:::: MENU ::::
budaya banten bahasa sunda

"Manéh mah heureuy wae. Ulah kitu, jing!"*)

Jika kalian orang (urang) Sunda mendengar petikan kalimat di atas, apa yang kalian rasakan? Apa reaksi yang akan kalian lakukan?

Saya mengalaminya sendiri. Sebagai orang pendatang, jujur saya kaget dan langsung terbawa emosi. Bagaimana tidak, di akhir kalimat ada kata "jing", dan wajar kalau saya marah dan ingin membalas kata kasar tersebut.

Kata jing ini akan kalian jumpai jika pergi ke daerah Banten bagian utara. Ungkapan ini sangat lumrah diucapkan tanpa ada yang tersinggung atau emosi mendengarnya. Sidik punya selidik, ungkapan jing tidak sama artinya dengan ungkapan jing yang dilontarkan oleh orang Priangan Timur.

Inilah uniknya negeri kita yang sangat beragam. Priangan Timur adalah daerah yang meliputi Sukabumi, Bogor, Bandung, Cianjur, Garut, Sumedang, Tasikmalaya dan sekitarnya. Walaupun masih termasuk masyarakat Sunda dan pernah menjadi bagian dari provinsi Jawa Barat, Banten, memiliki karakter manusia dan bahasa yang berbeda. Banten sendiri merupakan daerah yang meliputi Tangerang, Serang, Rangkasbitung, Lebak, Pandeglang, dan Cilegon. Dalam budaya Priangan Timur, khususnya dalam bahasa, kata atau ungkapan jing adalah kata kasar yang biasa diucapkan jika seseorang marah. Kata tersebut diambil dari kata (maaf) anjing lalu mengalami pemendekan kata menjadi jing.

Misalnya kata di awal tulisan ini: "Manéh mah heureuy wae. Ulah kitu, jing!", maka oleh masyarakat Priangan Timur akan diartikan "Kalian tuh bercanda saja. Jangan begitu, (maaf sekali lagi) anjing!" Bagaiamana mendengarnya? Kasar sekali kan? Wajar jika saya atau pun kalian akan merasa tersinggung lalu terbawa emosi, marah dan ingin membalasnya.

Tunggu dulu, jangan marah dulu ya. Pertanyaannya kenapa masyarakat Banten utara, khususnya daerah Serang (kabupaten dan sebagian kota), tidak marah ketika mendengarnya? Dan ini hanya berlaku pada masyarakat Banten utara. Nanti berbeda lagi jika diucapkan di daerah Lebak, Pandeglang, Tangerang atau pun Rangkasbitung. Ingat, ungkapan ini hanya berlaku di daerah Banten utara ya.

Geuning*) jing pada kalimat tadi hanya sebuah akhiran saja, semacam penegasan. Sama seperti kata "lah" dalam bahasa Indonesia atau "euy" dalam bahasa Sunda. Jadi kalimat "Manéh mah heureuy wae. Ulah kitu, jing!" kita artikan (menurut masyarakat Banten utara) menjadi "Kamu tuh bercanda saja. Jangan begitu, sih!". Atau jika diartikan dalam bahasa Sunda Priangan Timur menjadi "Manéh mah heureuy wae. Ulah kitu, euy!". Nah lho, berbeda sekali artinya kan?

Banyak lagi ungkapan yang sama namun memiliki arti berbeda. Maka, jika kalian bepergian ke pelosok Nusantara lalu mendengar ungkapan atau kata-kata asing, jangan pernah menafsirkannya dengan pikiran yang sudah ada dalam diri kalian. Tetapi lakukan tabayyun, cek dan ricek terlebih dahulu.

Inilah khazanah bangsa Indonesia, begitu beragam, begitu kaya akan perbedaan. Dan tentu saja perbedaan ini jangan menjadikan pertentangan antar suku atau kelompok. Justru perbedaan ini menjadi kekuatan dahsyat berdirinya bangsa agar kokoh.  Bukankah perbedaan itu fitrah? Seperti termaktub dalam kitab suci Alquran, surat Al Hujurat ayat 13: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. ..."



*) geuning = ternyata

5 comments:

  1. Saya jadi kaget mba, tak kira mau ngartiin secara bahasa sunda. Soalnya saya tinggal dilingkup sunda juga.. tapi well, ini bhasa baru.. Trimaksih infonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, terimakasih sama-sama.. msh ada lagi, seperti "dia" itu artinya "kamu" tapi dgn intonasi kasar atw marah

      Delete
  2. Kayaknya di daerah lain juga banyak ya. Kayak kata Cuk, Ndes, dll. Diucapkan dlm obrolan biasa.

    ReplyDelete
  3. Bahasa Sunda, daerah Serang Banten

    ReplyDelete