:::: MENU ::::

Penggalan lagu dari salah satu film kartun yang lagi hits. Kalian sudah pasti tahu filmnya. Setiap sore di salah satu stasiun televisi swasta, film bergenre komedi anak-anak ini tayang dengan cerita yang selalu menarik. Bahkan banyak anak didik saya (tingkat SMA) membuat snap WhatsApp dengan potongan lirik lagu film itu.

Yup, itulah Tayo Si Bus Kecil (lagunya sih Tayo bis kecil ramah, padahal di ejaan yang benar kan bus). Bersama teman-temannya Rogi, Lani, Gani, dan Cito, mereka adalah bus umum yang melayani orang-orang yang bepergian dengan setting sebuah kawasan perkotaan di negara Korea. 

Jika menonton serial televisi Tayo saya teringat dengan salah satu materi fiksi dari Uncle Ikhtiar, yaitu helicpoter view. Gaya penulisan fiksi salah satunya menggunakan sudut pandang helicopter view, dimana kita bercerita sebagai sebuah objek yang terlibat dalam cerita tersebut. Misalnya ketika bercerita tentang kejadian sehari-hari. Saya selalu menuliskan cerita menggunakan sebuah laptop. Nah, jika kita berperan sebagai laptop apa yang akan kita rasakan?

Atau ketika berada di sebuah sekolah, kita bisa berperan sebagai lorong sekolah. Setiap harinya pasti anak-anak itu akan melewati lorong sekolah. Semua percakapan, kejadian, senda gurau, kesenangan, sampai kekecewaan dan patah hati akan terekam oleh lorong sekolah tersebut. Apa yang kita rasakan jika berperan sebagai lorong sekolah? Apa yang kita ceritakan kepada orang lain jika kita berbicara sebagai lorong sekolah?

Tayo pun saya pikir demikian. Penulis cerita memberi peran kepada sebuah bus umum, yaitu Tayo, sehingga bus tersebut seakan-akan hidup. Bus kecil tersebut seakan-akan bisa bercerita tentang kebahagiaannya ketika membawa penumpang anak-anak yang bergembira ketika menaiki bus Tayo. Bus kecil Tayo pun terkadang mencuri-curi rute perjalanan karena pada rute normal penumpangnya selalu sepi. Atau ketika dia merasa marah ketika ada mobil lain yang seenaknya mendahului tanpa memberi lampu peringatan.

Saya pernah mencoba membuat cerita dengan sudut pandang helicopter view, yaitu sebagai CCTV yang terpasang di sebuah ruang kelas. Dalam cerita tersebut, yang bercerita bukan anak-anak atau seorang guru. Tetapi si CCTV-lah yang bercerita tentang semua rangkaian peristiwa yang terjadi dalam ruang kelas tersebut.

Tulisan di atas sekadar mengingat kembali sebuah ilmu yang pernah saya terima. Semoga apa yang saya tuliskan di atas sudah benar sesuai maksud dari orang yang menyampaikannya kepada saya. Jika terdapat kekeliruan, mohon diluruskan dengan kolom comment.

Terima kasih.

6 comments: