:::: MENU ::::
cerita pendek, one day one post, kuningan, gunung ciremai, ciremai, cilacap, ciamis

Bagian 6 -- Tanah Kelahiran

Tanah yang kupijak ini adalah tanah yang telah membuatku tumbuh besar. Minum, mandi, makan, bahkan sampai buang hajat, dari tanah inilah semua berasal. Lahir, masa kanak-kanak, bermain, masa remaja aku habiskan di sini. Jika bertamu ke tanah kelahiranku, kalian akan merasakan sebuah daerah bak taman surga dunia. Sebuah daerah tepat di kaki Gunung Ciremai. Semua orang yang hendak bepergian dari kota Cirebon menuju selatan Jawa Barat, seperti Ciamis, Banjar, atau Cilacap, akan melewati daerah ini.

Sindang Agung, biasa orang-orang menyebut nama daerah itu. Berbatasan dengan daerah Luragung dan Cibeureum. Hawanya sama seperti jika kalian sedang berada ibu kota provinsi, dingin dengan kelembaban yang tinggi, karena keduanya berada di dataran tinggi. Lebih dari tujuh ratus meter di atas permukaan air laut, membuat Sindang Agung diserbu orang-orang dari berbagai daerah membangun tempat peristirahatan, villa, motel, hanya untuk mendinginkan kepala saat liburan tiba.

Perkebunan palawija dan pesawahan, kombinasi antara hijau, kuning, dan keemasan sangat memanjakan mata yang memandangnya. Sesekali diselang-seling oleh aliran air sungai sangat jernih. Aku tahu nama-nama sungai yang ada di daerahku, karena Abah sering membawaku menyusuri ladang garapannya. Sesekali tuan tanah mengajak kami berkeliling daerah untuk mencari tanah-tanah yang akan dijadikan area pesawahan baru. Kau pasti akan takjub melihatnya. Membentang dari mata air pegunungan, sebagian bermuara di Laut Jawa, seperti sungai Cisanggarung. Sebagian sungai lainnya seperti Cijangkelok, Cigugur dan Citamba mengalir terus menuju selatan, dan berakhir di Samudera Hindia.

Ada cerita yang sangat menarik untuk didengar. Cerita tentang asal-usul nama tempat lahirku. Konon pada zaman dulu kala, ketika negeri ini masih berupa kerajaan-kerajaan. Dalam masa peralihan kerajaan Hindu-Buddha digantikan olah kerajaan-kerajaan Islam. Penyebaran agama Islam di negeri ini sungguh agung, melalui dakwah Wali Songo yang begitu mengesankan, sangat membumi. Tidak ada satu pun cerita mengangkat senjata atau pertumpahan darah ketika penyebaran agama Islam terjadi.

Tersebutlah nama salah satu wali, Syaikh Syarif Hidayatullah yang sedang berkelana di negeri Tiongkok. Lalu beliau bertemu dengan pembesar negeri yang memiliki seorang putri cantik jelita, bernama Putri Ong Tien (seiring waktu di tanah kami, putri Tiongkok itu dikenal dengan Ratu Lara Sumanding). Untuk menguji kesaktian Syaikh Syarif Hidayatullah, pembesar negeri membawa putri kesayangannya ke hadapan Syaikh Syarif. Lalu ditanya oleh sang pembesar apakah putrinya sedang hamil atau tidak.

Yang dilihat oleh Syaikh Syarif adalah putri pembesar itu berperut buncit, tanpa dapat melihat apa yang ada dibalik pakaiannya. Syaikh Syarif menjawab dengan mantap bahwa putri sang pembesar benar-benar sedang hamil. Seketika tertawalah pembesar negeri dan para pengawalnya. Dia merasa menang karena putrinya hanya tidak benar-benar hamil, melainkan disisipi oleh bokor*) kuningan sehingga perutnya membuncit. Dengan rasa jumawa, pembesar Tiongkok itu memerintahkan Syaikh Syarif untuk meninggalkan negeri Tiongkok.

Selang beberapa waktu lamanya, Syaikh Syarif sedang berada di daerah yang kini dikenal dengan kabupaten Kuningan. Dari kejauhan terlihat berdatangan serombongan orang dari negeri seberang. Ternyata rombongan itu adalah putri pembesar Tiongkok, Putri Ong Tien besaerta para pengawalnya. Setelah beratatap muka dengan Sang Wali putri itu langsung menangis tersedu dan bersimpuh di hadapannya. Dia meminta maaf dan menyampaikan permintaan ayahnya untuk menikahkan dirinya dengan Syaikh Syarif. 

Tentu saja Sang Wali, yang dikenal juga dengan nama Sunan Gunung Djati, kaget alang kepalang, mendengar penuturan Putri Ong Tien. Sang Putri menjelaskan bahwa dirinya ternyata benar-benar hamil, setelah Syaikh Syarif pergi meninggalkan negerinya. Padahal niat awalnya hanya menguji ketinggian ilmu Syaikh. Tempat bertemunya putri dari negeri tirai bambu dan salah satu wali dari Wali Songo inilah diberi nama sebagai Kuningan.


***

Aku baru menyadari ada suatu yang janggal dalam kehidupan keluarga kami. Setelah Abah pulang dari benua Eropa, Abah pulang ke rumah. Tetapi dia mampir di kampung kami, hanya seminggu, dan setelah itu Abah berangkat kembali ke ibu kota provinsi, tanpa mengajak kami --aku, Aa, dan Emak. Berbulan-bulan lamanya Abah berada di kota itu, tanpa pernah sekalipun pulang ke rumah. Hanya sesekali Abah menelepon Emak dan aku. Lebih seringnya Emak yang menelepon sambungan interlokal ke ibu kota provinsi.

"Mak, Abah kemana? Abah sudah tidak suka Emak lagi ya? Abah sudah tidak sayang lagi sama Aa, sama Aya ya?" Aku memulai percakapan ketika kulihat Emak hanya memandang kosong ke arah kursi goyang di tengah ruangan. Bukan kali ini saja, Emak bertingkah seperti itu, beberapa kali aku memergoki Emak.

"Abah sibuk Aya, cari uang. Ngurus toko yang sangat besar sangat sulit. Kamu tahu itu kan? Waktu untuk libur hampir tidak ada." Aku mulai bosan dengan perkataan Emak, karena kupikir itu hanya ucapan kosong, bukan jawaban. Ketika kulontarkan pertanyaan itu, Emak akan mengulang-ulang jawaban yang sama.

"Aku bukan anak kecil lagi Mak. Tahun depan Aya sudah masuk sekolah menangah atas, Mak. Aya tahu Emak menyimpan sesuatu yang tak pernah Aya tahu. Ada apa 'sih' sebenarnya?" Nada suaraku sengaja kubuat lebih tinggi.

"Aya! Kapan kamu belajar tidak sopan seperti ini! Mau jadi anak apa kamu, membangkak Emak dan Bapak?" Wajahnya merah padam. Tubuhku bergetar mendengar perkataan Emak seperti itu. Perasaan bersalah langsung menjalari tubuhku, bodohnya diriku, sempat-sempatnya aku melontarkan pertanyaan tanpa berpikir dulu.

"Kalau Emak bilang Abahmu lagi cari uang, sibuk sebagai bos di ibu kota, itu berarti Abahmu sibuk! Tahu kamu?!" Sekali lagi tubuhku berguncang. Aku tak berani menatap wajah Emak, lemas sudah.

Sejak pertanyaan bodohku terlontar dan membuat Emak sakit hatinya, aku semakin sering melihat Emak berwajah nanar, menatap kosong. Tidak hanya ketika duduk di ruang tengah, tetapi pernah kulihat juga di teras rumah dan di kamar tidurnya. Bahkan aku melihat Emak duduk dengan sepiring nasi di depannya, tidak disentuh, hanya menatap lamat-lamat 'handphone' baru yang Abah kirimkan dari ibu kota provinsi. Lebih menyedihkannya lagi, Emak meneteskan air mata yang tak pernah ia susut saat menyentuh pipinya, yang tak pernah ia hapus sampai jatuh mengenai meja makan.

Aku tak tahu apa yang ada di pikiran Emak saat itu. Semakin hari, hubunganku dengannya semakin renggang. Trauma dengan pertanyaan bodoh itu, aku tak pernah lagi bertanya apa pun tentang Abah, ataupun tentang perasaan Emak. Rumah ini seperti rumah kosong dengan beribu kemurungan. Aa hampir dua tahun bekerja menjadi kernet bus antar kota antar provinsi. Dia sudah menemukan dunianya sendiri dan hanya hitungan jari dalam sebulan pulang bercengkerama dengan kami.

(Bersambung ...)


#OneDayOnePost



*) pinggan besar yang cekung dan bertepi (biasanya terbuat dari logam kuningan)



<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    





Categories: , ,

0 komentar:

Post a Comment