:::: MENU ::::

Semarak dan khidmat. Dua kata yang menggambarkan bagaimana resepsi pernikahan dilakukan di kalangan masyarakat Sunda. Resepsi sendiri bukanlah bagian dari rukun pernikahan, hanya sebagai rasa syukur atas berlangsungnya akad pernikahan mempelai. Bagi masyarakat Sunda, termasuk bagi saya pribadi, pernikahan bukanlah penyatuan dua manusia yang saling mencintai dan menyayangi. Lebih dari itu. Pernikahan merupakan penyatuan dua keluarga besar, dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Selain rukun yang harus dipenuhi, pada rangkaian acara pernikahan akan diikuti oleh berbagai ritual, yang termasuk ke dalam adat istiadat, baik itu sebelum acara maupun setelahnya. Tidak hanya sekadar ritual atau seremonial, semua ritual yang dilakukan memiliki nilai folosofis yang tinggi. Apalagi orang zaman dulu (jalma baheula) terkenal dengan bijak bestarinya. Contoh kecil dalam melarang seuatu perbuatan, kita kenal dengan istilah pamali, atau dalam artian bebasnya "pantangan". Jika suatu perbuatan itu dikenai dengan pamali, maka pantang bagi siapa pun untuk melakukannya. Bijaknya lagi mereka yang mendengarnya akan patuh tanpa bertanya apa-apa, kenapa ini pamali, kenapa itu pamali, kenapa itu tidak pamali.

Tulisan di bawah ini menggambarkan tujuh ritual dengan nilai kehidupannya yang tinggi, dimana ritual tersebut dilakukan selama acara pernikahan yang terdapat pada masyarakat Sunda. 

1. Siraman

Siraman dilakukan pada malam sebelum akad dilakukan. Ritual ini berupa menyiram calon pengantin perempuan oleh kedua orang tua serta kerabat dekat yang dihormati (bisa paman, bibi, kakek, atau nenek). Proses menyiram tubuh calon pengantin dilakukan dari atas kepala menggunakan gayung dari batok kelapa serta air yang telah ditambahkan bunga-bungan dan wewangian.

Ritual siraman ini mempunyai makna bahwa seseorang walau pun telah tumbuh dewasa, telah berumah tangga, beranak pinak, tetap akan dianggap sebagai anak oleh orang tuanya, akan tetap diperlakukan seperti anak kecil. Orang tuanya akan selalu memandikannya, membersihkan dari segala kotoran yang menempel, mananyakan sudah makan atau belum, memberi jatah makan sendiri kepada anaknya, padahal anaknya sudah kaya raya, bisa membeli makanan apa pun yang diinginkan.

Menurut Ibu Nance Herliana, salah seorang pemerhati budaya Sunda, lebih jauhnya siraman mempunyai nilai tentang orang tua yang telah melepas anak perempuan dari kewajibannya. Kewajiban yang dimaksud adalah kewajiban taat kepada orang tua akan lepas, beralih menjadi kewajibaan taat kepada suami.  Kita semua tahu bahwa setelah menikah, istri harus taat kepada suami lebih besar dibanding taat kepada orang tuanya sendiri. Sedangkan dari sisi suami tetap mempunyai kewajiban taat kepada orang tua, baik itu orang tua kandungnya atau pun orang tua istrinya (mertuanya).

2. Sungkeman

Masih pada malam sebelum akad berlangsung, sungkeman dilakukan setelah ritual siraman. Ritual ini berupa memohon maaf dari calon pengantin kepada orang tuanya. Posisi orang tua duduk di atas kursi, lalu calon pengantin tersebut dalam posisi setengah jongkok mencium tangan kedua orang tuanya, pertama kepada ibu yang telah mengandung sembilan bulan dan melahirkannya. Kemudian kepada ayahnya, dimana selama hidup dari bayi sampai ia tumbuh menjadi dewasa ayahnya sebagai tulang punggung, membesarkan, merawat, membiayai dan melindunginya.

Permohonan maaf yang dilakukan sekaligus meminta restu dan rida kedua orang tuanya. Dilihat dari ilmu agama, ritual ini sangat tinggi nilainya, dimana disebutkan bahwa ridhollah fi ridhol walidayn, yaitu rida Allah terletak pada rida kedua orang tua.

3. Mapag Pangantén

Sesaat sebelum masuk ke tempat akad, calon pengantin pria akan disambut oleh tuan rumah dengan melangsungkan ritual mapag pangantén. Penyambutan sendiri dilakukan oleh seseorang yang dikenal dengan nama "Ki Léngsér", sosoknya adalah laki-laki tua, berambut putih, badan sedikit bungkuk, dan mengenakan pakaian hitam-hitam. Ki Léngsér dengan wajah yang selalu tersenyum mengucap selamat datang, lalu mapag, mapagkeun (b. Indonesia: mengantarkan) calon pengantin menuju tempat semestinya.

