:::: MENU ::::

Sekolah itu bernama "Fauna Cendekia". Sekolah khusus binatang. Berbagai binatang bersekolah di sekolah tersebut. Mulai dari katak, bebek, burung elang, gajah, rusa, kera, dan masih banyak lagi. Semuanya bersekolah di Fauna Cendekia yang menggunakan kurikulum buatan manusia.

Ya, walaupun sekolah itu khusus buat binatang, namun kurikulumnya tetap buatan manusia. Sistem pendidikannya persis seperti sistem di sekolah dasar atau sekolah menengah. Sekolah binatang memiliki lima mata pelajaran: berenang, menyelam, memanjat, berlari serta terbang, dan mereka (para binatang itu) harus mengikuti semua pelajaran yang ada. Tiap-tiap pelajaran memiliki batas minimal nilai. Batas nilai itu harus dipenuhi juga oleh semua binatang.

Pada tahun ajaran baru semua binatang mengikuti pelajaran dengan antusias. Lihatlah bagaimana bebek yang sangat senang dengan pelajaran berenang. Hanya menggunakan kedua kakinya, bebek itu dengan cekatan beranang ke sana kemari. Berbeda dengan burung elang, ketika pelajaran terbang binatang itulah yang mendapat nilai tertinggi. Matanya yang tajam dan sayap lebar, elang adalah juaranya terbang. Elang mendapat nilai sempurna untuk pelajaran terbang.

Lain halnya kera, binatang yang mempunyai ekor panjang itu begitu gembira ketika pelajaran memanjat. Dialah ahlinya. Semua rintangan yang diberi, kera selalu menyelesaikannya dengan sangat baik. Binatang lainnya, seperti kuda mendapat nilai tertinggi pada pelajaran berlari. Dengan kaki yang kokoh dan panjang kuda tak terkalahkan waktu diadu berlari dengan binatang lain. Terakhir binatang katak. Katak adalah binatang kesayangan guru menyelam, karena katak begitu menguasai pelajaran menyelam.

Namun semua binatang lupa bahwa kurikulum di sekolah itu mewajibkan semua binatang untuk menguasai seluruh pelajaran dan mendapat nilai tidak kurang dari batas minimal yang sudah ditentukan. Akhirnya bebek yang jago berenang dengan terpaksa harus bisa berlari juga. Ketika pelajaran berlari bebek akhirnya jadi bahan tertawaan. Ketika dia berusaha berlari dengan usaha maksimal, yang terjadi malah jadi terlihat lucu. Elang dengan kemampuan terbaiknya terbang mulai berlatih memanjat.

Tidak hanya bisa memanjat saja, tetapi elang pun harus melampaui batas nilai minimal tadi. Hampir sepanjang waktu dan berhari-hari elang terus belajar memanjat. Bisa dikatakan elang sama sekali tidak bisa memanjat seberapa besar usahanya untuk memanjat. Sayangnya kemampuan terbang yang sangat dikuasai menjadi terabaikan. Elang lebih memilih fokus pada pelajaran memanjat agar bisa tetap lulus naik ke jenjang yang lebih tinggi. Kera tampak kesusahan pada pelajaran terbang, kuda hampir saja pingsan ketika berusaha menyelam, dan katak yang sangat berusaha keras pada pelajaran berlari tetap hanya bisa meloncat-loncat.

Tahukah kalian, bahwa cerita di atas sebenarnya sama persis terjadi pada sistem pendidikan dan sekolah-sekolah yang ada saat ini. Anak-anak kita yang bersekolah (sekolah dasar sampai sekolah menengah) mendapatkan banyak sekali pelajaran: ilmu alam, kimia, fisika, biologi, matematika, seni, bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, ilmu sosial, geografi, kewirausahaan, lingkungan hidup, olahraga, komputer dan lainnya. Semua pelajaran itu sifatnya wajib, wajib diikuti semua anak-anak kita dan harus memiliki nilai tinggi. Jika ada tiga pelajaran mendapatkan nilai kurang dari batas minimal maka anak kita tidak akan naik kelas. Kalau kita pikir lagi, apakah anak-anak kita mempunyai bakat dan minat yang sama? Apakah dengan mengikuti semua pelajaran potensi yang anak-anak kita miliki akan terasah maksimal?

Inilah yang menjadi "pekerjaan rumah" terbesar bagi sekolah, dan tentu saja pekerjaan rumah bagi kita semua sebagai orang tua yang mendidik anak pada golden age-nya, pada usia emasnya. Tidak ada seorang pun anak yang tidak menerima didikan orang tua di rumahnya sendiri. Justru pendidikan awal inilah yang memiliki peranan sangat penting dan menonjol dibanding pendidikan setelahnya. Senada dengan apa yang dikatakan Ayah Edy (baca tulisan profile-nya di sinisebagai pelopor Indonesia Strong from Home, bahwa Indonesia pada hakikatnya merupakan kumpulan dari keluarga yang tersebar di lebih dari dua belas ribu pulau yang ada di Nusantara. Apabila keluarga-keluarga ini kuat, maka Indonesia akan menjadi bangsa dan negara yang kuat dengan sendirinya tanpa perlu konsep yang berbelit-belit dan biaya yang membebani negara.

Semoga bermanfaat. 


Diceritakan ulang dari buku: "Ayah Edy, Memetakan Potensi Unggul Anak"
Sumber gambar: https://productforthepeople.xyz

2 comments:

  1. Analoginya bagus. Sebuah pelajaran pendidikan anak.

    ReplyDelete
  2. Setuju dengan pendapat mas Wakhid.
    Tulisan mas Dwi makin keren ^^

    ReplyDelete