:::: MENU ::::

Lamat-lamat terdengar ayam berkokok saling bersahutan. Langit masih pekat, menyisakan gemerlap bintang dan cahaya lembut bulan di ufuk barat. Aku terbangun malas. Terasa berat sekali mata ini membuka. Padahal tidak terlalu larut aku memjamkan mata. Kelotak suara perkakas terdengar pula menandakan para pedagang dan pandai besi segera memulai aktivitasnya. Mamang tukang bubur ayam, si mbok jamu, bibi nasi uduk, tukang gorengan, semua telah bergegas menyiapkan bahan-bahan yang akan menjadi jualannya. Menyusul tangisan bayi, ibu-ibu yang menenangkan bayinya, riak air di pemandian adalah suasana keseharian di kampungku.

Aku sendiri adalah putri seorang raja. Namaku Dayang Sumbi. Aku tinggal di  sebuah dataran tinggi dengan alamnya yang begitu kaya dan indah. Semburat jingga mengintip di balik bukit bagian timur, menerpa hamparan sawah yang menguning, rimbun hutan yang berbaris sepanjang bebukitan selatan. Aliran air jernih tak hentinya mengalir membuat satwa di negeriku betah dan beranak pinak dengan suburnya.

"Mak, Aang mau berburu lagi!" teriak bocah ingusan itu.

"Iya, anakku. Kamu boleh berburu lagi." jawabku sambil menunangkan air yang masih mengepul dari teko. Berpuluh gelas kopi panas dihidangkan untuk para lelaki yang hendak berdagang, bertani, menebang pohon-pohon hutan untuk bahan bakar, atau hanya sekedar memandikan hewan ternaknya.

"Asyiiiik! Aang hari ini mau berburu rusa, ah. Nanti kalau lihat ...." girang sekali wajahnya.

"Tapi dengan syarat." aku memotong pembicaraannya.

"Apa Mak?" tanya bocah itu.

"Aang harus tetap ditemani oleh si Tumang." sambil aku tunjuk anjing kecil yang masih malas-malasan di pojok pagar bambu.

"Naha*)? Aang kan tos gede. Emak teu percaya ka Aang bisa ngalawan bagong*)?" protesnya.

"Aang ingat enggak kejadian lusa kemarin. Kalau bukan si Tumang yang menyerang bagong mungkin kamu tidak akan selamat." aku beri penjelasan dengan lembut.

Bocah itu menunduk. Tampaknya mengingat kejadian sebelumnya yang sangat menakutkan. Ketika hendak membidik rusa dengan panahnya, secara tak sadar, ada tujuh sampai sepuluh bagong telah mengepung dirinya. Dengan mulut berlendir, napas yang memburu siap menerkam seorang bocah yang tingginya tidak jauh dari seekor anak kambing. Beruntung pada waktu bersamaan, seekor anjing kecil menggonggong dan segera menerkam leher hewan pemburu yang paling dekat dengan bocah itu. Giliran bagong-bagong lain segera diterkam sampai terkapar. Sisanya menguik dan melarikan diri masuk ke dalam hutan.

Matahari sudah berjalan setinggi tiang. Bocah itu telah siap dengan perkakas memburunya: busur, anak panah, blimbing wuluh, tali tambang, minyak pengusir nyamuk. Dengan dada setengah membusung ia berjalan mendekat kepadaku.

"Aang berangkat Mak!" tegasnya.

"Duh, anakku begitu gagahnya. Coba Emak lihat tubuh kamu." aku membalik-balikkan badannya, memerhatikan dari atas sampai bawah, wajah, lengan, sampai kakinya.

Anjing kecil itu segera berlari menghampiri Aang, seakan tahu bahwa sudah waktunya lah dia harus bersiap juga berangkat, menemani bocah kecil itu.

"Ayo, Tumang! Kita berangkat." bocah itu mengibaskan tangan membuat gerakan mengajak. Ah, andai bocah itu tahu siapa sebenarnya si Tumang mungkin dia tidak akan pernah lagi bermain dan berburu dengan makhluk itu. Andai anakku tahu bahwa si Tumang itu bukan hanya anjing kecil, bahwa si Tumang bukan hanya makhluk berkaki empat yang selalu setia kemana pun bocah itu pergi. Si Tumang yang sebenarnya adalah ayahnya sendiri. Ayah kandungnya sendiri! Ah, terlalu panjang kalau aku ceritakan bagaimana ayahnya bisa menjadi seekor anjing. Lagi pula terlalu sedih buatku mengingat kejadian lima tahun lalu dan kejadiannya tidak akan pernah masuk akal.

Hari semakin terik. Matahari telah tergelincir ke ufuk barat. Sudah sedari tadi para petani beristirahat setelah membajak sawah dari subuh tadi. Tetapi, mana bocah itu. Kenapa anakku tidak muncul juga batang hidungnya? Kemana Aang yang pagi tadi pamit berburu ditemani si Tumang?

Tiba-tiba dari kejauhan muncul seorang bocah berlari kencang. Seakan bocah itu dikejar sesuatu yang menyeramkan. Semakin dekat semakin jelas, bocah itu adalah Aang, anak sulungku.

"Emaaak...!" dia teriak histeris.

"Ada apa anakku?" aku tergaket-kaget.

"Aku... aku... "

"Bicaralah, ada apa Nak?"

"Si Tumang Mak!"

"Ada apa dengan Tumang?" diriku mulai bergetar mendengar nama itu disebut.

"Tumang mati, Mak." Deg! Dadaku langsung menyusut, seakan ada benda berat yang menekan tulang rusuk. Jantung berdekup sangat kencang. Tumang mati, suamiku... ayahmu Nak, ayahmu mati!

Emosiku meluap sejadinya. Akal sehatku hilang seketika. Céntong**) nasi yang sedari tadi kupegang, langsung aku pukulkan kepada bocah itu. Aku kalap, aku pukul berkali-kali. Bocah itu menahan dengan kedua tangannya. mengampun-ampun tidak mengerti kesalahan apa yang dilakukannya. Tanpa sadar aku menginjak ujung wuluku***) yang disimpan di pinggir ruangan. Kakiku terluka, darah segar mengucur, merembes ke dalam lantai tanah. Bocah itu diam, terhenyak. Melihat diriku yang terdiam menahan sakit, merasa kesempatan datang, dia berlari secepat kilat. Pandanganku tiba-tiba kabur. Ruangan yang kutempati menjadi temaram. Lalu, menjadi gelap, semakin gelap, dan gelap.

Waktu berlalu. Lebih dari belasan tahun sejak kematian suamiku. Diriku sangat kesepian. Tak ada lagi orang-orang yang membuatku bahagia. Aku hidup sendiri, ditengah keramaian orang-orang tentang kedatangan pemuda yang gagah dan tampan. Kedatangan pemuda itu langsung menjadi buah bibir. Selain tubuhnya yang ideal pemuda itu tidak diketahui asal kedatangannya.

Aku beberapa kali bertatapan dengan pemuda itu. Wajahnya begitu teduh dan rendah hati. Setiap ada orang yang berpapasan selalu saja tersenyum, tak peduli siapa orang itu: anak kecil, para gadis, remaja, bapak-bapak, sampai orang tua renta sekali pun. Secara tidak sengaja aku semakin mengenalnya, karena dia membutuhkan tempat untuk tidur, dia memutuskan langgar menjadi tempat tidurnya. Letak langgar itu pas bersampingan dengan rumahku. 

Entah kenapa manusia diciptakan dengan perasaannya yang begitu rumit. Entah darimana awalnya, ujung-ujungnya perasaanku menaruh hati kepada pemuda itu. Ah, kenapa hati selalu seperti ini. Dan aku tak segan-segan untuk mengungkapkan perasaanku kepadanya. Kupikir dia tetap pantas untukku, walau usiaku diatas dirinya. Tapi, apa yang terjadi, di luar dugaan, pemuda itu menolak ungkapan perasaanku.

"Aku bukan tidak menghormati Nisanak." pemuda itu beralasan.

"Kau telah menurunkan harga diriku, hai pemuda! Hatiku terlanjur terpaut padamu...."

"Tapi aku tidak bisa." pemuda itu tetap dengan keputusannya.

"Kenapa? Apa aku kurang cantik?" aku memelas.

"Bukan itu. Malah kau adalah perempuan tercantik dalam hidupku."

"Lalu, aku kurang apa bagimu?"

"Aku tak akan pernah menerima permintaanmu. Mustahil!" nada suaranya mulai bergetar. "Walau kau perempuan paling cantik, pribadi kau sangat baik dan kau adalah perempuan yang kesepian, tapi... tapi...."

"Tapi, apa?!!"

"Kau... kau adalah ibuku." sambil melihat ujung kakiku, "Aku tahu ada bekas goresan luka di ujung kakimu. Dan aku tidak mungkin salah, kau adalah ibuku." pemuda itu mencoba menjelaskan.

"Dan, lihat ini... lihat ini. Di dahiku ada bekas luka juga. Dulu kau memukulku berkali-kali dengan céntong nasi, gara-gara aku membunuh seekor anak anjing. Si Tumang!" 

Kalimat terakhirnya membuatku tersadar, bahwa pemuda gagah yang berdiri di hadapanku adalah anakku sendiri. "Tidak, tidak mungkin! Hatiku terlanjur terpaut padamu...." aku terpekur lemas. 

Seketika amarahku semakin membuncah. Aku mendongak dan mencoba berdiri dengan amarah masih bergelora. Apa-pun yang ada disekelilingku berantakan. Sebagian pecah karena pukulan, sebagian tumpah karena tendangan, beberapa hewan kecil berhamburan mendengar teriakan histerisku. Tukang sate bersungut-sungut melihat dagangannya berhamburan, bahkan satu tusuk sate aku lempar, terpental sangat jauh. Mangkuk-mangkuk bakso pun tak ketinggalan terkena tendangan dan pukulanku. Mangkuk, kuah, bakso, dan togenya terpental sangat jauh.

***

Kalian percaya, orang zaman dulu sakti-sakti? Ada yang berjalan di atas air, ada seorang ibu yang bisa mengutuk anaknya menjadi batu, ada yang membangun seribu candi dalam sehari semalam. Begitu pun denganku.

Karena amarahku, tusuk sate yang kulempar berubah menjadi sebuah bangunan megah, yang kini dikenal dengan Gedung Sate. Lalu mangkuk yang kutendak akhirnya jatuh tertelungkup tepat di priangan utara (kini tempatnya ada di daerah Subang), berubah menjadi sebuah gunung. Gunung Tangkubanparahu. Kuah dari mangkuk tumpah, berubah menjadi aliran Sungai Cimaja. Bakso-baksonya? Tentu saja berubah juga. Jika kalian pergi ke jalan Asia Afrika di kota Bandung, kalian akan menemukan bulatan-bulatan bola besar di sepanjang jalannya, dari Savoy Homann sampai Alun-alun kota Bandung.

***

*) bagong = dalam budaya Sunda untuk menyebut babi hutan.
**) céntong = sendok untuk mengambil nasi dari bakul.
***) wuluku = alat pertanian, seperti garpu besar, untuk memecah tanah persawahan.

#OneDayOnePost
#Batch4
#ceritarakyat

2 comments:

  1. Ketawa ngakak baca fiksi kayak gini

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete