:::: MENU ::::
sebait puisi surga, Yorkshire, Inggris, London


Bagian 5 -- North Yorkshire

Setelah menempuh perjalanan udara selama tujuh belas jam, dilanjutkan dengan menumpang bus dengan tujuan county Middlesbrough yang membutuhkan waktu sekitar lima jam, sampailah Abah di negara bagian North Yorkshire. Cuacanya hangat, langit membiru cerah, hanya dihiasi sedikit awan di sana-sini. Daerah North Yorkshire terkenal dengan udaranya yang lebih hangat dibanding kota-kota lain di negeri Ratu Elizabeth ini. Selain karena letaknya di pesisir timur, ditambah saat ini adalah bulan Juli, dimana bumi bagian utara akan lebih condong ke arah matahari.

Sepanjang jalan tampak perkebunan lavender yang terhampar ungu kekuningan. Di beberapa bagian rumah-rumah pengolahan hasil kebun menjulang. Hanya satu lantai, tapi tingginya bisa mencapai lima belas meter. Dengan bangunan setinggi itu diharapkan udara yang menguap tidak langsung terhirup oleh orang-orang yang berada di dalamnya. Sirkulasi alami, tanpa memerlukan peralatan canggih lain.

Seorang pria berambut hitam, kulitnya putih, dan tinggi sedikit lebih tinggi dibanding rata-rata orang Indonesia menyambut kedatangan tamunya dengan genggaman erat. Pria itu sangat senang bertemu dengan rekan bisnisnya yang selama ini hanya bisa bercakap-cakap lewat sambungan telepon internasional.

"Aaah, welcome in my paradise land! Selamat datang di tanah surga kami." Dengan bangga ia menyapa dan mengklaim daerahnya sebagai tanah surga.

"Thank you Mister Bailey. Terima kasih Tuan Bailey, saya sangat terhormat dan senang bisa berkunjung ke negeri Tuan. Sungguh sangat cantik negeri ini. " Sang tamu tidak kalah memuji tanah yang kini ia pijak, beribu kilometer dari tempat kelahirannya.

"Di sinilah tempat pengepakan sepatu buatan Tuan Warta. Seluruhnya dikerjakan oleh orang-orang dari negeri Tuan sendiri. Hanya beberapa yang kami pekerjakan berasal dari daerah ini." Bailey melihat wajah tamunya tersenyum sangat lebar. Walau kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang, tampak kegembiraan bercampur kebanggaan mendengar penjelasan darinya. 

"Silakan Tuan, silakan masuk. Tuan pasti akan senang melihatnya." Keduanya beriringan masuk ke dalam rumah besar yang berfungsi sebagai tempat pengemasan. Kotak-kotak dus yang dikirim dari negeri seberang dibuka lagi, untuk dilihat kualitasnya. Cek quality control. Label Suciati Shoes dilepas menggunakan alat seperi setrika, sehingga tidak meninggalkan bekas perekat.

Lalu label Yorkshire Collection menggantikan label yang lama. Pekerja yang berada di dalam rumah pengemasan itu hanya berjumlah dua puluhan orang. Namun sangat cekatan dan teliti. Masing-masing mempunyai tugas sendiri. Mesin-mesin berjalan dengan otomatis. Membuka label lama, memasangkan label baru, melapisi kotak dus dengan karet silikon bening, menumpuk semua kotak dus dengan susunan rapi, semuanya dikerjakan oleh mesin-mesin otomatis.

Sang tuan rumah terus bercerita kepada tamu sekaligus rekan bisnisnya dengan antusias. Perawakan Bailey sebenarnya tidak terlalu tinggi seperti kebanyakan orang Eropa. Matanya hitam keburuan. Rahang yang membidang menandakan dia seorang yang keras, hidung mancung, dan bintik-bintik merah di kedua pipinya.

***

Abah menceritakan kisah itu lebih dari lima tahun lalu. Saat itu aku selalu terpana dengan semua cerita Abah, hampir tak pernah berkedip. Sungguh. Pikiranku melayang-layang terbang kesana kemari. Konon di ibu kota provinsi, kalian dapat melihat penjara Banceuy, tempat Bung Karno dijebloskan sebagai tahanan oleh penjajah kolonial. Setelah itu Bung Karno mengajukan protes atas hukumannya. Pledoinya dibacakan dengan judul "Indonesia Menggugat" di sebuah gedung yang terletak di jalan Tentara Pelajar. Gedung itu kini dinamakan Gedung Indonesia Menggugat.

Masih menurut kisah Abah, di sana kalian bisa melihat juga sisa-sisa bangunan yang terbakar ketika para pejuang melakukan bumi hangus. Belanda melakukan agresi militer. Seluruh tentara nasional tak dapat menahan gempuran tentara musuh. Maka, diputuskanlah untuk membakar semua gedung penting yang kemungkinan masih bisa digunakan Belanda. Peristiwa itu kini kita kenal dengan perjuangan Bandung Lautan Api.

Ketika Abah melanglang buana ke benua biru Eropa, aku hampir tak percaya mendengarnya. Kisah itu seperti menceritakan negeri dongeng, sebuah negeri karena begitu membuat takjubnya, keberadaannya hanya ada di negeri dongeng. Bagaimana tidak, sejak keberangkatannya pun mulutku menganga. Ada sebuah benda sangat besar, berbahan besi, beratnya ratusan ton, bisa terbang ke angkasa. Terbang! Lalu, melewati berbagai belahan muka bumi. Ribuan kilometer jauhnya dan ditempuh kurang dari satu hari. 

Tiba di ibu kota negara itu, Abah melihat pintu kaca yang bisa terbuka sendiri jika kita hendak melewatinya. Jam raksasa di tepian Sungai Tees yang masyhur, jembatan yang bisa mengangkat dirinya ketika ada kapal lewati di atas sungai itu. Perkebunan lavender yang dilihatnya ketika menaiki bus memanjang dari Derbs sampai Leicester. Makanan tradisional daerah York adalah terokai dan pudding Yorkshire dan Abah menceritakan seakan keduanya adalah makanan paling lezat di dunia.

Jika aku mendengar kisah Abah dengan mata berbinar, tidak begitu dengan Emak. Selalu ada rona wajah yang disembunyikan di sudut matanya. Emak selalu berkata gembira kepada kami --aku dan Aa-- dengan kedatangan Abah, berkata kepada semua anak-anaknya bahwa Abah sudah menjadi orang kaya raya, kita akan mempunyai rumah baru, dan pindah ke ibu kota provinsi. Tetapi kepalanya selalu tertunduk ketika Abah berbicara kepadanya.

Emak akan memilih diam dan tak bertanya apa pun kepada Abah. Aku melihat kejanggalan itu. Usiaku memang belum genap empat belas tahun, namun aku selalu dapat merasakan sesuatu yang terjadi tanpa terucap. Entah apa yang ada dalam pikiran dan hati Emak. Aku tak pernah mengetahuinya saat itu. Padahal jawaban itu sangat jelas tampak di depan mataku. Sayang, aku baru mengetahuinya ketika semua sudah terlambat. 


*** 

Selama perjalanan ke benua Eropa, Abah bertemu banyak pekerja yang berasal dari negaranya sendiri. Merasa bertemu dengan orang senegara, Abah begitu gembira, dan menganggap mereka sudah menjadi saudaranya sendiri. Begitu para pekerjanya. Mereka sangat gembira dengan kunjungan Abah ke rumah Richard Bailey yang terletak di bagian county Middlesbrough. Lama sekali Abah bercengkerama, mendengarkan keluh kesah mereka, pengalaman bekerja di tempat asing, dan menceritakan pengalaman Abah yang banyak makan asam garam di industri fashion sepatu.

Salah satu dari pekerja di sana terdapat perempuan dengan tubuh lenjang dan wajah begitu memesona. Cantik sudah pasti, tapi dia memancarkan aura yang membuat orang lain langsung tertarik melihatnya. Posisinya sebagai bagian administrasi quality control selalu menjadi orang yang diperhatikan oleh Bailey. Kepada Abah dia mengaku berasal dari Garut. Keluarganya sudah lama memiliki tempat penangkaran buaya dan ular piton. 

Lalu, dengan gaya bicaranya yang agak mendayu namun berintonasi tinggi, perempuan itu berhasil "menyihir" Abah dan mempercayai bahwa Abah bisa bekerja sama dengan keluarganya di Garut. Tentu saja, Abah merasa senang jika produksi sepatunya akan menemukan sumber bahan baku dengan kualitas tinggi dan pasokannya terus mengalir tak akan berhenti.

(Bersambung ...)




<< Cerita Sebelumnya         

1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    







1 comment:

  1. Keren mas. Deskripsinya itu lho, bikin ngiri. Aku kok gak bisa ya...

    ReplyDelete