:::: MENU ::::

Mulai membuka Bab 4, buku karya Gareth B. Matthews, saya mendapat tulisan yang menarik tentang pendapat filosof Matthews yang dihubungkan dengan tulisan Piaget, seorang filosof lain berkebangsaan Perancis.

Matthews berpendapat bahwa filsafat, perkembangan nilainya tidak memiliki ukuran standar, perkembangan intelektual manusia dalam kelompok usia berapa pun. Di sinilah perbedaannya. Piaget bersikukuh dalam menerapkan tolok ukur standar nilai "yang sahih, harus didasarkan pada tingkat keterulangan hasil serta harus didasarkan pada hasil perbandingan reaksi setiap individu". Respon yang "berbeda" bagi Piaget tidak dapat dijadikan acuan dan otomatis dibuang justru oleh Matthews dipungut dan digambarkan sebagai respon yang menarik secara filosofis.

Piaget pun memberi komentar tentang jawaban yang mengada-ada (hal. 87) dimana si anak memberi jawaban, tetapi tidak meyakininya. Dalam bahasa kita sering disebut 'asal ucap' saja. Matthews yang tidak senang dengan komentar Piaget ini memberi respon: "ungkapan-ungkapan filosofis yang paling menarik dan cerdas", barangkali hanya akan dianggap sebagai mengada-ada belaka.

Sebagai pengajar anak usia dini saya mempunyai pengalaman tentang filsafat anak-anak. Terkadang saya kewalahan memberikan jawaban, karena memang bukan ahli dalam kajian filsafat. Suatu waktu, seorang anak bertanya: "Pak, kenapa sih pakai baju seperti itu." (saya pada waktu itu memakai kameja biru dibalut oleh rompi putih).

Saya memberi jawaban "Kamu tahu jawabannya?"

"Tidak Pak."

"Ya, biar tubuh Bapak hangat" padahal cuaca saat itu tidak dingin sama sekali.

Anak lainnya pada waktu yang berbeda bertanya: "Kok, nilainya 10 sih?

Dalam hati saya bilang, lha ini kan memang dari sananya, kalau betul semua nilainya 10.

"Kenapa gak 20 aja sih?"

Tak menemukan jawaban yang tepat, saya jawab: "Karena 10 itu nilai yang baik, dan 0 nilai yang sangat buruk."

Seberondong pertanyaan kembali diluncurkan si anak tadi. Bel istirahat memotong pertanyaannya yang sungguh cerdas.

Ketika membaca buku ini, "Anak-anak Pun Berfilsafat", saya berpikir bahwa anak-anak terlahir dengan rasa keingintahuan yang sangat besar, sebuah anugerah tak terhingga bagi orang tuanya. Sangat besar peluangnya anak-anak kita akan menjadi orang besar, filosof, ilmuwan, da'i, peneliti, dan lainnya.

Sayangnya, banyak ilmuwan-ilmuwan cilik itu 'terbunuh' rasa ingin tahunya, karena secara tidak sadar kita telah membungkam pikiran dan mulutnya yang banyak bicara, dengan kata-kata: "Sudah diam dulu", "jangan banyak tanya", "Iya, iya Mama mengerti, sekarang diam dulu"

JB Watson, psikolog behavioris, mengatakan bahwa ketika kita sebagai orang tua berasa enggan untuk mendengar ocehan mereka, maka anak-anak akan mengalami hambatan dalam berbicara (hal. 93). Ketika si anak menerima teguran untuk "Diam! Jangan banyak tanya" biasanya pertama-tama akan menggerutu. Gerutuan ini lama kelamaan akan menghambat keterampilan berbicara karena mereka hanya akan mengeluarkan suara-suara tidak jelas dengan gerak bibir yang tidak teratur.

Walhasil, biarkanlah anak-anak kita menjadi dirinya sendiri, jangan dibatasi dengan menyeragamkan cara belajarnya, apalagi memaksanya dengan gaya belajar Anda sendiri yang Anda anggap paling baik. Maka, kita akan melihat anak kita sebagai pribadi yang unik dan istimewa.

Sekian.

0 komentar:

Post a Comment