:::: MENU ::::

Saat ini penilaian evaluasi hasil belajar yang tercantum pada buku raport (Kurikulum KTSP) masih bersifat kuantitatif. Artinya pada buku raport akan tercetak angka --pada ranah kognitif dan psikomotorik-- untuk mengetahui hasil yang dicapai anak didik.

Ada penambahan nilai afektif dengan rentang nilai A sampai dengan D. Lalu pada lembar berikutnya tercetak pula ketercapaian kompetensi anak didik tiap mata pelajaran (mapel) dengan penjelasan tiap-tiap standar kompetensi dan kompetensi dasar. 

Sederhananya ada angka yang tercetak pada buku raport untuk tiap mapel. Dan pertanyaannya adalah: Apa makna dari semua angka tersebut? Apakah anak didik yang memperoleh angka delapan puluh pada mapel Matematika bisa dikatakan anak pintar? Atau apakah anak didik yang memperoleh angka 60 pada mapel olahraga merupakan anak yang malas dan kurang sehat?

Maka, angka-angka tersebut perlu dianalisis untuk mengetahui kebermaknaannya. Analisis nilai raport digunakan agar anak didik bisa mendapat gambaran seperti apa kemajuan belajarnya, apakah dia mengalami peningkatan proses belajar selama satu tahun ajaran, ataukah dia mengalami penurunan hasil belajar? Lalu, bagaiamana dengan daya saing? Apakah dia termasuk anak didik yang bisa bersaing di kelasnya?

Analisis Secara Sederhana

Kita bisa menggunakan aplikasi spreadsheet untuk menganalisis suatu data. Di sini saya menggunakan Microsoft Excel, karena lebih familier dan mudah digunakan.

Pertama, kita harus memasukkan data nilai raport dari kelas terendah (misalnya kalau SMA, maka nilai harus dari semester 1 kelas X). Terus sampai kelas tertinggi.



Gambar 1: Input Data



Setelah semua data terinput, langkah kedua adalah membuat grafik dari data tersebut. Saya biasanya menggunakan tipe grafik "line" yang ditempatkan pada satu cell. Caranya seperti ditunjukkan gambar di bawah ini.



Gambar 2: Membuat Grafik Tipe Line

Lalu pilih nilai dari kelas X semester 1 sampai terakhir, untuk "Data Range". 



Gambar 3: Data Range
Setelah Data Range ditentukan pilih "OK". Kita akan mendapatkan grafik hasil belajar anak didik sebagai berikut.



Gambar 4: Grafik Analisis Data
Lebih mudah untuk dilihat bukan? Di sini kita bisa melihat bahwa untuk mapel Kimia, anak didik mengalami peningkatan yang signifikan, baik itu pada ranah kognitif maupun psikomotorik. Sebaliknya untuk mapel Matematika, terlihat penurunan yang sangat tajam, terutama setelah anak didik berada di kelas XI.

Hal yang paling sering disalahartikan oleh anak didik maupun wali murid adalah ranking atau peringkat kelas. Masih banyak yang melihat raport hanya pada ranking kelasnya. Maka, wali murid akan menanyakan ranking berapa anaknya, tanpa melihat perkembangan nilai yang didapat. Padahal ranking bukanlah tolok ukur keberhasilan anak dalam pembelajaran. Kalau begitu masih pentingkah ranking dicantumkan dalam buku raport?

Jawabannya, masih! Asalkan bukan untuk dijadikan patokan keberhasilan anak dalam belajar. Ranking hanya menunjukkan seberapa besar seorang anak dapat bersaing dengan teman-teman kelasnya. Jika dia mendapat ranking satu, maka anak tersebut berhasil bersaing dengan teman-teman sekelasnya, tinggal bagaimana dia bisa bersaing dengan teman lebih luas lagi cakupannya, misalnya dengan teman seluruh sekolah, atau se-kabupaten atau se-provinsi dan seterusnya.

Perlu dicantumkan juga keterangan rata-rata nilai seluruh mapel untuk kelas tersebut, seperti berikut.


Gambar 5: Analisis Nilai Per Kelas
Demikian, gambaran bagaimana menganalisis (secara sederhana) hasil pembelajaran anak didik jika dilihat buku raport. Semoga tulisan ini bermanfaat terutama bagi guru atau wali kelas agar lebih memahami kemampuan dan perkembangan anak didiknya.




#OneDayOnePost

4 comments:

  1. hoo, begitu ya bu guru dan yang lainnya juga ngasih nilai untuk rapot

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa seperti itu.. kalo ada aplikasi yg lebih bagus boleh share disni

      Delete