:::: MENU ::::


Langit telah lama menghitam menyisakan kerlap-kerlip cahaya dari tempat yang sangat jauh. Dedaunan diam mematung tidak ada yang bergoyang. Kalaupun ada, itu hanya karena serangga kecil yang tinggal di dahannya, atau karena hewan malam yang masih mencari makanan kesukaannya. Tak ada firasat apa pun. Hari yang berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Sampai aku menuju ke pembaringan, mematikan layar televisi, mematikan lampu, dan menutup pintu kamar. Tak ada sedikit pun firasat itu.


Ketika malam telah larut dan hendak beristirahat setelah seharian beraktivitas, diriku memang memaksa untuk mematikan semua alat komunikasi. Kebiasaan ini telah kulakukan sejak lama. Dan hal itu berlaku juga untuk semua anggota keluarga, tanpa kecuali. Alat komunikasi baru boleh diaktifkan kembali setelah lewat tengah malam dan telah memasuki janari*).


Istriku tiba-tiba memanggilku setengah berteriak di dalam kamar. Aku tersentak, kaget. Pikiranku tidak menentu karena hari masih jauh dari Subuh dan tidak seperti biasanya istriku memanggil seperti itu. Ternyata benar. Dia menunjukkan pesan singkat lewat whatsapp dari adikku yang tinggal di Kota Kembang Bandung. Aku membacanya dengan lamat, "Innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun... A, Mang**) Ugum tos ngantunkeun urang sadayana, tadi tabuh 12 wengi di rumah sakit."***) Deg! Jantungku terhenyak. Kepalaku menunduk. Hatiku begitu terpukul. Tak terucap sedikit pun dari mulutku. Aku tercekat.


***


Begitulah, sedikit cerita pada bulan Syawal yang lalu. Hampir seminggu setelah kami Ummat Muslim merayakan Idul Fitri. Sebuah kenangan yang membuat diriku kehilangan seseorang yang sangat kusayangi. Mang Ugum, seorang paman yang sangat baik hati dan selalu tulus. Ia adalah adik bungsu dari ibuku. Masih bujang. Karirnya begitu cemerlang dibanding paman dan bibiku yang lain. Bahkan menjelang sakit, dia hendak diberangkatkan ke Negeri Belanda atas undangan pemilik perusahaan listrik yang berinvestasi di Tanah Papua.


Namun apa hendak dikata. Di tengah capaian karirnya yang begitu istimewa, Mang Ugum terserang penyakit kanker. Virus itu menyerang tulang lengan kanannya. Begitu ganas, sampai akhirnya dokter angkat tangan untuk menanganinya. Sampai akhirnya ajal menjemput dirinya, membawa ruhnya dari alam dunia ke alam kubur.


Bagi diriku sosok Mang Ugum adalah sosok yang membawa cinta kemana pun dia melangkah. Wajar jika banyak orang yang berkawan baik dengannya, berhutang budi, membutuhkannya, dan menangis dengan kepergiannya. Kullu nafsin dzâiqatul mawt, every soulhave a taste of death, semua insan (makhluk yang hidup) akan mengalami kematian. Begitu pula dengan pamanku yang telah menjelajahi negeri ini ke berbagai pelosok. Tidak ada seorang pun yang hidup selamanya. Tidak ada seorang pun yang lepas dari mawt, kematian. Tidak ada. Sudah berapa puluh orang yang kita kenal, pada tahun-tahun berikutnya meninggal, pergi ke alam kubur.


Walaupun berpuluh orang yang kita kenal telah meninggal, pergi ke alam kubur, namun nama mereka selalu melekat di hati kita semua. Kenangan bersama mereka selalu tergambar jelas di dalam pikiran kita. Begitu pula Mang Ugum bagi orang-orang yang menyayanginya. Bagaimana gaya tubuh, senyuman, tertawa, atau lompatan kakinya ketika bermain bulu tangkis masih tergambar jelas, masih tersimpan dalam lubuk hati yang paling dalam. Tak akan lekang sampai berpuluh tahun kemudian.


***





Jam menunjukkan pukul 19.00 WIB. Tayangan sebuah talkshow di stasiun televisi swasta itu akan berakhir. Banyak kisah inspiratif dari tayangan yang dibawakan oleh Dedi Corbuzier dan Chika Jessica itu. Pada akhir bagian, si pembawa acara berkepala botak plontos itu akan menyimpulkan seluruh tayangan talkshow-nya dengan beberapa kalimat. Kenanganku akan seorang paman, teman bermain, dan sekaligus seorang kakak yang telah meninggal karena kanker tak akan lekang. Salah kalimat terucap oleh Dedy Corbuzier yang membuatku mengingatnya adalah:


"Some people can't life forever, but some people can forever live in our hearts."


***


*) janari = dalam budaya Sunda menunjukkan waktu, yaitu antara pukul dua menjelang Subuh


**) Mang / Mamang = sebutan kepada paman dalam Bahasa Sunda


***) "... Kak, Mang Ugum sudah meninggalkan kita semua, tadi pukul 12 malam di rumah sakit."




#OneDayOnePost

#ODOP
#Batch4

0 komentar:

Post a Comment