:::: MENU ::::

Bagian 7 -- Hujan November

Kalian pernah merasakan bagaimana dikhianati? Ketika hati kalian benar-benar dicurahkan kepada seseorang, dengan berbagai halangan dan pengorbanan, tiba-tiba orang itu berpaling, tidak lagi memberikan hatinya kepada kalian. Bagaimana rasanya?

Orang kebanyakan akan sakit hati. Manusiawi. Terlebih bagi seorang perempuan yang memang memiliki hati yang mudah rapuh. Orang yang dikhianati setelah lebih dari sepuluh tahun memberikan cinta dan kasih sayangnya. Sedang orang yang berpaling adalah Abah.

Aku nekat berangkat ke ibu kota provinsi. Emak tidak tahu keberangkatanku. Kalian tahu, aku bukan orang pemberani. Keseharianku hanyalah membaca buku, berangkat sekolah, mengerjakan tugas, lalu berdiam di dapur membantu Emak mencuci pakaian. Tidak pernah sekalipun nongkrong di warung Yuk Darmi sepulang sekolah, atau pergi ke kota "mencuci mata" di mall-mall yang semakin menjamur. Atau berlagak menjadi anak gaul, menikmati secangkir kopi Café Upnirmala, berpakaian mengikuti trend masa kini.

Hanya Emak yang masih berdiam di rumah. Setiap hari selalu memandang kosong tanpa pernah berbicara apa yang mengganjal hatinya. Apakah seorang yang begitu tegar tetap akan tegar jika beban di pundaknya semakin berat, isi pikiran di kepalanya semakin penat, tanpa pernah berbagi kepada orang lain. Setidaknya berbagi kepada seseorang yang dipercayainya. Kenapa pula ada orang yang terkena stroke atau menderita depresi. Bukankah orang-orang yang mengalami gangguan itu karena tak mampu menahan beban deritanya.

Keberanianku tumbuh dari amarahku yang membuncah. Emak yang begitu baik hati, anggun, tak pernah meminta apa-apa kepada suaminya. Emak yang selalu menjadi seorang pendiam, tanpa mampu berkata atau mencurahkan isi hatinya, diperlakukan tidak adil akan hubungan cintanya. Apakah aku masih menyayangi lelaki paruh baya yang bernama Warta itu? Apakah aku masih menaruh hormat kepada Abah, yang katanya telah menjadi kaya raya karena Suciati Shoes-nya?

Akhirnya pada akhir pekan, aku mengarang cerita kepada Emak. Sekolah akan mengadakan perkemahan Sabtu-Minggu dan diadakan di kota kabupaten. Seluruh siswa sekolah menengah atas tingkat pertama wajib mengikutinya sebagai latihan dasar menjadi bantara. Emak memberi akhirnya memberi izin setelah berbagai syarat yang harus dipenuhi. Beruntung teman-teman dari kampung sebelah membantu, membujuk Emak bahwa acara tersebut sangat penting dan mereka menjamin bahwa aku akan baik-baik saja.

***

Suasana terminal angkutan desa tidak seramai di kota. Bahkan cenderung sangat sepi. Hanya satu dua minibus yang berhenti di terminat itu. Menunggu penumpang yang tak seberapa banyaknya. Supir minibus berteriak-teriak merayu para calon penumpang, dengan gaya lama, Ciawi, Luragung, mobil terakhir. Masih kosong, ayo neng. Supir lain dengan minibus berbeda warna tak kalah kencang dengan supir pertama. Cikijing, Cikijing, langsung berangkat. Enggak ngetem, lewat Sumber.

Tak kuhiraukan semuanya, karena memang tujuanku bukan angkutan pedesaan itu. Sebelum tengah hari aku akan bertemu seorang laki-laki yang pernah sangat dekat. Bertahun-tahun dia menjauh entah kemana. Hanya ada kabar samar-samar dari sesama supir bahwa dia berada di Jakarta. Pada waktu lain dia sedang berada di Semarang, ikut seorang supir bis Semarang - Solo - Jogyakarta. Dia akan membawaku berangkat menuju ibu kota provinsi. Dia akan memepertemukanku dengan Abah yang sudah lama tak pulang juga. Dan aku akan memastikan apakah hubungan Abah dan Emak akan baik-baik saja atau putus di tengah jalan.

Rintik mulai membasahi kepala. Langit hanya berhias mendung yang pekat. Birunya tak tampak sedikit pun. Hujan akan segera turun. Mungkin kali ini akan sangat deras. Televisi mengabarkan kota-kota di Jawa Tengah diserang hujan dan angin puting beliung. Juga di selatan Jawa. Bulan November ini cuaca hampir merata di seluruh Jawa: hujan di sore hari sampai malam dengan intensitas yang tinggi dibarengi angin kencang. 

Sebuah minibus lain menderu, dari kejauhan mendekat ke arahku kini berdiri. Klakson berbunyi memperdengarkan nada-nada yang tidak asing didengar. Klakson yang kini sedang populer, bukan hanya satu atau dua bunyi toot tetapi berbagai nada. Anak-anak yang paling menikmati bunyi klakson itu, hiburan gratis. Jika bus datang melewatinya, mereka akan berteriak berloncatan telolet telolet. Para supir bus pun paham akan teriakan anak-anak kampung itu, segera membunyikan klakson yang bernada.

"Aya! Apa kabar...?!" Laki-laki yang tadi duduk di belakang kemudi meloncat turun dan berteriak kepadaku.

"A Rofaal...! Aya kangeeen!" Aku menghambur kepadanya, langsung menubruk tubuh laki-laki yang kini bertubuh bidang. Aku tak kuasa membendung air mata yang tumpah di bahunya. "Aa jahat! Aya kangen Aa. Kenapa tega meninggalkan Emak, A? Lihat Emak sekarang di rumah, tiap hari hanya melamun. Tak ada seorang pun yang menemani kecuali Aya." Banjir kata-kata dari mulutku tumpah ruah sedang laki-laki itu hanya diam, sesekali mengusap rambut dan pundaku.

"Aa tahu Aya, Aa tahu semuanya. Teman-teman supir setiap hari menceritakan tentang Abah. Mereka bercerita Abah sudah jarang pulang ke rumah, Abah pergi ke Eropa. Juga dari teman supir, Aa tahu bahwa Abah sekarang mempunyai perempuan lain." 

"Lalu, kenapa Aa tidak pulang ke rumah?" Begitu kaget mendengar kakak kandungku bercerita seperti itu. Setengah membentak aku bertanya kenapa dia tidak pernah pulang ke rumah.

Sangat panjang untuk menceritakannya dari awal. Kakakku takut jika dia pulang ke rumah, dia akan meluapkan emosinya dan kemungkinan bertengkar hebat dengan Abah. Dia pun tak pernah pulang dan tak pernah menceritakannya kepada Emak, karena dia tidak ingin Emak bertambah sedih. Dan kaget mendengarnya. 

Kini, cepat atau lambat Emak akan tahu semua cerita tentang Abah. Ada penyesalan yang tak pernah bisa diulang, kakakku tidak bercerita saat itu. Toh, Emak akan tahu pada akhirnya. Penyesalan yang terlambat, dan kini tinggal menunggu kisah sendu yang akan diterima oleh keluarga kami.

***

Hujan semakin lebat. Mobil melaju menerobos jalanan yang buram karena terhalang kabut dari celah-celah cadas pegunungan. Jalanan bergelombang yang kami lewati tepat di tepi jurang. Kalian akan takjub melihatnya. Tiang-tiang beton sebagai penyangga hanya diletakkan di tebing-tebingnya. Kalian pernah melihat penghalang air hujan di atas jendela? Seperti itulah rupa jalan Cadas Pangeran, hanya menempel pada bebatuan raksasa sebagai temboknya.

Cadas Pangeran yang tersohor itu menjadi saksi babak baru kisah seorang perempuan tangguh. Kisahnya yang semakin sendu. Pikiranku semakin menerawang, entah kemana kukirimkan. Aku tahu, seharusnya pikiran ini kukirimkan ke langit, kuadukan semua marah dan kecewaku kepada Tuhan. Tidak selalu begitu. Bahkan terkadang aku tak tahu aku memanjatkan do'a kepada siapa, bahkan aku setengah sadar apakah keluhku ini benar-benar tulus untuk memohon pertolongan-Nya.

(Bersambung ...)



<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    





0 komentar:

Post a Comment