:::: MENU ::::


Tulisan ini bukan tentang bagaimana menjadi orang yang bahagia, karena aku bukan seorang kyai yang memahami hakikat hidup sehingga bisa meraih manusia yang bahagia. Tulisan ini bukan pula tentang bagaimana menjadi orang sukses dan kaya, karena aku bukan seorang motivator dimana dengan daya pikatnya mampu "menyihir" orang-orang sehingga lebih bersemangat dan menemukan passion-nya.

Tulisan ini hanya sekadar tumpahan isi pikiran dan hati dari seorang yang sedang belajar menulis setiap harinya, belajar konsisten terhadap apa yang diimpikannya.

Kekayaan bukan didapatkan dari perdagangan. Jika kekayaan adalah berupa perdagangan, maka tukang kopi di pinggir jalan yang tetap buka selama 24 jam tentu sudah menjadi orang paling kaya. Kekayaan bukan juga berupa jabatan, karena jika berupa jabatan, seorang raja yang telah bertahta puluhan tahun pastilah menjadi orang terkaya. Dan kekayaan bukan pula berupa ilmu yang diajarkan. Seorang guru atau dosen telah puluhan tahun mengajar tentu sudah menjadi orang terkaya. Kekayaan bukan tentang itu semua. Kekayaan adalah seberapa besar hati kita menerima apa yang kita terima. Kekayaan adalah merasa cukup memiliki sesuatu yang ada pada diri kita sendiri. 

Lalu apa itu kebahagiaan?

Masing-masing orang mempunyai definisi sendiri tentang kebahagiaan. Berbagai macam pengertian untuk menjelaskan apa itu kebahagiaan. Maka, seorang pedagang akan berbeda memaknai kebahagiaan dengan seorang pengajar. Begitu pula dengan pejabat akan memaknai kebahagiaan berbeda pula jika dibandingkan dengan seorang buruh. Aku sendiri pernah berkata bahwa "Bahagia itu sederhana, cukup dengan segelas teh poci."

Kalian tahu apa itu teh poci?

Sebuah merk dagang? Betul. Tapi, kami di sini menyebut teh poci adalah semua jenis teh manis, diberi es, dan menempati wadah gelas plastik, apa pun rasanya, apa pun merk sebenarnya, kami tetap menyebutnya teh poci. Seringkali aku rehat sejenak selepas mengajar anak-anak sekolah menengah. Terkadang hanya duduk di ruang guru, sambil menonton tayangan video di channel YouTube. Mungkin mengobrol dengan rekan kerja tentang metode pengajaran baru, tentang anak-anak yang memiliki kelebihan, atau bersenda gurau. 

Jika waktunya sedikit, aku hanya berdiam di koridor sambil menunggu bel pergantian pelajaran. Di saat seperti itu aku akan bercengkerama dengan anak-anak didikku. Biasanya anak-anak asyik mendengar aku berbicara, lalu mereka minta aku membelikan minuman dingin: teh poci! Harganya sangat murah, dengan satu lembar sepuluh ribuan bisa membeli lima gelas teh poci. Dan mereka pun bersuka ria, tersenyum lebar, dan lebih semangat mengobrol dengan diriku. Hanya itu, sangat sederhana, tetapi mereka bersuka cita, bahagia.

Bagi Tere Liye, berbeda lagi makna dari bahagia. Aku kutip dari bukunya "Ayahku (Bukan) Seorang Pembohong"


Apa hakikat sejati kebahagiaan hidup? Apa definisi kebahagiaan? Kenapa tiba-tiba kita merasa senang dengan sebuah hadiah, kabar baik, atau keberuntungan? Mengapa kita tiba-tiba sebaliknya merasa sedih dengan sebuah kejadian, kehilangan, atau sekadar kabar buruk?

Kenapa hidup kita seperti dikenadalikan sebuah benda yang disebut hati?

Bagaimana kau membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati 

Sedangkan jika dilihat dari sudut pandang agama, kebahagiaan akan menemukan pengertian lain. Umat Muslim melaksanakan sembahyang wajib (salat) lima kali sehari. Panggilan bagi mereka untuk salat adalah dengan adzan. Di sanalah terletak makna bahagia. "Hayya 'alash sholah" kalimat ajakan sholat dilantunkan sebanyak dua kali. Lalu disusul oleh "hayya 'alal falaah" sehingga umat Muslim seluruhnya dapat mencapai kebahagiaan, bahagia di dunia dan akhirat. Inilah makna bahagia dalam sudut pandang agama Islam. Orang-orang yang selalu menjaga salatnya, ditunaikan dengan ketulusan, di awal waktu dan berjamaah.

Wallahu a'lam


#OneDayOnePost

#Batch4

Sumber gambar: media.keepo.me

0 komentar:

Post a Comment