:::: MENU ::::

Akhirnya selesai juga membaca Hujan, pada saat hujan mengguyur deras jalanan di depan rumahku. Kalian tahu Hujan? Kalian pernah membaca Hujan? Atau sama seperti diriku, membaca Hujan tepat saat hujan turun?

O iya, tentu saja. Jika kalian penggemar Tere Liye, kalian akan tahu Hujan. Kata Hujan yang kumaksud adalah sebuah judul buku karyanya. Sebuah novel yang sangat inspiratif, setidaknya bagi diriku. Tepat ketika aku menyelesaikan membaca buku itu, aku langsung teringat pada pertanyaan psikotes sederhana yang sering kuberikan kepada anak-anak didikku. Biasanya ketika ada seleksi anggota baru, maka aku lontarkan sebuah pertanyaan yang bertujuan untuk mengetahui jalan pikiran anak-anak tersebut. Pertanyaan itu pun akan mengetahui seberapa besar jiwa pengorbanan yang mereka miliki.

Pertanyaannya sederhana, dan dimulai dari sebuah cerita:

"Bayangkan kalian sedang berada di sebuah tempat yag sedang dilanda bencana. Anggap aja itu sebuah bencana alam gunung meletus. Di tempat itu hanya ada sebuah motor serta tersisa empat orang, seorang nenek yang sudah tua renta, seorang dokter ahli, dan seseorang yang sangat kalian sayangi. Satu orang lagi, tentu saja diri sendiri.

Tidak lama lagi tempat itu akan terkena letusan gunung, tidak akan ada yang selamat. Satu-satunya cara adalah dengan mengendarai motor yang hanya bisa dinaiki oleh dua orang saja, ke tempat teraman yang letaknya cukup jauh. Kalian hanya mempunyai kesempatan satu kali perjalanan menuju tempat teraman tadi, dan kalian sampai di sana, tempat itu sudah luluh lantak terkena bencana.

Nah, apa yang akan kalian lakukan?"

Pertanyaan yang sulit memang. Banyak diantara anak-anak yang menerima pertanyaan, diam cukup lama untuk memikirkan jawaban. Sebagian diantaranya memilih membawa nenek renta dengan alasan sebagai orang tua, harus menghormati dan mengabdi kepada yang sudah lebih tua, apalagi nenek-nenek.

Sebagian anak lain memilih membawa motor dan membawa orang yang sangat mereka sayangi ke tempat teraman. Wah, kalau begitu egois donk, hanya memikirkan keselamatan diri sendiri dan kekasihnya. Padahal di sana ada orang tua dan seorang dokter ahli. Kenapa tidak membawa dokter itu saja?

Lalu, beberapa anak memilih membawa motor beserta dokter tersebut dengan alasan agar bisa menyelamatkan para korban lain di tempat pengungsian. Pasti dalam situasi itu dokter sangat dibutuhkan.

Tapi jarang sekali dari sekian ratus anak yang kutanyai memilih jawaban terakhir.

Pada akhir cerita "Hujan" terjadi situasi yang akan memusnahkan manusia di bumi, yaitu suhu panas ekstrim. Jalan keluar satu-satunya adalah membuat sebuah "kapal" (seperti pesawat ruang angkasa) super besar. Kapal itu akan membawa sepuluh ribu orang saja. Melalui sistem acak, maka ditentukan siapa saja yang berhak menaiki kapal dan melanjutkan hidup di ruang angkasa dengan selamat.

Orang-orang yang tidak terpilih menaiki kapal itu sudah pasti tidak akan selamat. Nah, di empat halaman terakhir diceritakan bahwa Soke Bahtera (kekasihnya Lail, dan Soke juga amat menyayanginya) mendapat dua tiket untuk menaiki kapal tersebut. Artinya dia sendiri akan berangkat dan dia akan mengajak satu orang sehingga akhirnya bisa selamat dari kepunahan manusia di bumi.

Konflik batin yang terjadi adalah Soke hanya bisa memilih satu orang lagi. Padahal di sana ada kedua orang tua angkatnya (seorang Wali Kota yang sangat berpengaruh), adik angkatnya Claudia (seorang perempuan muda, cantik, pintar, cerdas, dan supel), masih muda dan sangat pintar, ibu kandungnya yang sudah sepuh, dan satu orang lagi, tentu saja sosok Lail, kekasih pujaan hatinya.

Pada akhir cerita ternyata Soke tidak memilih siapa pun untuk satu tiket tersisa yang dia pegang. Dia memilih untuk bersama kekasihnya, Lail, berdiam di bumi, menikmati kebersamaan selamanya, sampai kepunahan akibat suhu panas ekstrim itu terjadi. Dua tiket yang Soke pegang, ia serahkan kepada ibunya dan kepada Claudia. Ibu sebagai orang tuanya yang sudah sepuh itu akhirnya selamat dari bencana. Sedangkan Claudia sebagai sosok muda dan mempunyai masa depan akan melanjutkan hidupnya di kapal dengan segala potensi yang dimilikinya.

Tapi kembali ke pertanyaan psikotes di atas, jarang sekali dari sekian ratus anak yang kutanyai memilih jawaban terakhir. Yaitu memilih dokter ahli itu membawa motor dan membawa nenek renta menuju tempat terdekat agar bisa selamat. Jarang sekali anak yang memilih dia akan menikmati sisa hidup bersama kekasih yang amat dicintainya. Apa pun yang terjadi tentu saja dia tidak akan selamat, namun akhir hayatnya adalah bersama kekasihnya.


#OneDayOnePost

0 komentar:

Post a Comment