:::: MENU ::::

Konon, negara Jepang pernah luluh lantak oleh tentara Sekutu pada Perang Dunia II. Kalian masih ingat, tepatnya pada pertengahan tahun 1945 dua kota utama negeri matahari terbit itu, Nagasaki dan Horishima dijatuhi bom atom --sebuah senjata mematikan yang memanfaatkan reaksi berantai unsur radioaktif, dimana ikatan inti unsur tersebut lepas dan menghasilkan energi yang sangat besar.


Apa yang pemimpin tanyakan saat terjadi ledakan tersebut. Apakah berapa kerugian yang dialami? Atau apakah tentara negeri itu masih bisa membalas serangan? Atau masih tersisa berapa tank dan kendaraan militer yang selamat dari ledakan itu?


Ternyata bukan! Bukan ketiga pertanyaan di atas yang mereka tanyakan. Lalu apa?


Mereka bertanya masih tersisa berapakah guru yang mereka punya?


Jika negara Jepang luluh lantak dan mengalami keterpurukan tragis, negara kita baru memprokalamasikan diri dari penjajahan kolonial Belanda. Dua negara dengan dua keadaan yang berbeda. Bisa jadi negara ini lebih beruntuk, karena jika dibandingkan sarana dan prasarananya kita lebih beruntung dari negara Jepang. Mereka kembali memulai dari nol, sedangkan kita tinggal melanjutkan sistem yang sudah mulai terbentuk peninggalan Inggris, Belanda, maupun Jepang.


Bahkan, negeri ini sempat mengirimkan guru-guru terbaiknya memberi pengajaran di negeri jiran Malaysia dan Singapura. Kedua negara tersebut meminta bantuan Indonesia dalam bidang pendidikan da tenaga pengajarnya. Suatu pengalaman yang sangat baik, karena hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita menjadi patokan dan dicontoh bagi kedua negara tetangga tersebut.


Saya teringat beberapa tokoh nasional yang pernah menorehkan tinta emasnya juga merupakan pembelajar yang baik sekaligus guru luar biasa pada zamannya. Sebutlah HOS Tjokroaminoto, yang mempunyai dua orang murid, Ir. Soekarno dan Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo; Baharuddin Jusuf Habibie dengan prestasinya menjadi dosen pengajar di negara Jerman; Ki Hadjar Dewantara dengan tiga gatra pendidikannya, Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa; Tut Wuri Handayani.


Hari ini, tepatnya 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Tanggal tersebut merupakan hari lahir dari organisasi guru di negeri ini, yaitu Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Persatuan guru di republik ini sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, dengan nama Persatuan Guru Hindia Belanda yang dibentuk pada tahun 1912. Sedangkan nama Persatuan Guru Hindia Belanda berubah nama menjadi Persatuan Guru Indonesia tahun 1932. Padahal kemerdekaan Indonesia masih sangat jauh pada waktu itu.


Tahun ini, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dengan kebijakan yang digulirkan yaitu Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), menetapkan Hari Guru dengan mengusung tema "Membangun Pendidikan Karakter melalui Keteladanan Guru". Sangat jelas dan spesifik pemerintah ingin membangun sebuah peradaban bangsa yang dimulai dari keteladanan seorang guru. Kita bisa bercermin kepada negara Jepang ketika luluh lantak 72 tahun yang lalu, dengan bertanya tersisa berapa guru yang masih mereka miliki. Di manapun guru adalah ujung tombak bagi sebuah kemajuan peradaban sebuah bangsa. Tidak ada bangsa manapun yang maju dan berdaulat tetapi tidak memiliki sistem pendidikan maju.


Maka, tidak akan bermakna sebuah peringatan atau momentum tanpa mengambil refleksi bagi kita sebagai guru (baca: pendidik). Pertanyaan besarnya adalah sudahkah para pendidik menjadikan pribadi diri sendiri yang layak untuk dijadikan teladan bagi anak didiknya?


Jawabannya memang sederhana, dengan mengambil satu dua rujukan kita dapat mengambil intisari dari pribadi seorang pendidik agar dapat diteladani. Tapi terkadang dalam kenyataannya banyak hal yang menjadi hambatan atau tantangan bagi seorang pendidik. 


Semua orang mahfum bahwa seorang pendidik adalah manusia juga bukan malaikat. Namun mereka dituntut menjadi pribadi malaikat. Tidak hanya kepribadian ketika di lingkungan pendidikan, tapi juga di lingkungan masyarakat dan organisasi yang ia ikuti. Semua perilaku manusia yang disebut pendidik itu akan ditiru oleh anak didiknya, tindakan, ucapan, perilaku, dan pola pikirnya. Dengan pendapatan yang tidak seberapa "jam kerja" mereka terkadang melebihi jam kerja karyawan long shift. Para pendidik mengajar di sekolahnya, dari pagi sampai siang. Setelah itu mereka akan membuat evaluasi pembelajaran. Bisa jadi sisa harinya sampai sore berhadapan dengan anak bermasalah atau orang tua yang ingin tahu perkembangan anaknya.


Malam hari, ketika para karyawan sudah melupakan dunia kerjanya, para pendidik mulai mencari bahan rujukan untuk dijadikan persiapan bahan ajar esok harinya. Jam kerjanya tidak bisa ditebak. Bisa jadi persiapan bahan ajarnya sudah siap, hari jam mengajarnya ternyata digunakan untuk rapat dinas, rapat MGMP, menyelesaikan administrasi perangkat mengajar atau membuat laporan kegiatan. Setelah itu, kewajiban lainnya mengisi nilai raport, memberi arahan anak didiknya dalam berkegiatan dan sebagainya.


Berbagai aktivitas di luar jam mengajar yang menguras waktu dan pikiran pendidik tidak lantas menjadi toleransi untuk dapat meninggalkan kepribadiannya. Semakin canggih dunia teknologi berkembang, maka para pendidik harus meng-upgrade pula pengetahuannya dalam hal dunia teknologi. Beberapa orang yang melek teknologi akan mempermudah kegiatan rutinnya.


Dalam bagian akhir tulisan ini, saya ingin menuliskan beberapa kepribadian bagi pendidik agar bisa menjadi teladan.


#1 Manusia Pembelajar


Jika kalian menjadi pengajar di masa kini dan masa datang, syarat utama untuk tetap menjadi pengajar baik adalah menjadi manusia pembelajar. Ilmu pengetahuan akan selalu berubah semakin berkembang dan maju. Kalian bisa mengajarkan satu ilmu pada saat ini. Namun, lima tahun ke depan, ilmu yang diajarkan sekarang sudah pasti akan berubah. Berbagai penemuan baru atau teknologi yang semakin maju membuat ilmu pengetahuan dinamis. Hal ini terutama dialami oleh ilmu-ilmu sosial. 


#2 Manusia yang Mencintai Anak Didiknya


Pribadi lainnya adalah harus mendidik dengan rasa cinta dan kasih sayang. Jika tidak, maka seorang pendidik hanya menjadi "pengajar" yang cukup mentransfer ilmu kepada anak didiknya tanpa pernah peduli apakah mereka bisa atau tidak. Apakah mereka kesulitan menguasai ilmu tersebut atau tidak. Faktor apa yang menyebabkan anak didik tidak dapat menguasai suatu materi.

Yohannes Surya, seorang pakar Fisika, pernah mengatakan bahwa tidak ada anak yang bodoh. Inilah yang harus kita yakini. Mereka tidak bisa karena kesalahan metode mengajar atau lingkungan belajar yang tidak mendukung.

#3 Manusia Penggembira


Pendidik haruslah menjadi manusia penggembira agar anak didiknya merasa nyaman berada di ruangan belajar. Mereka akan merasa senang ketika mendapat pengajaran dari orang yang menyenangkan. Ketika perasaan sudah senang, maka daya serap memahami suatu meteri pun akan bertambah besar. Penggembira bisa diartikan juga sebagai manusia yang kreatif. Kreatif dalam hal gaya mengajar, menggunakan media pembelajaran, metode mengajar, dan menambah skill pengetahuan.


#4 Manusia Disiplin


Lihat sendiri oleh kalian bagaimana tingkat kedisiplinan manusia Indonesia sekarang ini. Bahkan dengan terang-terangan mereka ngotot merasa benar padahal jelas melakukan pelanggaran. Bagaimana seorang pengendara bermotor yang menghindar dari razia dengan melawan arus lalu lintas. Pertama dia salah tidak memiliki surat izin mengemudi, ditambah dengan secara terang salah ketika melawan arus.


Apa yang terjadi? Apakah para pendidik hanya mengajarkan taat berlalu-lintas tanpa pernah dirinya sendiri tertib ketika di jalan raya? Atau para pendidik mengajarkan harus taat hukum, harus mematuhi aturan yang ada, padahal dirinya sendiri sering telat ketika ada jam mengajar.


#5 Penulis dan Pembaca yang Baik


Pertanyaan kenapa dewasa ini teori-teori pembelajaran lebih banyak bersumber dari dunia barat? Padahal Ki Hadjar Dewantara mampu membuat sebuah sistem pendidikan dengan sistem amongnya yang diambil dari kepribadian bangsa sendiri, ditambah teori pendidikan dari timur, India dan Timur Tengah. 

Pendidik dituntut untuk membaca berbagai ilmu pedagogik dan ilmu pengetahuan yang diampunya. Lalu dituntut pula menjadi orang yang selalu menulis karena dengan menuliskannya mereka sudah mengikat ilmu yang diterima ketika mengajar di ruang kelas. 

Beberapa hal yang ditulis, sekaligus sebagai pengingat diri sendiri, sebagai seorang pendidik. Hendaknya kita selalu saling mengingatkan dalam kebaikan. Jika ada kekhilafan yang dilakukan maka kewajiban kita untuk mengingatkannya dengan adab. Sebaliknya jika ada sebuah prestasi atau kompetisi yang diikuti seorang pendidik, kita harus selalu mendukung dan memberi penghargaan.


Demikian, semoga bermanfaat.


Sumber referensi: wikipedia.org; liputan6.com; kompasiana.com

0 komentar:

Post a Comment