:::: MENU ::::
sebait puisi, surga, puisi, bandung, novel, cerpen

Bagian 3 --Tanah Rantau

Matahari masih belum beranjak dari peraduannya. Langit tak menampakkan cerah sedikit pun. Seluruhnya masih gelap dan kelam. Si jago pun hanya sesekali terdengar. Namun Warta sudah sedari tadi mengepak puluhan kotak dus, disusun rapi, siap untuk dikirim ke berbagai penjuru daerah. Begitu cekatan. Sesekali memberikan perintah kepada orang-orang yang ikut bekerja dengannya. Tak ada seorang pun yang berani menatap langsung wajahnya. Apalagi berbicara lantang. Mereka sesekali membungkukan badan kalau berjalan lewat di hadapan Warta.

Deru mesin kendaraan mendekat. Dua kali bunyi klakson terdengar nyaring. Warta segera menunjuk ke sana kemari, memberi aba-aba kepada orang di sekitarnya. Tak kalah sigap, orang-orang itu mulai memindahkan kotak dus. Sebagian melemparkannya dan orang yang berada di atas bak kendaraan menangkapnya. Mereka memberi seakan sebuah sistem otomatis, bekerja dengan akurat dan cepat. Orang-orang dengan pakaian putih-putih itu sangat paham apa saja yang harus mereka kerjakan.

Langit baru menyemburkan jingga di ufuk timurnya. Ruang seluas lapangan volley itu semakin hidup. Beberapa orang berbaju putih baru memarkirkan kendaraan roda duanya, segera masuk ke dalam ruangan itu. Di keempat bagian sisi temboknya bertumpuk-tumpuk kotak dus tersusun rapi. Masing-masing mempunyai tanda yang digantung dari langit-langit. Tanda itu menujukkan jenis barang yang tersimpan dalam kotak dus itu dan tujuan pengiriman. 

Di pojok ruangan bagian depan dua perangkat komputer dijalankan oleh empat orang, memeriksa tumpukan kotak dus yang hendak dipindahkan keluar. Setiap kotak dus yang berpindah mereka akan mengetikkan kode khusus di mesin komputer tadi. Bersamaan dengan ketikan operator komputer, mesin pencetak di sebelahnya berbunyi dan mengeluarkan kertas.

"Bos, ada tamu di luar mau ketemu." Seseorang berpakaian putih melapor dengan badan sedikit membungkuk.

"Eh, tamu darimana?" Warta teralihkan perhatiannya.

"Dia bilang dari Jakarta, perusahaan ekspor. Mau menawarkan proposal." Orang itu menambahkan.

"Oke, suruh dia masuk. Di ruangan saya saja ya." Warta, yang dipanggil bos oleh orang itu segera menyudahi kesibukannya.

Di bagian lain ruangan, di ujungnya, terdapat ruangan lain dengan ukuran jeuh lebih kecil. Seluruh dindingnya bukan tembok melainkan hanya sekat yang terbuat dari kaca. Luas ruang itu hanya 3 x 5 meter, berpendingin, lantainya dilapisi karpet merah yang tebal.

"Selamat pagi, Pak Warta." Dua orang tamu tadi mengetuk pintu ruang bersekat kaca.

"Oh, selamat pagi. Silakan, silakan masuk. Tidak usah sungkan." Mereka saling berjabat tangan dengan eratnya. 

Keduanya berpakaian rapi, mengenakan jas serba hitam dengan kombinasi dasi berwarna cerah. Dari tampilan keduanya, mereka bukan orang biasa saja. Yang satu tubuhnya tegak, raut wajahnya kokoh. Pada bagian pelipis tampak luka yang mengering sudah lama, bekas sabetan benda tajam. Satu orang lagi bertubuh lebih tinggi, atletis, rambutnya dipotong tipis cepak. Posisinya berdirinya selalu berada sedikit di belakang orang berpelipis codet. 

Berbanding terbalik dengan Warta, pria yang dipanggil bos. Dia hampir setiap hari hanya berpakaian kaus setengah usang, bersandal jepit, celana bahan jeans yang tampak sudah lusuh. Wajah dan rambutnya seakan tak pernah ditata, semrawut, acak-acakan. Walaupu demikian ia tetap bersahaja, dengan wajah yang memancarkan keteduhan dan ketenangan.

"Bagaimana Pak Warta, dengan penawaran saya?" Pria bercodet mencoba mengakhiri percakapan.

"Sangat menarik." dengan wajah cerah ia membalasnya. "Saya tahu kualitas sepatu produksi di sini adalah yang terbaik. Tidak ada duanya. Anda tidak salah bekerjasama dengan Suciati Shoes" Warta menjelaskan dengan penuh bangga.

"Oke, saya akan segera siapkan kontrak perjanjiannya. Dalam dua minggu ke depan saya harap Suciati Shoes sudah melakukan transaksi dengan kami." tegas lawan bicaranya.

"Baik, baik! Lebih cepat lebih baik. Saya pun tidak sabar untuk melihat kontrak perjanjiannya." Warta mempertegas komitmen diantara keduanya.

"Ngomong-ngomong nama perusahaan ini diambil darimana?"

"Suciati? Dia adalah sosok perempuan yang saya cintai pertama kali ... sampai saati ini!" keduanya tertawa bersamaan saling menepuk bahu.


***

Di sebelah barat kampung kelahiranku, berjarak 170 kilometer, terdapat sebuah kota kecil dengan orang-orangnya yang kreatif. Sebenarnya lebih tepat disebut cekungan daripada kota. Kalian tahu, kota itu memang terletak di sebuah cekungan. Gunung purba Bandung, ribuan tahu lalu meletus, membentuk sebuah kawah raksasa. Lalu seiring waktu kawah yang terbentuk berubah menjadi lautan air sampai terbentuk danau purba. Dalam catatan sejarah air yang menggenangi danau purba menemukan alirannya karena di bagian selatan danau itu terbentuk sebuah lubang yang sangat besar.

Jika kalian sempat berkunjung ke kota Bandung, kalian akan menemukan lubang yang dikenal oleh masyarakat setempat dengan sangyang tikoro*). Letaknya tidak jauh dari Rajamandala daerah Padalarang. Dari sanalah danau purba airnya perlahan mengalir dan mengering. Ribuan tahun lamanya.

Kini, cekungan bekas kawah dan danau purba dari letusan gunung Bandung itu berubah menjadi kota metropolitan dengan kesibukannya yang luar biasa. Tahun berganti tahun, kota kembang yang dulu dikenal dengan keasrian tanaman dan hutannya kini telah berubah. Kota yang terkenal dengan mojang geulis**) itu kini hanya menyisakan kemacetan, kesumpekan, dan belantara beton yang luar biasa rapatnya.

Abah sudah sepuluh tahun berada di sentra industri sepatu, di kota Bandung. Jaraknya hanya lima kilometer atau perjalanan lima belas menit menggunakan kendaraan bermotor. Selama itu pula, sejak Abah meninggalkan kami --aku, Emak, dan Aa-- aku tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di tempat usahanya.

Tahun kesepuluh Abah berada di perantauan, aku sudah menginjak bangku sekolah menengah pertama. Aku tak tahu apa-apa tentang kehidupan Abah di perantauan. Emak bercerita semuanya tentang Abah: Aya, usaha sepatu Abah kamu di kota maju sangat pesat. Sebentar lagi kita akan punya rumah baru di kota, punya mobil, bisa makan makanan yang enak. Aya nanti beli baju yang bagus ya, sama Aa juga. Baju kebaya yang sering dipakai Aulia, anaknya Pa Haji itu. Aya harus rajin belajar, biar nanti kalau sudah besar, Aya bisa bantu Abah jualan sepatu.

Hanya itu kisah yang diceritakan Emak menjelang tengah malam. Berulang-ulang. Setiap hari. Sepanjang tahun. Aku sering bertanya kepada Emak tentang Ayah. Tapi Emak hanya menjawab dengan mengulang kisah di atas. Akhirnya, hanya lamunan yang memenuhi pikiran ini. Lagi pula aku sendiri tak mau ambil pusing dengan keberadaan Abah di kota. Pernah seorang guru bertanya tentang Abah, dia hanya akan menerima jawaban tidak tahu, Emak pasti tahu jawabannya.

Kalian akan merasakannya sendiri, seiring waktu berjalan. Bahwa harta bukanlah segalanya. Dalam agama kita memang diwajibkan beribadah kepada-Nya dan tak lepas dari harta benda. Banyak ibadah yang memerlukan harta: menunaikan salat, harus dengan pakaian terbaik, berinfak dan sedekah tentu dengan harta, memberikan zakat juga menggunakan harta. Bahkan untuk berhaji kita membutuhkan harta.

Tapi yang harus kalian yakini --tentu saja aku yakin seyakin-yakinnya-- bahwa harta bukanlah segalanya. Jangan pernah menyimpan harta di dalam hatimu. Cukup tangan saja yang menyimpan harta itu. Hati kalian harus terus dipenuhi oleh keimanan, kesabaran, kedermawanan, dan nilai-nilai ibadah lainnya.

Maaf, aku bukan seorang alim yang ingin menggurui. Tapi aku akan berbagi kisah yang akan membuat kalian memahami bahwa harta terkadang membuat manusia menjadi lalai. Aku akan berbagi kisah tentang arti dari sebuah pengorbanan


*) tikoro = kerongkongan (bhs. Sunda)

**) gadis cantik


<< Cerita Sebelumnya         

1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    







1 comment: