:::: MENU ::::
Tidak seperti pada hari-hari sebelumnya, Abdul kini selalu bangun menjelang Subuh. Begitu bangun, ia langsung bergegas menuju tempat gentong air, mengambil wudhu, lalu menuju masjid Al Wahdah di kampungnya. Para tetangganya pun terheran-heran dengan perubahan pria setengah baya itu. Tak ada yang berani bertanya tentang perubahan sikapnya itu. Namun dari wajah-wajah yang ia lihat di sekelilingnya sangat jelas menyiratkan keheranan orang-orang.



Seminggu sebelumnya ia secara tak sengaja menemukan sebuah buku fiksi yang membuat jiwanya terguncang, membuat kesadaran jiwanya terbangun kembali. Di tengah guyuran hujan yang cukup deras, ia menerobos kerumunan orang basah kuyup, menerobos orang-orang berpayung, sebagian mengenakan jas hujan, satu dua orang dengan jaket oranye meniup-niup peluit mengatur para pengendara motor memarkir kendaraannya agar tetap tertib dan rapi. Abdul menerobos para pedagang kaki lima yang kali ini sangat gembira dan berwajah berseri karena dagangannya laris manis diserbu orang-orang berteduh. Tak ia hiraukan semuanya, yang ia tuju sangat jelas dan hanya satu: Kabitalogy, sebuah café di pinggiran sebuah kabupaten T, di daerah C. Hampir saban Selasa dan Kamis ia akan 'redezvous' dengan sahabat-sahabatnya.

Akhirnya ia tak kuasa melawan derasnya hujan yang sore itu begitu masif, menyerbu bumi yang masih setia ketika selalu diinjak-injak dan semua kotoran disimpan di atasnya. Abdul berhenti tepat di emper sebuah kios buku. Dengan badan setengah menggigil, pria berambut gondrong dan brewok lebat itu iseng melirik sebuah buku yang dijajakan pemilik kios itu. Tergeletak sebuah buku yang membuat hatinya tertarik, karena di sana dengan jelas tertulis penulisnya: Danarto. Wooo, pasti buku yang sangat menarik. Tentu saja, jika pengarangnya Danarto tak sangsi lagi, ini buku berkualitas. Toh, buku Danarto yang kumiliki baru tiga, Adam Ma'rifat, Godlob, dan Orang Jawa Naik Haji. Sekarang aku menemukan sebuah buku lagi dari Danarto, Asmaraloka. Batinnya dengan ekspresi begitu puas dan bahagia.

Tak berpikir lama lagi, Abdul mengambil buku itu dan membelinya. Setelah membayar kepada pemilik kios, hujan yang sedari pagi tadi turun, mulai mereda. Ia putuskan untuk membatalkan pertemuan di sebuah tempat dengan teman-temannya. Ia menyetop sebuah taksi yang tak berpenumpang, setengah meloncat ia naik taksi itu, menuju kediamannya.

***

Hatinnya terasa sesak. Bukan. Bukan sesak karena paru-parunya bermasalah. Bukan sesak karena nafasnya tersumbat. Ia merasakan sensasi yang mengharukan, antara bahagia, sedih, dan takut. Ia sesak karena ia merasakan ada gejolak dalam hatinya, ingin menyemburat keluar, namun ia begitu takut untuk mengeluarkan gejolak itu.

Tak ia sadari ternyata pipinya mulai menghangat. Sebuah tetes air keluar dari kelopak matanya. Satu. Lama kelamaan tetesan itu begitu deras, tak tertahankan. Tubuhnya berguncang. Sengguk dari pangkal tenggorokannya ikut membuat hatinya semakin takut.
Bukan, bukan takut karena seseorang. Ia takut kepada Pencipta-nya. Ia takut kepada Yang Maha Kekal. Ia takut rohnya tak pernah diterima kelak di akhirat, karena perbuatannya selama di dunia ini begitu kotor dan hina.

Apalagi setelah penampakan yang ia lihat sehari sebelumnya. Di langit malam yang 'poék mongkléng' sebuah makhluk bersayap, terbang, putih bercahaya, sangat besar. Bahkan, sayapnya yang berjumlah empat memenuhi langit menjangkau keempat arah mata angin. Sorot matanya begitu tajam menatap dirinya. Merah menyala, seperti hendak mencabut ruh dari jasadnya. Tentu saja ia menggigil. Hampir pingsan.

"Pa Abdul!! Pa...! Sadar Pa. Baca istighfar, istighfar, istighfar Pa...."

Ada suara yang sangat ia kenali. Tubuhnya diguncang-guncang pemilik suara itu.

"Sadar Pa. Bapa kenapa?!" Kembali suara akrab itu ia dengar menjadikan kesadarannya mulai muncul.

"Maaf, saya mengganggu wirid Bapa. Saya khawatir ada makhluk halus yang merasuk."

"Oh, Pa Karim...." ia menatap orang yang berbicara padanya. Orang dengan suara yang sangat akrab, pria sebelah rumah yang telah bertetangga sangat lama.

"Tubuh Bapa berguncang hebat. Tangis Bapa bahkan sampai terdengar di teras. Saya kebetulan sedang di teras, hujan masih lebat di luar, saya menunggu reda."

Di kejauhan suara kokok ayam masih bersahutan. Simfoni maha indah. Suara tetesan ribuan tetes hujan, katak ber-"koeng" riang dan renyah, ayam jago berkokok membangunkan penghuni alam dunia yang masih terlelap, diselingi ranting dan dedaunan gemerisik ditiup angin.

"Ah tidak apa-apa Pa Karim. Saya tidak apa-apa. Saya begitu terbawa emosi. Saya takut!"

"Takut kenapa Pa Abdul?"

"Takut...!"

"Katakan saja Pa, mungkin bisa membantu meringankan sesak yang ada di hati bapa."

"Saya begitu takut. Saya takut mati dalam keadaan buruk. Su'ul khatimah." Kembali tubuhnya terguncang hebat, dengan tangisan keras.
Semakin menggigil tubuhnya, karena ia tak memercayai apa yang ia lihat di hadapannya. Seseorang dengan suaranya yang sangat akrab, kini berubah menjadi makhluk raksasa. Ukurannya begitu besar, menembus dinding masjid, menembus atap masjid, melampaui kubah masjid. Terus membesar memenuhi langit. Wujudnya berubah, seperti menguap. Putih. Bercahaya. Muncul sayap di sisi-sisi tubuhnya. Sayap itu, sayap itu ... ada empat! Sayap raksasa yang memenuhi langit menuju keempat penjuru mata angin.

Cikande Indah, Safar 1438


*) terinspirasi dari "Asmaraloka" karya Danarto

1 comment: