:::: MENU ::::

Bagian 11 -- Murka

Kolaps. Satu kata yang menunjukkan situasi Alamanda Fashion. Beberapa staf analis keuangan mengatakan ada beberapa situs mempublikasikan berita hoaks yang menyudutkan perusahaan milik Warta. Situs abal-abal tersebut dibayar oleh orang-orang yang menginginkan Alamanda Fashion terpuruk. Mudah ditebak, para pesaing bisnis fashion memesan beberapa konten berita hoaks dengan menyudutkan satu dua pihak.

Dampaknya menjadi bola salju yang menggelinding semakin besar. Berawal dari ketidakpercayaan konsumen, pelanggan setia. Berimbas pada oplah penjualan. Lalu bagian produksi mulai kelebihan stok gudang dengan sendirinya kepala produksi mengurangi pembuatan barang. Dampak paling besar adalah jumlah pemasukan yang turun drastis. Karyawan mulai resah setelah beberapa diantaranya diberlakukan penyesuaian jam kerja menjadi setengah hari.

Efek bola salju semakin memukul perusahaan pada bulan kelima sejak staf keuangan melaporkan terjadi tingkat waspada. Produski berhenti selama sehari, sehari berikutnya berproduksi lagi. Karyawan terkena PHK mencapai angka seratus. Staf pimpinan berkeringat dingin tanpa tahu darimana memulai langkah untuk menyelamatkan perusahaan. 

***

"Maaf Bos, saya permisi. Surat pengunduran diri sudah saya serahkan kepada Pak Wandi." Satu lagi karyawan yang mengajukan resign.

"Oh, ya. Iyah, bagaimana?" Warta tersadar dari lamunannya.

"Terima kasih atas kebaikan Bos selama ini."

"Kau yakin dengan keputusanmu? Kau tidak ingin mencoba sekali lagi?" Nada penuh putus harap Warta semakin jelas. Dia akan kehilangan staf terbaiknya, staf keuangan yang selama ini setia berada di sampingnya, membangun kejayaan Alamanda Fashion.

Staf keuangan itu membalas pertanyaan Warta dengan mantap, "Saya tetap mengundurkan diri, karena saya yakin perusahaan ini tidak bisa diselamatkan. Lebih baik Bos segera menjualnya dan memulai usaha baru."

"Tidak! Aku tidak akan pernah menjualnya sampai kapan pun." Seperti sudah kehilangan akal, suaranya meninggi seperti sedang mengigau.

"Terserah, saya sudah memberikan yang terbaik buat perusahaan ini. Bahkan tiga bulan saya tidak menerima gaji, saya tetap memberikan laporan analisis. Selamat tinggal." Akhirnya satu lagi tangan kanan Warta pergi meninggalkannya.

Di luar hari semakin gelap. Lamat-lamat terdengar salawat bersahutan dari speaker masjid. Langit semakin menjingga. Sebentar lagi gelap akan datang menyelimuti siang.


***

"Ayolah, Wilet. Kau aku bawa dari tidak punya. Sekarang lihat apa yang kau punya. Kau punya segalanya!" 

"Iya, aku memang punya gelang emas, rumah, dan mobil. Tapi aku tidak punya satu hal yang membuatku bisa bahagia selamanya."

"Apa? Kau akan bilang lagi kau tidak punya anak? Kau akan bilang aku tidak bisa memberi keturunan buatmu? Iya, hah?!" Tampaknya pria pemilik Alamanda Fashion itu tak bisa menahan diri. "Aku dengan istri pertamaku punya anak. Kau pikir saja sendiri!"

"Oh, jadi kamu masih punya hati dengan orang kampung itu. Siapa namanya? Suciati?" Wajah perempuan di hadapan Warta tersenyum mengejek.

"Cukup! Kau jangan panggil dia dengan orang kampung." Warta semakin emosi, "Kau sendiri perempuan macam apa, jika suaminya sedang sibuk bekerja, sedang kau lebih asyik bepergian dan belanja."

"Kamu tidak senang, kalau ...." Ucapannya terpotong.

"Laki-laki yang seminggu lalu berdua di dalam mobil Innova putih, hah?!"

"Kenapa memangnya, kau cemburu?" Wajah sinis perempuan itu semakin menjadi.

"Apa kau bilang? Aku cemburu. Apa kau tidak punya pikiran bahwa aku ini "

"Kalau aku suka, lalu kamu mau apa?" Bersamaan perempuan bertanya kepada Warta, sebuah tamparan telak mendarat di pipinya. Plak! 

Wajah sinis perempuan itu langsung lenyap. Berganti menjadi merah padam, antara menahan marah dan malu. Matanya mulai berkaca-kaca, bulir air perlahan menetes. Sembari telapaknya memegang pipi yang dia rasakan panas karena telah ditampar, dia berkata, "Aku minta cerai ...!"

Bergetar suara perempuan di hadapan Warta. Wajah cantiknya yang dulu memesona Warta kini berubah menjadi wajah yang menjijikan di hadapan Warta. Kini yang tersisa adalah rasa benci yang teramat kepada istri keduanya.

Kenapa dia baru sadar sekarang bahwa istri keduanya hanya menginginkan harta, bukan menginginkan sebuah mahligai cinta. Kenapa dia tidak melihat gelagat yang sebenarnya tahu bagaimana perempuan itu sangat cantik dan tubuhnya menggoda. Hanya kecantikan luarnya membuat dia tertarik kepadanya, sedangkan kepribadiannya dari dulu hatinya tidak pernah mengiyakan.

Ah, semua telah terjadi. Penyesalan tak ada guna. Langkahnya akan semakin berat ke depan. Dia menatap bayangan hitam, segelap malam di hadapannya. Sungguh sebuah babak kehidupan yang tak pernah ia impikan sama sekali.

***

Babak baru kehidupan Warta baru saja dimulai. Sebuah babak dengan genre tragedi. Kelebatan rekaman masa lalu sangat jelas dia rasakan. Kampung kelahirannya, Sindang Agung, begitu dekat dalam ingatan. Sebuah kampung kaki gunung Ciremai dengan hamparan sawah kekuningan jika masa panen tiba. 

Padang ilalang yang selalu hadir dalam setiap kesempatan nandur, menanam kembali padi setelah tiga minggu masa panen. Bagaimana kabar Suciati? Bagaimana kabar kedua anaknya Aya dan Rofal? Pertanyaan silih berganti masuk ke dalam benaknya. Semakin rindu. Tanpa sadar pipinya menghangat. Inikah yang disebut dengan hukuman dari Tuhan ketika hamba-Nya berbuat dosa. Atau ini hanya peringatan, sebagai rasa kasih sayang Tuhan yang mengeja wantah, agar hamba-Nya kembali tersadar dan berjalan di jalan lurus-Nya.

(Bersambung ...)


<< Cerita Sebelumnya         



1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11    




0 komentar:

Post a Comment