:::: MENU ::::

: Sebuah Cerita Pendek

Semua mata tertuju papan tulis. Mereka seakan tersihir oleh rangkaian huruf-huruf yang tercetak pada papan tulis itu. Garis satu, garis ganda, rangkap tiga, tulisan aneh (mungkin bahasa alien), tanda panah, huruf C yang terhubung oleh garis tunggal dan sebagian terhubung oleh garis ganda. Pikiran mereka melayang-layang. Bukan karena hari itu pelajaran sastra, tetapi aku yakin karena mereka tidak paham.

"Baik, kita lihat gugus hidrokarbon berikutnya." Suara itu terdengar mengisi ruang kelasku.

"Iya, Paaa...!" Kompak seperti koor yang ditanya menjawab.

"Masih dengan senyawa alkana, tetapi atom C-nya berjumlah dua." Laki-laki berkacamata tebal di depan kelas itu menuliskan huruf C lalu menarik garis sekali, seperti tanda strip panjang, diakhiri menulis huruf C lagi di sisi lain. Aku hanya menatap antara paham dan tidak.

"Nah, lihat perbedaannya. Senyawa ini memiliki jumlah atom C sebanyak?" dengan suara masih lantang dia bertanya.

"Duaaaa...!" jawab kami serempak.

"Bagus. Berarti senyawa tersebut memiliki nama, etana.*)" memberitahu kami.

"Etanaaa...!" kami mengulang perkataannya.

"Naona Pa? Naona?**)" celetuk si Kribo. Sontak seisi kelas tertawa terbahak mendengar ucapannya.

"Etana kribo, etana." aku menimpali. Aku tahu dia bertanya agar dijawab lagi dengan etana.

"Apa? Apa katanya?" Laki-laki yang tak lain adalah guru kimia kami setengah bingung siapa yang bersuara. "Kenapa kalian tertawa, hah?!" Bukan menjawab pertanyaannya, kami semua bertambah keras tertawa.

Aku melihat si Kribo setengah mendunduk agar tidak kelihatan dari depan cengengesan, gembira tak terkira. Dia tahu guru kami adalah orang luar pulau Jawa dan tidak mengerti bahasa Sunda. 

***

Selalu menyenangkan kalau si Kribo hadir di kelas ketika pelajaran berlangsung. Minggu kemarin, tiga hari lamanya dia tak hadir, izin, menjenguk pamannya tengah sakit keras di kampungnya. Tiga hari pula aku malas bersekolah, seakan ketidakhadirannya membawa kesepian. Kegembiraannya adalah kegembiraanku, keceriaannya membuat seisi kelas ramai.

Namanya Miftah. Miftah Muhammad. Rambutnya kribo sehingga mudah dikenali orang-orang. Perawakannya tinggi besar dengan gigi depan gingsul bagian atas. Kalian akan sangat mudah mengenalinya diantara kerumunan anak-anak SMA di sekolahku. Kami lebih senang memanggilnya dengan kribo daripada nama aslinya.

"Bruk!" Tiba-tiba saja ada yang menabrakku dari belakang. Badanku setengah sempoyongan menahan agar tidak jatuh. 

"Hey, Kribo! Matamu kemana sih?!" Aku bicara ketus kepadanya.

"Lho, kamu Debby. Kapan kamu ada disitu? Aku punya nama, dan namaku bukan kribo." Wajahnya menunjukkan seakan tak pernah punya rasa bersalah.

"Dari tadi aku di sini. Kamu saja yang menabrakku dari belakang."

"Kamu bisa menghilang ya? Sungguh aku tidak melihatmu tadi di sini."

"Enggak lucu tahu."

"Tahu gak Debby, sebenarnya manusia punya kemampuan menghilang lho." Aku tak peduli dengan omongannya. "Manusia itu punya kemampuan seperti hantu tidak bisa terlihat. Beda tipis." Dia terus berbicara dengan bualannya. Aku anggap dia hanya membual.

"Semua materi di alam terdiri dari atom atau molekul. Benda apa pun itu pasti tersusun atas atom-atom. Manusia, air, pohon, tanah, batu, udara, bahkan hantu sekalipun. Bedanya hanya dari energinya saja. Pergerakan molekul dalam tubuh manusia lambat, sedang pada hantu pergerakan molekulnya sangat cepat. Akibatnya hantu tak bisa dilihat oleh manusia. Coba kalau kita punya kemampuan untuk menambah pergerakan molekul tubuh kita lebih cepat." Anak itu terus nyerocos menjelaskan teorinya.

Dia memang sering terlihat urakan, seenaknya sendiri, sering jahil, tapi dalam pelajaran tertentu dia bisa membuat guru-guru terdiam hanya karena pertanyaan anehnya. Jika sudah keluar kumatnya, maka seisi kelas akan terbengong-bengong dengan semua penjelasan dan pertanyaan. Atau seisi kelas akan tertawa terbahak-bahak mendengar ucapannya yang menurut kami ngelantur.

Aku pernah menjumpainya sedang asyik dengan accumulator di atas meja, gelas kimia ukuran dua ribu mililiter, kabel berwarna-warni, tabung reaksi, dan alat lainnya berserakan. Kalian tahu apa yang dia lakukan? Kalau kalian melihatnya sendiri pasti akan bilang dia itu orang aneh, setengah waras, setengah gendheng. Tidak salah memang kalau orang-orang mengatakannya demikian, karena kelakuannya seperti itu.

"Heh, apa-apaan ini? Apa yang kamu lakukan Kribo?" Tanyaku begitu masuk ke ruangan kelas. Tapi dia terus asyik dengan pekerjaannya.

"Jadi berantakan gini kan! Apa sih benda-benda ini?" Yang ditanya malah semakin tenggelam, asyik sendiri mengutak-atik peralatannya, sekali-kali menunduk untuk mengamati alat tersebut. Aku semakin dongkol karena merasa diacuhkan.

"Kamu dengar tidak sih! Kamu gak punya kuping ya?!" Bentakku.

"Lihat Deb." Anak itu menarik lenganku. Nadanya seakan tidak ada kejadian apa-apa sebelumnya. Padahal dari tadi aku bertanya kepadanya. "Lihat ujung kabelnya, perhatikan Deb!"

Si Kribo menunjuk sebuah gelas kimia besar dengan larutan bening di dalamnya. Gelas kimia satunya sama besar, tapi larutannya berwarna putih pudar. Kedua gelas kimia tersebut dicelupkan kabel berwarna hitam dan merah, tabung reaksi terbalik, dan pada kedua ujung kabel muncul gelembung-gelembung gas seakan menari-nari berlompatan ke atas permukaan larutannya.

"Aku akan membuat penemuan terhebat abad ini!" Dia berkata sangat antusias. "Tahu kamu Deb, gelembung gas itu apa?" Aku menggelengkan kepala, setengah malas berpikir.

"Gelembung itu adalah gas oksigen. Aku menciptakan gas oksigen, Deb. Nanti akan produksi dengan jumlah besar. Di samping sekolah kita kan ada danau. Nah, aku akan memulai percobaan besarku menggunakan air danau. Tarik saja kabel PLN yang menjuntai di atasnya untuk mengalirkan listrik. Wadah penampungannya adalah truk tangki yang sering mengangkut air isi ulang. Bayangkan, aku akan menjadi ilmuwan paling muda di negeri ini! Penemu gas oksigen!" Bicaranya semakin ngelantur. Aku mendengarkannya dengan ogah. Walaupun sebenarnya dalam batinku mengagumi kejeniusannya.

Kejadian paling seru dan tak akan pernah dilupakan adalah ketika teman kami berulang tahun. Ide awalnya tentu saja berasal dari anak yang urakan itu. Dia akan membuat kejutan dengan sesuatu yang menurutnya sangat keren.

"Nih dengerin ya. Kalau kita panaskan gas etuna***) maka akan terjadi reaksi pembakaran tak sempurna. Asyiknya reaksi itu menghasilkan energi yang besar. Sebuah dentuman!" Matanya berbinar dan membuat gerakan tangan mengepal dari bawah ke atas, lalu kepalan tangannya membuka perlahan seakan telah terjadi ledakan bom seperti di Hiroshima dulu kala. "Begitu teman kita, Marni, masuk kelas nah di situlah kita bakar gas etuna. Aku yakin dia akan terkaget-kaget. Lalu kita berlarian semua seakan terjadi kejadian mengerikan."

"Bahaya enggak Bro?" Aku bertanya, memanggilnya bro maksudnya kribo.

"Asal volumenya hanya satu liter, tidak lebih itu cukup buat bikin kaget orang." Jelasnya.

"Kalau lebih?" Aku bertanya lagi.

"Kau bayangkan saja sendiri, kalau sampai kaca jendela pecah, dinding tembok mengelupas, lalu kepsek datang kesini, kasih surat skor seminggu." Wajahnya serius.

"Iiih, ngeri juga ya. Bisa sampai sedahsyat itu ledakannya?" Dia mengangguk mantap.


Hari yang dinanti tiba. Kami sudah merancang rencana dengan matang. Kribo menyiapkan semua alat dan bahannya. Bersiap di kelas. Sebagian berada di luar kelas menyiapkan kue ulang tahun. Sebagian lagi tetap di dalam kelas, siap berlari ketika ledakan terjadi. Aku sendiri akan memberi kode dengan tepukan tangan jika Marni sudah kelihatan batang hidungnya, tepat di pintu kelas. Skenario yang sempurna. Marni sendiri tak pernah tahu akan diberi kejutan.

Semua menunggu dengan dag dig dug, berharap rencana berjalan dengan sukses. Si Kribo sendiri seperti biasa, terlihat santai, mengunyah permen karet sambil sekali-kali mengutak-atik peralatannya, mungkin masih melakukan percobaan lain. Suasana sekolah lumayan sepi, karena murid lain berada di dalam kelas mengikuti pelajarannya masing-masing.

Akhirnya yang ditunggu tiba. Sesosok perempuan dengan rambut panjang tergerai, mata sendu, kulit putih berjalan tergesa. Marni! Aku hampir bersorak. Yes, dia akan menuju kelas, membuka pintu, lalu ... bom! Semua anak berlarian dan dia akan ikut lari, kaget, bingung, ikut berlari juga, batinku. 

Tepat ketika aku memberikan kode tepukan, di belakang Marni tampak sesosok lain mengikutinya berjalan. Seorang laki-laki berkacamata tebal yang tak lain adalah guru kimiaku. Dan, aku tak sempat memberitahu anak-anak yang berada di dalam kelas. Ah ....


SELESAI


*) Etana (kimia) = merupakan senyawa hidrokarbon yang memiliki jumlah atom C dua, dengan rumus senyawa C2H6. Etana memiliki arti lain, dalam bhs. Sunda berarti "anunya"

**) Apanya Pa? Apanya?

***) Etuna, senyawa hidrokarbon berupa gas dengan jumlah atom C sebanyak dua dan ikatan rangkap tiga.  Jika dipanaskan akan meledak hebat. 

4 comments: