:::: MENU ::::

Bagian 8 -- Air Mata

Laki-laki itu menghardik, "Saha manéh, wani-wani mamatahan aing! Manéh geus méré naon ka aing jiga nu geus bener.*)" Tangannya menunjuk lurus kepada pemuda yang berdiri di dekatku.

Matanya membesar seakan ingin menerkam lawan bicaranya, "Balik siah ka lembur manéh, ulah wani-wani nempo aing di dieu.**)"

Hardikan yang membuat pemuda itu bergeming. Tangannya mengepal menahan emosi yang membuncah. Tubuhnya bergetar tatkala dia dikatakan manéh geus méré naon ka aing, kamu sudah memberi apa kepada saya. Perkataan yang menghinakan dirinya. Terang saja pemuda itu emosinya tersulut dan balik membentak laki-laki tak berperasaan itu.

Hanya berjarak sepelemparan batu, dia tendang jojodog***) yang biasa dipakai karyawan memperbaiki sol sepatu. Suara gelontrang lempengan seng beradu dengan potongan kayu membuat suasana bertambah tegang. Keduanya tak terkendali. Orang-orang di sekelilingku hanya menatap, menjaga jarak tak berani melerai. Hanya sekali dua kali mereka memperingati laki-laki pemilik toko itu agar menahan amarah. Namun sia-sia saja mereka menasihatinya.

Nafas memburu karena tersulut emosi sudah tak dapat dipadamkan. "Baheula Abah nu sok mamatahan urang, dulu Abah kan yang sering menasihati saya. Berbuat baik, jangan pernah mengkhianati siapa ...." Ucapan pemuda itu dipotong.

"Geus jempé sia! Sudah diam kamu!" Laki-laki yang dulu selalu berkaus setengah usang dan bersandal jepit, kini wajah sangarnya mendamprat seorang pemuda yang memanggilnya Abah. "Sekali lagi kamu bicara tentang Abah, saya gampar kamu!"

Wajah pemuda yang tak lain adalah orang yang paling kusayangi itu semakin menyiratkan kebencian. Aku tak kalah marah melihat Abah berubah menjadi laki-laki yang kukenal lagi kebersahajaannya. Marahku hanya kulamipaskan dengan deraian air mata dan isak tangis. Emosiku begitu tak karuan: marah yang teramat marah bercampur dengan kesedihan dan rasa kasihan kepada Emak di kampung.

Baru sekali melangkah, aku menahan tangan Arrofal, disusul beberapa orang di sekitarnya, agar tidak mendekat kepada Abah. Bagaimanapun kemarahan yang kurasakan jika dia sampai menggunakan fisik kepada Abah, keadaannya tidak akan pernah menjadi lebih baik. Malah sebaliknya. "Sudah Aa, sudah! Lebih baik kita pulang saja." Ternyata aku masih bisa berbicara, walau dengan suara tertahan gemetar, antara marah dan takut.

"Tapi, Aya ...."

"Sudah! Sudah cukup. Aya tahu A, Aya tahu kita semua sedih. Aya tahu Aa marah melihat Abah seperti itu. Kasihan Emak di kampung." 

Entah darimana datangnya energi itu, aku menjadi lebih tenang. "Jika menurutkan nafsu Aa, kita akan lebih terpuruk. Kita bisa disalahkan dengan alasan menganiaya. Aya tidak ingin keluarga kita bertambah terpuruk." Kata-kata yang keluar dari mulutku bisa tertata dengan baik.

***

Awalnya epergianku dari kampung Sindang Agung menuju ibu kota provinsi bukan untuk menerima kenyataan pahit seperti ini. Aku bersama Arrofal, kakak sulungku hanya ingin bertemu Abah. Itu saja.

Ketika bertemu pertama kali di terminal, Aa memang telah bercerita tentang Abah sedang dekat dengan perempuan lain. Dan aku membuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak mungkin, batinku, bagaimana selama ini mengenal perangai Abah di kampung. Apakah mungkin seorang ayah dengan kebersahajaannya berubah sedemikian rupa, berbalik seratus delapan puluh derajat, menjadi seorang pengkhianat. Menjadi seorang yang melupakan anak istrinya di kampung.

Akhirnya kami menemukan Suciati Shoes setelah menelusuri tempat-tempat di ibu kota provinsi. Kakakku sedikit kewalahan. Walaupun dia sering bepergian membawa mobil antar kota antar provinsi, tetapi untuk berjalan di ibu kota provinsi dia tidak tahu sama sekali. Dari Cileunyi, kami tidak mengambil jalan lurus ke arah jalan bye pass Soekarno Hatta. Kami membanting stir ke arah kanan, masuk daerah Ujung Berung, kampus IAIN Sunan Gunung Djati****), melewati penjara Sukamiskin, Manglayang, sampai ke terminal Cicaheum.

Jarak yang kami tempuh cukup jauh, karena dengan masuk daerah Ujung Berung sampai Cicaheum berarti kami menempuh jalan memutar, hampir tiga kali lipat dari jarak yang seharusnya. Dari terminal kembali mengambil arah kiri, masuk ke jalan Kiaracondong. Setelah menemukan perempatan Binong, mengambil jalan Gatot Subroto, Simpang Lima, jalan Asia Afrika, Alun-alun, lalu berbelok dari Alun-alun mengambil jalan ke arah terminal Leuwipanjang.

Orang pertama yang menyambut kami adalah seorang perempuan berambut pirang. Dia menggunakan atasan dengan anggun serta rok setengah lutut. Wajahnya dipupuri bedak dan usapan tebal merah jambu. Dari kejauhan perempuan itu sangat cantik, ditambah cara berapakaiannya modis, sudah barang tentu banyak laki-laki akan tertarik kepadanya.

Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui siapa perempuan itu sebenarnya. Ketika kami jelaskan kami berasal dari kampung Sindang Agung, kaki Gunung Ciremai, wajah perempuan itu terperangah. Apalagi ketika aku menyebut laki-laki yang bernama Warta itu sebagai Abah. 

"Maaf, ibu di sini sebagai apa?" Aku bertanya menyelidik.

"Jangan panggil ibu, panggil aja Tétéh.*****)." Sambil mengulurkan tangan menyalamiku.

Spontan aku menerima uluran tangannya dan merasakan genggaman yang kaku. "Teteh karyawan di sini?"

"Karyawan? Oh, tentu saja bukan!" Nada suaranya sengaja meninggi. "Kamu tidak bisa membedakan ya. Tidak ada karyawan secantik diri saya. Dan lihat pakaian saya, kamu tidak bisa melihatnya, gadis kecil?"

"Jawab saja pertanyaan adikku. Tidak usah bertele-tele seperti itu." Kakakku yang sedari tadi diam, mulai tak sabaran.

"Kasihan sekali kalian ini. Masih sangat muda, tampang pada lusuh, masih mengharap diaku sebagai anak dari Pak Warta." semakin tampak sifat asli dari perempuan di hadapan kami.

Bukan rasa malu yang ia rasakan, bukan juga rasa bersalah. Perempuan itu malah merasa bangga dengan kedudukannya sekarang ini, sebagai istri sah Warta. Kami tak pernah percaya dengan apa yang kami dengar. Rasanya hujan yang menemani kami sepanjang perjalanan adalah air mata para malaikat yang mengiringi kami. Air mata beribu malaikat pencatat amak baik yang ikut bersedih menyaksikan dari langit, perjalanan dua orang manusia menjumpai hulu sungai kesedihannya.

Kalian bisa merasakan apa yang ada dalam hatiku? Kalian bisa membayangkan seorang yang sangat kalian cintai, dengan kasih sayangnya, senyumannya membuat kalian hangat dan nyamat, hidupnya yang bersahaja. Lalu, karena berlimpah harta yang ia terima, perangainya berubah, menjadi seorang yang sombong dan bertingkah sebagai pengkhianat terhadap orang yang dulu ia sayangi. Pengkhianat terhadap orang-orang yang selalu menerima ia apa adanya, selalu hormat dan menuruti apa yang dikatakannya.

(Bersambung ...)



*) Siapa kamu, berani-beraninya menasihati saya! kamu sudah ngasih saya apa seperti orang yang benar saja.

**) Pulang sana ke kampung kamu, jangan berani bertemu muka lagi dengan saya di sini.

***) jojodog = bangku kayu berukuran kecil, biasanya hanya tersusun dari tiga bilah kayu, dua kaki, dan satu bagian atas untuk duduk.

****) Kini bernama UIN Sunan Gunung Djati, salah satu universitas agama Islam paling terkemuka di Indonesia

*****) Tétéh, sebutan kepada kakak perempuan dalam budaya Sunda



<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    







0 komentar:

Post a Comment