:::: MENU ::::

Kita semua memang telah berada di abad XXI dan kemajuan teknologi semakin tak terkejar. Sejak revolusi industri dengan negara Inggris sebagai panglimanya, negara-negara di dunia terus bersaing tanpa ada batas jarak dan waktu.


Teman-teman ODOP-ers pun saya yakin sangat menikmati kemajuan teknologi informasi saat ini. Bagaimana tidak nikmat jika sembari duduk di atas dipan, hanya mengenakan kaus oblong dan sarung, menikmati secangkir kopi panas dan pisang goreng, itu pun masih bisa sambil bercanda dengan anak atau menjaga warung -- masih bisa mengikuti bedah tulisan grup Kentang_ODOP#4. Bagaimana tidak nikmat jika kita sedang bahas materi, lalu ada satu kata yang masih rancu artinya, kita tidak perlu buka buku kamus atau ensiklopedi yang tebalnya begitu menawan. Kita cukup gunakan satu jempol kita untuk membuka aplikasi kamus atau pun ensiklopedi.


Idealnya bangsa ini sudah menguasai teknologi informasi dengan baik. Idealnya anak-anak sekolah menengah sudah mahir dalam mengoperasikan program komputer. Idealnya .... Memang apa yang terjadi pada bangsa ini setelah 72 tahun merdeka?


Saya berada di salah satu kabupaten di Provinsi Banten, provinsi paling akhir lahir di republik ini. Saya terkadang menjadi pengajar TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) di kecamatan yang berada di bagian timur Kabupaten Serang. Coba lihat di peta, jarak dari kecamatan ke ibu kota negara ini hanya 60 km atau berjarak satu jam perjalanan darat! Relatif dekat untuk sebuah daerah yang menjadi satelit ibu kota Jakarta.


Ada kejadian menarik pada suatu waktu saya mengajar pada bahasan software. Entah karena di sekolah dasarnya tidak diajarkan komputer atau kesehariannya yang sama sekali tidak berkutat dengan komputer. Pelajaran telah usai dan saya menginstruksikan anak-anak untuk menutup aplikasi dan mematikan komputer (maksudnya dengan perintah shut down). Namun apa yang terjadi? Mereka tidak paham bagaimana caranya men-shut down komputer. Setengah tertawa setengah kesal saya kasih tahu caranya.


Lalu, pada kesempatan lain ada satu dua anak yang mengeluh bahwa komputernya rusak tidak bisa menyala. Padahal kata mereka sudah menghidupkan komputer (maksudnya adalah CPU). Penasaran saya dekati anak-anak yang mengeluh tadi. Benar, CPU nya sudah menyala. Mouse dan keyboard-ny juga sudah aktif yang ditandai oleh lampu indikator menyala. Tiba-tiba saya merasa ada yang ganjil dengan perangkatnya. Dan ... oalaaaah!! Ternyata monitornya belum dinyalakan. Terang saja tidak ada tampilan apa pun pada monitornya. Geregetnya lagi, hal sepele itu mereka anggap komputer yang mengalami kerusakan. Kejadian lain dari banyak kejadian yang menggelikan adalah mereka merasa heran dengan komputer yang tidak bisa dimatikan, bahkan setelah di-shut down.


Sekali lagi saya selalu penasaran dengan "keluhan" anak-anak. Jangan-jangan ruang labkom tempat kami belajar ada makhluk gaib yang iseng sehingga komputer tak bisa dimatikan. Inilah kejadian yang menggelikan itu: ternyata setelah dilakukan perintah shut down seperti yang sudah saya ajarkan sebelumnya, mereka menekan tombol on/off di CPU bagian depan, persis ketika mereka menekan tombol on/off ketika akan menyalakan komputer. Hadeuuuh, saya langsung tepok jidat.


Sedikit gambaran bagaimana kondisi anak-anak sekolah menengah yang berada di "perkampungan" dan hanya berjarak sepelemparan batu dari kota Jakarta. Sebuah fakta yang membuat saya tertawa sekaligus menangis dalam hati, antara sedih, miris, dan prihatin. Akhir tulisan, bangsa ini ternyata masih sangat panjang perjalanannya untuk mencapai tujuan bangsa: mencerdaskan kehidupan bangsa!


#OneDayOnePost

#ODOPbatch4
#ODOP

0 komentar:

Post a Comment