:::: MENU ::::
Azan berkumandang memenuhi alam raya. Hamparan bumi menghijau. Syahdu. Hari cerah, bersamaan dengan burung terpekur di sarangnya masing-masing seakan mengerti bahwa siang itu Sholat Jum'at akan segera dimulai. Orang-orang berpeci dan bersarung bergegas menuju rumah Tuhannya, rumah Allah, rumah tempat orang-orang Islam bersujud.

Selangkah-demi selangkah Wreh berjalan beriringan dengan adiknya dan orang-orang lain yang tak dikenalnya. Siang itu ia mengenakan baju koko coklat dan bersarung. Ia mencoba untuk memusatkan pikirannya kepada Sang Khaliq, setelah kejadian menyesakkan di tempatnya bekerja pagi itu --seorang berkepala pitak dengan sengaja memalingkan wajah ketika berpapasan. Entah kenapa.

Semenjak bangku sekolah menengah atas, ia tertarik (dan mengidolakan) ilmuwan yang terkenal berambut jabrig. Ia sepaham dengan idenya tentang "waktu yang relatif". Wreh berpendapat lebih jauh, bahwa kehidupan ini semuanya bersifat relatif. Orang lain bisa saja menempelkan cap kepadanya sebagai pecundang, karena jarang bergaul dengan orang-orang di kompleksnya, tak pernah menunjukkan batang hidung ketika para pemuda asyik bermain kartu di pos ronda. Namun bagi kebanyakan orang lainnya ia adalah orang baik, yang selalu bersedia membantu orang lain dalam keadaan apa pun. Ia adalah laki-laki berkacamata tebal yang ditakuti dan disegani, dihargai sebagai seorang yang memiliki kemampuan dalam desain grafis dan jaringan komputer.

Sebuah masjid megah berdinding hijau lumut dengan tiang-tiang menjulang kokoh berdiri di hadapannya. Wreh memasuki rumah Allah itu dengan khidmat, membaca do'a, dan masuk mendahulukan kaki kanannya.

Khatib menaiki mimbar.

Lalu mengucap salam dan mulai berkhotbah.

Zaman dimana orang-orang yang semakin tenggelam dalam kehidupan "individualis", hanya mementingkan dirinya sendiri. Banyak orang menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Bahkan ketika jama'ah Jum'at di masjid itu berjalan beriringan, banyak yang tak tegur sapa, atau hanya sekedar tersenyum, padahal mereka sama-sama hendak beribadah, sama-sama sebagai Muslim, kenapa kelakuannya seperti itu.

Zaman dimana dunia disesaki dengan teknologi (yang katanya canggih) menjerumuskan manusia ke dalam dunia hedonis, individualis, dan liberalis. Teknologi semakin maju, maka industri negara barat begitu gencar memroduksi barang dagangannya khusus untuk orang-orang di negara timur... agar mereka semakin meninggalkan nilai-nilai ketimuran indah. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, saling sapa dan santun tergerus. Menjadi barang langka. Sebutlah telepon selular, televisi, dan gadget lainnya. Sebutlah facebook, twitter, dan lainnya.

Khotib melihat Wreh yang duduk di barisan depan bersila, menunduk dengan khusyuk. Ia terlihat mengangguk-angguk, seperti orang yang mulai memahami apa yang khotib sampaikan. Namun, Wreh mengangguk-angguk bukan saja ketika khotbah dibacakan, namun ketika do'a pun ia masih tampak mengangguk-angguk. Bahkan ketika semua jama'ah berdiri untuk memulai sholat, ia masih saja duduk bersila dengan kepala menunduk dan mengangguk-angguk. Lho?

0 komentar:

Post a Comment