdua, saya dan Emak. Gerimis sudah lama berhenti, menyisakan tanah liket dan udara lembab. Lama kami saling diam, penuh dengan pikiran masing-masing, mengenang Aki Palwaguna dengan segala kisah kebaikan dan penderitaan di akhir hayatnya.

R.M Palwaguna bin R.M Haji Umar Said

Lahir: Sumedang, 1917

Meninggal: 31 Januari 2008

"Emak baik-baik saja kan?" aku menatap rona yang menyisakan air mata. Lantunan ayat suci baru saja selesai dibacakan oleh kuncen makam.

"Iya Rin, Emak tidak apa-apa." Wajahnya begitu teduh.Senyumnya tidak pernah lepas dari bibirnya. "Aki adalah manusia paling jujur yang pernah Emak kenal."

"Saya ingin mendengarnya, kisah tentang Aki. Emak masih ingat ceritanya?"

"Aki Palwaguna, manusia yang tidak pernah silau dengan harta. Kau tahu Rinai, dengan otak yang cemerlang, kakekmu dengan mudah menapak karirnya dengan cepat. Hanya butuh dua dekade semenjak Aki diangkat menjadi orang dinas, dia menjabat sebagai pengawas dinas pendidikan."

"Sebuah jabatan yang prestisius tentu saja.Dan yang lebih penting lagi, jabatan itu adalah lahan yang basah," mata Emak mengerjap mengingat godaan yang teramat besar ketika suaminya menduduki jabatan itu.

"Terus Mak, apa yang terjadi?"

"Aki tak pernah tergiur dengan apa pun, dengan harta sebanyak apa pun. Kau tahu, sampai akhir hayatnya Aki tak pernah memiliki mobil. Dia hanya mewariskan motor Vespa butut dan uang yang tak seberapa banyak."

"Emak menyesal menjadi istri Aki?"

"Hus, pertanyaan apa itu. Tentu saja Emak tidak pernah menyesal. Malah merasa bangga sudah ikut berjuang dengannya. Seperti kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, setiap derajat keimanan pasti diminta pengurbanan."

Perlahan, rintik hujan mulai turun lagi. Gerimis. Suasana syahdu siang itu semakin membuatku kagum kepada sosok Aki Palwaguna. Entah apa yang orang lain katakan, sekian lama menjabat, tidak pernah mempunyai harta apa pun. Ah, aku tak dapat berucap apa pun.

"Begitu luar biasanya Aki, tempat tinggal kami pun hanya sebuah rumah petak hasil pemberian kawan baiknya. Emak akan kasih satu rahasia lagi kepada kamu Rinai."

"Apa itu Mak?" mataku tak berkedip.

"Hadiah paling istimewa dari kakekmu hanyalah kain kebaya yang selalu Emak pakai ini."

"Hanya itu Mak?" aku tak percaya.

"He em. Hanya ini."

Langit semakin kelabu.Barisan awan hitam mulai mengerubung. Tampaknya hujan deras tak akan lama lagi turun. Kami beranjak.


-ooOoo-

#OneDayOnePost