:::: MENU ::::


Saya tahu buku-buku yang dikarang oleh penulis itu sudah lama. Buku-bukunya dipajang di etalase utama di tiap toko buku. Awalnya saya tidak tertarik sama sekali. Dalam pikiran saya, ah, paling buku bergenre teenlit, novel buat para remaja masa kini. Sama sekali tidak ada ketertarikan terhadap buku-buku tersebut.

Bulan berikutnya teman-teman di tempat kerja saya mulai membicarakan buku-buku itu. Semakin ramailah ketika anak-anak didik pun membicarakan buku yang sama. Saya tetap bergeming, tidak tertarik. Tidak jauh dari konflik percintaan yang melankolis, batin saya.

Liburan tiba. Saya pulang ke rumah orang tua di kota Bandung. Rutinitas yang tak boleh terlewat: cuci mata di toko buku terbesar di kota kembang. Berangkatlah saya "cuci mata" bersama teman-teman. Ndilalah, saya masih menemukan buku-buku teenlit yang menjadi perbincangan teman-teman. Iseng-iseng saya hubungi teman yang nge-fans buku tersebut.

Teman saya nitip beberapa buku dengan penulis yang sama. Saya pun membelikannya, sekaligus sebagai oleh-oleh liburan dari kota Bandung. Sampai di sini pikiran saya tetap tidak ada sama sekali ketertarikan membacanya atau sekadar membaca satu bagian.

Nah, di sinilah petuah sakti itu berlaku pada diri saya: "Don't Judge a Book by Its Cover". Pada saat itu anak-anal didik saya main ke rumah yang terletak di salah satu perumahan yang berjarak hanya 2 km dari sekolah. Mereka mengerubung lemari buku yang (tentu saja) penuh dengan buku, masa penuh dengan siomay. Laurensia pinjam novel "Asmaraloka" karya Danarto. Nadiatul membawa buku Anak-anak pun Berfilsafat. Alvin meminta buku "Pemikiran KH Hasyim Asy'ari". Lalu saya gantian meminta mereka meminjamkan buku yang mereka punya.

Esoknya Laurensia membawa buku "Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah" karangan penulis buku-buku teenlit seperti yang saya ceritakan di atas. Ah, sudahlah daripada tidak ada bacaan, lagi pula menghormati Laurensia, yang telah membawa buku tersebut untuk dipinjamkan kepada saya. Saya terima bukunya, dan dengan terpaksa saya mulai membuka halaman demi halaman. 

Pikiranku berubah 180 derajat!

Bab 1 Riwayat Pekerjaanku habis saya baca. Bab berikutnya Pelampung vs Sepit saya lahap. Akhirnya buku tersebut selesai tidak lebih dari dua hari! Saya mulai mencari buku lainnya (masih dengan pengarang yang sama).

Menumpuklah di meja kerja saya buku-buku dengan pengarang yang sama, mulai dari: "Bintang", "Bumi", "Matahari", "Bulan", "Ayahku (Bukan) Pembohong", "Hujan",  dan "Negeri Para Bedebah". Semuanya saya lahap habis tak bersisa. Awalnya dari menganggap hanya buku-buku "teenlit" berubah menjadi kekaguman pada pengarangnya. Kalian tahu siapa?

Dialah: Tere Liye.


#OneDayOnePost

#Batch4

2 comments:

  1. Tere Liye... Kapan ya bisa ikut2an bikin novel. Hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa lah Mas Wakhid mah, yakin, Insya Allah..! Ayo segera bikin..!

      Delete