:::: MENU ::::
nasib kehidupan roda berputar

Genap empat tahun saya berdiam di sebuah perumahan bernama Bumi Cikande Indah, perbatasan kabupaten Serang dan kabupaten Tangerang. Sebuah perumahan "Indah" tetapi tidak ada indahnya sama sekali (hehe ...). Kenapa saya bilang perumahan "Indah" tetapi tidak indah?

Bayangkan saja (atau mungkin ada yang pernah mampir ke sana), mulai dari jalan utama dengan dua jalur namun hanya dihamparkan bebatuan kasar, bergelombang pula. Jika musim penghujan, beceknya minta ampun. Jika musim kemarau debu berterbangan membuat sesak dada dan mampet hidung. Jalan bergelombang dengan bebatuan itu terus sampai mentok dengan sebuah lapangan bulu tangkis. 

Beruntung rumah saya tidak berada pada jalan utama. Mentok lapangan bulu tangkis, belok ke arah kanan, dan semakin bergelombang. Sampai tepat berada di depan rumah, jalanan semakin bergelombang. Itulah keberuntungannya. Saya semakin terasah mengendarai kendaraan pada jalanan off road, serasa berarung jeram, namun di daratan. Beruntung karena selama empat tahun itu, kesabaran saya bertambah. Rasa syukur saya bertambah, karena begitu menemukan jalanan sedikit mulus saya merasa senang luar biasa.

Jangan bayangkan sebuah perumahan dengan penerangan jalanan yang terang benderang, membuat betah penghuninya. Perumahan "Indah" ini hanya dihiasi satu dua lampu jalanan. Itu pun berada di jalan utama. Selebihnya hanya lampu seadanya yang dipasang swadaya penduduk di perumahan itu. Bagaimana dengan air? Air apa, mau air minum, air buat mandi, atau air buat menyiram tanaman?

Sami mawon, sarua waé, alias sama saja. Di perumahan "Indah" ini tidak pernah ada air yang layak minum. Air didapat dari galian sumur bor yang sangat dalam. Sekitaran perumahan ini berdiri berpuluh pabrik dengan pompa air raksasa. Akibatnya kami menjadi korban. Galian sumur untuk diambil airnya sampai lima puluh meter lebih. Itu pun hanya mengenai bebatuan kapur. Airnya bercampur dengan kapur, menjadi air asin dan lengket. Jika menggunakan sabun lalu dibilas air tanah itu, maka yang terasa sisa sabun selalu menempel, tak pernah kesat, tak pernah benar-benar hilang sabunnya.

Nasib baik bagi orang yang selalu berpikir. Mereka mengisi jerigen, berpuluh-puluh jerigen, dengan air kualitas pabrik. Lalu dijual kepada penghuni perumahan "Indah". Mereka berjualan air. Si Mamang Air kami menyebutnya. Setiap Mamang Air hari hilir mudik dengan gerobak super panjang berisi dua puluh jerigen menuju konsumennya. Saya perkirakan setiap harinya Mamang Air bisa sampai dua puluh kali lebih bolak-balik perumahan ke tempat pengisian air. Nasib baik, karena Mamang Air dibutuhkan setiap hari. Mereka panen rupiah setiap harinya hanya bermodal air, jerigen, dan roda super panjang.

Hari berganti hari. Semua berubah. Hanya perubahan itulah yang abadi. Perlahan namun terlihat perubahannya. Perumahan "Indah" semakin indah. Dan yang saya katakan ini benar-benar indah, bukan indah dalam arti kiasan. Jalanan diperbaiki. Sebagian diberi paving block, sebagian diaspal curah, jalanan utama dicor beton kualitas nomer dua. Lampu-lampu silih berganti mulai dipasang sampai blok paling ujung. Rumah-rumah diperbaiki, lebih bagus dan lebih enak dipandang.

Perubahan terakhir yang ada di perumahan "Indah" adalah pemasangan pipa air dari PDAM (Perusahaan Daerah Air Minum), dengan kualitas air jernih, bersih, tidak berasa, tidak berbau, dan kesat. Roda nasib mulai berputar. Mamang Air perlahan mulai kehilangan pelanggan setia. Ketika kualitas air yang sama bahkan lebih baik tersedia, dengan harga jauh lebih murah tersedia, pastilah konsumen memilih air yang kedua. Mana ada konsumen yang memilih barang lebih mahal walaupun kualitasnya sama bagus.

Satu per satu, penduduk perumahan "Indah" tidak membeli lagi air dari Si Mamang Air. Mereka tinggal membuka kran di teras rumah, air mengalir deras. Kebutuhan akan air yang selama ini begitu sulit, kini sangat mudah. Nasib Mamang Air tinggal menunggu waktu. Bisnis berjualan airnya akan merugi. Tidak ada lagi konsumen. Tentu saja usahanya akan gulung tikar, tak mungkin bertahan dalam waktu sebulan ke depan. Wassalaam.

Itulah perjalanan hidup. Semua akan mengalaminya. Orang bijak yang tinggal di seberang rumah saya selalu berkata roda nasib selalu berputar, kadang kita di atas, kadang kita terpuruk di dasar jalanan. Maafkan kami Mamang Air, karena kami pun perlu mengatur roda ekonomi kami agar tetap berjalan. Satu hal yang pasti, yakinlah Mang, bahwa rezeki akan selalu datang, asal kita selalu berikhtiar tanpa kenal henti. Yakinlah. Karena Allah Mahakaya dan Maha Pemberi Rezeki.


*) tulisan ini ditulis ketika hujan masih menyisakan gerimis, namun seorang yang berjualan air masih melintas dengan tubuh kuyup dan langkah gontai menanggung berat barang jualannya yang tak pernah laku lagi.


#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment