:::: MENU ::::


"Krieeeet....!"

Pintu itu berderit keras, membuat bulu kuduk merinding bagi siapa saja yang mendengarnya. Bunyi kriet yang menandakan engselnya sudah mengalami reaksi oksidasi dan menghasilkan karat*). Lalu, menyusul suara langkah yang lambat masuk ke dalam gubuk itu. Di luar, di kejauhan padang rumput, matahari semakin menampakkan warna jingga. Tak akan lama lagi, pusat tata surya itu akan kembali ke tempat peraduannya.

Ruangan gubuk itu sangat gelap. Hanya tampak debu, jaring laba-laba tua, dan perabotan usang yang ada di dekat lubang jendela. Gadis itu memberanikan diri, masuk ke dalam ruangan, dengan langkah sangat lambat. Ia meraba-raba sekelilingnya agar tidak terantuk atau menabrak sesuatu ketika melangkah. Hanya ada sinar redup masuk melalui celah jendela di ujung ruang yang masih bisa membantunya melihat ruangan. Ia mencari-cari dalam tembok, mungkin ada saklar lampu yang dapat ia nyalakan.

Ia terus melangkah, seperti cicak di dinding, merayap pelan menyusuri dinding-dinding kayu. Tak seberapa ia menemukan saklar lampu dan berharap masih dapat berfungsi. "Klik!" ia menekan saklar. Ternyata masih berfungsi! Hatinya sedikit girang. Tampak semakin jelas seisi ruang itu. Ruang yang ia sangka merupakan tempat kerja seorang pernulis. Rak-rak buku berjejer di sepanjang dinging sebelah kanan. Tentu saja dengan barisan buku tersusun rapi. Satu dua bagian rak kosong, menyisakan buku-buku di lantai dengan kondisi yang berantakan, rusak akibat dari terjatuh dari ketinggian.

Meja bundar di ujung ruang, tepat di bawah jendela, begitu memberi kesan pemiliknya seorang penulis. Pena, botol tinta, tumpahan tinta di meja, lembaran kertas, tumpukam buku di kedua sisi, dan satu buku tebal tepat di tengah meja tersebut. Gadis itu mendekati meja dan melihat lebih dekat buku-buku yang menumpuk di kedua sisi mejanya. Ada sebuah buku yang entah kenapa membuatnya terpaku, seakan mempunyai magnet yang menariknya. Buku itu penuh dengan debu, kusam, dengan sampul yang sudah tak terlihat jelas. 

Lembar demi lembar ia membuka buku. Hanya ada tulisan yang mulai terhapus di sana sini dengan bahasa yang tak bisa dipahami. Akhirnya ia beranikan diri untuk membaca tulisan dalam buku itu. Tiba-tiba tulisan itu memudar. Lalu muncul cahaya keemasan dari tulisan yang memudar itu. Semakin lama semakin terang, semakin jelas. Terang. Silau. Sangat silau. Alangkah kagetnya gadis itu. Sambil menutup mata dengan lengannya ia melangkah mundur. Namun terlambat! Ia merasakan adanya gaya adhesi**) yang sangat besar. Dalam sekejap gadis itu hilang.


***

"Anna ..." samar-samar terdengar suara lembut memanggilnya. "Anna, bangunlah!" Ia mendengar suara itu bertambah jelas. Dengan sangat berat, ia mencoba membuka matanya. Perlahan sekali. Ia mulai dapat melihat sekelilingnya, walaupun masih buram. Tampak cahaya berkelebatan sangat cepat, tapi tidak menyilaukan. Benda-benda berbentuk bulat seakan saling berlomba, bergerak kesana kemari, acak, tak beraturan. Benda-benda yang mengeluarkan cahaya. Ya, ternyata dari sanalah cahaya yang tadi ia lihat ketika masih setengah sadar.

"Anna! Kau sudah bangun?" suara lembut lagi.

"Si...siapa kau?"

"Jangan takut Anna, aku adalah temanmu."

"Ta..ta..tapi, kenapa kau bisa bicara?"

"Kau masuk ke dunia kami, Dunia Mumlukulair, dunia yang penuh keajaiban."

"Kenapa kau bisa bicara?" Anna kembali bertanya kepada benda di hadapannya, "bukankah hanya manusia dan hewan yang bisa bicara, sedang kau hanya benda mati."

"Oh, kau belum paham ternyata. Di sini semua bisa bicara. Kau saja yang tidak tahu bahwa semua benda bisa bicara, termasuk kaum kami."

"Siapa namamu?" tanya Anna.

"Aku adalah Nenunu, aku berasal dari kaum Atumu. Kaum kami semuanya berbentuk bulat seperti diriku. Kami punya kekuatan yang dahsyat, bisa berubah wujud, dan hebatnya lagi kami bisa bergerak dengan kecepatan sangat tinggi."
Kepala Anna semakin tak karuan. Ia merasa aneh. Ia merasa pusing dengan apa yang dialaminya. Entah ada dimana ia sekarang, yang jelas dunia yang ia tinggali kini tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Anna seperti dalam dunia mimpi namun ia dalam keadaan sangat sadar.

"Mari Anna, aku ajak kau jalan-jalan. Naiklah ke atas badanku."

"Tapi ..."

"Ayo, tak usah ragu. Kau akan baik-baik saja. Kau akan melihat ajaibnya Dunia Mumlukulair!"

"Baiklah." Akhirnya Anna melangkah berat dan naik di atas badan benda bulat itu. Ia mulai bergerak bersama Nenunu. Tak ada suara desing mesin, tak ada suara apa pun yang keluar dari benda itu. Tapi ia bisa merasakan Nenunu mempunyai kekuatan yang sangat besar dan bisa bergerak dengan sangat cepat.

(bersambung)




*) Karat merupakan hasil dari reaksi besi dengan oksigen, bukan dengan air 
**) gaya tarik menarik antar molekul yang tidak sejenis

7 comments:

  1. Anna mau diajak jalan2... Hehehe

    Lanjutkan ceritanya...

    ReplyDelete
  2. Ikut Doong ke dunia Atumu, keren yan ini temennya kang Fery nih fantasy banget

    ReplyDelete
  3. ini ahli kimia terjun jadi penulis.. hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuman penggemar kimia, blm jd ahlilan, hehehe
      studi kimia jg Kak Ran?

      Delete
  4. Wuih baru baca ini. Lanjut lanjuut...

    ReplyDelete