Simbol penyambutan, mengantarkan, dan Ki Léngsér sendiri mempunyai makna yang besar. Sebagai pihak laki-laki, berarti posisinya adalah tamu, harus dihormati, harus disambut dengan sambutan terbaik, dijamu dengan hidangan terbaik, sesuai dengan ajaran Kangjeng Nabi. Mapag pangantén sendiri dilakukan bukan oleh bangsawan yang selalu mengenakan pakaian mewah, bukan dilakukan oleh pajabat yang selalu memakai setelan jas dan berdasi, bukan pula oleh saudagar kaya yang mengenakan banyak perhiasan emas di jari tangannya. Tetapi mapag pangantén hanya oleh seorang tua, berwajah keriput, bungkuk, dan pakaian yang teramat sederhana. 

Menurut penuturan Roni K. Mansyur, pengurus dari Dewan Kesenian Banten (DKB) nilai filosofis dari Ki Léngsér (atau Uwa Léngsér) adalah simbol dari masyarakat yang polos, jujur, cerdas, dan berperilaku agung. Walau pun tampilannya tidak menarik, terkesan tidak berwibawa, tetapi tokoh Ki Léngsér merupakan sosok yang suci, bersih hati, benar dalam perilakunya, tinggi ilmunya. Terkadang kita hanya melihat penampilan luarnya saja, jika menilai orang lain, tidak sampai melihat sosok dibalik tampilannya. Banyak yang berpenampilan necis, berdasi padahal dia adalah seorang maling kelas kakap. Begitu pun sebaliknya.

4. Sawér

Kalian pasti pernah mendengar sawér. Orang awam lebih mengidentikan kata "sawér" dengan panggung hiburan yang diisi oleh penyanyi dangdut. Namun dalam upacara adat pernikahan Sunda ada satu ritual dengan nama yang sama. Ritual ini dilakukan setelah akad dilakukan, oleh kedua pengantin, yaitu dengan me-nyawér-kan barang-barang berharga, umumnya berupa pecahan uang logam dan permen. Me-nyawér sendiri adalah menebarkan/melemparkan --seperti petani menebarkan benih atau pupuk di pesawahan-- barang-barang berharga tadi.

Maknanya adalah ketika sudah menjalin bahtera rumah tangga, kedua pasang haruslah tetap menebar kebaikan, menebar kebahagiaan (orang-orang yang disawér selalu senang serta bahagia menerimanya, walau hanya berupa pecahan uang logam dan permen), menebar rezeki (infaq sedekah), dan selalu berbagi tidak hanya menginginkan kebahagiaan untuk berdua saja.

5. Huap Hayam

Pada ritual berikutnya disediakan bakakak hayam (ayam panggang), lalu kedua pengantin memegang masing-masing ujung kaki ayam. Secara bersamaan mereka menarik kaki ayam tersebut. Kedua kaki ayam pastinya terpisah dengan badan ayam, dan masing-masing tidak akan mendapatkan bagian ayam sama besar. Bisa saja pengantin pria mendapat bagian ayam lebih banyak, atau sebaliknya. Mereka menerima bagiannya masing-masing dengan tersenyum lebar. Lalu mereka saling menyuapi, saling huap, dengan bagian ayam yang dipegang sendiri.

Makna ritual "huap hayam" (menyuapi ayam) merupakan simbol dari rezeki yang diterima pasangan pengantin tersebut. Terkadang sang suami yang menerima rezeki lebih banyak dibanding istrinya. Di lain waktu bisa jadi sang istri yang mendapatkan rezeki lebih banyak. Namun seberap besar rezeki yang diterima mereka harus tetap saling memberi. Di saat sang suami menerima rezeki banyak, itu dihuapkan, disuapkan kepada sang istri, tetap untuk dimakan sang istri. Begitu pula di saat sang suami yang menerima rezeki kurang dibanding sebelumnya, sang istri tetap menerimanya, tetap memakan apa yang sudah menjadi rezeki suami, menerimanya dengan senyum lebar.

6. Nincak Endog

Dalam bahasa Sunda ada istilah "nincak endog", yang berarti menginjak telur. Ritual ini dilakukan oleh suami. Satu butir telur (biasanya telur ayam) mentah diletakan di bawah, lalu dengan perlahan dan sekali injak, si suami harus bisa memecahkan telur tersebut.

Maknanya adalah telur diibaratkan sebagai rahim istri. Ketika telur itu pecah, diharapkan istri segera mempunyai keturunan (anak) sebagai pewaris dari kedua pasangan tersebut. 

7. Ngawasuh Dampal

Ngawasuh dampal atau membasuh telapak, yaitu telapak kaki suami. Telapak kaki suami pasti akan terkena cairan telur mentah yang diinjak ketika nincak endog. Segera si istri akan membasuh telapak kaki yang kotor tersebut dengan air mengalir dari kendi gerabah. Posisinya suami berdiri, istri jongkok sambil memegang kendi dengan tangan kiri, lalu membasuh kaki suami sampai bersih dengan tangan kanannya.

Ritual ini menganalogikan ketaatan istri kepada suami, dimana ketaatan itu mutlak dimiliki istri. Bahkan dalam ajaran agama ketaatan istri kepada suami lebih besar dibanding ketaatan istri kepada orang tua kandungnya sendiri.

***

Demikian tujuh ritual dalam budaya Sunda ketika resepsi pernikahan dilangsungkan. Ritual ini merupakan budaya luhur yang harus tetap dijaga dengan nilai kehidupan yang terkandung di dalamnya.

Semoga bermanfaat.


#OneDayOnePost
#Batch4

1 comment: