:::: MENU ::::
Cerita Pendek


Aku tak 'kan tertidur lagi Kawan. Saya akan terus terjaga, sepanjang malam yang senyap, sepanjang siang yang terik, menunggumu pulang, menemuiku kembali, setelah kita tak jumpa sangat lama.

Namun malam ini begitu sepi. Aku sendiri. Semuanya pergi menikmati malam yang kembali menghangat. Seorang teman mengajak keluar, menikmati malam itu, melihat panorama malam kota C, kota di pesisir utara Pulau Jawa. Aku menolaknya. Aku hanya ingin menunggumu Kawan, menunggumu pulang ke rumah kenangan ini. Biarlah aku sendiri di sini, menyepi, berteman sepi, dan menulis apa pun yang kutujukan untukmu. Aku kembali ke kamarku, menulis dalam kerinduan. Mungkin aku akan kembali tertidur, dalam malam yang hangat, dan kau belum pulang ke rumah ini.

Tapi, Kawan, aku tak 'kan tertidur lagi. Aku akan tetap menunggumu ... pulang!

Ah, kupikir aku telah menulis sesuatu. Dan akan aku ceritakan kepadamu, jika kau pulang nanti, cerita tentang satu kisah. Kisah tentang seorang pengelana berwajah tirus, mencari kebahagiaan dan kekasihnya yang hilang.

Inilah kisahku Kawan, sebuah perjalanan seorang penjemu mencari kebahagiaan menemukan kekasihnya. Di setiap harinya menyusuri tepian Sungai Cipamali, sungai yang membentang memisahkan antara kota B dan kota T, mencari di balik belukar, di tumpukan sampah, dalam abu sisa daun kering terbakar, terus mencari.

Dulu orang-orang memanggilnya Silohut, begitu penuh tawa, wajah yang memancar bahagia dan ramah. Hidupnya hanya dia isi untuk berderma. Ia seringkali mengatakan Bunda Theresa adalah pujaannya. Begitu banyak dermanya, ikatan mahasiswa Katolik, sekolah minggu, kebaktian, dan lainnya. Demikianlah. Hari-harinya tak lepas dari derma dan do'a. Semuanya berjalan baik, sampai suatu ketika dia bertemu seorang gadis manis yang kelak menjadi kekasihnya.

Gadis itu ia jumpai di sebuah geraja. Seorang gadis hitam manis seperti kebanyakan manisnya gadis Manado. Mata hitam bulat besar, dengan hiasan kacamata tipis. Sewaktu gereja mengadakan acara Dies Natalis, ia menjadi panitia kesekretariatan, dan gadis itu, dua angkatan di bawahnya menjadi panitia seksi konsumsi. Kini ia tahu namanya: Aneke, Aneke Boyoh.

Hujan deras pagi itu, namun Silohut bernyanyi hatinya mendendang lagu bahagia. Tak seperti biasanya. Semenjak kenal dengan Aneke dan berlanjut sebagai teman dekat ia begitu riang, matahari seakan bersinar terang , tak pernah tenggelam, tak pernah tertutup mendung. Ia tahu ia telah jatuh cinta kepadanya, dan ia tahu pula bahwa Aneke telah jatuh hati kepadanya. Seperti apakah seseorang yang sedang jatuh cinta Kawan. Lihatlah Silohut. Dia sedang jatuh cinta: tak ada mendung, tak ada malam, tak ada lelah, setiap harinya selalu berhias matahari pagi yang bersinar terang, dalam wewangian bunga di taman, dan berselimut bahagia karena, entah karena apa persisnya, getaran hatinya telah saling terpaut dalam suka.

Malam-malamnya dihiasi benderang lampu taman, siang-siangnya selalu indah dengan kicauan burung gereja di kubah sebuah masjid agung, dan hari-harinya bertaburan beribu puisi cinta. Tatkala sepi merasa malu untuk menampakkan diri, tatkala duka tak pernah muncul, tatkala mendung selalu bersmbunyi dibalik senyum matahari dan angin sepoi, tiba-tiba saja, hujan badai yang tak disertai petir, yang tak disertai mega bergulung. Hujan badai itu menghantam semua wangi bunga, benderang lampu, kicauan burung, dan menerbangkan beribu puisi cinta menjadi seonggok sampah yang manyisakan bau busuk.

Asa yang menggunung akan masa depan penuh bahagia, Silohut selalu yakin akan langkah yang ditempuhnya bersama pujaan hati: Aneke. Apakah salah mencintai seorang gadis yang terkurung dalam sunyi? Apakah salah mencintai perawan yang berbeda keyakinan akan Sang Pencipta-nya? Apakah takdir selalu berbuah pedih dan penuh derita bagi ummat-Nya yang selalu menjalankan perintah-Nya?

Pada suatu malam, dimana gema orang-orang mengaji terdengar di menara masjid. Dia berjalan bergandeng dengan gadis hitam manis itu. Syahdu nian ke dalam kalbu, bulan penuh berkah selalu datang dengan penuh sukacita. Lalu, gadis itu mengajaknya ke sebuah halaman gereja yang letaknya hanya sepelemparan batu di seberang masjid.
"Mas..." setengah berbisik.
"Ya, Aneke-ku."
"Akhirnya kita sampai pada waktu yang telah ditentukan."
"Hmmm..?"
"Ya, hari ini, aku, dan tentu saja keluarga besarku, menetapkan hari ini sebagai tanggal untuk memutuskan."
"Tentang hubungan kita?"
"Ehm."
"Lanjutkan..."
"Aku ada surat untukmu, pangeranku. Tapi dengan satu syarat."
"Apa?"
"Baca surat ini setalah kau tiba di rumah, setelah kau makan dan mandi, ketika kau telah berbaring hendak tidur."
"Kenapa?"
"Kau akan tahu kenapa, setelah kau baca surat ini."
"Baiklah."
"Makasih ya Mas atas semuanya," sambil mengecup pipi Silohut, gadis itu berbisik hampir tak terdengar, "... maafkan aku atas semua perlakuanku padamu. Semoga Tuhan mengampuniku."

***

Teruntuk kekasihku,
Surat ini aku tulis di dalam sebuah gereja tempatku biasa beribadah. Aku telah memohon petunjuk dan ampunan Yesus, semoga inlah jalan terbaik untuk kita berdua.
Tak ada alasan apa pun untukku memohon kepadamu untuk memaafkan aku, untuk mencoba mengerti keadaanku saat ini.
Mas-ku yang kusayangi,
Bukan karena kita berbeda agama, kau Muslim aku sendiri Nasrani. Bukan pula karena berbeda suku, kau Bugis, aku Manado. Aku selalu menyayangimu apa pun perbedaan yang kita miliki, karena bangsa ini selalu berbeda dalam persaudaraan, bersaudara dalam perbedaan*)
Melalui surat ini, aku hanya ingin menyampaikan, sudilah Mas datang dengan pakaian terbaik, dengan sahaja yang selalu kau miliki, ke tempat aku akan melangsungkan pernikahan dengan laki-laki pilihan orang tuaku. Hari yang akan menjadi saksi pernikahanku, bukan dengan Mas, kekasihku yang selalu setia, tepat dengan perayaan Natal tahun ini. Tentulah Mas tahu tempat itu, tempat kita selalu berbagi ceria dan tempatku berkeluh kesah, dan Mas selalu menerima dengan dadamu dan hati yang besar. Tempat dimana surat ini ditulis.
Terima kasih kekasih
St. Maria, malam menjelang puasa pertama kaum Muslim, 2011

***

Menarilah Kawanku, untuk menghilangkan cela di mataku. Canda tawamu mungkin dapat menguapkan jemuku. Senyummu, tolonglah, agar sunyi yang dingin hilang berganti hangat.

Kisahku Kawan, sudilah kau mendengarkanku. Aku tahu, ceritaku begitu kering, tak ada yang menarik dalam kisahku ini. Ketika pesta dimulai, semua orang bersuka ria, mendendang, melompat, menari, berjabat tangan. Aku hanya membisu di luar sana, di bawah gemerlap bintang, menatap kosong langit hitam maha luas. Aku hanya tertarik pada langit hitam ini, begitu syahdu. Ketika semuanya terasa syahdu, semuanya terasa sepi, semakin sepi. Ku 'tak peduli orang yang berpesta, tak peduli teman-teman mengajakku bergembira, tak peduli semuanya!

Aku yang tak mengerti kehidupan fana ini menginjak sebuah waktu, teringat bunda yang begitu belas kasih sepanjang waktu, dan membuat air mataku mengalir, anak macam apa aku ini, tak sepintas pun untuk membalas jasa beliau.

Ah ... maafkan. Semuanya terasa pusing bagiku.

***

*) dikutip dari ucapan Buya Syafi'i Ma'arif

0 komentar:

Post a Comment