:::: MENU ::::

Coba bayangkan kalian sedang berdiri di atas sebuah batu kecil yang berada di tengah-tengah aliran sungai. Batu itu licin, berlumut, karena bertahun-tahun tersiram air dari sungai tersebut. Sayangnya sungai itu begitu kotor, bau, kehitaman, tercampur sisa-sisa dari limbah pabrik kaum kapitalis borjuis. Lalu kalian disodorkan dua pilihan. Hanya ada dua pilihan: terjun mencemplungkan diri ke dalam aliran sungai yang bau dan kotor, ikut arusnya kemana pun menuju; atau tetap bertahan berdiri di atas batu dengan sisa tenaga yang ada, hanya berdiam di situ tanpa pernah bergerak selangkah pun.

Pilihan yang sulit tentu saja. Menceburkan diri ke sungai pasti akan membuat kalian bau dan kotor. Bisa jadi kalian akan terserang bakteri atau virus mematikan. Tapi jika tetap bertahan di atas batu, itu seperti kesia-siaan karena tak pernah ada kemajuan sedikit pun, padahal tenaga yang dibutuhkan cukup besar.

Pernahkah kalian mengalaminya?

Saya pernah! Cerita di awal tulisan ini hanya sebuah analogi. Pada saat diri saya berada dalam sebuah institusi atau lingkungan yang "tercemar", bau dan kotor. Institusi yang didiami oleh orang-orang culas, hanya berpikiran materi, hanya mengejar uang dan kekayaan, hanya mementingkan dirinya sendiri. Lalu saya berdiam disitu dengan setumpuk kewajiban. Kewajiban yang saya lakukan dengan sepenuh hati. Kewajiban yang memang diberikan bukan saya minta sendiri. 

Kewajiban yang saya pikul tidaklah ringan, tapi tidak berarti tidak bisa saya lakukan. yang saya butuhkan adalah support dan kerjasama dari komponen lain, dari bidang lain, dan dari orang-orang di dalam institusi tersebut.

Apa jadinya jika tiap orang di tempat itu masa bodoh dengan orang lain? Apa jadinya jika orang-orang di tempat itu hanya berpikiran apa yang menjadi tanggung jawabnya, itulah yang mereka lakukan, masa bodoh dengan kewajiban orang lain, padahal mereka bisa melakukan sesuatu agar semua program di tempat itu berjalan baik. Apa jadinya jika keberhasilan yang kulakukan tak pernah diapresiasi? Atau semua yang kuminta tak pernah diberi? Atau apa jadinya jika kesalahan yang kulakukan mereka hanya diam dengan senyum tersungging dan perasaan gembira melihat kesalahanku?

Akhirnya saya berpikir buat apa tetap berdiri di atas batu licin jika pada akhirnya tidak ada perubahan, hanya berdiam tanpa ada perubahan apa pun. Lebih baik saya menceburkan diri ke sungai itu, peduli amat dengan bau dan kotor. Peduli amat.

aku penjaga hutan

dalam senyap menyendiri

pagi yang muram, semuram fauna 

tatkala belantara dibabat habis para serakah

kawanan kera mencakarku

para pendaki bersungut-sungut, 
menatapku dengan sebal

hanya orang-orang di kaki
yang diam 

sembari tersenyum sinis

penuh sukacita melihat diriku



#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment