:::: MENU ::::
puing, kuningan, sebait puisi surga, novel, cerbung

Bagian 10 -- Puing

Berpuluh truk boks hilir mudik. Sibuk. Tak kenal panas atau pun hujan. Siang dan malam, truk-truk itu selalu menggerung, membawa pesanan yang harus segera sampai di tangan agen-agen besar. Tak ada lagi Suciati Shoes. Papan nama perusahaan sepatu Cibaduyut berubah nama menjadi Alamanda Fashion dengan warna keemasan mengilap. Barangnya bukan hanya sepatu, tetapi merambah pada sandal, busana, tas bahkan topi. Luar biasa.

Alamanda Fashion di bawah pimpinan Warta menjadi perusahaan kelas kakap, melayani ekspor impor. Tak terbilang omzet setiap harinya. Tak terhitung laba setiap tahunnya. Karyawan yang bekerja ribuan, pimpinan cabang perusahaan mencapai lima puluhan. Rekanan bisnis Warta sangat segan kepadanya. Banyak yang belajar pemasaran, mendatangi perusahaan Alamanda Fashion. Banyak yang mulai melirik Warta agar bisa berkongsi dagang. Tapi tak sedikit yang iri dan menaruh kebencian.

Sayang memang, selalu ada saja manusia-manusia yang sibuk dengan mengkritik orang lain tanpa pernah memberi solusi. Selalu saja ada orang dengki yang tidak suka, bersusah hati melihat orang lain meraih keberhasilan. Bukan musuh yang dicari oleh Warta. Sebaik apa pun orang itu, tetap ada saja yang menaruh dendam ingin menghancurkannya.

Kisah Alamanda Fashion dengan semua keberhasilannya adalah masa lalu. Masa tiga tahun setelah Emak ditinggal pergi oleh Abah. Abah menikah dengan perempuan muda, Wilet, dengan segala kepalsuan yang dimilikinya. Aku hanya ingin menceritakan kisah ini tidak ada tujuan lain, yaitu agar manusia selalu ingat akan kodratnya menjaga amanah yang telah diemban. Mungkin aku marah pada Abah. Atau menaruh dendam? Ya, bisa saja. Dan itu aku kira manusiawi.

Dendamku pada Abah bukan berarti aku ingin menghancurkan kehidupannya. Rasa sesal yang masih melanda diriku, kenapa aku telat menyadari seperti apa kelakuan Abah sebenarnya. Ketika aku sudah menginjak usia remaja, dan semuanya sudah terlambat, baru aku menyadarinya. 

***

"Sayang, kapan aku bisa memakai gelang emas lagi?" Perempuan itu mulai merajuk. Semerbak wangi dari tubuhnya membuat pria di depannya mengalihkan perhatian dari pekerjaannya.

"Gelang emas? Bukannya bulan kemarin sudah dikirim dari Bucheri Golden?"

"Ah, sudah bosan. Modelnya ketinggalan zaman. Sekarang sudah ada model terbaru."

"Sama saja lah, yang penting gelang emas." Imbuh pria yang beruban tipis memberi pengertian. "Masih banyak kan kebutuhan kita yang lain. Kau harus jaga kesehatan. Ayah sudah tidak sabar punya anak secantik Bunda."

"Tuh kan, bahas anak lagi. Kalau nasibnya belum dikasih, ya sampai kapan pun tidak punya." 

"Iya, Ayah tahu. Harus usaha juga kan. Atur pola makan, banyak-banyak makan sayuran hijau. Sering-sering olahraga. Dan harus diingat ...."

"Ah, sudahlah!" Perempuan berambut tergerai panjang itu memotong kalimat pria di hadapannya. "Bosan mendengar ceramah terus. Aku pergi saja dari sini!" Bergegas meninggalkan ruangan. 

Duh, perempuan muda memang menyebalkan. Susah diajak mengertinya. Jika begini terus, aku bisa-bisa stres terus, batin pria itu. Dahinya ditopang satu tangan, seakan beratus beban memenuhi kepalanya, saking beratnya sehingga harus ditopang. Tangan satunya lagi memain-mainkan ballpen dengan tinta emas bertuliskan Alamanda Fashion.

Dirinya selalu dirundung masalah jika istri mudanya mulai merajuk. Dan kejadian itu bukan sekali dua kali. Hampir setia minggu selalu saja ada yang diminta, ini itu harus dibeli, barang ini barang itu harus impor dari negeri lain. 

Pimpinan keuangan Alamanda Fashion muali rewel. Banyak pengeluaran yang tak terduga. Belanja yang tak terkendali. Setelah diusut ternyata pengeluaran tak terkendali itu berasal dari istri dan kerabatnya. Entah kenapa mereka sesaudara begitu gemar berbelanja. Tak menghitung bagaimana sumber keuangan, tak pernah berpikir apakah belanja mereka memang sebagai kebutuhan atau hanya keinginan.

Bersamaan dengan suara ketukan pintu, pimpinan keuangan masuk ke dalam ruangan "Bos, maaf mengganggu."

"Iya, silakan duduk saja. Tidak apa-apa." Dengan ekspresi wajah masih ditekuk, lelaki itu mempersilakan pimpinan keuangan duduk di hadapannya.

"Bos, tampaknya sedang dirundung susah?"

"Ya, biasalah. Istri yang tak tahu terima kasih. Dia tak pernah bersyukur, selalu saja merasa kurang."

"Bos sudah menasihatinya, kan." Agak meragu, pria itu bertanya kepada atasannya.

"Sudah lah, Harlin. Tapi kau tahu sendiri tahu sifat istriku, apa bisa berubah hanya dengan cara diomong?"

"Iya, saya paham. Istri bos borosnya minta ampun. Kalau saya lihat sih, istri bos hanya ingin mengambil uang dari sini. Dia tak pernah tulus mencintai bos." 

"Apa kau bilang?" Nadanya naik.

"Eh, maaf bos kalau saya salah ucap dan menyinggung perasaan bos." Tubuhnya membungkuk dengan tangan terlipat di bawah perut.

"Tidak, tidak apa-apa. Tapi, darimana kamu tahu bahwa istriku tidak tulus mencintai aku?"

"Bisa tahu buat siapa istri bos berbelanja begitu banyaknya?" Lelaki beruban tipis menggeleng pelan. "Bos pernah melihat barang-barang yang dibeli tersimpan di rumah, atau ada barang yang sengaja dibeli buat bos sendiri?"

"Tidak" bos Alamanda Fashion itu tetap menggeleng.

"Barang-barang banyak dibeli hanya untuk keluarga istri bos. Bahkan saya pernah lihat istri bos keluar dari mobil Yaris merah, berdua bersama seorang pemuda. Mereka bergandengan tangan masuk ke dalam mall."

Demi melihat ekspresi bosnya berubah menjadi merah padam, dia mengatakan tujuan kedatangan yang sebenarnya. Harlin, sang pemimpin keuangan menyerahkan laporan mingguan yang menurutnya berada dalam tingkat waspada dan di luar ambang batas. Tumpukan kertas puluhan halaman itu disusun Harlin dengan gamblang dan tulisan yang sangat sederhana, namun dengan rincian keuangan sangat detail.

Warta, pria di dalam ruangan kaca itu, masih menopang dahinya. Berat beban kepalanya semakin berat dia rasakan. Pada lembaran-lembaran berikutnya ia memandang grafik apa pun mengalami penurunan. Terjun bebas. Faktor krisis keuangan di negara-negara importir, pasokan bahan baku yang semakin sulit, karena kebijakan pemerintah yang tidak berpihak.

Yang paling parah mengalami penurunan adalah grafik penjualan. Dengan harga yang relatif mahal, pelanggan Alamanda Fashion perlahan meninggalkan sepatu dan sandal bahan baku kulit. Kebanyakan pelanggan setia lebih memilih barang dari Tiongkok dengan harga jauh lebih murah, namun kualitas tidak jauh berbeda. Barang-barang Tiongkok itu terbuat dari sintetis, dengan kelenturan, tahan lama, tidak mudah bau, dan tentu saja lebih murah.

Pandangan Warta mulai berkabut, seperti terhalang oleh kabut. Temaram. Belum waktunya untuk tidur dan saat itu Warta sudah sangat berat membuka matanya. Setengah sadar dia melihat sesosok bayangan berkelebat putih. Samar-samar kelebatan itu diam mematung tepat di depan rak sepatu sandal raksasa. Dia tak percaya apa yang dilihatnya. Sosok berpendar putih itu memperlihatkan dia adalah manusia. Tiga orang. Yang tengah berambut panjang, sama seperti yang berdiri di kanannya, namun dengan tubuh lebih pendek. Sosok satunya lagi menunjukkan lelaki tegap, pemuda, dan selalu menatap tajam langsung ke arah matanya

(Bersambung ...)

<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11    





#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment