:::: MENU ::::
One Day One Post, ODOP, menulis, Cirebon

Bagian 1 -- Keluarga Bahagia


Desahan hembusan napas lega menyeruak dari orang-orang yang mengelilingiku. Ucapan syukur dan wajah-wajah bahagia di sekelilingku seakan mereka baru saja mendapat hadiah yang sangat besar. Malam semakin kelam, tetapi tidak menghalangi orang-orang ingin melihat wajahku dari dekat. Sebagian bahkan memeluk dan mencium keningku, sebagian lainnya mencubit pipiku..


Entah kenapa setiap bayi yang lahir selalu menangis. Konon katanya para bayi tidak rela keluar dari rahim ibunya, tempat paling hangat dan nyaman di alam raya, menuju tempat yang penuh hiruk pikuk dan segala kerusakan terjadi. Jika makhluk mungil itu menangis keras, sebaliknya dengan orang di sekitar mereka, tertawa lepas, bahagia tidak terkira. Satu dari dua tanda manusia husnul khatimah.


Aku sendiri tak pernah meminta dilahirkan dari rahim seorang ibu. Tak pernah punya keinginan lahir di suatu tempat yang menurutku nyaman buat aku tinggali. Dan hal itu sama saja buat semua manusia di muka bumi ini. Takdir telah menentukan jalan hidupnya masing-masing tak pernah ada yang tahu kenapa mereka dilahirkan dari keluarga ini atau dari keluarga itu. Yang aku tahu, keberuntungan selalu menyertaiku, karena terlahir dari keluarga yang bahagia dan bersahaja.

Sebelum matahari menyembul ayahku sudah pergi ke pematang, membawa cangkul dan arit. Selalu saja mencium keningku dan berbisik Aya, Abah angkat heula nya geulis. Ulah ameng kamamana, bisi digégél babaung. Sing bageur nya...*). Aku tak pernah mengerti apa yang diucapkan Abah**) waktu itu. Tapi dari wajahnya aku tahu Abah selalu gembira mengatakannya. Lalu Emak***) akan mengantarkan rantang selepas adan Dzuhur. Menyusuri tepian aliran irigasi, melewati kebun jagung, antiran bebek digiring pemiliknya, dan menemui Abah di saung. Abah akan melahap semua nasi dan lauk, lalab dan sambal yang disediakan Emak. Emak sendiri selalu setia menemani Abah sampai makannya selesai. Aku sendiri terkadang digendong Emak ikut ke pematang. Seringnya aku hanya menunggu di rumah ditunggui kakak laki-lakiku.


Kami hidup bersahaja. Abah dan Emak selalu mengajari kami hidup hemat, makan ketika lapar, minum ketika haus. Membeli sebuah barang jika memang membutuhkannya, bukan menginginkannya. Abah menggarap sawah, hasil panennya melimpah dan itu bukan sawah milik Abah. Abah hanya menggarap sawah kepunyaan Pak Haji. Dari hasil panen Abah akan mendapat bagian seper sepuluhnya. Tubuhnya yang kekar membidang, membuat Abah tampak gagah jika berjalan. Sebenarnya banyak perempuan yang menyukai Abah. Bahkan Pak Kades pernah bertanya kepada Abah, apakah bersedia menikah dengan anaknya.


Nyatanya, Abah hanya memilih Emak, sosok perempuan pemalu, berasal dari keluarga papa, anak tunggal, kedua orang tuanya pun sudah meninggal. Emak adalah kembang desa di daerah kami. Ilmu agamanya diakui orang-orang desa, sejak dulu berguru langsung kepada Pak Haji. Itulah yang membuat Abah cinta setengah mati kepada Emak. Keduanya memutuskan menikah ketika usia keduanya belum genap dua puluh tahun.


Kami tinggal berempat --Abah, Emak, Aa, dan aku sendiri-- di sebuah desa yang kaya akan hasil taninya. Letaknya merupakan perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah, persis berada pada kaki Gunung Ciremai, salah satu gunung tertinggi di negeri ini. Sama seperti semua dataran tinggi, hawa pegunungan yang dingin hadir sepanjang tahun. Bahkan pada musim kemarau sekalipun kebanyakan orang akan malas pergi mandi jika hari masih pagi. Kami akan membasuh badan ketika matahari sudah sepenggalah tingginya.


Sungai-sungai dengan bebatuan besar di sepanjang alirannya, selalu menyediakan air segar yang sangat jernih. Membuat desa kami bagai hamparan permadani hijau sejauh mata memandangnya. Kandungan abu vulkanik Gunung Ciremai****) menjadikan tanah yang kami pijak subur bukan alang kepalang. Lihat saja hasil pertanian dari penduduk desa lainnya, termasuk padi yang Abah tanam, selalu panen berlimpah, selalu mendatangkan kegembiraan bagi semua. 


Kakakku satu. Laki-laki. Aku memanggilnya Aa. Sama jika di daerah Betawi dengan abang, atau di Jawa menyebutnya kangmas. Hanya terpaut empat tahun ketika orang-orang terlihat bergembira dengan kehadiranku di dunia ini. Di masa datang, dialah sosok yang sangat menyayangiku. Dialah sosok laki-laki yang menggantikan peran ayah, teman, bahkan menggantikan peran ibu ketika semua menghilang dalam diriku. Jika kalian bertanya, bagaimana siapa pahlawan yang paling aku kagumi, aku akan menjawab: kakakku.


Aku sendiri baru tahu cerita di atas. Emak yang menceritakannya. Emak bercerita panjang lebar ketika mereka sudah berpisah. Cerai. Emak memberi kisah itu ketika aku mulai beranjak remaja dan baru merasakan artinya cinta. Mungkin kalian akan mengatakan aku bodoh. Selama aku tinggal bersama Abah dan Emak, aku tak tahu bahwa ada seorang perempuan lain yang hadir di dalam keluarga. Seseorang yang kelak membuat retaknya hubungan Abah dan Emak. 


Sesosok perempuan yang, menurutku begitu cantik dan memesona, pandai merayu dan berpantun, sehingga Abah yang sangat mencintai Emak akhirnya luluh juga, menerima perempuan itu menjadi bagian dari dirinya. Sayangnya, Abah tidak sadar bahwa perempuan perayu itu memiliki kecantikan di luarnya saja. Tidak dengan hatinya.


Dari sinilah kisah ini dimulai. Sebuah kisah tentang arti sebuah pengorbanan. Sebuah kisah tentang sosok perempuan hebat, yang berani menghadapi sendiri akan kerasnya kehidupan, menghadapi berbagai pengkhianatan dan rasa sakit yang datang kepadanya secara bertubi-tubi.


(bersambung ...)



*) "Aya, Ayah berangkat ya cantik. Jangan main kemana-mana, nanti digigit anjing hutan. Jadi anak baik ya..."


**) Panggilan kepada Ayah dalam budaya Sunda


***) Panggilan kepada Ibu dalam budaya Sunda


****) Konon pernah meletus pada pertengahan tahun 1937, selama tujuh bulan tanpa henti




1    2    3    4    5    6    7     8    9    10     11     12    





3 comments: