:::: MENU ::::
Sumber: ingrum.org


Lahir di Tatar Sunda membuat diriku mengalir getih Sunda, mengalir darah Sunda sehingga kepribadianku sama dengan kepribadian urang Sunda pada umumnya. Terlebih rasa cinta yang mengalir begitu deras terhadap lemah cai Bumi Parahyangan.


Tulisan kali ini tidak membicarakan tentang bagaimana orang Sunda, bukan pula tentang adat budaya dan kebiasaan orang Sunda. Tulisan ini hanya membicarakan bagaimana orang Sunda menandakan perubahan waktu dengan namanya sendiri yang khas dan unik.


Jika kita mengenal perubahan waktu dengan pagi dan siang, petang dan malam, maka dalam budaya Sunda waktu diperlakukan dengan begitu teliti dan halus. Sebagai contoh jika bulan memasuki bulan purnama atau jika dalam hitungan tahun, hitungan bulan memasuki tengah bulan, maka budaya Sunda mengenalnya dengan caang bulan opat welas, artinya bulan yang sangat benderang (bulan purnama) terjadi pada tanggal empat belas (penanggalan Hijriyah).


Selebihnya penulis akan sedikit mengenalkan berbagai penamaan waktu dalam satu hari dimana orang Sunda begitu familier dan sering menggunakannya:


1) Tengah peuting


Tengah peuting atau tengah malam adalah penyebutan yang mendandakan waktu menunjukkan pukul dua belas sampai pukul satu tengah malam. Waktu ini sebagian besar orang yang mengalaminya akan tertidur pulas.


2) Tumorék


Waktu ini menunjukkan selepas tengah peuting yang ditunjukkan antara pukul satu sampai dengan pukul dua. Orang-orang yang bertransaksi (berjual-beli) di pasar telah bergegas dengan aktivitas sehari-harinya pada wanci tumorék, sehingga jalanan yang lengang mulai ramai oleh kendaraan dan hilir-mudik para pedagang dan pembeli.


3) Janari leutik dan janari gedé


Janari leutik adalah waktu menjelang subuh yang ditandai dengan hewan malam mulai kembali ke peraduannya. Waktu ini adalah selepas tumorék yang ditunjukkan antara pukul dua sampai dengan pukul tiga menjelang subuh. Sedangkan janari gedé adalah waktu sehabis janari leutik. Dalam masyarakt Sunda sendiri ketika masuk bulan Puasa atau bulan Ramadhan, sering menyebut waktu sahur sebagai janari. Misalnya ketika sepakat untuk berangkat jam dua atau jam tiga, maka mereka biasa mengatakan “muhun atuh, angkatna pas janari waé.” (okelah kalau begitu, berangkatnya (antara) jam dua - jam tiga saja.)


4) Kongkorongok hayam


Jika diterjemahkan bebas, kongkorongok hayam merupakan waktu menjelang subuh yang ditandai oleh berbunyinya suara ayam (ayam sudah mulai berkokok). Begitu telatennya orang Sunda menamai waktu dalam sehari, sampai waktu ketika ayam mulai berkokok pun dinamai sesuai dengan budayanya.


 5) Carangcang tihang


Selepas subuh suasana lingkungan sekitar mulai terang, karena matahari di ufuk timur mulai menampakkan diri. Tiang-tiang listrik, batang-batang pohon terlihat lebih jelas dibanding waktu subuh. Inilah yang dinamakan carangcang tihang, yaitu tiang-tiang yang mulai terlihat jelas.


6) Haneut moyan


Dalam bidang sains (ilmu alam) kita sering mendengar bahwa matahari pagi sangat baik untuk kesehatan tulang. Maka, pada waktu matahari terang di waktu pagi banyak orang yang sengaja berjemur, baik untuk tujuan kesehatan atau hanya agar tubuh terasa hangat. Istilah haneut moyan mempunyai arti waktu dimana badan akan terasa hangat jika berjemur (haneut = hangat; moyan = berjemur). Bagi masyarakat Sunda, wanci (waktu) haneut moyan terjadi pada pukul delapan sampai dengan pukul sembilan.


(bersambung)




#OneDayOnePost

#ODOPBatch4
#ODOP
#Sundanese

0 komentar:

Post a Comment