:::: MENU ::::
sebait puisi surga, taman, firdaus, taman firdaus

Bagian 12 -- Senja di Sindang Agung

"Emak mau berangkat ke pasar?" Aku bertanya sembil mengunyah sarapan yang disiapkan Emak.


"Kepala Emak pusing, kayaknya hari ini mau istirahat saja." Wajahnya terlihat pias.

"Kenapa Mak? Apa karena kemarin makan mie Mas Warto?" Kembali aku bertanya untuk memastikan keadaan Emak.


"Enggak. Emak cuman kecapean saja. Aya berangkat ke pasar ya. Gak apa-apa sampai Dzuhur juga. Sudah janji sama Bu Yanti, pesanan bawangnya ada di gudang samping." Tampaknya Emak memang butuh istirahat. Tatapan matanya sayu, memandang sekujur tubuhku.


"Jangan-jangan Emak memikirkan sesuatu ya?" Aku menebak.


"Enggak. Emak biasa-biasa aja koq. Cuman perasaan saja yang kurang enak. Entah ada apa, dari semalam dag dig dug terus."


"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Biasanya hanya perasaan saja, mungkin Emak memang kecapean hanya butuh istirahat di rumah."


Setalah menghabiskan sarapan, bersiap berangkat ke pasar. Hanya berjarak lima kilometer dari rumah, aku mengayuh sepeda dengan setengah hati tertinggal di rumah. Tumben Emak terlihat begitu pucat. Aku memikirkan Emak bukan karena terlalu lelah, mungkin ada hal lain yang dipikirkan Emak. Sepanjang jalan yang belum ramai oleh kendaraan, wajah Rofal berkelebat dalam bayanganku. Setiap dia berangkat dengan minibusnya, selalu saja tersisa rasa rindu dan berat hati untuk melepaskannya.


Hamparan padi kehijauan menghimpit jalanan dan menyisakan sepetak kebun bambu di kejauhan. Tanah Sindang Agung begitu subur hasil dari letusan abu vulkanik puluhan tahun silam. Apapun yang orang-orang tanam, hasilnya selalu berlimpah dan memuaskan. Ditambah aliran sungai yang mengalir sepanjang tahun, membuat tanaman begitu dimanjakan oleh alam.



Sesampainya di pasar, aku segera membereskan barang dagangan. Membuka tutup lapak. Mengambil karung-karung yang tergeletak di meja, lalu menggelar isinya, lobak, terong, cabai rawit, cabai merah, tomat, bunga kol dan bermacam palawija. Tidak lupa sekarung bawang merah pesanan Bu Yanti yang sudah dijanjikan Emak.


***


Firdaus bukanlah tempat untuk mereka yang selalu sembahyang

pun bukan bagi mereka yang selalu berderma
atau mereka yang menjadi kaya raya
tempat itu semata hanya ada karena kasih sayang dan rahmat-Nya

***


"Aya pulang Mak. Ini ada oleh-oleh makanan buat Emak." Bau lembab tanah karena tersiram air hujan menyeruak. Aku menjinjing kantong keresek yang berisi ubi-ubian rebus masuk ke dalam kamar Emak.


Emak berbaring di tempat tidurnya. Perlahan membuka mata lalu tersenyum lemah, "Apa yang kau bawa, Nak?"


"Ini ada ubi rebus dari Bu Yanti, masih hangat. Ayo Mak dimakan dulu. Emak harus banyak makan dan minum, biar badan Emak kembali sehat." Tubuhnya aku angkat perlahan, membantu agar bisa duduk dengan baik.


"Ubi pemberian Bu Yanti?" Emak bertanya.


"Sesuai permintaan Emak, tadi Bu Yanti ke pasar, membawa pesanan bawang merah." Kuceritakan kejadian di pasar tadi pagi. "Lalu dia menanyakan Emak, kenapa tidak berangkat. Aya jawab Emak sedang sakit mungkin terlalu lelah."


"Terus?"


"Dia bilang, jangan pulang dulu ya Neng, saya nitip makanan buat Bu Suci. Sesaat sebelum Aya pulang, Bu Yanti datang lagi ke pasar sambil membawa sekantung keresek hitam."


Emak mendengar ceritaku dengan seksama. "Orang baik. Dia sudah menjadi langganan sudah sangat lama, bahkan sejak ketika Emak baru memulai usaha."


***


Hari mulai temaram. Bocah-bocah yang sejak sore tadi ramai bermain di jalan depan rumah, sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Gerimis kembali membasahi tanah Sindang Agung, butiran airnya sangat tipis, sepintas seperti hujan salju yang pernah kulihat di film-film Hollywood. Emak masih terbaring di kamarnya. Aku sendiri lebih senang berada di ruang tengah sambil membuka buku-buku lama yang tersimpan rapi di lemari jati.


Rofal, kakakku, belum juga pulang hampir seminggu lamanya. Tumben. Mungkin karena liburan sudah tiba, banyak orang-orang berlibur dan menyewa minibus. Kalau masa liburan berakhir kakakku akan pulang, membawa bermacam makanan dan barang yang kusukai.


Tiba-tiba saja suara pagar kawat di depan rumah digedor dengan kencang. Suaranya menyiratkan telah terjadi sesuatu yang genting. Aku tak berani membuka pintu, hanya tirai jendela kusingkap agar bisa melihat apa yang terjadi di halaman depan sana."


"Ayaaa ...." Desahan itu terdengar persis dari sumber suara gedoran pagar kawat. "Aya, ni Bah ... abh, uhuk uhuk!"


Dari dalam rumah tidak terlihat jelas sebuah sosok bayangan berupa siluet. Siapakah gerangan yang berada di sana. Dan memanggil-manggil, seperti memanggil namaku.


Aku mulai memberanikan diri untuk membuka pintu, dan mendekat agar bisa melihat lebih jelas siapakah sosok yang berada di pagar itu. Baru dua langkah dari daun pintu, aku terhenyak melihat apa yang ada di hadapanku.


"Aya, ni ... ini Bahbh." Suaranya tak beraturan. Tapi aku tahu siapa yang berkata.


"Abaaaah ...!" Aku berteriak spontan, lalu berlari mendekat orang yang ternyata adalah Abah. Konflik batin antara perasaan kasihan melihat Abah dengan pakaian compang-camping, tubuh gemetar, dan tatapannya yang sangat mengiba. Juga perasaan benci yang tak akan pernah hilang setelah perlakuan Abah kepada kami --Emak, Aa, dan diriku.


Hati nuraniku memilih membukakan pagar untuknya, membopong tubuh Abah agar bisa duduk di selasar rumah. Aku tak bisa menahan air yang jatuh dari mata. Tepat dengan suara Emak dari dalam rumah memanggil-manggil diriku.


(Tamat)


<< Cerita Sebelumnya         



1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11


#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment