:::: MENU ::::
Korut, AS, Perang Dunia, Donald Trump, Perang Dunia III, Kim Jong Un

LocustaViridis.com - Situasi semenanjung Korea dalam setahun terakhir semakin memanas. Hubungan politik diantara negara Korea Utara (Korut) dan Korea Selatan (Korsel) semakin memburuk setelah berakhirnya perang kedua negara pada pertengahan tahun 1950. Situasi ini semakin diperparah dengan kehadiran negara adidaya Amerika Serikat (AS) di bawah pemimpin baru dari Demokrat Donald Trump.

Unjuk kekuatan militer Korut dengan uji coba peluncuran rudal balistik antarbenua berakibat kegelisahan bagi penduduk Korea Selatan, bahkan bagi penduduk dunia. Bagaimana tidak, dengan peluncuran tersebut Korea Utara bisa saja meluncurkan rudal dengan hulu nuklirnya ke negara mana pun yang memusuhinya. Hal inilah yang menjadi awal terjadinya konflik antara Korut dan AS.

Ketegangan ini semakin kentara semenjak AS memiliki pemimpin baru. Sikap arogan yang dimiliki oleh Donald Trump semenjak kampanye pemilihan presiden tahun kemarin, kini dipertunjukan kepada negara lain, yaitu Korea Utara. Seperti dilansir BBC.com (20/9) pernyataan Donald Trump bahwa negara AS akan menghancurkan Korut secara menyeluruh dan mengatakan Kim Jong-Un sebagai "pria roket" yang sedang menjalankan misi bunuh diri.

Pernyataan tersebut direspon oleh Menteri Luar Negeri Korut, Ri Yong-Ho sebagai pernyataan perang. Dalam kesempatan terpisah Ri Yong-Ho menambahkan Korut berhak menembak jatuh pesawa-pesawat pengebom AS meski pesawat tersebut berada di luar wilayah udara Korut.

Kim Jong-Un merupakan presiden menggantikan ayahnya Kim Jong-Nam yang meninggal dunia. Kim Jong-Un sendiri memiliki tempramen lebih keras dibanding pendahulunya. Terlebih dalam menghadapi AS, ia seakan tidak memiliki perasaan takut terhadap ancaman apa pun dari negara Paman Sam itu. Embargo militer yang dikeluarkan AS tidak membuat kekuatan militer Korut melemah, bahkan semakin maju. Dengan kekuatan tentara 1,2 juta Korut memiliki peralatan militer super canggih dan tentu saja rudal antarbenua dengan hulu ledak nuklir.

Jika perang terbuka antara Korut dan AS terjadi, tidak menutup kemungkinan perang ini akan menjadi pemicu Perang Dunia III. Perang dalam skala besar tidak terelakan lagi. Sebagai gambaran, berbagai kendaraan militer Korut sebagian besar merupakan suplai dari negara Tiongkok dan Russia. Bahkan Iran ikut menyumbang teknologi nuklir yang dimilikinya kepada Korut.

Di pihak AS, Jepang dan Korsel sebagai sekutu tentu saja akan terlibat aktif jika pecah perang. Negara lain seperti Australia, Filipina, bahkan Inggris dipastikan berada di belakang AS membantu menyerang Korut. Dampak yang lebih luas inilah menjadikan Perang Dunia III berada diambang mata.

Pengamat militer dari AS, Richard Engel saat diwawancarai Express.co.uk memprediksi jika Perang Dunia III terjadi maka perang tersebut akan dimulai sebelum musim panas tahun depan. Waktu yang tepat untuk memulai perang sangat  diperhitungkan oleh AS. Dengan pemilihan waktu akan berimbas pada pembiayaan perang dan strategi yang digunakan pada perang terbuka. 


#OneDayOnePost

3 comments: