:::: MENU ::::
sebait puisi surga, one day one post

Bagian 4 -- Richard Bailey

Usaha sepatu Abah semakin maju. Hanya butuh waktu empat bulan dari kedatangan tamu dengan wajah codet di pelipisnya, Suciati Shoes sudah merambah hampir seluruh pulau Jawa. Dan lebih hebatnya lagi, Abah mulai mengekspor sepatunya ke negeri jiran. Luar biasa. Banyak yang kagum atas usaha Abah, hampir tak ada pesaing yang mampu melakukan apa yang Abah lakukan.

Berkat ketekunan serta kejelian Abah melihat pangsa pasar, corak dan model sepatunya sangat modis menjangkau semua lapisan konsumen. Lebih hebatnya lagi, tak pernah mengenyam pendidikan fashion apa pun, Abah hanya belajar secara otodidak dan bertanya kepada siapa pun yang dia anggap mempunyai pengalaman. Dengan latar pekerjaan sebagai petani, yang kesehariannya membajak dan mengarit pesawahan, kini usahanya jauh melebihi orang-orang "berilmu" yang sengaja menempuh pendidikan fashion.

Ilmu itu bukanlah hanya dihafalkan, bukan hanya dibaca dan dipelajari. Tetapi ilmu itu dipraktikkan, diaplikasikan, dan tentu saja diamalkan. Ilmu itu bagaikan cahaya yang mana seseorang harus mempunyai hati dan pikiran bersih agar cahaya tersebut dapat masuk. Sedangkan orang yang memiliki hati dan pikiran tertutup, seperti kaca jendela yang berdebu tebal, cahaya ilmu akan sukar masuk ke dalamnya.

Kini, Abah semakin sibuk. Produksinya memiliki empat cabang usaha, dimana masing-masing cabang memiliki seorang kepala produksi. Toko sebagai tempat pertama yang ia bangun, menjual produk terbaru dan terpopuler Suciati Shoes. Diikuti oleh pemasaran lokal yang fokus kepada distribusi sepatu hanya berada di pulau Jawa. Cabang usahan lainnya adalah retail dengan pangsa pasar pemborong atau perusahaan besar. Dari penjualan kepada pemborong tersebut, maka mereka berhak mengganti label sesuai keinginan mereka. Dan terakhir adalah divisi ekspor. Cabang usaha terakhir tentu saja mengkhususkan dalam produksi massal ekspor, dengan corak dan model yang telah disesuaikan pemesan.

***

Adalah seorang Englishman yang berbaik hati untuk mengimpor sepatu buatan Abah, memasarkan di negara tempat kelahirannya. Awalnya dia adalah seorang turis yang senang dengan berbagai hand made. Kehidupan pada akhirnya akan menemukan takdirnya sendiri. Pria itu sempat singgah dan membeli beberapa pasang sepatu Suciati Shoes. Dari sanalah berawal. Dia langsung tertarik dengan kualitas dan mode yang disajikan oleh Suciati Shoes.

Bayangkan saja jika kalian suatu saat berjualan sepatu. Satu pasang sepatu bisa dijual dengan harga tiga kali lipat dari biaya produksi. Berbeda dengan harga untuk eskpor, harganya bisa lebih tinggi lagi. Setiap harinya paling sedikit kalian bisa menjual seratus pasang sepatu. Kalikan dengan tiga puluh untuk satu bulan penjualan. Bagaimana? Sebuah angka yang besar, bukan. Setelah dikurangi produksi, beban listrik, air, karyawan, kendaraan, dan sebagainya, kalian masih bisa membeli sebuah mobil Toyota Rush!

Di tengah kesibukannya memberi aba-aba kepada bawahannya, telepon di ruangan kaca berbunyi. Butuh empat kali nada dering ketika Warta tiba di ruangan pribadinya itu.

"Ya, hallo!" suara Warta menyapa.

"Hallo, Mr. Warta? How are you?" seseorang terdengar bertanya kabar dengan logat British yang khas.

"Yes, I'm Warta, I very well. Who is this?" dengan terbata ia membalas sapaanya.

"I am Bailey, Richard Bailey." lawan bicara Warta memperkenalkan dirinya.

Terlonjak, Warta menegakkan tubuhnya, "Oh, Mister Richard. I'm so glad to hear your voice, saya senang sekali mendengar suara Anda. Saya ingin mengucapkan terima kasih." 

"Ah, senang juga bisa berbicara dengan Anda, Mr. Warta." masih dengan logat British yang kental, "Sepatu buatan Anda sungguh luar biasa. Kami senang berbisnis duengan Anda."

Lalu pria yang disebut Richard melanjutkan, "Sebagai ucapan terima kasih, saya ingin mengundang Anda ke negara kami."

"Ah, sungguh menyenangkan mendengarnya." pria yang kupanggil Abah semakin berbinar matanya. "Ini sebuah kejutan yang luar biasa."

"Baiklah, asisten saya akan menelepon Anda mengurus semua keperluan yang Anda butuhkan. Selamat bertemu Mr. Warta." Richard mengakhiri percakapan singkatnya.

"Baik, terima kasih Mister." Warta tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya.

Pada saat yang bersamaan, aku sedang berada di ruang tengah dengan Emak, memelototi tabung ajaib yang bisa mengeluarkan gambar dan suara. Tak seberapa lama telepon berdering. Emak yang mengangkatnya. Ternyata Abah mengirim kabar tentang rencananya mengunjungi negeri tempat Mister Richard berasal. Abah bercerita panjang lebar. Sebuah rencana ke depan yang membuatku sangat gembira.

Aku saudah membayangkan saja, besok (entah kapan) Abah akan mengajak kami ke ibu kota provinsi, mempunyai rumah baru, baju seragam baru, naik mobil mewah, tidak lagi makan hanya dengan tempe dan telur. Mungkin di sana aku akan mempunyai teman-teman yang baru pula, bermain ke tempat yang tak pernah aku temui di sini. Bisa saja pergi ke mall atau nonton bioskop yang layarnya sangat lebar.

Setelah meletakkan gagang telepon, kulihat Emak pun terlihat gembira. Wajahnya berbinar mengucap syukur. Aku peluk Emak lamat-lamat. Entah seberapa besar rasa yang menjalari tubuhku saat itu, tetap saja ada perasaan yang mengganjal. Ketika melihat sorot mata Emak seakan ada celah yang memperlihatkan ruang kecil kosong menganga. Matanya membuka lebar, namun ada genangan air yang hanya bisa dilihat oleh diriku. Samar, bagitu samar. Namun aku tetap bisa melihatnya.

Aya, hidep tos ageung, geulis. Abah badé nyaba ka luar negeri.*) Emak sangat gembira mendengarnya. Usaha Abah sangat maju. Abah sudah kaya raya. Tapi Aya harus rajin salat ya, sayang. Aya harus sabar.

Aku hanya berkata muhun, Mak. Aya moal ngantunkeun sholat, Aya kan budak bageur, anak kanyaah Emak.**) Dan petuah itu begitu membekas ketika aku sudah beranjak dewasa, ketika aku sudah mengerti semuanya. Dan kesadaran itu ternyata sudah terlambat. Seharusnya aku sudah tahu dari awal.


#OneDayOnePost


*) Aya, kamu sudah besar, cantik. Abah akan berangkat ke luar negeri.

**) Iya, Emak. Aya tidak akan meninggalkan salat. Aya kan anak baik, anak kesayangan Emak.


<< Cerita Sebelumnya         

1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    







1 comment:

  1. Makin keren. Bisa ya, mas dwi bikin tulisan fiksi dengan detail deskripsi yg oke..

    ReplyDelete