:::: MENU ::::

"Lalu, bagaimana engkau akan membayangkan seperti apa Allah jika engkau belum pernah mengalami perjumpaan dengan-Nya?"

"Hmmm ...," Elyas tak berminat membenturkan pertanyaan itu dengan doktrin trinitas yang dia pahami. Sebab, dia tahu, sahabatnya sedang membincangkan zat Tuhan dalam cara pandang Islam.

"Itu kata Allah tentang diri-Nya. Dan tidak ada sesuatu yang setara denga Dia."

"Sesungguhnya Aku adalah Allah, Tiada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku."

-ooOoo-

"(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an, Dia menciptakan manusia, Mengajarnya pandai berbicara, Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan, Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada-Nya, Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan), Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu."

Elyas mendengarkannya dan menvoba menyerap enerfinya. eski tak menampik keindahan kata-kata itu, tetapi Elyas yakin Bahasa Arab bukan bahasa ibunya. Sesuatu yang membedakan dia dengan seisi pasukan ini ketika mendengarkan ayat suci dilantunkan. Orang Arab akan begitu emosional setiap mendengar Al Qur'an diperdengarkak sebab setiap katanya mencelup nurani mereka.

"Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu, Dan Allah telah meratakan bumi untuk makhluk(Nya),  Di bumi itu ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang, Dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya, Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Elyas mendengar isak itu lagi. Tangis anak muda di dalam tendanya. Bercampur dengan kalimat-kalimat yang menebal dan menipis.

"Dia menciptakan manusia dari tanah kering seperti tembikar dan Dia menciptakan jin dari nyala api. Maka, Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Tuhan yang memelihara kedua tempa terbit matahari dan Tuhan yang memelihara kedua tempat terbenamnya. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Jeda oleh air mata. Dari luar tenda itu, Elyas hanya mendengar tangis yang tertahan-tahan. Beberapa lama:

"Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?"

Pada awal-awal hal ini terjadi, Elyas sangat mengkhawatirkan keadaan sahabatnya. Dia berpikir ada sesuatu yang menggangu jiwanya. Bagaimana bisa seseorang melantunkan sebuah kalimat, lalu emosinya begitu mencuat? Pada hari-hari selanjutnya, meski Elyas tak pernah benar-benar menanyakan, dia mulai memakluminya.

"Dan kepunyaanNya lah bahtera-bahtera yang tinggi layarnya di lautan laksana gunung-gunung. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Semua yang ada di bumi itu akan binasa.  Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan."

Elyas mulai berpikir, sahabatnya kesal kepadanya karena mencegahnya mati di bawah benteng Alexandria. Anak muda itu memahami kematian berbeda dengan kebanyakan orang.

"Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?

-ooOoo-

"Kau tahu makna syahid, Elyas?"

Elyas menggeleng.

"Kata itu melekat pada nama Allah: Asy-Syahid: Yang Maha Menyaksikan dan Disaksikan. Dia menyaksikan dalam segala sesuatu. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Allah hadir, tidak ghaib dari segala sesuatu. Sekaligus menhadi saksi segala sesuatu. Seorang Muslim yang gugur dalam kepentingan agama Allah disebut syahid karena malaikat menghadiri kematiannya."

"Kau yakin Allah akan mengabulkan do'a kesyahidanmu?"

Sahabatnya menghirup udara pagi. Dadanya mengembang. Terhembus kemudian. "Nama-Nya yang lain adalah Al Mujiib: Maha Mengabulkan. Jika engkau terus berdo'a, Diak akan mengabulkannya."

"Mengapa kita harus berdo'a? Bukankah Allah Mahatahu kebutuhan kita?"

"Agar manusia menjadi rendah hati. Tahu diri siapa hamba dan siapa Tuhannya. Ketika engkau melakukannya, engkau mengusir sikap sombong, malas, apalagi berharap kepada selain Allah?"

-ooOoo-

Dia balas menatap sahabatnya. Tersenyum penuh arti. "Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

"Tuhan Yang Memiliki Kerajaan?"

Dia mengangguk. "Malikul Mulk: Zat Pemilik Kerajaan."

-ooOoo-

"Sa ... saya mengira, Amirul Mukminin ('Umar bin Khaththab), sedang beristirahat siang."

"Buruk sekali prasangkamu. Jika aku tidur siang, aku menghilangkan hak rakyatku. Sedangkan jika aku tidur di malam hari, aku mengilangkan hakku untuk sholat malam. Bagaimana bisa aku tidur dengan dua hak yang harus kujaga itu, Ibnu Hudaij?"

-ooOoo-

Elyas membisu beberapa waktu.

"Saya tidak pernah tahu, kemanakah perjalanan saya menuju. Saya hanya berharap perjalanan kali ini memberi saya jawaban," Elyas tersenyum lagi, "... semoga kita bertemu lagi, Nona. Saya berdo'a agar Anda hidup lama dan bahagia."

"Kebahagiaan saya telah pergi hari ini Tuan."

Elyas menggeleng. "Kita tidak pernah tahu apa yang menunggu pada masa depan. Menjalaninya akan memberi tahu kita jawaban dari setiap pertanyaan."

-ooOoo-

Mata Sayyidina 'Umar sedih dan terbebani. "Semua orang sudah berubah kecuali engkau. Banyak pemimpin yang mulai bermewah-mewahan dan menolak hidup sederhana kecuali engkau."

Abu Ubaidah mendengarkan, tetapi hatinya tak terseret keharuan. Pada manusia-manusia semacam dia, segala hal begitu bertautan dengan Tuhan. Tak mudah membuatnya terharu, bersedih, ataupun gembira secara berlebihan."


0 komentar:

Post a Comment