:::: MENU ::::

pukul 10.13 tahun 2001

"Hai, Rin!" Seorang perempuan berkacamata bulat menyapa dengan nada riang.

"Hai juga. Bagaimana persiapan ujian praktikum kalian?" Yang dipanggil Rin mendekat ke sebuah meja bundar. Di situ sudah duduk tiga orang lainnya, dengan beberapa potong roti bakar dan minuman jus di hadapannya.

Rindu duduk merapat pada perempuan yang tadi menyapanya. "Aku punya kendala nih. Bahan-bahan koligatif yang minggu lalu sudah disiapkan, gak ada. Bantuin aku donk, Aya."

"Kok bisa, kamu tuh memang suka ceroboh." Rindu divonis kawannya dengan satu kalimat telak. "Bulan kemarin buku teks Fessenden tertinggal di warung Mak Uwen. Kalau seperti ini terus gimana mau jadi orang sukses, Rin?"

"Iya bener tuh, Cahaya." Laki-laki di hadapan Rindu menimpali, sepakat apa yang dikatakan Cahaya. "Sudah tingkat dua juga, masih saja kelakuannya anak SMA."

Kawan perempuan Rindu tertunduk lesu. Rona wajahnya agak berubah, "Iya, maaf. Aku kan tidak sengaja. Lagian rumahku sedang direnovasi, jadi barang-barangnya berantakan."

"Sudah-sudah. Kamu lagi, Feb, malah ikut-ikutan ceramah. Rindu kan ngobrol sama Cahaya." Aisyah, dengan jilbab menutup seluruh tubuhnya menengahi percakapan yang terjadi. "Oke lah Rindu memang berbuat salah, tapi kan enggak perlu memojokkan sampai segitunya.

Suasana ruangan seukuran lapang bola basket itu semakin riuh. Dengan dinding putih gading dan langit-langit kayu ulir, tempat itu menjadi favorit untuk orang-orang rehat sejenak dari aktivitasnya. Mereka hilir mudik dengan tas-tas ransel di punggungya. Sebagian menjinjing tas laptop sambil mengenakan headset, berjalan sambil mengangguk-anggukan kepala.

Keempat sahabat itu berbincang serius, menghadapi buku-buku teks yang super tebal, layar laptop, kertas-kertas laporan, dan tentu saja hidangan yang disajikan oleh pramusaji. Mereka tak mempedulikan orang-orang di sekitarnya, seakan mempunyai dunianya sendiri.

#pukul 15.57 tahun 1999

Sisa hujan tadi malam masih tampak menggenang di sana-sini. Padahal matahari begitu teriknya sejak pagi tadi. Namun panasnya tidak mampu menguapkan semua genangan air akibat hujan deras yang turun membasahi lapangan Isola. Luasnya hampir dua kali lapangan Sidolig, salah satu lapangan sepakbola di kota Bandung. Sayangnya rumput lapangan itu hanya ada di pinggir-pinggir lapangan. Tengahnya sebagian besar hanya berupa tanah merah yang akan berdebu di musim kemarau.

Rombongan anak remaja berseragam putih abu-abu berjalan menuju lapangan itu, sambil bercanda saling memukul-mukulkan tas ke punggung temannya. Salah seorang dari mereka membawa bola sepak. Sedang yang lainnya membawa sepatu yang ditaruh di slingbag masing-masing. Anak perempuannya membawa bersorak-sorak memberi semangat kepada teman-temannya agar bermain sepak bola dengan baik.

"Woi kalian! Bubar-bubar, jangan bermain di lapangan lagi!" Suara petugas keamanan terdengar menggelegar kepada anak-anak yang sedang bermain sepak bola. "Kalian tidak baca apa tulisan di papan itu?!"

Dengan peluh di kening dan kaus yang sudah basah karena keringat, mereka saling berpandangan. Ekspresi wajahnya saling bertanya, kenapa harus dilarang, kita kan tidak mengganggu mereka. Lagi pula baru satu babak kita main.

"Bagaimana nih, Feb? Gak seru nih, baru setengah main." salah seorang anak itu bertanya kepada temannya.

"Sudah kita lanjut saja. Tidak usah dinggap si bapak baplang itu." Febian mengajak meneruskan permainannya.

"Heeei, cowok! Kalian dengar tidak kata satpam itu?" Teriakan perempuan berkacamata bulat mengingatkan teman-teman yang sedang bermain sepak bola.

"Aah, berisik nih, Cahaya. Kita kan hanya main bola." Febian membela diri, "Lapangan ini kan luas, kalau mau dipakai masih bisa di sebalah sana." Dia menunjuk bagian lapangan yang masih kosong.

Sambil mendekat, pria berkumis baplang dan berseragam putih biru itu berkata, "Sudah ya, anak-anak. Kalian tidak boleh memakai lapangan ini lagi."

"Memangnya kenapa sih, Pak?" Febian merasa tidak puas dengan larangan satpam.

"Mulai malam nanti, di sini akan dibangun sebuah gedung megah. Dan sore ini sudah harus steril dari siapa pun, tanpa kecuali." Satpam menjelaskan.

"Gedung apaan Pak?"

"Gedung tempat belajar. Dananya dapat bantuan dari Jepang. Nanti mahasiswa jurusan matematika dan IPA akan belajar di gedung mewah ini. Siapa tahu kalian tahun depan bisa masuk jurusan kimia dan ikut merasakan belajar di tempat ini." Dengan gaya kebapakan satpam menjelaskan kepada mereka.

Matahari sudah semakin condong ke barat. Anak-anak itu menerawang, melihat dengan lamat lapangan cokelat itu. Pikirannya melayang. Hm, mungkin takdirku meneruskan pendidikan di sini batin Febian dengan wajah memerah.

#pukul 11.01 tahun 2004

Suasana haru biru mewarnai hari bersejarah itu. Semua begitu bahagia, terpancar dari rona wajah dan gestur tubuhnya. Ruangan dengan cat putih gading penuh sesak. Mereka bersorak merayakan sebuah momen istimewa. Empat setengah tahun berkutat dengan buku teks, praktikum, tumpukan kertas tugas, ujian, dan yang paling istimewa adalah selalu bersama dengan kawan.

Keempat sahabat itu kembali duduk di meja bundar, benda yang menjadi saksi bisu bagaimana selama empat tahun suka duka pernah mereka rasakan. Bagaimana pengorbanan dan perjuangan menempuh predikat sarjana telah dilalui bersama. Bahkan semenjak ruangan ini belum ada, mereka telah beriringan bersama.

Semerbak aroma nasi goreng kambing menyeruak di seluruh ruangan. Para pramusaji dengan cekatan mengantarkan piring-piring berisi hidangan. Keempatnya saling bertatapan. Keempatnya merasakan suasana batin yang begitu membahagiakan. Paling emosional adalah Aisyah. Matanya berkaca-kaca, dari sudut matanya mulai menetes sesuatu yang menandakan kebahagiaan. Air mata ....

Di sinilah mereka merekam masa lalu dan masa depannya. Sebuah ruangan yang penuh dengan makanan dan minuman. Sebuah ruangan yang merupakan bagian dari gedung tempat mereka menimba ilmu. Gedung tempat para calon pendidik ditempa, sebagai kawah candradimuka bagi Febian, Cahaya, Rindu, dan Aisyah.

14 comments:

  1. Kantin JICA....kantin kenangan Ngan marahal wkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. nostalgia masa remaja, Teh. Cenah ayeuna mah tambah keren..

      Delete
  2. Replies
    1. kenapa Cak Her, kurang 'nggigit' ya ceritanya?

      Delete
  3. Jd keingt warung nasi goreng deket kampus, jd tempat kumpul2 hehe

    ReplyDelete
  4. Satpam kumis baplang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚

    Nice cetitanya, tapi saya bolak-balik baca kalimat yg ini masih belum paham. Yang salah itu Rindu apa Cahaya?

    "Kok bisa, kamu tuh memang suka ceroboh." Rindu memvonis kawannya dengan satu kalimat telak. "Bulan kemarin buku teks Fessenden tertinggal di warung Mak Uwen. Kalau seperti ini terus gimana mau jadi orang sukses, Rin?" = di kalimat ini, Rindu memvonis temannya. Tapi kemudian Rindu yang disalahkan.

    "Iya bener tuh, Cahaya." Laki-laki di hadapan Rindu menimpali, sepakat apa yang dikatakan Cahaya. "Sudah dua juga, masih saja kelakuannya anak SMA." = kalau di kalimat ini jelas Rindu yanh disalahkan. Kata "dua" nya itu maksudnya apa? 😊

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener, hehehe...

      niatnya seperti ini: ...." Rindu 'divonis' kawannya dengan satu kalimat telak.

      Dua, itu maksudnya "tingkat dua"

      Yeeeay, makasih mba Dian, makasih banyak krisannya.

      Delete
  5. Pak satpam kumis baplang nya kmna ya πŸ˜‚

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi jualan kentang goreng kayaknya, hehehe...

      Delete
    2. Wahh beralih propesi ternyata πŸ˜‚

      Delete
  6. Tulisannya matang. Renyah kayak kentang goreng!

    ReplyDelete