:::: MENU ::::
puisi surga, surga, cerita pendek, cerpen, one day one post

Bagian 2 -- Harapan

Dari kejauhan tampak kerbau beriringan dihela empunya. Hewan bertubuh gempal itu berjalan gontai seperti menyeret sendiri tubuhnya. Setiap pagi kawanan kerbau bergumul di kubangan lumpur pesawahan, membuat tanah yang diinjaknya menjadi gembur kembali. Bukan, bukan karena injakan kawanan kerbau. Tetapi karena bajak yang dipasangkan di belakang tubuhnya. Sekali-kali pecut diarahkan ke tubuh montok kerbau oleh si empu agar hewan itu tetap berjalan sesuai yang diinginkannya.

Kenangan itu tak pernah hilang dari diriku. Setiap kali kawanan kerbau berjalan beriringan, setiap kali itu juga aku, Aa dan teman-teman bercanda tawa sepanjang jalan. Perjalanan dari rumah menuju tempatku belajar harus ditempuh selama satu jam dengan berjalan kaki. Namun waktu satu jam itulah waktu yang sangat menyenangkan bagiku.

Ya, sebuah kenangan hampir selalu terpatri dalam diri kita. Kenapa? Konon katanya kenangan itu selalu melibatkan emosi dan disimpan oleh seseorang di dalam bagian tubuh yang kalian kenal dengan otak. Kenangan manis atau pahit sama-sama disimpan di suatu tempat, bagian dari otak cerebrum iustum. Itulah kenapa, kenangan seberapa pun lamanya sudah berlalu tetap menjadi bagian dari kehidupan kita. 

Sebaliknya jika otak kita menerima informasi atau pengetahuan dan tidak melibatkan emosi. Biasanya hanya disimpan di bagian otak cerebrum reliquit dengan ingatan yang pendek. Sehingga kita sering mendengar istilah sekarang ingat besok lupa.

Abah selalu menujukkan wajah berseri setiap kali pulang ke rumah berjumpa dengan kami. Selalu saja ada kisah yang ia ceritakan. Kisah tentang persawahan yang semakin menguning, tentang kerbau si empu sedang hamil, tentang Gunung Ciremai yang selalu mengeluarkan asap putih di kawahnya dan kisah tentang sepatu. Kisah Abah tentang sepatu adalah kisah yang paling aku ingat selama hidupku.

"Aya, kumaha tadi di sakola, diajar naon? Aya, bagaimana tadi di sekolah, belajar apa?" Tanya Abah memulai percakapan.

"Abah, Abah ... masa kata bu guru, Aya nanti harus jadi seorang dokter." Jawabku polos.

"Atuh saé, upami engké Aya janten dokter, Abah disuntik ku Aya nya. Bagus donk, kalau Aya nanti jadi dokter, Abah disuntik sama Aya ya." Abah menatap wajahku sambil merendahkan tubuh kekarnya.

"Enggak mau, ah. Aya mah pengen jadi tukang rantang!" Celetuk diriku ketus.

"Tukang rantang? Naha tukang rantang?" Wajah Abah sengaja ditekuk agar terlihat terheran-heran.

"Kan biar kayak Emak, tiap hari bawa rantang ke sawah. Buat makan Abah. Kan Abahnya makan tiap hari, biar sehat terus." Aku mencoba menjelaskan.

Suara tawa Abah memenuhi ruang tengah rumahku. Emak dan Aa yang memperhatikan kami bercakap-cakap ikut tertawa terbahak mendengar penjelasanku. Mereka menganggap pikiranku begitu lugu, begitu sederhana berbeda dengan Aa atau dengan teman-temanku yang lain.

"Abah mau usaha sepatu, Mak." Percakapannya mulai serius.

"Usaha sepatu bagaimana, Bah?" Giliran aku yang mendengarkan obrbolan. Sekarang Emak dan Abah yang akan bercakap.

Abah menceritakan tentang seorang teman lama yang tinggal di ibu kota provinsi. Ia mengajaknya ikut usaha sepatu yang telah dirintisnya sepuluh tahun lalu. Abah menceritakan bahwa usaha sepatu di daerah yang dikenal dengan kota kembang itu sedang populer. Sejak pemerintah provinsi menetapkan kota itu menjadi sentra produksi sepatu dan memberikan anggaran besar kepada usaha kreatif dan usaha kecil menengah, produksi sepatu semakin bergairah.

Orang-orang berlomba memproduksi sepatu dengan berbagai variasi. Toko-toko sepatu mulai bermunculan, persis seperti jamur di musim penghujan. Bukan hanya di perkotaan saja, namun merambah sampai daerah padat penduduk di daerah kabupaten. Sebagian ada yang memproduksi khusus untuk dipasarkan di luar pulau bahkan sampai mancanegara untuk diekspor.

Dari usahanya, seorang pengusaha sepatu akan mendapat penghasilan yang luar biasa besar. Banyak orang menjadi kaya mendadak. Mereka akan membangun rumah, membeli mobil dan tanah, sampai berziarah ke tanah suci untuk umroh. Hampir tidak ada percakapan yang lebih menarik dibanding sepatu.

Kami masih mendengarkan dengan takjub cerita Abah. Wajahnya terpancar harapan besar akan kehidupannya di masa depan. Seketika wajah Abah bertambah gembira dari sebelum-sebelumnya. Bayangkan saja oleh kalian, selama bekerja sebagai pengolah sawah milik orang Abah hanya mendapat penghasilan tiga bulan sekali. Bahkan kalau musim kurang baik, ia baru mendapat penghasilan enam bulan berikutnya. 

Apa yang Abah dapatkan selama bekerja di sawah? Hanya berupa padi yang cukup buat kami makan selama sebulan saja. Keperluan lainnya bisa dicukupi dari Emak yang terkadang membuat nasi kuning pada pagi hari. Itu pun tak seberapa besar. Kami harus berhemat sepanjang waktu. Abah memelihara beberapa ekor ayam, sedang Emak menanam kankung, ketela dan tanaman bumbu-bumbuan.

Bandingkan dengan pengusaha sepatu. Modal yang didapat adalah subsidi pemerintah, sehingga pengembaliannya hanya ditambah sepuluh persen selama lima tahun. Katanya penambahan pengembalian itu untuk ditambahkan menjadi modal untuk pengusaha lainnya. Setiap hari, mereka bisa menjual seratus pasang sepatu. Dalam sebulan saja penghasilan yang didapat bisa bisa mencapai puluhan juta.

Uang sebanyak itu pada masa aku bersragam putih merah adalah jumlah yang sangat besar. Dengan uang sepuluh juta saja, kalian sudah dapat membeli mobil baru. Tunai. Apalagi jumlahnya sampai ratusan juta. Bisa menebak sendiri ya, barang apa saja yang bisa dibeli.

Atas dasar ajakan temannya lah yang membuat Abah bertekad untuk merantau ke ibu kota provinsi, memulai usaha baru. Usaha yang sangat menjanjikan. Dengan harapan Abah mendapat penghasilan jauh lebih besar, lalu bisa menyekolahkan kami, aku dan Aa, sampai perguruan tinggi, membeli rumah baru dan orang-orang yang akan lebih menghormatinya.

Harapan Abah tidak lah salah. Semua orang berhak mempunyai impian. Hanya di masa depan kita tidak pernah tahu, takdir seperti apa yang akan diterima. Ketentuan dari Tuhan buat makhluk-Nya, tak pernah bisa dicerna akal manusia dengan keterbatasannya. Takdir selalu baik. Manusia saja yang sering menamai takdir dengan takdir baik dan takdir buruk.

(bersambung ...)

#OneDayOnePost


<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    





4 comments:

  1. Wah dapat ilmu baru..celebrum...celebrum

    Ditunggu kelanjutannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. siap mba, mdh2an konsisten..
      Nunggu krisan nya dr mba Wid

      Delete