:::: MENU ::::
Candi Arimbi, Mojokerto Jawa Timur

"Cuit cuit, wit wii ... iit!"

"Ruukutut, kutut, kutut! Wikikik kik, wrrrr koak koak!"

Ramai sekali. Padahal mendung masih menggelayut. Birunya langit tertutup awan kelabu yang bergerombol. 

"Wuaduuh, Pakné! Burungnya itu lho!" Teriakan perempuan di bagian belakang rumah membuyarkan rasa senangnya di pagi hari itu.

"Burung aku? Memangnya manukku kenapa tho Bukné?" Laki-laki yang dipanggil Pakné itu membetulkan sarung. Siapa tahu sarungnya melorot, pikirnya sambil melihat ke arah depan dan belakang tubuhnya.

"Berisik!" Teriakan kembali terdengar. "Mbok yo suruh diam dulu gitu. Bukannya bantu aku beres-beres omah, atau mandiin cah wedhokmu iki."

"Yoo itu kan tugasnya Bukné sebagai istri. Kewajiban lho. Bukannya Pakné enggak mau bantu, tapi itu kewajibanmu."

"Alah banyak alesan. Bilang saja sampeyan lebih sayang sama Si Wulan dibanding sama aku." Ketus Bukné yang masih teriak.

"Lho kalau iya, gimana?" Jawab laki-laki itu dengan polosnya.

"Apa?!" Mata Bukné tambah melotot.

"Eh, maksudnya gak mungkin. Masa iya aku suka sama Wulan."

Drama cekcok rumah tangga Pakné dan Bukné memang selalu seru. Bahkan tentangga-tetangganya bilang tegangnya melebihi Perang Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa. Bukan hanya Pak RT dan Pak RW yang datang, Danramil bahkan sampai ikut campur mendamaikan keduanya.

"Waduh, aya naon ieu téh, ada apa ini Mas? Pagi-pagi sudah pada bertengkar." Tiba-tiba seorang tetangga Pakné menghampiri begitu terdengar ribut-ribut.

"Eeh, Kang Yoga," Pakné meilirik ke arah tetangganya itu, "biasa Kang, kalau tidak ribut sehari saja, kayak sayur tanpa garam. Tuh, Si Bukné bikin gara-gara saja."

Setelah basa-basi sebentar, tanya ini itu, memuji suara burung punya Pakné yang bagus alang bukan kepalang, dan menanyakan kabar Pakné sekeluarga, Kang Yoga mengutarakan maksud kedatangannya.

"Begini Mas Bas, aku mau minta antar." Wajahnya tertunduk malu-malu untuk meneruskan kalimatnya. "Aku sudah tidak sabar ingin ketemu Dewi Parwati."

"Kenapa harus diantar aku? Anak muda kok keberaniannya kurang. Lagi pula kalau mau keluar, kamu sendiri yang izin ke Bukné, aku enggak berani."  Tukas Pakné, kembali membetulkan sarungnya yang melorot.

"Alah, Mas Bas saja enggak berani izin sama Bukné, takut kan?" Wajah Kang Yoga mengejek Pakné yang mati kutu. "Jauh soalnya Mas Bas, Mojokerto."

"Mojokerto?! Kamu enggak salah, itu kan ada di Jawa Timur?"

"Enggak, memang jauh. Dan aku harus melihatnya, dari tahun kemarin ingin lihat kecantikan Dewi Parwati."

***

Keesokan harinya, seperti yang sudah disepakati, Kang Yoga dan Pakné berangkat ke kota Mojokerto tempat berdiam Dewi Parwati. Berbekal satu tas ransel dan SIM-T, Surat Izin Mengantar Tetangga, dari Bukné. Pagi buta mereka sudah berkemas.

"Bukné, aku berangkat dulu ya." Pakné melihat wajah istrinya yang tidak sedap dipandang. Cemberut dari kemarin sore.

"Iya." Tanpa melihat ke arah suaminya.

"Tolong jagain Wulan." Suara Pakné begitu lirih hampir berbisik.

"Lho Mas, kok Bukné suruh jagain Wulan? Bukannya anakmu itu Andira. Terus siapa itu Wulan? Selingkuhan Mas Bas ya?" Kang Yoga yang berdiri di belakangnya menyahut heran.

"Huss! Kamu tuh, kalau ngomong jangan asal. Wulan itu ya kesayangan aku."

"Tuh kan? Memangnya Bukné sudah enggak disayang lagi sama Mas Bas."

"Tuh lihat sendiri Kang Yoga, kelakuan suami aku yo koyo ngono. Bojoné dhéwék enggak pernah diurus. Tiap hari cuman Wulan, besoknya Wulan ...!" Bukné akhirnya melirik Kang Yoga, masih dengan wajah ditekuk.

"Memangnya Wulan itu siapa Mbak Wid? Istri kedua Mas Bas ya?"

"Ngawur! Itu tuh Si Wulan!" Sambil menunjuk sangkar yang digantung di ruang tamu.

"Oh, jalak surén. Ari sugan téh saha, dikira siapa, haha ...." Kang Yoga terbahak melihat wajah Bukné. Ditambah ingatannya kemarin, pertengakaran keduanya gara-gara Si Wulan.

"Sudah ya, Mbak Wid. Minta izin, aku sama Mas Bas mau pergi jauh dulu." Kang Yoga sungkem pada Bukné yang duduk takzim seperti ratu. "Maaf nih, sudah merepotkan. Mas Bas orangnya baik kok. Aku jamin enggak bakal macam-macam di sana."

"Iya, iya. Salam sama Dewi Parwati-mu itu."

"Hatur nuhun, terima kasih Mbak Wid."

***

Deru mesin diesel terdengar kasar. Sepanjang jalan, bus yang ditumpangi mereka berdua tidak henti-hentinya bergetar keras. Tangisan bayi sesekali terdengar, bercampur dengan teriakan kernet bus, Surabaya, Surabaya! Ayo, bus terakhir. Tuban, Lamongan, Cak! Yang Gresik, yang Gresik!, dan lagu dangdut koplo pantura.

"Masih jauh Kang?" Pakné membetulkan posisi duduknya.

"Baru sampai Sarang. Nanti kita makan dulu saja di Surabaya. Naik angkutan elf yang ke Trowulan."

"Katanya kita mau ke Mojokerto?"

"Trowulan itu ya ada di Mojokerto, Mas Bas."

"Kok kamu tahu?" Pakné menyelidik ragu.

"Kata Cak Héru, temanku. Dia, Cak Héru itu, orangnya pintar sejarah. Kalau dari Surabaya, tidak lama lagi bakal sampai Trowulan. Katanya itu juga, kata Cak Héru."

"Oalaah katanya. Bagaimana kalau salah." Pakné tampak pasrah. "Ah, sudahlah. Sak karepmu, Kang. Aku mau tidur dulu. Bangunkan ya kalau mau makan."

Kang Yoga yang perwakannya seperti Ari Wibowo itu hanya menyeringai lebar. Lalu memejamkan mata, ikut tidur dalam sisa perjalanannya. Dia berharap dalam tidurnya akan bermimpi melihat kecantikan Déwi Parwati.

***

"Mas, Mas Bas kita sudah sampai Trowulan!" Kang Yoga menggoyang-goyangkan tubuh Pakné.

"Woi, Mas! Bangun kita turun di sini." Tak ada reaksi dari orang yang dia bangunkan. "Mas Suden Basayev!"

Kaget namanya dipanggil keras, Pakné terbangun seketika. Matanya mengerjap-ngerjap.

"Ada apa? Kenapa Si Wulan?"

"Kita sudah sampai Mas Basayev," kesal, "ayo cepat turun!"

***

Setelah berjalan cukup jauh dari pintu gerbang, akhirnya mereka tepat berada dimana Déwi Parwati berada.

"Mana Kang? Mana Déwi Parwati-mu itu?"

"Itu lihat di depan Mas Bas, masa tidak terlihat."

"Mana?" Pertanyaan sama yang tidak perlu dia ulangi.

Kang Yoga menunjuk sebuah arca zaman kerajaan Majapahit, berdiri ribuan tahun dan masih tetap berdiri kokoh.

"Oalaah ...!" Pakné menepuk keras jidatnya berulang-ulang. "Kamu masih waras kan, Kang?"

"Ini Déwi Parwatinya Mas. Aku sudah menginginkan bertemu sejak tahun lalu." Dia menjelaskan bagaimana rasa itu muncul dalam dirinya.

"Aku mengaguminya sejak bertemu Cak Héru. Déwi Parwati cantik jelita, dia selalu bercerita kepadaku tentang dirinya, bagaimana pribadi agungnya, bagaimana dia menjadi seorang ratu di kerajaan yang sangat besar. Bagaimana keturunannya menjadi raja terbesar pada zaman dulu." 

