:::: MENU ::::

Pintu depan diketuk. Suaranya membuyarkan lamunanku. Entah siapa yang datang di tengah terik seperti ini. Mengganggu saja.

"Sampurasun!"1) Ketukan pintu masih terdengar berulang-ulang.

"Rampees."2) Aku bangkit dengan malas. Sarung butut yang sedari tadi diselempangkan di pundak terpaksa aku rapikan posisinya.

"Nyai aya, Juragan?"3) Perempuan tua itu setengah membungkuk bertanya canggung melihat diriku berkacak pinggang di ambang pintu.

"Teu aya, tidak ada." Sengaja suaraku dibuat ketus.

"Katanya Nyai mau bayar beras. Selasa kemarin bilang mau bayar hari ini. Sekarang saya datang ke sini tidak ada. Bagaimana ini?" Wajahnya terangkat. Ada rona merah yang mulai tampak.

"Kalau tidak ada mau apa? Apa saya harus mengambil uang di kotak amal musala, hah?"

Kepalaku semakin berat mendengar obrolan perempuan tua itu. Entahlah. Apakah aku harus marah untuk mengusirnya atau diam saja karena perempuan itu umurnya jauh di atas umurku. Bukan karena dia menagih janji istriku kepadanya yang membuat darahku naik. Bagaimana tidak pusing jika rentetan kejadian itu semakin membuat diriku terpuruk. Apakah sedemikian besarnya dosaku sehingga Tuhan begitu murka.

"Aya saha Bah?"4) Tiba-tiba dari dalam kamar istriku menghampiri diriku.

"Ada perempuan tua mencarimu, Ratih." 

Suara istriku begitu ringan mengobrol dengan perempuan tua itu. Mungkin di situlah kelebihannya. Setiap bertemu orang lain, siapa pun itu, dia selalu bisa membuat suasana menjadi menyenangkan. Tak peduli orang itu datang membawa masalah atau amarah, dia dengan santai akan mengajak bicara dan seketika masalahnya selesai tanpa membawa-bawa emosi yang meluap. Itulah kenapa aku tertarik dan jatuh hati kepadanya belasan tahun lalu.

Setelah sekian lama tidak ada percakapan, dia muncul dari dapur, membawa semangkuk mie goreng. Dia letakkan mangkuk itu di hadapanku, lalu duduk merapatkan tubuhnya.

"Ratih ...," setengah berbisik, kugeser tubuh agar tidak menempel dengan tubuhnya.

"Aya naon Bah? Ada apa Bah?" Wajahnya begitu teduh, namun aku tahu, di dalam hatinya menyimpan sesuatu yang tak akan pernah kumaafkan.

"Darimana uang kamu bayarkan pada perempuan itu?" Aku menyelidik.

"Kemarin Ambu5) ke rumah teman lama. Ambu pinjam uang untuk keperluan sehari-hari." Dia membetulkan posisi tubuhnya.

"Sebaik itukah temanmu itu? Itu bukan uang yang sedikit. Lalu bagaimana kita akan menggantinya?" 

"Saya bisa berjualan makanan atau mencucikan pakaian di Haji Badrun. Nanti bayarannya buat bayar utang." 

"Kamu jangan berbohong. Tinggal akui saja perbuatan kamu." Nadaku meninggi. Aku yakin dia telah berbohong. "Dosamu akan lebih ringan jika terus terang kepada suamimu sekarang."

"Maksudmu apa Bah?" Wajahnya mengerut. "Apa yang harus saya akui? Abah menuduh saya bukan-bukan!"

"Sudahlah Ratih! Kamu bisa berbohong sekali, tapi serapat apa pun menyembunyikannya kamu tidak bisa berbohong selamanya."

"Apa?! Abah punya bukti apa? Teganya mengatakan diriku berbohong!" Matanya mulai berkaca. Suaranya bergetar menahan emosi yang tak berani dia tumpahkan di hadapan suaminya.

***

Nikmat sekali rasanya. Langit membiru hampir sajauh mata memandang. Matahari bersinar hangat, menyelusup di sela-sela genting. Segelas kopi di meja tinggal ampasnya, ditemani piring kecil yang menyisakan satu pisang goreng. Angin seperti telah sepakat dengan matahari, bertiup lembut, agar suasana pagi ini begitu pas.

Beberapa figura foto tertempel di dinding bilik, selalu mengingatkan saat-saat yang membuatku begitu bahagia. Satu foto memamerkan senyuman lebar diriku, mengenakan jas hitam dan dasi menggandeng lengan perempuan cantik berbusana serba putih. Aku selalu ingat. Jas dan dasi yang kukenakan adalah hasil pinjaman. Seumur-umur aku tak pernah memiliki pakaian necis. Semua itu kuanggap barang mewah.

Aroma wangi menyeruak dari arah belakang. Bukan aroma kopi. Bukan pula aroma masakan seperti biasa ketika menjelang tengah hari. Rasanya tak pernah aku menghirup wewangian seperti ini. 

"Bah, Ambu berangkat dulu." Mengenakan pakaian terbaiknya, Ratih melangkah anggun duduk di sandaran tangan kursi yang kududuki.

"Mau kemana sepagi ini?" Tanyaku sekenanya.

"Abah tuh dari kemarin sarungan aja. Kaus sudah robek-robek masih saja dipakai," bibirnya bersungut. "Pergi kemana gitu. Main ke Haji Badrun, siapa tahu ada kerjaan yang cocok."

"Saya bertanya, bukan malah menceramahi seperti itu. Kamu mau kemana dengan pakaian seperti itu?"

"Ambu mau ke rumah Ceu Wati. Tahu kan Bah?" Tubuhnya semakin dirapatkan. "Itu tuh yang suaminya punya usaha héler.6)"

"Ya sudah, hati-hati di jalan." Ia mencium keningku dengan hangat. Ah, pagi ini benar-benar menyenangkan. Apalagi memiliki istri cantik dan baik hati seperti Ratih. 

Tak lama setelah istriku melewati ambang pintu, seorang kawan lama mengetuk pintu. Tanpa dipersilakan, dia langsung menghambur masuk. Senyumnya dibuat selebar dan seakrab mungkin.

"Kemana perginya istrimu, Kang?" Suaranya khas seperti seorang bos yang berbicara kepada anak buahnya.

"Ke rumah temannya. Biasalah perempuan, perlu refreshing." Aku menjawab sekenanya.

"Tidak ikut? Seperti istrimu itu, sekali-kali cuci mata, pelesir ke kota. Tiap hari saya lihat Akang hanya bersarung. Baju sudah kumal, sandal butut, tidak ada yang enak dipandang." Dia mulai merecoki diriku.

"Ah, diamlah kamu Kamad. Berisik." Aku angkat kaki, semakin merapatkan kedua paha mengenai tubuh. "Ada perlu apa? Kalau tidak keluar, tinggalkan saya sendiri."

"Punya pancingan Kang?"

"Tidak."

"Pancingan fiber yang kemarin dipakai di balong Jauhari mana?"

"Sudah dijual."

Mata Kamad membelalak. Lalu mengangkat pundaknya, "Ah, dirimu tak pernah berubah Lamsijan. Pemalas. Ya sudah kalau tidak punya. Saya pinjam pancingan Mang Darsam saja." Tanpa mengucap apa pun, Kamad membalikkan badan, keluar rumah dengan langkah cepat.

***

"Lamsijan! Lamsijan!" Bukan ketukan yang kudengar dari pintu depan, melainkan gedoran berulang-ulang. "Dimana kamu? Buka pintunya cepat!"

Siapa gerangan. Pak Haji belum juga pulang dari surau, orang ini tak tahu adat, tidak sopan, batinku. Tapi sepertinya suara itu tidak asing.

Sinar matahari menerpa wajahku ketika pintu dibuka. Menyilaukan. Sosok perempuan di hadapanku langsung menabrak tubuhku, bergegas masuk ke dalam rumah. Hampir tak kukenali wajahnya.

"Celaka Lamsijan. Celaka!" Suaranya melengking tinggi.

"Ada apa Ceu? Kenapa harus teriak-teriak?" Sambil merapikan letak sarung, aku berusaha tetap tenang.

"Istrimu, Si Ratih. Celaka."

"Celaka kenapa?"

"Dia pergi naik mobil."

"Memangnya kenapa?" Sambil berusaha tetap berperasangka baik.

"Si Ratih dipeluk seorang laki-laki. Dia, dia malah dicium pipinya."

"Ceu Narsih jangan sembarangan bicara. Tahu darimana istriku berbuat seperti itu?"

"Aku lihat sendiri Lamsijan. Aku lihat sendiri." Suaranya tetap melengking. "Di pasar. Kemarin di pasar, aku lihat sendiri!"

"Jangan dulu bicara yang tidak-tidak Ceu. Siapa tahu salah lihat." Perasaanku mulai berubah.

"Kamu boleh menganggap saya perempuan urakan. Perempuan yang tidak pernah pergi ke surau. Tapi buat apa saya berbohong?" Dadanya ditepuk sendiri, meyakinkanku agar percaya apa yang diomongkannya. 

"Ratih itu teman saya sejak kecil. Saya tidak bisa membiarkan dia berbuat dosa. Tidak bisa membiarkan istri tetangga saya berbuat seperti itu, Lamsijan."

"Ah, sudahlah Ceu Narsih." Kepalaku pusing. Perutku mual, mungkin karena memikirkan omongan Ceu Narsih.

"Terserah kamu, Lamsijan. Terserah." Dia hendak melangkah melewati ambang pintu, lalu menoleh kembali, "Tapi saya kasihan sama kamu. Ditipu perempuan cantik yang kelihatannya baik. Padahal tidak."

