:::: MENU ::::
Sumber: areabaca.com

Lebih dari tujuh dekade bangsa ini terbebas dari penjajahan kolonial. Semenjak Bung Karno dengan gagahnya membacakan teks proklamasi di Pegangsaan Timur. Usia yang cukup matang bagi sebuah bangsa untuk menunjukkan jati dirinya, untuk memperlihatkan seberapa hebat sebuah bangsa besar berperan dalam pergaulan dunia.


Namun, bangsa ini seakan tetap jalan di tempat. Bangsa ini seakan tak pernah berjalan apalagi berlari, berlomba dengan bangsa lain yang semakin cepat berlari. Selalu saja "berisik" meributkan hal kecil dan berujung menjadi sebuah pertentangan besar, merebut kekuasaan. Lihat saja bagaimana Bung Karno sebagai presiden pertama dan sebagai Bapak Proklamator secara menyedihkan terkarantina di akhir hidupnya. Seorang bapak bangsa, pahlawan besar, dan founding father begitu menyayat hati melihat dirinya di-"kudeta" pada kurun waktu 1965 - 1966 dan dicerabut kebahagiaannya dengan menjauhkan dirinya dari rakyat dan saudara tercintanya. Sampai ajal menjemputnya.


Berganti tampuk pimpinan tertinggi bangsa ini kepada seorang militer, Suharto. Senada dengan presiden pertama republik ini, Presiden Suharto harus rela "terguling" dari kekuasaannya setalah 32 tahun menikmati kursi presiden. Jutaan rakyat yang dipelopori mahasiswa memaksa dirinya "lengser keprabon" dengan kekuatan demonstrasi dan dikenang sebagai Peristiwa Mei 1998. Korban meninggal dari kalangan mahasiswa setelah pasukan tentara bersenjata tempur menembaki mereka. Korban meninggal dari rakyat biasa karena kerusuhan hebat meletus. Toko-toko dijarah, perempuan diperkosa, etnis-etnis yang sengaja dihembuskan untuk dibenci menjadi sasaran amarah dan pembunuhan.


Presiden-presiden selanjutnya tak kalah hebat menorehkan peristiwa yang membuat masyarakat membenci bangsa ini. Timor Timur lepas dari Negara Kesatuan Republik Indonesia setelah referendum pada zaman Presiden Habibie memenangkan kemerdekaannya. Disusul peristiwa "kudeta senyap", menggulingkan Presiden Abdurrahman Wahid dengan kasus Bulogate. Kasus ini sendiri sampai sekarang tak pernah terbukti kebenarannya. Dua periode pemerintahan Presiden Soesilo bambang Yudhoyono menyisakan para koruptor kelas kakap dari semua kalangan: anggota dewan, bupati, gubernur, sampai jajaran menterinya tersandung kasus rasuah. Bahkan tragedi BLBI sampai kini menyisakan pekerjaan rumah dengan dana hilang trilyunan rupiah.


Kebencian rakyat semakin menjadi, karena sampai saat ini kursi presiden selalu berkutat dengan konflik berkepanjangan. Bangsa ini seperti tak pernah belajar dari sejarah, selalu mengulang-ulang konflik yang sama menjelang pergantian tapuk pimpinan. Seribu alasan untuk membenci bangsa ini sangat manusiawi. Tengok saja kelakuan wakil rakyat yang seharusnya menjadi corong rakyat untuk menyuarakan apa yang diinginkan rakyat Indonesia. Pada kenyataannya apa yang mereka lakukan, yang konon katanya sebagai "dewan terhormat"?


Para anggota dewan "yang terhormat" malahan hanya memperkaya dirinya sendiri. Jika menyuarakan haknya mereka sangat kompak dan berteriak lantang: kenaikan tunjangan rumah, kenaikan tunjangan perjalanan luar negeri, pengadaan mobil dinas, kenaikan gaji, dan lainnya. Namun jika kepentingan rakyat yang tidak populer mereka seperti kerupuk yang disiram air, melempem: nasib guru honorer, kasus ribuan jamaah umroh yang tertipu biro perjalanan, kasus korupsi KTP elektronik yang merugikan jutaan orang di negeri ini, dan lainnya. Ditambah tawuran pelajar, narkoba merebak sampai kampung-kampung, pergaulan bebas, korupsi, sumber daya manusia yang jauh tertinggal, impor ilegal, penebangan hutan, banjir bandang, yang semakin yakin bahwa ada seribu alasan untuk membenci bangsa ini.


Dibalik semua hal yang penulis paparkan di atas, tetap ada banyak hal yang mengagumkan dari negeri ini. Sebuah negeri yang terletak diantara 2 benua besar, Benua Asia dan Australia, 2 samudera, Samudera Pasifik (lautan teduh) dan Samudera Hindia. Negeri yang berdiam di dalamnya ratusan juta penduduk. Negeri yang memiliki ribuan pulau dan ribuan selat.


Negeri ini adalah sebuah negeri yang sangat panjang sejarahnya, ribuan tahun bahkan puluhan ribu tahun membentang dari zaman purba sampai abad teknologi saat ini. Negeri yang terkenal dengan "zamrud khatulistiwa", permata hijau yang berada di tengah belahan bumi, bersinggungan dengan garis ekuator. Disebut oermata hijau karena negeri ini memiliki iklim tropis, sehingga memiliki curah hujan sangat tinggi, sehingga berbagai tanaman dan pohon, hutan dan rawa, beribu vegetasi dapat tumbuh subur.


Beratus penemuan benda purbakala tersebar di negeri ini, salah satu negeri yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia. Sangiran, Gunung Padang, Mojokerto merupakan sebagian tempat yang memiliki peninggalan purbakala. Kerajaan-kerajaan besar juga dimiliki negeri ini. Kerajaan yang melampaui peradaban maju di zamannya. Ada Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai, Bugis, Minangkabau dan puluhan kerajaan besar lainnya. Beribu peninggalan dari besarnya kerajaan-kerajaan itu diantaranya: kapal pinisi, candi Borobudur, Prambanan, dan Candi Cangkuang serta karya klasik I La galigo, Serat Chentini, Sanghyang Siksakanda ng Karesian dan ratusan lainnya. Kejayaan kerajaan Hindu-Buddha meredup dan dimulai babak baru sejarah negeri tercinta ini.


Budaya Islam mulai masuk menggantikan kejayaan kerajaan Hindu-Buddha. Tersebutlah Samudera Pasai, Demak, Banten, Cirebon, Ternate, Kutai Kartanegara dan lainnya. Dari masa ini meninggalkan bangunan masjid yang tersebar di seluruh penjuru negeri. Bahkan masa ini tidak saja meninggalkan warisan masjid, namun peradaban, sistem pemerintahan, perencanaan tata pusat pemerintahan yang kita kenal dengan "alun-alun".


Ulama-ulama yang tersohor ke penjuru dunia mewarnai khazanah besarnya dan begitu dihormatinya negeri ini dalam peradaban dunia, seperti Syekh Nawawi Al-Bantani, Abdurrauf Singkil, Syaikh Syarif Hidayatulloh, Hadrotusy Syaikh Hasyim Asy'ari, KH Ahmad Dahla dan ratusan ulama lainnya.


Menceritakan hebat dan kayanya negeri ini tidaklah cukup dengan ribuan kata dalam tulisan ini. Mungkin perlu beribu buku, berpuluh jilid ensiklopedi, berpuluh ribu kajian ilmiah dan jutaan artikel untuk menjelaskannya. Saat ini, di tengah merosotnya moral para pemimpin baik di daerah maupun di pusat, moral pejabat, rakyat biasa sampai pelajar dan mahasiswa, di tengah gonjang-ganjing elit politik dan membanjirnya berita bohong (hoax), negeri ini tetap menjadi negeri dengan penduduknya yang ramah tamah, murah senyum dan gemar menolong.


Pada akhirnya penulis kutip sebuah kalimat dari Bang Takdos (seorang blog traveller), 



"Ada seribu alasan untuk membenci bangsa ini, namun ada SEJUTA alasan untuk tetap MENCINTAI negeri ini."

***


#OneDayOnePost

#ODOP


0 komentar:

Post a Comment