:::: MENU ::::
Suluk Gunung Jati


Den suka wenan lan suka mamberih gelis lipur
Ake lara ati ing wong, namun saking duriat.

Dua penggalan kalimat di atas merupakan petuah yang diberikan Syaikh Syarif Hidayatullah kepada masyarakat Carubanlarang (kini dikenal sebagai Cirebon). Siapa yang tidak kenal dengan Syaikh Syarif atau dikenal juga dengan Sunan Gunung Jati? Siapa juga yang meragukan ketokohan Syaikh Syarif dengan segala ilmu dan bijak bestarinya, menyebarkan agama Islam di Tatar Priangan?

Perjanan Sunan Gunung Jati (selanjutnya disebut SGJ) mulai dari kelahiran sampai wafatnya dirangkum dengan bahasa ringan oleh Kang Rokajat, dalam bukunya "Suluk Gunung Jati". Kang Rokajat menceritakan sebuah perjalanan SGJ ketika mencari kembali leluhur yang telah lama hilang dari hidupnya. Perjalanan tersebut berawal dari berangkatnya SGJ dari negeri Ampel Denta (sebuah kerajaan kecil di Tanah Jawa) untuk menemui uwaknya, yaitu Pangeran Cakrabuana. Dari sinilah kisah-kisah menakjubkan SGJ dipaparkan secara runut, terperinci, dan mengalir.

Buku karya Kang Rokajat ini berupa sebuah novel, sehingga kita bisa membacanya dari bagian mana pun. Dengan gaya yang khas, novel ini begitu hidup karena setiap bagiannya mendeskripsikan tempat kejadian secara detail. Karakter tokoh-tokohnya, budaya masyarakat yang didiami SGJ, bahasanya, sampai waktu terjadinya kejadian di dalam novel ini ditulis lengkap.

Bagian menarik lainnya adalah setiap bab tidak lepas dengan petuah dari SGJ. Menggunakan bahasa Cirebon (jawaréh, orang Priangan Timur menyebutnya) kalimat petuah tersebut sangat bermakna, seakan-akan beliau sendiri yang mengatakan kepada pembacanya. Dua kalimat pada awal tulisan ini contohnya. Den suka wenan lan suka mamberih gelis lipur. Ake lara ati ing wong, namun saking duriat (h. 1), jika bersedih jangan diperlihatkan, agar cepat hilang. Jika sering disakiti orang, hadapilah dengan kecintaan tidak dengan aniaya.

Petuah SGJ lainnya tentang sikap hidup sehari-hari dituliskan secara apik, Aja ngagungaken ing salira, aja ujub ria sukma takabur (h. 78), yang bermakna jangan mengagungkan diri, jangan sombong dan takabur. Ajaran mulia itu menegaskan bahwa orang yang senang mengagungkan diri akan terjerembab dalam sikap sombong dan takabur.

Kelahiran SGJ digambarkan pada pertengahan buku ini, dalam sebuah syair. "Kau adalah kujang mungil, ditempa dari wesi kuning di bumi Pajajaran, melanglang menunjuk langit," getar nini paraji yang mengiringi sukma dan asma Syarif Hidayatullah, (h. 141) menandakan bahwa SGJ semenjak menginjakkan kaki di muka bumi sudah diramalkan menjadi orang besar dan mulia.

Serenyah apa pun novel sejarah ini, sedetail apa pun deskripsi yang ditulisakn oleh Kang Rokajat, buku ini tetaplah sebuah novel sejarah, yang artinya tidak bisa dijadikan rujukan dalam dunia akademis yang menuntut metode ilmiah. Tetapi untuk menyelami bagaimana pengorbanan yang telah SGJ lakukan dalam berdakwah di tanah Jawa, khususnya di Tatar Sunda sangatlah tepat untuk membaca buku ini.

Dakwah yang dilakukan SGJ dalam mengislamkan masyarakat tanah Jawa merupakan dakwah bil hikmah, yaitu berdakwah dengan ilmu hakikat, tanpa merendahkan orang yang berbeda keyakinan, tidak membenci orang yang menghinanya, tidak menghapus kebudayaan yang telah mengakar di dalam masyarakat tersebut.

Syaikh Syarif Hidayatullah adalah turunan langsung dari Kangjeng Nabi Muhammad SAW dari garis ayahnya. Silsilah SGJ sampai kepada Kangjeng Nabi SAW juga diceritakan oleh Kang Rokajat. Sedangkan dari garis ibu, SGJ merupakan turunan dari Prabu Siliwangi, salah satu Raja Pajajaran yang paling bersahaja.

Bagaimana SGJ berhasil mempersunting Putri Tiongkok, Ong Tien dengan cerita yang sangat menakjubkan? Atau bagaimana SGJ bertemu dengan uwaknya Pangeran Cakrabuana dan berhasil mengislamkan masyarakat Carubanlarang tanpa ada gesekan dan konflik? Bahkan mereka sukarela beralih dari kepercayaan nenek moyangnya, sehingga memeluk agama Islam? Atau bagaimana awal kisahnya hubungan batin antara Cirebon dan Banten begitu kuat? 

Semua pertanyaan yang membuat kita penasaran, akan terjawab jika membaca buku novel "Suluk Gunung Jati" ini. Pada akhir tulisan ini, hendaklah kita selalu memperhatikan petuah-petuah para ulama dan tentu saja melaksanakannya. Nasihat ini khususnya ditujukan kepada diri penulis sendiri. "Ingsun titip tajug, lan fakir miskin", petuah lain dari SGJ yang terpampang di gerbang masuk kota Cirebon. "Saya titip masjid dan fakir miskin."


Hapunten anu kasuhun


Judul buku : Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah
Pengarang : E. Rokajat Asura
Penerbit : Imania, Depok
Tahun : 2016
Halaman : 327 hlm + xiv


6 comments:

  1. Mantap. Selalu asyik menikmati sajian sejarah dalam karya fiksi. Memang bukan untuk bahan rujukan akademisi tapi sebagai pembelajaran jiwa yang haus. Keren, Mas Dwi...

    ReplyDelete
  2. Saya punya novel ini, tapi masih tersegel plastik bungkusnya. Belum sempat baca, karena menyelesaikan dulu karya E. Rokajat A. lainnya: SOEDIRMAN.

    Hehehee ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. boleh dipinjam gak Cak Her, hehe... :D

      Delete
    2. Jangan dipinjemin. Suka lupa ngembaliin.

      Delete
    3. kalo yg minjemin ridho, ga papa lah

      Delete