Lantai yang aku pijak tiba-tiba berputar, membuat tubuhku limbung. Aku melangkah tertatih, mencari pegangan. Benarkah apa yang baru saja diobrolkan Ceu Narsih. Atau bisa saja dia hanya ingin hubungan kami menjadi buruk.

***

"Baiklah kalau Abah menganggapku berdosa karena telah berjalan berdua dengan laki-laki lain." 

"Iya, kamu memang perempuan tak tahu diuntung!" Aku angkat telunjuk tepat di depan mukanya.

"Abah yang sebenarnya berdosa. Abah!" Suaranya tak kalah tinggi dibanding suaraku.

"Suami macam apa kalau tiap hari hanya berdiam di rumah. Suami yang membirakan istrinya menderita karena tak pernah mencecap kesenangan. Dosa itu Abah. Dosa!"

"Kamu sudah bisa menceramahiku Ratih?"

"Saya mencintaimu Abah. Sangat mencintaimu." Air matanya mulai menggenang, menetes perlahan. "Tapi saya tak sanggup tiap hari diperlakukan seperti ini. Abah tidak pernah lagi mencumbuiku. Apa yang abah lakukan? Apa?!"

"Abah hanya bersarung tiap hari. Meringkuk di amben. Kapan saya merasakan kesenangan." Dia bertanya pada diri sendiri. "Tidak pernah! Tidak pernaaa ... ah!"

Raungannya membuatku tak bisa berbicara sepatah kata pun. Ternyata selama ini, selama berbulan-bulan justru Ratih yang mencukupi kebutuhan kami berdua. Ternyata dari perangainya yang menyenangkan, dia menyimpan kesedihan yang besar, tekanan batin karena aku tidak peduli dengan dirinya.

Ah, semuanya sudah terlambat. Terlambat untuk menyadarinya. Toh, tak ada gunanya lagi dipertahankan. Aku tak bisa menyalahkannya jika keadaan sebenarnya sudah terang benderang. Justru dia yang sangat mencintaiku. Dia sangat menyayangiku. Begitu pun diriku kepadanya. Tak ada alasan apa pun untuk membencinya,  setelah kejadian yang membuat harga diriku sangat terpukul.

Aku kemasi pakaian di dalam lemari. Satu koper cukup untuk pergi dari rumah ini. Aku sudah memutuskan. Inilah yang terbaik yang harus kulakukan. Suara tangisan Ratih masih terdengar di ruangan tengah, tidak akan merubah jalan pikiranku.

"Mau kemana Abah?" Dia merajuk ketika melihatku menjinjing koper.

"Abah tak boleh pergi dari sini! Abah harus bertanggung jawab!"

Ratih memegang lutut, memohon, menciumi kakiku. Tapi semua itu tidak menghentikan langkahku.

=====

1) Sapaan khas orang Sunda, artinya sama seperti hallo atau horas.

2) Jawaban atas sapaan "sampurasun"

3) Nyonya ada, Tuan?

4) Ada siapa Bah? (Bah atau Abah, panggilan kepada ayah atau suami)

5) Panggilan kepada ibu atau istri.

6) Héler, alat untuk menggiling padi, memisahkan gabah dari berasnya


#OneDayOnePost #Tantangan #TantanganODOP #ODOP #FiksiODOP 

#TantanganFiksiODOP 

*) Terinspirasi dari naskah drama "Sayang Ada Orang Lain" karya Utuy Tatang Sontani

18 comments:

  1. Cerita yg mengandung unsur lokalitas daerah (y)

    ReplyDelete
  2. Keren. Si Abah ini mah. Kasihan Ratih jadinya.

    ReplyDelete
  3. Ceritanya kerennnnn ... konflik rumah tangga

    ReplyDelete
  4. Awalnya bingung, kukira Abah itu ayah, jadi setiap membaca yang kebayang ya Ratih ngomong sama ayahnya. Galfok..galfok

    ReplyDelete
  5. Asyik... Sejalian belajar bahasa sunda😍

    ReplyDelete
  6. Cerpen yang bagus.... ��������

    Susah nyebutin nama abahnya

    ReplyDelete
  7. Langit membiru hampir sajauh mata memandang. Matahari bersinar hangat, menyelusup di sela-sela genting. Segelas kopi di meja tinggal ampasnya, ditemani piring kecil yang menyisakan satu pisang goreng. Angin seperti telah sepakat dengan matahari, bertiup lembut, agar suasana pagi ini begitu pas.= suka banget showing yang ini. Jadi ikut ngerasain yang dinikmati Lamsijan.👍

    ReplyDelete
  8. Pernah ngeliat drama teaternya pas angkatanya ka fadilah 😅

    ReplyDelete
  9. Aduhh aku jadi bingung mihak siapa ini teh

    ReplyDelete