:::: MENU ::::
senam, pendidikan, pjok

"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran." (Alquran, Al-Baqarah ayat 186)

Saya pernah mengadakan tes formatif di sebuah sekolah. Ketika itu hanya anak didik yang memiliki nilai sama dengan atau lebih dari tujuh puluh lima yang dinyatakan lulus. Kagetnya, belum juga tes formatif dimulai, seorang anak didik mengacungkan tangan dan berkata, "Pak, maaf. Ada remedial enggak untuk ulangan yang sekarang?"

Spontan saya hanya tersenyum simpul mendengar pertanyaan anak tersebut. Setengah tertawa karena menggelikan tapi di sisi lain saya merasa prihatin. 

"Nak, kenapa kamu bertanya seperti itu? Ulangannya saja belum dimulai, sudah berpikiran tentang remedial." Saya memulai percakapan.

"Iya Pak. Soalnya sudah biasa selalu ikut remedial." Tukas anak itu. 

Mungkin inilah gambaran sebagian anak didik kita di sekolah. Padahal peristiwa itu saya alami ketika masih mengajar di sebuah sekolah ternama di Bandung Selatan. Apa yang ada di benak mereka adalah hasil yang mereka peroleh pasti kecil. Kalah sebelum bertanding karena tesnya sendiri belum berlangsung. Pesimis terhadap apa yang akan mereka kerjakan, walaupun pekerjaan itu hanya tes formatif yang nota bene hal kecil dalam sebuah pembelajaran.

Seorang pakar pendidikan Bobbi de Porter, dalam bukunya "Quantum Learning" berkata bahwa otak manusia pada umumnya memiliki satu trilyun sel (angka satu diikuti dua belas angka nol dibelakangnya). Bayangkan satu trilyun sel! Apa artinya? 

Otak manusia mampu mengingat lebih baik dibanding sepuluh buah komputer super canggih. Lalu, apa lagi artinya? 

Otak manusia TIDAK TERBATAS! Manusia dengan otak yang demikian hebat mampu mengenali beratus ekspresi wajah, menghapal ratusan lagu, melakukan perhitungan yang sangat rumit, mampu memperkirakan apa yang akan terjadi jika kendaraan melaju 100 km/jam ketika melewati tikungan dengan sudut 60 derajat. Dan masih banyak lagi. Lebih hebat lagi, manusia adalah satu-satunya makhluk di bumi ini yang mampu beradaptasi pada suhu ekstrem (panas atau dingin), musim yang tidak menentu, tekanan udara yang besar, di darat, di udara, di lautan, bahkan di luar angkasa. Sangat hebat bukan?

Nah, kembali lagi ke cerita di atas, bagaimana bisa seorang anak didik yang memiliki otak sedemikian hebat, ketika diberi soal tes formatif, belum dimulai sudah bertanya tentang remedial? Apa yang harus dilakukan agar kemampuan otak yang mereka miliki mampu bekerja dengan optimal?

Bagi kalian yang masih duduk di bangku sekolah menengah, ada beberapa tips atau prinsip yang saya kutip dari Tung Desem Waringin, seorang motivator nomor wahid di Indonesia, diantaranya:

1. Positive Thingking

Dalam bahasa yang lebih dikenal adalah berpikiran positif. Positif thinking identik dengan jargon bahwa kata-kata berkuasa. Apa maksudnya kata-kata berkuasa?

Maksudnya apa yang kita ucapkan selalu berpengaruh terhadap apa yang dapat dikerjakan dan diperoleh. Jika selalu menggunakan kata-kata positif, tanpa sadari pikiran kita akan menjadi positif dan emosi kita akan lebih baik ketika menghadapi masalah. Semakin sering kita mengucapkan kata-kata positif, semakin kita berpikiran positif, semakin baiklah kita menjalani hari-hari dengan pekerjaan yang positif pula. 

Saya setiap bertemu teman, kerabat atau anak didik selalu mengawalinya dengan bertanya, "Hai, ada kabar baik apa hari ini?" Tentu saja, hal ini bukan hanya sekedar basa-basi, tetapi prinsip yang saya pegang bahwa kabar itu ada dua, yaitu: KABAR BAIK dan KABAR SANGAT BAIK.

2. Ignore B-E-J

Seringkali banyak orang ketika mengalami kesalahan atau kegagalan mulai mencari kambing hitam. "Iya, maaf Pak. Tadi jalanan macet.", "Tugasnya sudah saya ketik, tapi file-nya terkena virus.", "Seragamnya kotor. Kemarin dicuci dan belum kering, Pak.", atau "Iya Pak. Tidak ada kendaraan. Motornya dipakai sama ayah." 

Nah, secara tidak sadar orang yang sering menyalahkan orang lain, atau menyalahkan suatu keadaan, sebenarnya telah merendahkan kemampuannya sendiri yang luar biasa. B-E-J merupakan gabungan kata dari Blame, Excusess, Justify. 

Blame adalah menyalahkan orang lain, keadaan, cuaca buruk, bahkan negaranya sendiri. 

Excusses, orang yang banyak beralasan karena sesuatu hal: seperti macet, sakit, hujan, dan sebagainya.

Sedangkan Justify adalah selalu menghakimi ketika orang tersebut gagal atau salah. Seperti berkata "Ramadhan bisa juara kelas, terang saja dia 'kan punya komputer di rumahnya."

Nah, mulai dari sekarang, coba kalian buang jauh-jauh sifat BEJ dalam diri kita. Tak ada manfaatnya memiliki sifat BEJ untuk diri kita ataupun orang lain.

3. Learning Forever

Manusia merupakan makhluk pembelajar terbaik. Bahkan semenjak dari kandungan manusia sudah belajar. Belajar melalui suara-suara yang terdengar di luar rahim, sentuhan tangan ibunya, dan dari rangsangan lainnya. Setelah lahir seorang manusia yang masih bayi tetap belajar: merangkak, berdiri, berjalan, berlari, berbicara. Maka, kesuksesan di masa datang sangat ditentukan seberapa hebat kita tetap belajar, belajar, dan belajar. Belajar dari kesalahan, belajar sesuatu yang belum kita ketahui, belajar untuk menjadi lebih baik.

4. No Pain No Gain

Apakah cita-cita yang kita impikan dapat terwujud dengan mudah? Pepatah Inggris yang sangat terkenal No Pain No Gain, tidak ada pengorbanan tidak akan meraih hasil. Dan di dalam kitab suci Alquran terdapat ayat yang menegaskan bahwa "sesungguhnya di dalam kesulitan terdapat kemudahan." Ayat tersebut bahkan diulang sampai dua kali. Pengorbanan merupakan episode yang wajib dilalui bagi seseorang yang sukses. Di sinilah kualitas manusia sesungguhnya terlihat, apakah kalian akan tetap fight ketika menemui kesulitan atau kalian menyerah, memilih mundur, memilih tidak menerima tantangan yang ada di depan mata?

5. Prays

Jika kalian sedang berikhtiar atau sedang berusaha, harus selalu diiringi dengan do'a. Seberapa kerasnya usaha kita meraih kesuksesan, meraih impian kita, tak akan berarti apa-apa tanpa diiringi do'a. Apa makna sejati dari berdo'a?

Do'a merupakan suatu permohonan atau permintaan yang bersifat baik terhadap Allah Ta'ala, seperti meminta kesehatan, keselamatan, rezki yang halal dan tabahan dalam menjalani kehidupan. Seseorang yang berdo'a menunjukkan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang lemah. Tanpa pertolongan dan kuasa dari Tuhan, seorang manusia tidak pernah mendapatkan apa yang ia lakukan.

Well, mari kita mulai dari memiliki mimpi-mimpi besar, lalu berikhtiar sekeras-kerasnya. Yakinlah bahwa semua bisa terwujud karena kita semua adalah orang hebat yang memiliki otak yang luar biasa. Ubahlah pandangan impossible ketika meraih sesuatu menjadi I'M POSSIBLE!!!   ^_^


#OneDayOnePost               #Batch4

1 comment: