:::: MENU ::::
Ulangan akhir semester, evaluasi, semester, sekolah, SMA

Sepekan ke depan, seluruh peserta didik jenjang sekolah menengah atas melaksanakan ulangan akhir semester (UAS) ganjil. Tahapan yang harus dilalui agar peserta didik menerima penilaian selama satu semester.

Hasil dari UAS akan dijadikan tolok ukur sejauh mana peserta didik mampu memahami materi atau pokok bahasan dari tiap-tiap mata pelajaran (mapel). Selama sepekan mereka dihadapkan pada tes tulis, soal-soal berupa pilihan ganda dan essai. Di akhir angka-angka akan bermunculan pada tiap mapel.

Sebenarnya UAS bukan faktor penentu seorang peserta didik berhasil atau tidak dalam sebuah pembelajaran. Walaupun mereka mampu meraih nilai yang sangat tinggi, tetap saja UAS hanya memberikan kurang dari 40% penilaian akhir. Kenapa?

Satu pekan ulangan tersebut hanya dibatasi waktu rata-rata satu setengah jam tiap mapel. Sedangkan proses belajar mengajar peserta didik memakan waktu satu semester, kurang lebih lima setengah bulan hari efektif. Dari waktu pembelajaran yang cukup lama tersebut banyak aspek yang dapat dinilai oleh pendidik, sehingga memiliki faktor lebih besar menentukan peserta didik layak untuk melangkah ke tahap berikutnya atau tidak.

Saya akan coba memberikan beberapa aspek yang memberi faktor keberhasilan pembelajaran seorang peserta didik:

1. Nilai ulangan harian


Jika misalnya pada mata pelajaran kimia semester 1 terdapat tiga standar kompetensi dan sembilan kompetensi dasar, maka penilaiannya harus tiap kompetensi dasar. Dari sinilah pendidik memiliki gambaran seperti apa kemampuan anak didiknya.

Satu nilai kompetensi dasar tidak mencapai minimal, perlu remedi hanya untuk kompetensi dasar tersebut.

2. Nilai tugas

Selain nilai yang didapat dari ulangan harian, peserta didik perlu diberikan assesment test, seperti tugas berbasis proyek. Tugas proyek diberikan untuk penilaian jangka lama. Biasanya proyek ini diberikan dalam satu bab pelajaran. Hal yang perlu diperhatikan dalam tugas proyek ini antara lain: mendesain perencanaan proyek; menyusun jadwal; memonitor kemajuan proyek; menguji proses dan hasil belajar; dan mengevaluasi pengalaman melaksanakan kegiatan atau proyek.

3. Praktikum

Ilmu sains selalu melibatkan praktikum untuk mengaplikasikan materi apa yang sudah dipelajari. Dengan berdasar pada metode ilmiah, peserta didik perlu diperkenalkan bahwa sebuah teori bisa jadi tidak sama ketika dipraktikkan. Dari sini peserta didik akan memperoleh penilaian yang lebih obyektif dalam aspek psikomotor.

4. Kehadiran

Kehadiran peserta didik dalam pembelajaran biasanya memberi saham sepuluh persen ketika menentukan penilaian akhir. Kehadiran ini diperlukan untuk mengetahui seberapa besar usaha yang dilakukan peserta didik, karena dalam dunia pendidikan bukan hanya hasil akhir saja yang dilihat, tetapi lebih pentingnya adalah proses.

5. Afektif


Sikap seorang peserta didik harus menjadi prioritas. Bagaimana negara Jepang dengan kemajuan teknologinya yang luar biasa, tidak menggerus budaya aslinya dengan rasa hormatnya yang terkenal, membungkukkan badan kepada siapa pun orang yang di hadapannya. Maka, afektif seharusnya mempunyai persentase terbesar dalam penilaian akhir. Seorang peserta didik bisa saja tidak naik kelas, walaupun memperoleh nilai sempurna seluruh mata pelajarannya, jika nilai afektifnya buruk (misal: sering membolos, melawan guru, sering tidak hadir dalam pembelajaran).

Demikian, semoga bermanfaat.

1 comment: