:::: MENU ::::

Bagian 9 -- Padang Ilalang

Sore menjelang. Menyisakan butiran debu dari tanah lapang. Tidak sulit menemukan gerombolan bocah-bocah bermain riang. Berlari-larian, bermain petak umpat, berlompat tali, dengan sandal usang. Anak-anak lelaki bermain bola kaki dengan pohon pisang sebagai tiang. Kampung kami lebih dari cukup menyediakan tanah lapang. Berbeda dengan di perkotaan dimana tanah-tanah habis hanya untuk para bandar berdagang. Para tetua dan pemilik asli tanah terkadang hanya mengeluh pusing bukan kepalang.

Lembayung yang mulai menyemburat di ufuk barat begitu syahdu dipandang lamat-lamat. Boca-bocah mulai membereskan sendal-sendal bututnya dipanggil emaknya untuk mandi dan sembahyang. Tinggal padang ilalang yang tak pernah protes dirinya diinjak setiap sore. Merelakan sakitnya dihimpit kaki-kaki kapalan hanya untuk kegembiraan bocah-bocah itu. Jika tak ada ilalang, tanah mengeras jika lama tak disiram hujan, membuat 
bocah-bocah lebih was-was bermain karena jika terjatuh bisa membuat luka yang menganga.

Kami sekeluarga adalah ilalang. Kalian tentu tahu seperti apa ilalang. Salah satu jenis rerumputan yang banyak dijumpai di manapun kalian berada. Pada tanah subur, ilalang akan tumbuh subur. Sedang pada tanah kering kerontang ilalang akan tetap tumbuh. Pada bebatuan tepian sungai yang lembab, pada sawah-sawah yang mulai menguning, pagar-pagar bambu, dan pada taman-taman indah di teras rumah pejabat. Dimana pun ilalang akan selalu tumbuh, dalam kondisi cuaca seperti apa pun. Jika kemarau tiba, ilalang mengering, seperti mati kerontang. Padahal ilalang tetap tumbuh, dengan akar yang menjurai di dalam tanah.

Pesantren adalah sekolah keduaku, ketika menginjak bangku sekolah menengah pertama. Di pesantren, kami mendapatkan pelajaran tentang filosofi ilalang. Ilalang adalah hamparan yang selalu tumbuh. Akarnya bergerilya di dalam tanah, membentuk jalinan yang kuat, memunculkan harapan bari di setiap tempat beribu alamat. Dari tanah hingga sela bebatuan, dari hutan sampai celah peradaban. Ia tumbuh dalam segala cuaca, bertahan dari keganasan alam. Rimbunan ilalang memendam sebuah semangat hidup. Batangnya meliuk-liuk ketika hempasan angin mendera.

Sungguh khidmat filosofi ilalang. Entah darimana asalnya, entah kitab kuning, entah ucapan dari seorang kyai. Lalu, Ilalang yang sedang tertiup angin, sekeras apa pun angin menerpanya, sesegera mungkin ia berusaha untuk tegak kembali setelah tiupan angin berhenti.

Sekarang, ibarat ilalang itu adalah keluargaku dan angin adalah ujian kehidupan. Seberat apa pun cobaan, masalah, musibah yang kami --Emak, Arrofal, dan aku-- terima, kami selalu dapat berdiri dan teguh, tidak patah arang dalam menjalani hidup.


Kami adalah padang ilalang.

***

Hampir dua tahun berlalu, ketika kami --aku dan Arrofal, kakakku-- bertemu dengan Abah dan Wilet, istri kedua Abah yang angkuh. Kesibukanku hanya membantu Emak berjualan nasi kuning di pagi hari, dan kue-kue basah pada sore hari sampai malam harinya. Lumayan untuk biaya keperluan sehari-hari. Aa kini lebih sering pulang, membawa banyak uang dan terkadang barang-barang kesukaan Emak: kain batik Pekalongan.

Emak tak pernah mengobrol tentang Abah lagi. Kami pun tanpa terucap, seakan sepakat, telah melupakan Abah dan tak akan pernah menyinggungnya lagi dalam obrolan apa pun. Sesekali tetangga kami tetap menanyakan tentang Abah. Dan Emak hanya menjawab lirih, Kang Warta mah tos lami teu di dieu deui. Nuju milarian kembang nu langkung seungit. Manéhna mah nyaba ka dayeuh salamina.*) Begitu bijak seorang perempuan yang berkorban puluhan tahun mendampingi kekasihnya. Walau pada akhirnya sang kekasih, yang tidak lain adalah suaminya, pergi dengan meludah kepedihan di hati Emak.

Kalian pernah pergi ke bagian timur kaki gunung Ciremai? Mungkin kalian sekali-kali harus berkunjung ke desa kami yang memang terletak di bagian timur kaki gunung. Di desa kami, Sindang Agung, matahari sore begitu indah. Aku bahkan yakin bahwa kelak kalau kita di surga, pemandangannya akan secantik ini. Bagaimana matahari merayap terbenam. Langit biru menjadi latarnya dan perlahan berubah menjadi semakin jingga.

Siluet gunung Ciremai seakan berupa bayang-bayang sebuah piramida, menyembul dari ujung horizon, tegak gagah bagaikan raksasa. Matahari semakin terbenam, bersembunyi di balik bayang piramida itu. Begitu indah. Jika kalian mendongak, menatap langit, bersamaan dengan matahari yang tinggal seperempat dibalik siluet piramida, beratus cahaya bintang gemerlap tepat di atas kepala. Kombinasi warna hitam, biru gelap, putih terang, jingga, putih kekuningan yang menyilaukan berpadu serasi dengan komposisi yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.

Kalian tahu kenapa, kerlip bintang sudah muncul, padahal matahari belum sepenuhnya tenggelam?

Pada dataran tinggi seperti desa Sindang Agung tempat aku berdiri sekarang, bintang akan terlihat jauh lebih jelas dibanding dataran rendah. Begitu pula jika berada di permukaan laut atau di pantai. Ditambah lagi, di desa kami penerangan lampu malam tidak segemerlap lampu perkotaan yang akan memengaruhi penampakan ribuan cahaya bintang malam hari.

***

Padang ilalang desa Sindang Agung telah diselimuti malam yang menusuk tulang belulang, membuat gigi bergemeretuk. Sebantar lagi embun akan membasuh luka-lukanya sore tadi. Beratus serangga malam bermunculan serempak. Mereka berlomba mendapat makanan yang melimpah di padang ilalang desa kami.

Siklus kehidupan terus berjalan seiring musim yang berganti. Serangga-serangga malam pun akan berdatangan sesuai musim. Cuaca akan berubah, aliran air tak pernah sama derasnya, langit yang berhias awan berarak pun ikut-ikutan berganti. Namun padang akan ilalang terus tumbuh, menyediakan makanan bagi penghuninya.

(Bersambung ...)

#OneDayOnePost


*) Kang Warta sudah lama tidak tinggal di sini. Dia sedang mencari bunga yang lebih harum. Dia sudah merantau ke kota selamanya.



<< Cerita Sebelumnya         


1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    





0 komentar:

Post a Comment