:::: MENU ::::
Dunia yang semakin "sempit" bisa dijelajahi hanya dengan smartphone

“Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan”  ― Pramoedya Ananta Toer, This Earth of Mankind


Banyak hal yang berubah setelah kita melewati abad ke-21, dengan berkembang pesatnya dunia teknologi dan informasi. Semua berawal dari Revolusi Industri yang terjadi di benua biru Eropa, khususnya negara Inggris. Setelah itu dunia berubah dengan sangat cepat. Berbagai mesin, kendaraan dan alat produksi lainnya dibuat masif dengan skala luar biasa besarnya. Kini, dunia milenium yang kita tinggali semakin bertambah melesat seiring dunia teknologi (baca: gadget) menemukan jalur khususnya untuk berkembang. Kita seakan tak pernah berhasil mengejar kemajuan dunia teknologi, dimana kita bergerak dengan merangkak, sedang dunia teknologi bergerak dengan kecepatan suara.

Akibatnya sangat terasa bagi orang-orang yang lahir setelah abad ke-21, atau kita kenal dengan generasi milenia. Mereka yang lahir pada masa itu berhadapan dengan serbuan teknologi yang tak ada habisnya. Sebagian mereka tergagap-gagap. Ada yang memiliki smartphone sangat canggih, tapi hanya digunakan untuk sms dan ber-sosial media saja. Ada yang membeli tablet seharga puluhan juta, digunakan hanya untuk main game saja. Ada yang gadget dengan fitur camera yang mumpuni, namun hanya dipakai untuk ber-swa foto saja.

Tulisan ini bukan untuk melihat sejauh mana penggunaan gadget yang notabene merupakan hasil dari perkembangan dunia teknologi, namun sejauh mana masyarakat, khususnya para pelajar merespon apa yang terjadi pada dunia medsos, menyikapi apa yang mereka terima dari membanjirnya informasi di dunia medos.

Saat ini semakin banyak para pelajar yang hanya mengandalkan copy-paste dari informasi yang mereka terima. Semakin sering mereka menerima dan copy-paste akan semakin mudah kepribadiannya menjadi pribadi yang hanya senang dengan copy-paste, akan semakin lekat budaya copy-paste. Tanpa berpikir dua kali mereka akan share informasi apa pun yang diterima. Bahkan terkadang info tersebut hanyalah hoax (dialihbahasakan dalam Bahasa Indonesia menjadi "hoaks") atau berita bohong. Ini yang memperparah bagaimana generasi penerus bangsa ini menjadi generasi yang lemah akan budaya literasinya dan hanya melahirkan budaya copy-paste.



Konon, mantan Menteri Kominfo di era pemerintahan SBY, Tifatul Sembiring sempat juga menyebarkan info/berita hoax, di akun twitter pribadinya. Tifatul sendiri memiliki follower lebih dari 1 juta! Sangat mengkhawatirkan, karena orang penting dan terpelajar saja bisa terkena dampak negatif dari berita hoax, tanpa melakukan check dan re-check terlebih dahulu. Dalam agama Islam kita kenal dengan tabayyun, yaitu kita teliti kembali, kita cari informasi lagi mengenai berita tersebut. Jika sumbernya meragukan dan isinya bernada kebencian dan permusuhan, lebih baik tidak di-share.

Senada dengan ucapan Bung Pram, seorang terpelajar harus berlaku adil, bahkan sejak masih dalam pikiran. Bisa diterjemahkan bahwa kita sebagai orang terpelajar harus bisa menyaring, bisa memilah apakah suatu kabar itu benar, meragukan, atau sama sekali tidak dapat dipercaya. Kita bisa jujur kepada diri sendiri bahwa hal yang paling sulit dilakukan adalah berlaku adil: jika ada orang salah kita beri sanksi, tapi jika ada orang berbuat baik dan berprestasi kita bisa memberinya aplouse atau ucapan selamat sebagai bentuk penghargaan. Seringkali kita hanya melihat orang tersebut dari satu sisi, jika orang itu salah kita akan mencelanya habis-habisan. Tapi kita tidak pernah melihat sisi baiknya, kebaikannya, atau bahkan prestasinya.

Maka, kita harus bersikap adil bahkan sejak dalam pikiran. Berilah nasihat jika ada orang yang khilaf, berilah penghargaan dan tepuk tangan jika kita melihat orang yang berbuat baik dan meraih penghargaan. Ucapkan terima kasih kepada orang yang berjasa kepada kita, dan segera meminta maaf jika kita berbuat salah.

2 comments: