:::: MENU ::::

Tak terasa sudah menginjak hari Minggu lagi. Waktu berlalu terasa cepat sekali. Minggu kemarin saya bercerita tentang ikan yang yang sangat melimpah di negeri ini. Bayangkan saja hampir dua per tiga bagiannya adalah berupa perairan (lautan). Rutinitas saya setiap hari Minggu adalah pergi ke pasar tradisional untuk memburu ikan-ikan yang masih segar untuk dijadikan santapan makan siang bersama keluarga. Sebagian teman-teman di tempat saya bekerja dan teman-teman ODOPer mempunyai hobi memancing, ada yang hobi memancing di kolam atau penangkaran, ada yang pergi ke lautan menumpang perahu ada juga yang hobi memancing keributan, hehehe....

Para member ODOP #Batch4 hampir tiga minggu lalu memulai aktivitasnya menulis dan mem-posting-nya. Kita semua "harus" menulis setiap hari dan memindahkan ke dalam blog masing-masing. Karena nama komunitasnya One Day One Post, berarti setiap hari harus mem-posting, bukan satu hari dua post besoknya tidak perlu. Bukan pula satu hari tiga post, tiga hari kedepannya berleha-leha tidak perlu posting. Bukan! Tapi tiap hari, ya satu posting.

Lalu muncul pertanyaan di benak saya, kenapa harus diposting? Kenapa harus berupa blog? Kenapa harus ditulis alamatnya di ShareLink?

Sampai saat ini saya merupakan pengajar di sekolah menengah di sebuah kabupaten di Provinsi Banten. Setiap hari sebelum mengajar saya menyiapkan materi dan perangkat pembelajaran di ruang guru. Hampir setiap hari pula saya melihat banyak tugas anak-anak yang dikumpulkan di ruang guru. Tugas mereka menumpuk di masing-masing meja guru mata pelajaran. Macam-macam jenisnya, ada tugas proyek berupa kerajinan, ada tugas praktek berupa masakan atau hasil percobaan. Paling banyak adalah tugas latihan berupa buku-buku dan kertas-kertas. Nah lho, habis dikumpulkan, lalu diberi nilai, tugas-tugas itu hanya menumpuk di ruang guru. Berantakan. Sebagian ada yang diambil rekan kerja untuk dipajang di ruang tamu rumahnya. Tugas memasak, tentu saja dimakan bersama-sama dengan penuh kegembiraan. Hanya tugas latihan berupa kertas-kertas dan buku yang diangkut oleh office boy disimpan di gudang atau pun berakhir di tempat sampah.

Muncul pertanyaan kembali di pikiran saya, tugas latihan itu kenapa tidak dikerjakan dalam sebuah file atau video saja, lalu diposting ke blog atau YouTube masing-masing? Mem-posting tugas latihan persis seperti saya menulis setiap hari lalu saya posting.

Pertanyaan di awal tulisan ini lamat-lamat saya dapat jawabannya. Saya membandingkan tulisan saya di buku diary --yang entah sudah berapa buku di lemari-- dengan tulisan yang saya posting tiap hari. Tulisan-tulisan yang ditulis di buku diary hanya dinikmat oleh saya sendiri. Orang lain belum tentu bisa membaca dan menikmatinya. Kalau ada manfaat dari tulisan itu, mungkin menjadi mubadzir karena memang yang bisa membacanya hanya orang-orang tertentu. Tulisan yang diposting bisa dibaca oleh siapa pun, dimana pun, tak terbatas oleh tempat dan waktu. Bayangkan, saya menulis di sebuah ruang sempit dua kali tiga meter, di suatu kabupaten dimana tingkat pendidikan masyarakat dan pembangunan daerahnya begitu jauh tertinggal dibanding kota-kota lainnya. Tulisan saya bisa dibaca oleh seseorang di negara berbeda, di sebuah universitas terkemuka, dan membaca tulisan saya sehingga menginspirasi.

Coba kalau tugas buat anak-anak diubah metode dan karya akhirnya. Bukan lagi berupa kertas-kertas dan buku-buku yang menumpuk di meja guru dan pada akhirnya terlupakan. Bukan lagi berupa suatu karya yang dikumpulkan di ruang guru, diambil oleh sebagian guru untuk dijadikan pajangan. Karya itu hanya akan dinikmati orang tertentu saja. Coba kalau tugas anak-anak berupa tulisan --dilengkapi gambar, warna, dan animasi-- dan harus dipsoting di blog masing-masing. Atau berupa video dimana anak-anak menjelaskan seuatu materi, direkam, diedit, ditambahkan backsound, animasi dan diunggah di lama Youtube. Apa bedanya?

Dengan diposting atau diunggah di laman YouTube tugas tersebut tidak akan berserakan di ruang guru, tugas itu pun bisa dinikmati oleh siapa pun, dimana pun. Bukan hanya dinikmati oleh guru-guru, atau teman-teman sekelasnya lalu selesai dibuang, tapi anak-anak di sekolah lain bisa membacanya, guru-guru di kota lain bisa menikmatinya, dan orang-orang di seberang pulau, bahkan seberang negara bisa terinspirasi dari postingan tersebut. Jika sudah terinspirasi tentu saja orang itu akan memberitahu kepada temannya, bercerita kepada orang lain dan ikut menyebarkan. Pada akhirnya anak-anak akan mendapat amal berantai, amal yang akan terus-menerus mengalir sepanjang masih ada orang yang memanfaatkannya. Tugas yang diposting atau diunggah juga memiliki kelebihan lain, yaitu bisa digunakan kapan saja, tidak lekang waktu, tugas itu akan "abadi" tersimpan di blog atau laman YouTube. Lima tahun, sepuluh tahun kemudian ketika anak-anak tersebut sudah menjadi mahasiswa atau bahkan sudah bekerja di perusahaan ternama, karya yang mereka buat dulu itu, tetap masih bisa dinikmati dan bermanfaat.

Semoga tulisan di atas bisa menyadarkan pembaca, khususnya diri saya sendiri dan anak-anak didik saya di sekolah, jika hanya ditulis dan disimpan, maka tulisan itu seakan-akan menjadi mubadzir hanya segelintir orang yang menikati. Maka, mulai sekarang: Ayo posting tulisanmu, ayo unggah videomu! 

Sekian, terima kasih.

#OneDayOnePost
#Batch4

0 komentar:

Post a Comment