"Mas Bas tahu tentang kerajaan Majapahit yang wilayah kekuasaannya sampai negeri jiran itu?"

"Kang, aku wis ora habis pikir. Itu kan hanya patung, Kang. Sadar, sadar Kang Yoga!"

"Dengan melihat peninggalan sejarah seperti ini, kita jadi tahu bangsa ini begitu besar. Dulu juga banyak memiliki perbedaan. Sama seperti sekarang, banyak sekali yang berbeda. Tetapi bukan berarti menjadi masalah dengan perbedaan yang kita miliki. Karena perbedaan itu justru rahmat, agar kita saling mengenal."

"Boleh aku tanya ya, Kang."

"Tanya apa Mas?"

"Kang Yoga mencintai patung?"

"Bisa jadi."

"Tobat, Kang ...!"

"Lho, kalau mencintai patung bukan berarti aku menyembahnya lho. Sama seperti Mas Bas suka sama Si Wulan, bukan berarti Mas Bas selingkuh dari Mbak Wid."

"Moso sih?"

"Aku juga mencintai Baitullâh Ka'bah. Begitu rindunya diriku pada Ka'bah. Tetapi aku bukan menyembah kepada kain kiswahnya, atau kepada batu hajar aswadnya. Bahkan para jama'ah berdesakan untuk mencium batu tersebut."

"Lalu?"

"Aku melihat makna yang tersiratnya, Mas Bas. Patung itu hanya buatan manusia, tidak usah disembah-sembah. Manusia sendiri ciptaan Gusti Nu Maha Kawasa. Maka, hanya kepada Allâh kita bersyukur, kita memuji. Bukan kepada makhluk-Nya."

"Kalau kepada manusia?"

"Kita bisa ucapkan terima kasih, karena lewat perantara mereka ramhat Allâh tercurah kepada kita. Nah, begitu pula kepada nenek moyang kita. Kita harus selalu mengucap terima kasih. Bentuknya macam-macam. Kalau aku, ya mempelajari sejarahnya, merawat peninggalannya, menjaga kebesaran bangsa ini yang telah besar karena jasa nenek moyang kita."

"Wis tho, sudahlah Kang. Ceramahnya mbok yo sudah. Aku mumet iki."


TAMAT


#DomesticDrama     #TantanganFiksi6     #OneDayOnePost


*) Tulisan ini terinspirasi dari status Cak Heru Sang Mahadewa tentang "Petilasan Hyang Wekasing Sukha"

**) Bisa dilihat di sini

18 comments:

  1. Waladalah... Bisa aja nih Pak Guru. Dewi Parwati-nya itu lho. Tidak kusangka.

    ReplyDelete
  2. Wah... kok gk mampir, rumahku di Trowulan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cak Heru nya ga ngasih tahu sih, maafkan

      Delete
  3. Ah keren banget, dari awal sama endingnya sukaaaaaa

    ReplyDelete
  4. ahahaha drama rumah tangganya ucul ya, aku tahu beberapa temenku yg lebih sayang burungnya dr pada istri wkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. tp bener, kakek sy jg sepertinya begitu, lbh care burungnya dibanding anak2nya, hahaha..

      Delete
  5. Tulisannya kereeen mas...
    Endingnya gak ketebak,ngalir. Aku kira dewi parwati itu cem"an yg mau di lamar hahaha cuma dikit aja catatannya tadi ada typo. Diam jadi daim hehe

    ReplyDelete
  6. Saya beri 4 jempol untuk Mas Dwi.
    Senyum-senyum baca eksekusi ceritanya.

    Sedikit koreksi, seharusnya covernya mengambil Candi Arimbi, pendharmaan (penyimpanan abu) dari Tribuwana Tunggadewi yang disetarakan sebagai Dewi Parwati, bukan Candi Bajang Ratu (pendharmaan Jayanegara).

    Tetapi itu tidak mengurangi keberhasilan cerpen ini secara keseluruhan.

    KEREN, Kang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaaah, Alhamdulillaah..

      Matur nuwun Cak Her, makasih inspirasi nya lho..

      Siap, sy revisi masukan dr Cak Her :D

      Delete
  7. Dari tertawa sampai manggut2 aku ngebacanya . Suka dg hikmah yang ada

    ReplyDelete
  8. Keren pisaaaan, kirain Dewi Parwati tadi seorang dambaan hati, hihi, mengalir banget, mas Dwi mah emang dah jago menciptakan suasana...

    ReplyDelete
  9. Oalah. Itu toh mas bas wkwkwkwk...

    ReplyDelete