:::: MENU ::::
: sebuah cerpen

Rintik hujan mulai turun dari langit yang semakin kelam, hitam menjelaga. Ribuan, bahkan jutaan tetes air yang rindu akan bumi yang semakin kerontang, meluncur bebas. Lamat-lamat suara orang mengaji di surau kampung menambah syahdu suasana di pelataran rumahku. Aku duduk sendirian di atas dipan bambu, menjadi tempat favoritku menghabiskan sisa hari sebelum beranjak terlelap di dalam rumah. Hanya kopi hitam yang mulai dingin dan pisang goreng masih setia menemani gelisahnya hati ini.

Rumahku memang tidak besar, untuk ukuran seorang lurah sangat jauh dari layak. Aku sangat bahagia dengan apa yang kumiliki sekarang. Letaknya yang berada di tonggoh*) membuat orang yang berada di tempat ini dapat melihat rimbun kebun kelapa dan birunya Selat Sunda di kejauhan sana. Dalam hening senyap, aku menatap perkampungan sebelah barat rumahku yang tiba-tiba menampakan sinar jingga, samar-samar.

Aku tak sengaja menumpahkan kopi di gela dan mengenai tanganku. Spontan diriku melonjak kaget. Tak sadar karena keterkejutanku, aku meraih bambu yang menopang atap rumah. Sebatang paku yang tertancap pada bambu itu mengenai telapak tangan sehingga merobek kulit. Tentu saja telapak tanganku berdarah mengeluarkan carian kental merah pekat, membasahi lantai yang kupijak. Pertanda apakah ini?

Tak berapa lama semburat warna kuning merayap pelan, memoles horizon pekat. Semakin lama semakin tampak jelas. Warna-warni jingga, kuning, disusul merah menyala itu bukan cahaya matahari, melainkan bersumber dari api yang dinyalakan di atas potongan-potongan bambu.

Gemersik dedaunan kering, langkah-langkah berat dan cepat menjadi suara lain di malam yang belum selesai kunikmati. Teriakan yang sedari tadi terdengar lemah, semakin jelas terdengar, seperti ingin memuntahkan amarah yang menumpuk dalam dada. Aku mulai gugup, cemas, dan khawatir. Suara itu jelas-jelas ditujukan kepada diriku, karena aku tahu persis arah gerombolan orang itu menuju ke arah rumahku. Ada apa gerangan?

Masih dalam kebingungan dan kekhawatiran, gerombolan itu masih berteriak, "Mana tanah kami?!!", "Tangkap penipu kampungan!" Beberapa orang berteriak bersamaan dengan notasi yang sering kudengar di tivi-tivi, "Bakar, bakar, bakar si penipu!! Bakar si penipu sekarang juga!!!"

Aku melihat langit yang pekat. Semakin pekat. Teriakan itu masih terdengar. Lalu perlahan berubah menjadi sayup-sayup. Semakin sayup. Lampu-lampu yang menerangi pekarangan pun ikut meredup. Semakin redup. Lalu hitam, menghitam pekat.

***

"Selamat pagi Pa Bos!" sapa Burhan sambil membuka pintu mobilku.

"Ah, jangan panggil bos, panggil aja Bapak atau Akang." jawabku tak senang hati dipanggil bos oleh anak buahku.

"Eh, iya bos! Eh ... anu, siap Kang Jamhur."

"Hidup seseorang perlu dihargai, bukan karena jabatan atau harta, tapi karena ketakwaannya." ucapku setengah menggurui.

"Sumuhun Kang, leres pisan éta mah!**)" ucap Burhan kepadaku, sambil mengacungkan jempol tanda setuju.

"Ya, sudah saya masuk dulu ya, Mang. Kerjaan sudah menumpuk di dalam."

"Mangga Kang Jamhur, mangga!" kulihat Burhan dengan sigap segera menutup pintu mobil dan memastikan semuanya sudah terkunci.

Hampir setahun aku bekerja d kantor baruku ini. Pemilihan lurah yang akhirnya memutuskan bahwa pasangan Jamhur - Kamad menjadi Lurah Situ Caringin. Pemilihan itulah yang membuatku resmi menjadi pemimpin di kelurahan yang terletak di tepian Selat Sunda. Tak pernah ada di peta Indonesia ataupun di Google Map, walaupun letaknya tidsk jauh dari Ujung Kulon, yang sangat tersohor seantero negeri.

Tidak banyak perubahan yang kulakukan pada sistem pemerintahan kelurahan. Aku hanya membaca undang-undang dan aturan yang berlaku. Maka, tidak ada lagi pungli, tidak ada lagi petugas kelurahan yang berani bermain uang atau sengaja mengulur waktu bagi warga yang mengurus administrasi penduduk. Sebagian warga sangat gembira diriku menjadi lurah. Namun tidak sedikit warga yang tidak senang, karena "lahan basah" mereka menjadi kering kerontang. Apalagi aparat kelurahan yang mulai kasak-kusuk until mengarungi cara agar mereka mendapat kembali "penghasilan" tambahannya.

Aku tak peduli sedikit pun dengan semua orang yang menentangku. Secara terang-terangan maupun dengan berbisik di belakang punggungku. Mereka selalu menghasut orang agar mereka membenci, agar mereka tidak menyukai pribadiku, hanya pribadiku, bukan karya dan kinerjaku sebagai Lurah Situ Caringin.

Bahkan kejadian minggu kemarin yang membuat suasana rumah panas dan menjadi tidak nyaman. Beberapa orang mulai melempar isu murahan, dengan mengatakan aku mempunyai perempuan simpanan. Setiap kunjungan ke kampung-kampung, atau undangan dari bupati, aku akan mampir ke rumah perempuan yang menjadi selingkuhanku. Mudah ditebak. Mereka menginginkan hubungan di dalam keluargaku renggang dan berantakan.

Kabar burung itu semakin menjadi ketika aku memutuskan untuk mengambil tanah-tanah kelurahan yang kini dijadikan ladang usaha Lurah Wardi, lurah yang menjabat sebelum diriku. Malah sebagian tanah itu bukan lagi berbentuk kebun atau sawah, tetapi menjadi bangunan ruko. Aku tak ambil pusing, karena aku diberi amanah dan tujuanku hanya untuk bagaimana caranya warga dapat sejahtera, dapat menikmati hak-haknya sebagai warga Situ Caringin. Hal inilah yang dijadikan persoalan oleh Lurah Wardi.

Persoalan yang semakin membesar, dan dijadikan isu sehingga warga kehilangan kepercayaa pada diriku. Permasalahan ini dibalik, seakan-akan dirikulah yang ingin memiliki tanah-tanah tersebut, dirikulah yang ingin merebut pekerjaan warga asli yang dipekerjakan Lurah Wardi.

***

"Hallo, ini Jamhur?!" suara lantang di seberang sana terdengar setengah mendengus.

"Iya hallo, dengan siapa ini?" aku jawab singkat.

"Dia***) jangan sok ramah!!! Aku tahu kamu orang baru di kampung ini. Aku tahu kamu punya jabatan lurah, jangan sombong kamu, Jamhur!" nadanya menyiratkan dirinya adalah orang penting.

"Aku tak mengerti perkataan Bapak."

"Udah ga usah banyak omong. Begini saja, ...."

"Sebentar Pak!!" sanggah diriku mulai kesal, "Bapak ga usah sewot begini, bisa dijelaskan dengan baik-baik, saya juga punya ...."

"Diam dia, Jamhur!" aku sedikit tersentak, "Kau jangan sombong. Mulai besok, jangan kau usik lagi tanah-tanah yan ada di Kampung Kamurang itu, juga warung-warung dan ruko sebelah timur Kantor Lurah."

"Itu bukan milik orang per orang. Tanah itu semuanya milik desa, buat kepentingan warga."

"Omonganmu sungguh hebat Tuan Bijaksana. Tapi aku hanya kasih kau dua pilihan saja."

Aku diam, tak sedikit pun hendak bersuara. Bukan karena takut. Tidak sama sekali. Aku tahu menghadapi orang-orang "preman" semacam ini. Bukan dengan urat.

"Kau kuberi waktu sampai lusa untuk memutuskan: jauhi semua tanah-tanah yang kudiami. Jangan pernah ganggu orang yang bekerja di sana"

"Atau kalau kau masih paksa mengambil semua, aku tak bertanggung jawab kalau ada apa-apa dengan basis kecilmu ...."

"Apa kau bilang?!!!" aku mulai terpancing.

"Gadis kecilmu yang tiap hari pergi lewat pematang sawah ke sekolah, bermain di kebun sawit, dan selalu mandi sore di Kali Cidurian."

Mendadak kepalaku pusing. Celaka! Gadis kecilku, anak semata wayang yang ditinggal ibunya sejak balita, tak ada lagi cinta di dunia ini yang melebihi cintaku pada bocah lugu itu. Kini anakku akan berhadapan dengan "preman-preman" kampug hanya karena ketololanku yang ingin memegang amanah jabatan ini dengan baik.


===
*) tonggoh = tempat yg lebih tinggi
**) Iya Kang, betul sekali
***) Dia, ungkapan sebagian masyarakat Banten bagian barat untuk menunjuk "kamu" dengan konotasi kasar




#OneDayOnePost
#ODOPBatch4
#cerpen

4 comments:

  1. Saya kok tidak menemukan kata 'matahari' ya di postingan ini? Apa terlewat?

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. makasih Mas Wakhid, moga sy bs mengambil banyak ilmu dr mas Wakhid, :)

      Delete