:::: MENU ::::
Dari sekian banyak update status yang saya share di "Facebook", mungkin yang paling banyak muncul adalah tentang prestasi sekolah, ilmu kimia, dan tabayyun. Dua pertama karena saya berkecimpung di dunia pendidikan dan sedikit banyak tahu tentang ilmu kimia. Hal terakhir lebih karena melihat fenomena pasca pilpres tahun lalu dimana banyaknya berita-berita bohong (baca: hoax).

Saya sering menyoroti apa yang terjadi di media sosial, baik itu Instagram, Facebook, Twitter, dan lainnya. Kebanyakan saya akan mulai berkomentar jika mulai menyangkut tentang berita-berita yang di-share bernada kebencian dan fitnah. Bukan saja karena ada undang-undang ITE yang mengatur tentang ujaran kebencian tersebut, terlebih dalam ajaran agama Islam, dua hal itu adalah hal yang dilarang keras, bahkan dengan ancaman sanksi yang sangat berat. Contoh kecilnya tentang fitnah. Jika kita melakukan fitnah, maka perbuatan itu tingkat dosanya sama berat (bahkan lebih berat) dibanding membunuh. Bayangkan seseorang yang memiliki follower ribuan, bahkan jutaan. Sekali men-share suatu berita, ribuan bahkan jutaan orang pasti membacanya. Taruhlah sekitar 5 persennya yang percaya dan men-share ulang, berarti ada 50 ribu orang yang menyebar kabar bohong itu.

Belum lama ini ada tokoh nasional, mantan Menkominfo yang meminta maaf, karena telah menunggah foto "jadul" lalu di-share ulang, dan dinyatakan bahwa kejadian dalam foto itu adalah kejadian yang tengah berlangsung di negeri Myanmar. Nah lho, mantan Menkominfo yang nota bene paham dengan dunia teknologi informasi saja masih bisa menunggah foto hoax, apalagi kita sebagai masyarakat awam.

Apa jalan keluarnya?

Ada dua harta yang hilang, harta yang terlupakan dari kaum Muslim. Satu diantaranya adalah tabayyun. Apa itu tabayyun?

Secara sederhana dan populer tabayyun bisa disamaartikan dengan cek dan ricek. Lebih lengkapnya tabayyun memiliki arti mencari kejelasan tentang sesuatu hal hingga jelas benar keadaannya. Jadi sebelum menerima kabar, kita harus meneliti dan meyeleksi berita, tidak tergesa-gesa juga dalam memutuskan masalah dalam hal apa pun. Tabayyun sendiri merupakan akhlaq mulia dan hal yang sangat penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dan kerukunan dalam pergaulan. 

Ada beberapa bahaya jika kita menerima kabar/informasi tanpa tabayyun, diantaranya: 

1. Menuduh orang baik dan bersih dengan dusta.

2. Timbul kecemasan dan penyesalan.

3. Terjadinya keslahfahaman bahkan pertumpahan darah.

Akhir kata, hendaklah kita semua senantiasa selalu melakukan tabayyun dalam menerima sebuah kabar atau informasi. Tidak diragukan lagi bahwa hal tersebut merupakan kewajiban bagi umat Muslim bahkan bagi semua manusia di dunia ini. Seperti dalam surat An-Nuur ayat 12, bahwa kita harus "Membiasakan diri untuk selalu berprasangka baik terhadap muslim lainnya". 

Dan bahwa kita juga diperintah untuk dilarang berprasangka buruk dan menggunjing, seperti termaktub dalam Al Qur'an Surat Al Hujurat, "...., jauhilah kebanyakan berprasangka, karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Jangan pula kalian memata-matai dan saling menggunjing ...."

Semoga bermanfaat…

1 comment: