:::: MENU ::::

Dunia pendidikan di negeri ini sedang diuji dengan tantangan yang sangat berat. Lihatlah beberapa berita terbaru seputar dunia pendidikan: kenakalan remaja, tawuran, obat-obatan, percintaan yang dewasa ini telah menyasar kepada anak-anak usia pendidikan dasar. Lalu, apakah permasalahan ini hanya dibebankan kepada institusi pendidikan (sekolah) dan gurunya? Atau kita anggap fenomena yang terjadi memang sudah waktunya, seiring zaman yang telah berubah jauh?

Komunitas One Day One Post (ODOP) sempat memperbincangkan juga tantangan dunia pendidikan ini. Dalam sebuah diskusi ringannya, komunitas ODOP menyoroti bagaimana perilaku anak sekolah dasar dalam percakapannya di aplikasi smartphone. Bagaimana dua orang anak kecil laki-laki dan perempuan bercakap dengan bahasa "langit", bahasa yang sangat tida pantas untuk anak seusia mereka, bahkan tidak pantas bagi anak remaja sekalipun. Seperti yang terdapat pada gambar di bawah ini:


Ada lagi bagaimana bocah perempuan diperkosa oleh seorang remaja karena berkenalan melalui salah satu media sosial (medsos). Sungguh ironi dan memprihatinkan. Kesimpulannya adalah permasalahan tersebut di atas merupakan tanggung jawab bersama dan sudah pada tahap kritis. Kerjasama yang baik antara orang tua, sekolah, masyarakat, dan pemerintah. Orang tua akan mendidik anak-anaknya dalam sekolah pertama mereka (madrosatul 'ula). Di sinilah sebenarnya pembentukan karakter anak dalam usia emas, pembentukan kepribadian, keimanan, dan perilaku di masa depan mereka.

Pada kesempatan kali ini, saya akan mencoba melihat apa dan bagaimana seorang guru (pendidik) sebagai garda terdepan dalam dunia pendidikan menyikapi permasalahan yang terjadi pada dunianya. Pendidik adalah aktor utama sebuah studio yang bernama sekolah. Pertanyaan berikutnya, kenapa teori-teori belajar banyak berasal dari dunia barat? Kenapa sistem-sistem pendidikan yang diterapkan di sekolah lebih banyak mengadopsi dari benua Eropa dan negara Amerika Serikat? Contohnya teori multiple intelligence (kecerdasan majemuk) yang dipelopori oleh Howard Gardner berasal yang notabene berkebangsaan Amerika Serikat. Lalu, kurikulum internasional yang diambil dari negara Singapura, dan negara tersebut mengambil pula dari Oxford atau Harvard. Lebih terlihat lagi ketika pemerintah melalui Menteri Pendidikan Muhammad Nuh mengadopsi plek, letter lek, kurikulum 2013 (K13) dari negara Amerika Serikat yang berpaham liberal dan kapitalis.

Tulisan ini akan membahas lebih fokus kepada kegiatan belajar mengajar di kelas (KNM). Mudah saja sebetulnya bagaimana menemukan solusi dari berbagai kendala/permasalahan yang terjadi selama KBM. Dalam sebuah acara "Seminar dan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Hasil Penelitian Tindakan Kelas" diadakan kerjasama Risetkdikti dan Jurusan Pendidikan Kimia Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) yang bertempat di Aula Pendopo Kabupaten Serang muncul berbagai permasalahan yang dialami pendidik. Salah seorang pendidik dari SMAN 1 Jawilan menggambarkan bagaimana anak didiknya kurang memiliki motivasi belajar. Boro-boro membuat laporan praktikum dan menganalisis hasil kerja di laboratorium, menulis bahasan awal saja mereka harus dibimbing, disuruh-suruh, diceramahi layaknya masih bocah SD atau PAUD.

Salah seorang pemateri, Prof. Dr. Liliasari M.Pd. memaparkan berbagai kendala yang dihadapi sekolah-sekolah "pinggiran" yang jauh dari perkotaan. Liliasari memaparkan bahwa permasalahan motivasi anak-anak didik di sekolah sebenarnya bukan terletak pada diri mereka, tetapi terletak pada bagaimana seorang pendidik memberi pengajaran yang menarik. Jika seorang pendidik mengajar mata pelajaran (mapel) kimia dengan gaya yang membosankan, bagaimana anak-anak mau belajar kimia, merasa tertarik saja tampaknya mustahil. Lebih lanjut beliau menegaskan jika seorang pendidika ingin membuat analisis, maka yang dianalisis bukan diri (motivasi) anak didik, tetapi metode pengajarannya, apakah dengan demonstrasi, apakah dengan praktik, apakah dengan pembelajaran kontekstual.


Salah satu penyakit yang dimiliki pendidik di sekolah-sekolah adalah "malas belajar dan menulis". Saya beri tanda petik, karena inilah permasalahan utama yang terjadi pada pendidik negeri ini (terutama pada diri saya sendiri). Ide-ide yang muncul dari seorang pendidik ketika menemukan permasalahan di kelas itu sering terabaikan, karena tidak mereka tidak memiliki kebiasaan (habit) menulis. Begitu selesai pembelajaran selesai pula tugas mengajar, pada bagian akhir anak didik akan menerima tes evaluasi dengan hasil berupa angka-angka yang menunjukkan tingkat keberhasilan pembelajaran.


Kegiatan yang diadakan pada hari Sabtu (21/10) kemarin fokus membahas tentang bagaimana teknik penulisan artikel PTK dan mempublikasikannya. PTK diawali dengan penemuan masalah yang terjadi di dalam KBM. Karena termasuk ke dalam laporan ilmiah, maka harus menjelaskan proses, teknik kemajuan dan hasil penelitian, melibatkan satu topik yang terbuka untuk didebat. Lebih pentingnya suatu PTK hasrulah mempunyai "implikasi" yaitu seberapa penting hasil penelitian jika digunakan lebih luas, hasil dari PTK harus mempunyai solusi dari permasalahan di dalam kelas.

Beberapa poin yang dapat dicatat pada kegiatan itu diantaranya:

1. Kualitatif dan Kuantitaif

Setiap penelitian tindakan kelas (classroom action research) haruslah bisa diukur dalam bentuk data, baik itu secara kuantitatif atau kualitatif. Penelitian ini merupakan salah satu cara untuk dapat menemukan jawaban dari rumusan masalah yang mengemuka di awal tulisan penelitian.

2. Assesment

Secara umum assesment mempunyai dua bentuk, yaitu berupa tes dan non-tes. Bentuk tes dapat berupa tertulis, lisan atau pun tes autentik. Sedangkan non-tes dapat berupa portofolio dan unjuk kerja.

3. Tes Autentik

Merupakan bentuk assesment atau penilaian yang dihubungkan dengan kehidupan di sekitarnya. Tes ini diberikan kepada anak didik, dimana materi yang telah diajarkan harus bisa diterapkan dalam kehidupan mereka. Contohnya ketika membahas tentang zat kimia, maka anak didik diajak mencermati/mengamati apa yang ada di sekitarnya: masuk dapur, zat apa saja yang mereka temui; ketika berada di dalam minimarket, adakah zat kimia yang teramati di sana; atau di pinggir rumahnya terdapat aliran sungai, apakah air sungai tersebut mengandung zat kimia tertentu.

4. Sikap dan Pengetahuan

PTK harus melibatkan juga bagaimana sikap anak didik ketika berada selama KBM berlangsung. Penting sekali melihat sikap anak didik, karena hasil yang didapat oleh pendidik tidak terlepas dari proses. Proses inilah yang sebenarnya berperan penting dalam KBM. Begitu juga dengan pengetahuan. Bagaimana pengetahuan awal anak didik dengan segala macam kemampuannya. 

5. Judul

Jika motivasi anak didik dirasa oleh pendidik sangat kurang, bukan berarti PTK yang dilakukan menitikberatkan pada motivasinya. Melainkan bagaimana membangun motivasi mereka melalui metode yang menarik. Pandangan pertama bagi pendidik untuk dapat "mencuri perhatian" anak-anaknya merupakan momen krusial. Pendidik bisa menggunakan metode demonstrasi, seperti membawa petasan ke dalam kelas, menunjukkan reaksi yang menghasilkan gas, menunjukkan reaksi pembakaran tidak sempurna yang menghasilkan ledakan, dan lainnya. Sehingga pada tatap muka berikutnya anak-anak didik akan selalu penasaran apa yang akan terjadi lagi.

Tulisan di atas adalah sedikit dari ilmu yang dipaparkan oleh Prof. Dr. Liliasari, M.Pd. dengan harapan semoga para pendidik selalu membiasakan menulis semua hal yang terjadi pada saat KBM dan bisa menyimpulkan peta permasalahan yang terjadi. Tulisan ini pula sekadar pengingat kepada rekan sesama pendidik terutama mengingatkan kepada diri saya sendiri.

Demikian, semoga bermanfaat.

#OneDayOnePost
#Batch4
#ParaPengabdiKentang

0 komentar:

Post a Comment