:::: MENU ::::
Suasana pembelajaran komputer di laboratorium komputer


Sebagai pengajar, saya sering menemukan anak-anak didik melakukan pelanggaran, entah karena hari itu mereka tidak tahu dengan aturan baru, entah itu karena lupa, entah karena lalai, atau terkadang ada juga yang sudah tahu, tidak lupa, tapi tetap melanggar. Beberapa anak yang terlambat menggunakan alasan telat bangun atau mengantar adik atau tidak ada kendaraan.

Sebagian lainnya melakukan pelanggaran ketika berada di lingkungan sekolah, misalnya berada di kantin ketika jam pelajaran, tidak menggunakan atribut, tidak membawa tugas, yang paling ekstrim adalah memanjat tembok pembatas, hanya karena ingin istirahat di luar lingkungan sekolah.

Cerita di atas merupakan sedikit gambaran bagaimana sebuah aturan sekolah yang dilanggar oleh anak didiknya. Jika aturan sekolah sudah jelas, sudah tertulis di dalam buku kendali siswa dan terpampang di tembok gedung depan, maka ada aturan yang tidak tertulis yang sering kita tidak sadar sudah melanggarnya.

Ada pengalaman lucu ketika saya bergabung dalam komunitas guru mata pelajaran “k”, pelajaran yang termasuk ke dalam rumpun pengetahuan alam. Singkat cerita, komunitas kami sepakat untuk membuat grup di media social dengan nama Musyawarah Guru Mapel K Provinsi B. Lalu, mulailah kami asyik berdiskusi di sana. Ada yang sekedar reuni, karena ada teman yang lama tidak bertemu, ada yang promosi barang, ada yang sekedar basa-basi. 

Seiring waktu komunitas mapel K provinsi B tersebut lebih banyak membahas politik dan pilkada (pada waktu itu berdekatan dengan Pilkada di Ibu Kota dengan suhu politik yang panas). Akhirnya saya pribadi jengah, karena sudah diluar konteks komunitas. Tak ada manfaatnya, komentar saya waktu itu. Toh, kita berada pada rumpun pengetahuan alam, pendidikan, dan di provinsi B, bukan di ibu kota. Sadarkah bahwa komunitas dibentuk untuk menunjang pengetahuan dan keprofesionalan anggota komunitasnya sesuai tujuan awal dibentuk.

Lebih mengejutkan lagi, jawaban sebagian besar anggota lain adalah, ini penting untuk melek politik, untuk masa depan, untuk agama kita dan lainnya yang tetap saja di luar tujuan awal komunitas. Akhirnya saya keluar, dengan sedikit dongkol, karena mereka tetap merasa benar melakukan itu, padahal mereka tidak tahu TEMPAT dan WAKTU. Tempatnya adalah komunitas guru mapel provinsi B, dan waktunya adalah ketika pemerintah menggalakan guru pembelajar sebagai penunjang dari guru yang professional.

Sama persis dengan anak didik yang berada di kantin saat jam pelajaran. TEMPAT-nya adalah sekolah, WAKTU-nya saat jam pelajaran. Otomatis mereka harus berada di ruang kelas dan mengikuti pelajaran sesuai jadwalnya. Bagaimana kalau akan berwisata? Berarti tempatnya di Tanjung Lesung misalnya, atau di Pantai Sawarna. Lalu waktunya tentu saja saat libur semester atau libur akhir tahun.

Kesimpulannya, dimana pun kita berada, apakah di suatu tempat, atau di suatu komunitas, atau berada di lingkungan asing di luar negeri ada dua hal yang harus tetap dipegang: TEMPAT dan WAKTU. Sesuaikan tempat dan waktu dengan aturan main yang berlaku.

Demikian, semoga bermanfaat.

8 comments:

  1. Iyya betul kadang hanya di awal ya mereka fokus. kayaknya itu permasalahan untuk semua orang indonesia yang anget-anget tai ayam kataknya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bkn saya ya Kang MS Wijaya, hehehe

      Delete
  2. Semoga d komunitas ODOP gak OOT ya...

    Oot boleh, tapi jangan keseringan..

    :D :D :D


    Semangat terus Ngodopnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. okeeeh =D minta terus semangat Dan nasihatnya Kak

      Delete
  3. Kalau boleh ngasi masukan, baiknya antar paragraf diberi jarak satu spasi, Pak.. jadi lebih friendly buat pembaca. . soalnya ada yang berjarak, ada yg belum.

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap, terimakasih atas masukannya Mba Nabila (Y)

      Delete