:::: MENU ::::

Entah kenapa teman-temanku mengatakan diriku sebagai orang aneh. Sejak pindah sekolah, kembali tempat kelahiranku, Paris van Java. Mereka melihat dari kebiasaan makanku yang berbeda dengan orang kebanyakan di tanah Sunda. Aku sendiri sangat senang dengan masakan yang berasa manis, tidak pedas, dan lebih banyak menu masakan yang terbuat dari nangka dan beras ketan. Padahal sebagian besar masyarakat Sunda akan memakan lalap-lalapan dengan sambal yang sangat pedas dan sayuran yang lebih gurih dibanding manis.

Inilah diriku, sesosok bertubuh kecil dengan lensa tebal terpasang di depan kedua mataku. Aku sendiri merasa sebagai orang Sunda tulen. Hanya saja aku memulai hidup dari kecil sampai menginjak remaja di sebuah kota kecil di Provinsi Jawa Tengah. Kota kecil yang sangat asri dan nyaman, sebuah kota kecil yang bersih dengan sebuah bukit di tepat di tengahnya: Bukit Tidar.

Ya, betul. Itulah Kota Magelang yang terkenal dengan tempat pendidikan akademi militer dan SMA Taruna Nusantara-nya, selain tentu saja Gunung Merapi, salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia. Menginjak bangku sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama aku habiskan di kota ini. Karuan saja, aku belajar dengan masyarakat asli daerah ini: berbicara Bahasa Jawa, dengan kebiasaan masyarakat Jawa, makan dengan cita rasa khas daerah sini, sampai pergi bermain ke tempat rekreasi yang berbeda dengan daerah lainnya.

Singkat cerita, aku menamatkan pendidikan bangku kuliah di sebuah perguruan tinggi di Kota Bandung. Lalu memulai karir menjadi seorang pengajar. Bukan di tempat kelahiranku, bukan juga di Kota Magelang, namun di tempat yang jauhnya 5 jam berkendaraan bis. Sebuah tempat yang terletak jauh di sebelah tenggara ibu kota Jakarta. Mengajar di sebuah sekolah yayasan pendidikan Islam, yaitu SDIT Al-Fatih 1, Kabupaten Tangerang.

Apa? Mengajar bocah-bocah kecil di sebuah sekolah dasar? Itulah pertanyaan besar dalam benak aku dan membuatku ragu karena ketidakpercayaan diriku mengajar anak seusia itu. Padahal aku mengajukan proposal kepada sekolah itu sebagai staf pengajar SMP. Namun, di akhir keputusan mereka malah memberi amanah kepadaku sebagai pengajar SD. Hebatnya lagi, aku ditempatkan sebagai guru kelas 2. Ya, guru kelas dua! Ya Allah, aku yang lebih sering bergaul dengan anak kuliahan dan mengajar privat anak remaja (tingkat SMA) dan terus terang saja ketika berhadapan dengan anak-anak kecil aku seakan tidak bisa masuk ke dalam dunianya, apalagi mengajar mereka. Apakah aku sanggup? Apakah aku terima saja amanah dan kepercayaan yang diberikan kepadaku ini?



Pergulatan batin yang sempat muncul, karena bujukan teman-teman di sekolah itu dan kepercayaan yang diberikan pimpinanku, akhirnya aku terima juga (walaupun pada awalnya dengan setengah hati). Aku mulai masuk ke dalam dunia yang sangat berbeda, ke dalam dunia yang tak pernah aku impikan sekalipun. Dunia yang penuh dengan canda tawa, bernyanyi, dunia bermain, dunia yang penuh kelembutan. Dunia mereka adalah dunia yang tidak mengenal bentakan, karena mereka adalah manusia yang tumbuh dalam usia emasnya. Sekali saja mereka menerima bentakan atau amarah, maka usia emasnya bisa terkubur, potensi emasnya akan hilang, mungkin terkubur selamanya.

Banyak masalah yang kuhadapi (saat itu aku anggap sebagai masalah besar, bukan tantangan), mulai dari gaya mengajarku yang sangat kaku, sehingga tidak cocok untuk anak seusia mereka. Biasanya kalau kelas tidak kondusif, aku akan mengekpresikan ketidaksenanganku dengan diam, lalu melihat mata anak didikku satu per satu. Mereka akan langsung paham dan terdiam. Namun di sini berbeda, ketika aku diam dan memandang wajahnya satu per satu, apa yang terjadi? Mereka bertambah ramai, kelas tak kondusif, tak karuan, ribut sejadi-jadinya. Lalu, anak laki-laki yang sering berantem di dalam kelas, anak yang nangis, sampai anak yang buang air besar di celana, karena tidak berani izin ke kamar mandi. Pusing tujuh keliling lah diriku, tak punya kemampuan mendidik, seakan-akan ilmu bertahun-tahun selama kuliah menguap tak bersisa.

Di sinilah momen yang tak pernah aku lupakan. Hari demi hari aku tetap masuk kelas, memberi bimbingan kepada bocah-bocah kecil yang dititipkan kepadaku untuk dididik. Aku tetap berkeluh kesah tentang mereka ketika belajar. Aku tetap merasa tidak mampu merubah kepribadian mereka. Sampai aku pasrah kepada-Nya dan tetap mengajar dengan sedikit perubahan dalam diriku: aku akan mendidik mereka TANPA KELUH KESAH lagi, aku akan mendidik mereka dengan SUNGGUH-SUNGGUH dan dengan RASA CINTA, apa pun hasilnya, walaupun nanti orang tua mereka tidak puas, aku siap menerima protes dari mereka, bahkan kalau sampai aku ditegur atau dipecat sekali pun aku siap!

Pembagian buku raport tiba, hatiku semakin tak karuan. Orang tua akan hadir semua. Mereka akan melihat perkembangan anak-anaknya, dan pada akhirnya aku akan bertanggung jawab dalam hal perkembangan akademik maupun kepribadian anak-anak mereka. Dan sangkaan diriku ternyata meleset. Semua pikiranku berbalik 180 derajat. Apa yang terjadi?



Bocah-bocah itu memelukku dengan hangat, semua! Para orang tua banyak yang mengucapkan terima kasih kepadaku, karena anak-anaknya mengalami kemajuan yang luar biasa. Salah satunya orang tua Ananda, "Dulu, anak saya selalu dibantu jika pake baju, ga pernah berani bicara kalau mau ke kamar kecil, ingusan pula. Semenjak guru kelasnya Bapak, anak saya Ananda berubah drastis, lebih semangat, bisa pake baju sendiri, lebih berani, mandiri juga. Terima kasih Pak Dwi!" Begitu mengharukan. Tak sadar bahwa selama saya mendidik bocah-bocah ini begitu dirasakan oleh mereka. Dan ternyata anggapanku selama ini bahwa aku tak pantas berada di kelas itu karena aku tak merasa mampu mendidik mereka, salah besar. Aku teringat bahwa apa yang kita anggap baik, belum tentu baik di mata Allah Ta'ala, sebaliknya, apa-apa yang kita anggap buruk, belum tentu buruk di mata Allah Ta'ala. Kita hanya diwajibkan berikhtiar, selebihnya kita tawakal.

Situterate, Akhir September 2017

6 comments:

  1. Ilmu yang bermanfaat InsyaAllah menjadi salah satu amal jariyah yang tidak akan terputus

    ReplyDelete
  2. kerenn, masya Allah. Pengan jadi guru aku teh, tapi takut kualat. dulu nakal sekolahnya.. nanti karma lagihh

    ReplyDelete
    Replies
    1. persis Kak Tian, sy ngerasain sendiri.. kenakalan sy dulu, skrg ada di hadapan sy, hahaha...

      Delete
  3. Sy Pengen jd anak sekolah terus pa dwi, ga ada beban pikiran

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha, masa ah? éta timbangan nambah terus, berarti senang donk

      Delete